Langkah kaki yang tergesa seorang pria menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Dentingan detak jam seolah berpacu dengan denyut jantungnya yang menggila.
Hujan yang mengguyur deras tak menyurutkan langkahnya sedikit pun. Kemeja putihnya kini basah kuyup, menempel ketat di tubuh tegapnya.
Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, meneteskan sisa air hujan di setiap langkahnya.
Sementara di luar, awan mulai menipis dan cahaya matahari mulai terlihat di balik kelamnya langit.
Damian baru saja tiba setelah menempuh perjalanan panjang yang sempat terhambat oleh macetnya jalan menuju bandara.
Kini, ia berdiri di depan ruang ICU dengan pakaian pelindung yang diberikan pihak rumah sakit, tangannya mengepal kuat, wajahnya gelap, menahan letupan emosi dan ketakutan.
Sebelumnya, pihak rumah sakit sudah menghubunginya saat Damian masih sibuk melakukan meeting.
Operasi yang semula dijadwalkan dua hari lagi terpaksa dimajukan karena kondisi Agatha yang memburuk.
Namun keterlambatan Damian dalam memberikan persetujuan membuat jadwal itu kembali ke rencana semula.
Dokter hanya bisa berharap kondisi Agatha tetap stabil, karena operasi di saat tubuhnya terlalu kritis dapat memperbesar risiko kegagalan.
Permintaan Damian untuk memajukan operasi hari ini pun juga tak bisa dikabulkan karena slot telah penuh, semua sudah terjadwal. Ia terlambat. Dan itu menyakitkan.
Setelah di izinkan masuk, Damian melangkah masuk ke ruangan ICU.
Pemandangan di hadapannya menghantam batinnya lebih keras dari arah mana pun.
Agatha terbaring di ranjang, dengan alat bantu pernapasan dan kabel infus yang terpasang di sekujur tubuhnya.
Napasnya teratur, tapi terlihat lemah. Wajah yang dulu menyambutnya dengan senyum kini pucat tak berdarah.
Dengan perlahan, Damian menarik kursi dan duduk di sisi ranjang.
“Andai aku bisa menggantikan rasa sakitmu... aku akan melakukannya, Agatha,” ucapnya dalam batin berharap semua rasa sakit ini ditimpakan kepadanya saja, bukan pada wanita yang ia cintai sepenuh jiwa.
Seolah menjawab harapannya, kelopak mata Agatha perlahan terbuka.
"Agatha ...," bisik Damian, tercekat.
Ia refleks berdiri, hendak memanggil dokter, tapi tangan Agatha yang lemah segera menahan pergelangan tangannya.
"A-aku baik-baik saja ...," suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Damian kembali duduk.
"Maaf ...," ucap Damian sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Maaf karena aku tak berada di sisimu saat semua ini terjadi."
Agatha menggeleng lemah. "Hei..., aku baik-baik saja, Damian. Lihat, hanya sedikit rasa sakit. Tapi sekarang, aku jauh lebih baik."
Damian menggeleng. "Dokter bilang kau kritis kemarin. Wajahmu pucat sekali, Agatha. Aku hampir gila menunggu kabar dari mereka."
"Tapi sekarang aku sudah membaik, kan?" Agatha memaksakan senyum, yang tak mampu menipu siapa pun, apalagi Damian.
Damian menarik napas panjang, matanya sedikit memanas. "Kau keras kepala. Aku sudah bilang berkali-kali agar kau tidak memikirkan wanita itu lagi. Kondisimu jauh lebih penting, Agatha," kata Damian, ketika ia mengingat kembali perkataan Axel bila Agatha menjadi seperti ini setelah ia berada di dapur.
Dan Agatha berada di dapur tentu saja saja pasti karena membuatkan makanan untuk Alina.
Agatha menatapnya. "Damian—"
"Agatha, sekali saja dengarkan aku. Kenapa kau begitu keras kepala? Wanita itu-- kita membayarnya untuk mengandung anak kita. Kenapa kau bersikap seolah kita sedang berhutang padanya?"
Agatha terdiam, menatap langit-langit ruangan sejenak sebelum berkata lirih, "Maaf, Damian. Aku hanya ingin menjadi bagian dari anak itu. Meski bukan aku yang mengandungnya."
Damian memejamkan matanya, meredam gejolak emosi yang mendidih. Ia tahu, topik ini selalu memantik bara di antara mereka.
Tangannya terangkat, mengusap pelan kepala Agatha. "Jangan bahas itu lagi. Fokuslah pada kondisimu. Hanya itu yang penting saat ini."
Agatha mengangguk pelan.
"Dokter bilang besok kau akan menjalani operasinya," lanjut Damian.
Sekali lagi Agatha mengangguk, meski sorot matanya terlihat berbeda. Damian tahu, istrinya sedang memikirkan sesuatu yang lebih dari sekadar prosedur medis.
"No, no, Agatha. Jangan merasa bersalah. Kau tetap akan sempurna di mataku," ujar Damian seolah mampu membaca isi kepala istrinya hanya dari tatapan matanya.
Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat. Hanya suara mesin pemantau jantung yang terdengar samar.
"Damian ...," suara Agatha memecah hening, pelan dan ragu.
"Hm?"
"Kau mau melakukan sesuatu untukku?"
Damian mengernyit, curiga. "Apa itu?"
Agatha menatap Damian sesaat dengan keheningan yang tercipta.
"Seandainya... kalau operasi itu gagal—"
"Agatha, jangan katakan itu!" sela Damian yang tak menyukai arah topik pembicaraan istrinya.
"Dengarkan aku dulu, Damian. Kalau operasi itu gagal dan aku tidak selamat, kumohon, kau harus tetap merawat anak itu sepenuh hati... dan jangan pernah meninggalkannya."
Damian menunduk, menggenggam tangannya lebih erat.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Kau akan baik-baik saja," katanya, suaranya mulai bergetar.
"Tapi... jika aku benar-benar pergi, aku ingin kau bertanggung jawab juga pada Alina. Menikahlah dengannya."
Seolah baru saja ditampar, Damian menarik tangannya.
"Apa?! Agatha, kau sadar apa yang kau katakan?"
"Damian, aku hanya ingin memastikan anak itu memiliki seorang Ibu yang dapat menjaganya dengan setulus hati dan itu adalah Alina, ibu kandungnya sendiri ...."
"Tidak!" suara Damian meninggi, matanya memerah.
"Kau masih hidup, masih di sini! Dan kau malah membicarakan kematianmu sendiri?!"
Agatha menangis, air matanya mengalir pelan. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Alina, aku tahu dia berbeda. Bukan wanita yang mengincar hartamu. Aku percaya dia bisa menggantikan posisiku."
"Sampai kapan pun, aku, Damian Leoric Harrington, tidak akan menikahinya! Ingat itu baik-baik. Dan aku yakin kau akan sembuh, Agatha. Aku percaya itu."
Dengan itu, Damian memilih untuk bangkit dan keluar dari ruangan, meninggalkan Agatha dengan air mata yang terus mengalir.
Di luar, Damian melepaskan isolation gown dengan gerakan cepat.
Wajahnya menampakkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan lagi. Langit di luar sudah cerah, tapi hatinya tetap mendung.
***
Udara di parkiran basement masih lembap, berbau aspal basah dan peluh manusia yang lelah.
Damian berdiri di sana, diam dalam kegundahan yang menyesakkan, hanya ditemani gaung langkah kakinya sendiri yang menggema di sela-sela dinding beton.
Saran Axel masih terngiang di telinganya yang memintanya untuk mengganti pakaiannya, karena Axel khawatir justru Damian lah yang akan jatuh sakit masih menggunakan pakaian yang masih sedikit lembab akibat air hujan yang membasahi pakaiannya.
Kemeja putihnya pun telah berubah warna oleh noda dan waktu. Celananya kusut, tak ubahnya seperti jiwanya.
Ia sejenak membuka pintu mobilnya yang berwarna hitam dengan interior rapi, tapi kini tampak berantakan.
Dalam kondisi normal, ia tidak akan membiarkan mobilnya seperti ini. Tapi ini bukan kondisi normal.
Beruntung, ia selalu menyimpan pakaian cadangan di bagasi. Kebiasaannya yang teratur kini terasa seperti sebuah penyelamat kecil dalam kekacauan besar yang melanda.
Saat ia mengganti pakaian di belakang mobil dengan gerakan lambat dan lesu, pikirannya masih terpatri pada sosok Agatha.
Bagaimana bisa ia makan atau tidur dengan tenang jika istrinya, sedang berjuang melawan rasa sakit di balik tembok putih ruang ICU?
Dia bahkan tidak sadar, perutnya sejak kemarin belum terisi apa pun.
Lapar sudah bukan lagi rasa, hanya bayangan samar yang tidak penting. Rasa khawatir telah melahap segalanya.
Suara langkah pelan menggema dari arah belakang.
“Tuan.” Suara itu tenang, tapi penuh makna.
Damian menoleh pelan. Di sana berdiri Kevin Lucian, bodyguard yang selalu setia berada dalam bayang-bayangnya, dengan ekspresi tak berubah, membawa sebungkus kotak makanan hangat.
"Lebih baik Anda makan dulu, Tuan," ucap Kevin, suaranya seperti batu kecil yang dilempar ke danau hening.
“Kalau Anda sampai jatuh sakit, Nyonya Agatha pasti akan lebih khawatir.”
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap Kevin seolah tubuhnya hadir, tapi jiwanya entah tersesat di mana. Matanya menatap kotak makanan itu, tapi tangannya tak bergerak.
Kevin tahu, tuannya tidak sedang lapar. Dia sedang dilanda rasa bersalah, takut dan cemas yang tumpang tindih.
Diam-diam, Damian menyadari sesuatu yang mengusik, kini sudah tiga orang yang mengetahui soal kondisi Agatha, Axel, bibi Maggie dan Kevin. Rahasia yang seharusnya ia jaga rapat mulai bocor dan ia benci kehilangan kendali.
Ia benci kenyataan bahwa sakitnya Agatha menjadi konsumsi lebih dari satu pasang mata.
Seolah mengerti pikiran tuannya, Kevin berkata pelan, “Tuan, saya tidak akan mengatakan apa pun pada Tuan Besar maupun Nyonya Besar. Saya bersumpah.”
Damian menatap mata pria itu dan ia tahu, Kevin bisa dipercaya. Bahkan lebih dari keluarganya sendiri.
“Makanlah, Tuan. Anda butuh tenaga. Untuk tetap berdiri di samping Nyonya Agatha.”
Akhirnya, setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Damian menghela napas dan mengangguk.
Ia menerima kotak makan itu lalu membukanya dan mulai makan dengan perlahan, mencicipi sesuap nasi dengan daging hangat.
Rasanya hambar, tapi bukan karena makanan itu tak enak, lidahnya hanya tak bisa merasakan apa pun selain rasa pahit yang tumbuh dari jiwanya.
Dan pada saat itulah, ponselnya berdering.
Nada dering itu biasa saja. Tapi kali ini terdengar seperti alarm tanda bahaya.
Nama Axel tertera di layar. Napas Damian tertahan sejenak. Ia segera menggeser ikon hijau.
"Tuan... keadaan Nyonya Agatha... kembali kritis."
Dalam sekejap, kotak makanan itu terlepas dari tangannya dan jatuh menghantam lantai basement dengan bunyi tumpul.
Sendok logam memantul beserta isi makanan yang berserakan di bawah kursi.
Damian berdiri spontan, seperti di hantam petir. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berlari.
Langkahnya tergesa, hampir tergelincir saat berbelok di tikungan lorong.
Napasnya terengah, tapi tak berhenti. Detak jantungnya menggema di telinganya sendiri. Setiap detik terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya perlahan.
Sementara itu, di lantai atas, Axel berdiri di depan ruang ICU dengan wajah pucat pasi.
Beberapa suster terlihat keluar-masuk dengan wajah tegang, membawa alat-alat tambahan.
Axel melihat sekilas, monitor detak jantung Agatha menunjukkan grafik yang tak beraturan.
Saat Damian tiba di depan pintu ICU, ia hampir menerobos masuk, tapi salah satu perawat menghadangnya.
“Maaf, Tuan. Kami sedang melakukan tindakan. Mohon tunggu di luar.”
“Saya suaminya!” teriak Damian, napasnya memburu. Tapi dokter Elvino muncul dari balik pintu.
“Tuan, tunggu sebentar. Kami sedang berusaha menstabilkan pasien.”
“Apa maksudnya ‘berusaha’?! Kenapa tiba-tiba begini?!” Damian nyaris berteriak.
Dokter itu menunduk sejenak, sebelum berkata, “Kami menduga, ada reaksi penolakan dari tubuhnya terhadap salah satu obat penguat jantung yang kami berikan semalam. Kami sedang mencoba menetralkannya. Tapi jika ini gagal... kita harus siapkan kemungkinan lain.”
“Tidak. Tidak ada kemungkinan lain!” Damian hampir mengguncang bahu sang dokter.
“Kalian harus menyelamatkannya! Apa pun caranya!”
Tiba-tiba, suara dari dalam ruang ICU terdengar bunyi flatline dari mesin elektrokardiogram yang mendeteksi irama jantung.
Damian membeku.
Matanya membelalak, tubuhnya menegang dan dunia terasa berhenti berputar.
Perawat berteriak. “Kode Biru! Ambil defibrillator!”