Langkah Alina menyusuri koridor menuju dapur terasa berat.
Gemuruh di dalam hatinya belum juga reda sejak semalam.
Perkataan Damian masih membekas tajam dalam benaknya dan kini perlahan ia mulai menyadari bahwa ada benarnya.
Ia tak seharusnya merepotkan Agatha. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang pekerja dalam misi yang berat, menjadi surrogate demi kelangsungan rumah tangga Damian dan Agatha.
Meskipun Agatha selalu menunjukkan ketulusan dan perhatian, Alina tahu batasnya. Tugas tetaplah tugas dan ia dibayar untuk itu. Ia bukan keluarga. Bukan pula sahabat dekatnya. Ia hanya seseorang yang kebetulan terlibat dalam kehidupan mereka karena kebutuhan dan keputusan yang tak mudah.
Pagi dan siang tadi, Agatha bahkan telah menyiapkan makanan untuknya. Padahal, Alina sempat menolak. Tapi Agatha tetap melakukannya dengan senyum lembut yang menyimpan sesuatu yang tidak bisa Alina baca.
Malam ini, Alina memutuskan untuk mengambil alih. Biarlah ia yang melakukannya sendiri. Setidaknya mulai malam ini dan seterusnya ia tak ingin merasa menjadi beban di rumah orang lain dan harus berani menolak tawaran Agatha jika ingin ikut terlibat merepotkan dirinya sendiri, untuknya.
Begitu ia masuk ke dapur, aroma rempah masih samar menguar dari dapur bersih yang tertata rapi.
Di sana sudah ada bibi Margaret atau lebih akrab disapa bibi Maggie, kepala pelayan yang dikenal dengan wajahnya yang selalu bersahabat.
Namun, tidak demikian dengan dua maid muda lainnya. Tatapan mereka menusuk dan sinis, seolah menelanjangi kehadiran Alina di rumah ini adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan.
Alina menghela napas dalam hati, menata ekspresi agar tetap tenang.
Ia tidak ingin memancing ketegangan. Ia tak punya hak juga untuk mengatur mereka. Tapi sorot mata itu, seakan membuatnya menjadi wanita paling tidak tahu diri di dunia.
“Apa ada yang Anda butuhkan, Nona?” suara lembut bibi Maggie memecah kekakuan.
“Ah, tidak… Aku hanya ingin menyiapkan makan malam,” jawab Alina, mencoba tersenyum.
“Saya bantu siapkan bahan-bahannya ya? Atau—”
“Alina? Kau di sini?”
Sebuah suara memotong tawaran bibi Maggie. Alina menoleh dan mendapati Agatha telah berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan daster panjang berwarna pastel.
Wajahnya saat ini bahlan jauh lebih pucat dari biasanya.
“Kau seharusnya memberitahuku… Maaf, aku terlambat turun ke bawah,” lanjut Agatha cepat-cepat, mencoba menutup kegugupannya.
Bibi Maggie memandangi Agatha dengan tatapan cemas. Ia hendak bersuara, tapi Agatha hanya menggeleng pelan. Seolah memberitahu bila bibi maggie tidak boleh mengatakan apapun.
“Agatha, kau baik-baik saja?” Alina bertanya pelan. Keningnya berkerut, hatinya digerogoti kekhawatiran.
Agatha tersenyum tipis, senyum yang terasa begitu rapuh. “Aku baik-baik saja,” jawabnya, lebih tepatnya kebohongan yang terpaksa ia suarakan.
Kebenarannya, sejak pagi tadi Agatha sudah merasakan nyeri hebat di sekitar panggul. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang menarik jiwanya dari tubuh secara paksa.
Sakitnya begitu menusuk, menyiksa. Tapi ia memilih untuk diam menahan rasa sakitnya. Ia tak boleh terlihat begitu lemah.
“Wajahmu tampak—”
“Memang seperti ini,” sela Agatha cepat.
“Aku belum memakai lipstik, mungkin karena itu wajahku jadi terlihat lebih pucat.”
Ia berbohong lagi. Demi menjaga agar Alina tidak curiga, demi menjaga rencana yang sudah ia susun dengan Damian agar tetap utuh.
Alina tak boleh tahu, bila ia melakukan surrogate pada Alina karena dirinya yang tak sempurna, bahkan meski tubuhnya sendiri kian hari seperti memberi sinyal perpisahan yang menyakitkan.
