Sisa Waktu

1216 Words
Jas hitam telah melekat sempurna di tubuh Damian, menyesuaikan dengan lekuk tubuhnya yang tegap dan berwibawa. Meskipun demikian, sorot matanya tampak sayu, diselimuti kantuk yang masih tersisa dari malam yang tak tenang. Semalam, ia menunggu Agatha pulang hingga larut, tapi bayang sang istri tak kunjung tampak. Kekhawatiran menyerang, bertubi-tubi, bercampur dengan amarah yang tak bisa ia hindari. Ponsel Agatha tak aktif, pesan-pesan Damian hanya dibaca lalu dibiarkan menggantung, tak berbalas. Bahkan Axel, supir yang sudah Damian percaya, tak menjawab satu pun panggilan atau pesannya. Kekecewaan Damian memuncak, terlebih ia telah menitipkan Agatha dengan keyakinan penuh. Kini pagi menjelang dan Damian harus pergi untuk urusan kerja. Meeting mendadak di luar kota memaksanya meninggalkan Agatha, padahal bulan ini sang istri telah dijadwalkan untuk menjalani operasi pengangkatan rahim, sebuah prosedur besar yang selama ini membuatnya was-was. Namun, sebelum berangkat, ia tahu dirinya tak boleh pergi tanpa berbicara pada Agatha. Meski kekesalan terhadap kejadian semalam masih mengendap, ia tetap menomorsatukan Agatha. Dengan langkah pelan, ia mendekat ke sisi ranjang. Agatha masih tenggelam dalam lelap, wajahnya damai meski tubuhnya menyimpan rasa sakit yang tak tampak dari luar. Baru saja Damian hendak membuka suara, tapi seolah memiliki radar perasa yang tajam, Agatha perlahan membuka matanya. "Sayang, kau mau berangkat sepagi ini? Bahkan matahari belum terlihat," gumam Agatha pelan, suaranya masih terbungkus kantuk. Damian menatapnya, sedikit lega melihat wajah istrinya, lalu menjawab, "Hari ini aku harus pergi ke luar kota." Agatha mengerjapkan matanya, duduk perlahan. "Ke luar kota?" Damian mengangguk pelan. "Biasanya orangmu akan memberitahu tiga hari sebelumnya. Tapi kenapa kali ini begitu mendadak?" "Benar, biasanya seperti itu," sahut Damian. "Tapi asistenku mengatakan klien meminta untuk memajukan jadwal meeting. Aku tidak bisa menolak." Wajah Agatha menegang. Kecemasan terpantul jelas dari sorot matanya, seolah tak ingin ditinggalkan terlalu lama. Damian meraih tangan Agatha dan menggenggamnya erat. "It's okay, Sayang. Setelah meeting itu selesai, aku akan pulang. Kalau bukan malam ini, paling lambat besok pagi aku sudah di rumah." Agatha mengangguk, napasnya terdengar lega meski hatinya masih menyimpan keresahan. Ia takut, takut waktu yang tersisa tak cukup. Ia ingin mendampingi Damian lebih lama, lebih banyak, bahkan jika hanya untuk memeluk atau mendengar detak jantungnya. Damian mengecup tangan Agatha lembut. "Aku sudah berjanji padamu akan selalu ada di sisimu. Jadi tak perlu khawatir, Agatha." "Pemeriksaan terakhirmu juga, Dokter mengatakan kemungkinan operasimu dijadwalkan akhir bulan ini." Damian sejenak mengangkat jari kelingkingnya dengan senyuman tipisnya. "Aku akan pastikan semua waktuku hanya untukmu. Promise." Agatha tersenyum samar dan mengaitkan kelingkingnya dengan milik Damian, seperti sepasang anak kecil yang membuat janji rahasia. Tapi hatinya entah mengapa terasa berat. Seperti ada firasat aneh yang mengusik batinnya, rasa yang tak bisa ia jelaskan. "Hari ini kau tetap di rumah, ya? Jangan pergi seperti kemarin. Jangan pulang larut malam lagi," ucap Damian serius, suaranya mengandung nada peringatan. Agatha mengangguk patuh, lalu tersenyum. Ia memeluk tubuh Damian erat, wajahnya bersandar di d**a suaminya, mendengarkan detak jantungnya dengan tenang. "Apa aku bisa seterusnya memelukmu seperti ini dan mendengarkan detak jantungmu?" bisik Agatha, nyaris tak terdengar. Damian membalas pelukannya erat. Ada sesuatu dalam kalimat Agatha yang terasa menekan dadanya. “Tentu saja,” jawab Damian, mencium puncak kepala istrinya. “Setiap hari kau bisa memelukku, mendengarkan detak jantungku, Sayang ....” Hening sejenak. Agatha masih tak melepaskan pelukannya. "Damian," bisiknya pelan, "kalau suatu saat nanti aku tidak ada, bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu?" Damian menegang. Ia menatap Agatha dan terkekeh hambar, mencoba mengusir ganjalan yang tiba-tiba menghantam. "Kau bertanya sesuatu yang tak pernah aku pikirkan, Agatha," ujarnya. "Kita akan menua bersama. Jangan katakan hal-hal seperti itu." "Kematian seseorang tak ada yang tahu kapan datangnya. Aku hanya bertanya kemungkinan terburuknya, Damian," ujar