Hanya bibi Maggie yang tahu mengenai penyakit kanker ovarium stadium lanjut yang kini perlahan menggerogoti tubuhnya.
Hanya bibi Maggie yang menjadi saksi diam tentang betapa kuatnya ia menahan semuanya sendiri.
Dengan gerakan lembut, Agatha memilih untuk meraih lengan Alina dan menuntunnya ke meja makan.
“Duduklah. Hari ini, aku yang akan menyiapkan makan malam untukmu seperti biasa,” katanya dengan suara tenang.
Alina membuka mulut, ingin menolak. Tapi Agatha tidak memberinya kesempatan. Ia segera berbalik menuju dapur kotor tanpa mendengar satu pun bantahan.
Di balik pintu dapur, dua maid muda itu yang sedari tadi membisu mulai kembali berbisik.
Mereka mempertanyakan kenapa sepupu nyonya mereka bisa bersikap seakan-akan ia pemilik rumah.
“Nyonya Agatha terlalu baik,” gumam salah satu dari mereka.
“Kalau bukan sepupunya, pasti ia sudah diusir dari dulu oleh Tuan Damian,” gumam mereka lagi
Tapi bibi Maggie dengan cekatan langsung menegur mereka dengan tatapan tegas. “Jagalah ucapan kalian. Nona Alina, tetap keluarga Nyonya Agatha.”
Namun, semua suara itu sontak terbungkam saat Agatha kembali masuk ke dapur.
Langkahnya tenang, walau dalam hati ia sedang berjuang melawan denyutan rasa sakit yang mulai muncul kembali.
Ia mengambil ikan salmon dari dalam kulkas, mencucinya perlahan. Tangan-tangannya terampil saat memotong, menumis, meracik kuah.
Bibi Maggie beberapa kali menawarkan bantuan, tapi Agatha hanya membalas dengan senyum kecil.
“Biar aku yang menyiapkan semuanya, Bi,” katanya.
“Aku hanya ingin memastikan Alina baik-baik saja," jawab Agatha terdengar ambigu untuk bibi Maggie.
Tapi bibi Maggie tidak ingin terlalu mencampuri urusan nyonya dan memilih untuk menganggukan kepalanya saja.
Namun, saat hampir selesai, ketika ia hendak membuatkan s**u hangat untuk Alina, tubuhnya kembali memberontak.
Sakit yang sama menghantam perut dan panggul. Lebih tajam, panas dan menyesakkan, Agatha.
Gelas di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.
Agatha terhuyung, berpegangan pada tepi pantry. Napasnya pendek. Tangan kirinya mencengkeram sisi kayu sekuat tenaga.
Bi Maggie langsung menghampiri, panik. “Nyonya! Apa Nyonya baik-baik saja?!”
Tapi Agatha tidak mendengar. Suara bibi Maggie terdengar sayup, seperti dari dalam air. Kepalanya terasa amat begitu berat dan pandangannya mulai gelap, semuanya kabur.
Dalam sekejap, tubuhnya ambruk. Bibi Maggie berteriak memanggil Axel, supir pribadi yang sudah seperti keluarga.
Axel yang selalu berada di bagian belakang rumah ia segera berlari panik setelah suara bibi Maggie begitu menggema.
"Nyonya?" pekik Axel, kemudian ia memilih untuk mengangkat tubuh Agatha yang tak berdaya dan segera membawanya ke mobil menuju rumah sakit.
Di ruang makan, Alina yang masih duduk, tersentak ketika melihat Axel membawa Agatha, dalam pelukannya, dengan wajah pucat pasi dan mata terpejam. Seakan tubuh itu tak lagi bernyawa.
Alina berdiri spontan. Tubuhnya membeku. Ia ingin bertanya, ingin lari menghampiri, tapi suara hatinya dipenuhi pertanyaan.
Kenapa Agatha seperti itu? Kenapa tak seorang pun menjelaskannya padanya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Tatapan para maid yang tidak bersahabat kembali menusuk, seolah menyalahkannya. Hanya Bi Maggie yang menoleh dengan mata berkaca-kaca sebelum kembali sibuk membantu Axel.
Alina ingin tahu. Tapi lidahnya kelu. Ketakutan menghantui pikirannya.
Ia menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup.
Agatha perlahan menghilang di balik pintu itu dalam kondisi yang membuat dadanya sesak.
Dan dalam keheningan yang menggigit, Alina hanya mampu memeluk perutnya pelan, merasa cemas yang tak bisa ia jelaskan.
Ia hanya berharap semoga Agatha baik-baik saja.
***
Di tengah malam yang mulai larut, Damian masih duduk tegap di salah satu ruang privat restoran mewah yang biasanya ia gunakan untuk urusan bisnis.
Lampu gantung kristal bergoyang lembut, memantulkan cahaya hangat ke permukaan meja bundar dari kayu mahoni yang mengilap.
Piring di depannya hanya berisi potongan steak yang belum tersentuh, dan segelas anggur merah yang belum ia teguk.
Meeting hari ini berjalan lancar, tapi tidak membuat pikirannya terasa ringan.
Entah kenapa, tapi sedari tadi perasaannya tidak enak. Perasaan seperti ada yang tidak seharusnya ia abaikan, seperti ada bagian dalam dirinya yang sedang berteriak minta perhatian, tapi ia belum bisa memahaminya.
Dan benar saja. Ponselnya yang ia letakkan di samping gelas bergetar tiba-tiba, memunculkan nama Axel, supir pribadi Agatha.
Jantungnya langsung berdetak tak beraturan.
Ia tidak pernah mengabaikan apa pun yang berkaitan dengan Agatha. Tidak pernah. Sekecil apa pun itu.
Tanpa pikir panjang, ia segera mengangkat telepon tersebut.
“Ya, Axel. Ada apa?” suara Damian terdengar langsung waspada.
Di seberang sana, suara Axel terdengar jelas panik, nyaris bergetar.
“Tuan… Nyonya Agatha… beliau saat ini sedang berada di rumah sakit,” katanya, terbata, seolah kesulitan mengatur napas dan kalimat sekaligus.
Tubuh Damian sontak menegang. Ia reflek bangkit dari kursinya, kursi kulit mewah yang didudukinya tergeser kasar ke belakang.
“Apa? Rumah sakit?!” serunya nyaris setengah berteriak, nadanya tak lagi bisa disembunyikan. Tegang, terkejut dan cemas.
“Ya, Tuan,” jawab Axel dengan cepat, masih dalam nada cemas. “Dokter mengatakan keadaan Nyonya kritis dan harus segera dilakukan tindakan operasi hari ini.”
Damian merasa napasnya tersendat. Dunia di sekitarnya seolah tiba-tiba menjadi senyap.
Suara denting gelas dari meja sebelah, gemericik air di pancuran dinding, bahkan detak jarum jam digital di tangannya, semuanya menghilang dari pendengarannya.
Axel belum selesai. “Dan… operasi hanya baru bisa dilakukan dengan persetujuan Anda, Tuan.”
Kata-kata itu menusuk kesadarannya seperti pisau dingin.
Rasa bersalah langsung menyesaki dadanya. Ia jauh dari Agatha dan saat itu pula, wanita yang ia nikahi tengah berjuang antara hidup dan mati.
Tanpa berkata panjang lebar, Damian langsung menjawab, suaranya terdengar lebih seperti perintah pada dirinya sendiri daripada pada orang lain.
“Saya akan secepatnya kembali!”
Dan tanpa menunggu respons lebih jauh dari Axel, Damian menekan tombol untuk mematikan sambungan.
“Siapkan mobil. Kita ke bandara secepatnya,” ucapnya dingin dan jelas, kepada asisten pribadinya.
Ponselnya ia lempar ke dalam jasnya. Langkahnya cepat dan mantap saat ia keluar dari ruang makan, tak sempat pamit, tak sempat menyentuh makanan di hadapannya.
Dunia di sekelilingnya mendadak tak penting. Semua berganti menjadi satu tujuan, menemui Agatha.
Di dalam mobil yang melaju kencang menembus lalu lintas malam, Damian duduk dalam diam. Satu tangan mencengkeram lutut, yang satu lagi mengepal di atas pahanya.
Matanya menatap kosong keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang lewat begitu cepat. Tapi pikirannya tak di situ. Jiwanya sudah lebih dulu sampai di rumah sakit, berharap bisa dengan cepat berdiri di samping Agatha, menatap wajah pucatnya dan berharap itu semua hanya mimpi buruk.
“Agatha… tunggulah aku. Kumohon ...,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Malam semakin pekat dan Damian tahu… hidupnya tak akan sama lagi jika ia kehilangan istri yang dicintainya.