Agatha tenang, tapi matanya menyimpan haru. Damian perlahan melepaskan pelukan, menangkup wajah Agatha dalam kedua tangannya. "Mungkin... aku tidak akan sanggup melanjutkan hidupku. Kalau kau tidak ada, aku lebih memilih untuk menyusulmu." Kata-kata itu menghantam hati Agatha. Ia menggigit bibirnya, mencoba tetap tenang. Agatha tersenyum getir. "Tidak bisa, Damian. Kau harus tetap melanjutkan hidupmu. Hidup harus tetap berjalan, bukan?" Damian menggeleng, suaranya pelan namun tegas. “Hidupku itu kau, Agatha. Kalau kau tak di sisiku... bagaimana aku bisa merasa hidup?” Perkataan itu menusuk hati Agatha. Tapi ia tak boleh menunjukkan air matanya kepada Damian "Kau melupakan anak kita?" tanyanya pelan, seolah mengingatkan Damian ia masih memiliki sebagian dari dirinya yang tak dapat di tinggalkan, di dalam rahim Alina. "Kau harus hidup untuknya, Damian. Jangan pernah meninggalkannya, sedikit pun." Damian menghela napas panjang, lalu mendekat dan mengecup bibir istrinya, lembut dan dalam, seolah itu adalah cara satu-satunya untuk membungkam ketakutan yang terus mengintai mereka. “Jangan membahas itu lagi,” katanya. “Karena aku yakin, kau akan tetap menemaniku. Hingga kita menua bersama.” Dalam hati, Agatha ingin percaya. Tapi nalurinya berkata lain. Ia hanya ingin memastikan, bahwa jika waktunya tiba, Damian akan tetap berdiri, bahkan saat ia tak lagi di dunia. *** Deru mesin pesawat terdengar samar dari balik jendela kaca yang mulai berkabut oleh embun tipis. Di kursi kelas bisnis yang senyap itu, Damian duduk terpaku, membiarkan matanya menatap kosong ke luar jendela. Awan-awan menggulung perlahan di kejauhan, langit membentang biru pucat, seolah tak tahu bahwa di dadanya, badai kecil tengah mengamuk. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Sejak meninggalkan rumah tadi pagi, pikirannya tak pernah berhenti mengulang-ulang percakapan singkat mereka, Agatha yang memeluknya erat, yang bertanya apakah ia akan tetap hidup jika dirinya tiada. Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada yang ia perkirakan. Seolah Agatha tahu sesuatu yang ia tidak tahu. Seolah... waktu mereka tak lama lagi. Damian menarik napas panjang, berusaha menenangkan dadanya yang sesak. Tapi semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas suara Agatha terdengar di telinganya, penuh cinta, tetapi juga dibalut kecemasan yang menjerat. “Apa aku bisa seterusnya memelukmu seperti ini dan mendengarkan detak jantungmu?” Pertanyaan itu kembali terngiang. Ia menutup mata. Hening. Hanya suara mesin pesawat yang mengiringi lamunannya. Damian mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia tidak pernah suka bepergian jauh seperti ini. Terlebih sekarang, di saat Agatha sedang dalam kondisi yang begitu rentan, menjelang operasi besar yang akan mengubah segalanya. “Tuhan… kali ini dengarkan permintaanku,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri. “Semoga istriku selalu baik-baik saja,” ucap Damian dalam hati. “Dan jangan pisahkan aku darinya.” Ada rasa yang begitu mengikat, mendekap dadanya tanpa ampun. Agatha bukan hanya istrinya. Ia adalah rumahnya, pelabuhan yang membuat segala lelah dunia terasa ringan. Dan kini, Damian dihadapkan pada kenyataan bahwa mungkin mereka tidak punya waktu selama yang ia bayangkan. Bayangan wajah Agatha kala mengatakan, "Kalau suatu saat nanti aku tidak ada, bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu?" menghantam pikirannya dengan kekuatan yang menggetarkan. Ia menunduk. Air matanya bahkan tak mampu lagi ia tahan dan lolos begitu saja menerobos kelopak matanya. Pernikahan mereka mungkin tidak sempurna. Tidak seperti yang ia bayangkan ketika pertama kali mengucapkan janji suci. Tapi cinta mereka, cinta mereka tumbuh bukan karena keadaan yang mudah, melainkan justru karena mereka bertahan bersama di tengah cobaan yang begitu keras. Bagi Damian, membayar ibu pengganti bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Tapi ia melakukannya karena ingin memberi Agatha harapan. Harapan bahwa hidup mereka masih bisa memiliki kisah indah di akhir cerita. Pesawat mulai bergerak perlahan. Getaran halus terasa di kaki, tapi pikirannya masih berat. Tatapan Damian tak beranjak dari langit yang perlahan berubah warna, seolah menyimpan rahasia besar yang tak mampu ia pecahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD