Her Place

1171 Words
“Tanganmu!” ucap Damian cepat, lalu bergegas mendekat tanpa ragu ke arah Alina. Ia langsung menggandeng tangan Alina dan membawanya ke wastafel. Dengan gerakan cekatan, ia mengarahkan tangan Alina ke bawah aliran air dingin yang mengalir deras. “Diam saja. Biarkan terkena air dulu,” ucapnya tenang tapi tegas. Alina terdiam, tubuhnya menegang, tapi bukan hanya karena sakit. Ada sensasi aneh di dadanya saat melihat ekspresi Damian, wajah yang khawatir, serius dan sangat mirip dengan Damian kecilnya yang dulu selalu menolongnya ketika ia terluka di masa lalu. Sekejap, hatinya terasa hangat. Tapi Alina buru-buru menepis rasa itu. Tidak seharusnya aku merasa seperti ini kepadanya. Damian adalah suami Agatha. Setelah beberapa menit, Damian mengeringkan tangan Alina dengan lembut menggunakan lap bersih, lalu memandunya untuk duduk di kursi dapur. Ia menuju ke laci penyimpanan dan kembali dengan membawa kotak P3K. Tanpa banyak bicara, Damian mengoleskan salep ke kulit Alina yang memerah. “Kau seharusnya lebih berhati-hati,” ujarnya datar, tapi masih terdengar nada khawatir dalam suaranya. “Kau tahu air itu panas, bukan?” “A-aku tahu ...,” jawab Alina dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. “Lalu, mengapa kau bisa ceroboh seperti itu?” Alina menggigit bibirnya, menunduk. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia terkejut karena melihat Damian di dapur dengan kaus miliknya yang menempel di tubuhnya. “Aku hanya ingin membuat s**u,” bisiknya pelan. Damian menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada sedikit lebih tajam, “Itu karena kau terlalu bergantung pada istriku. Kau tidak pernah mau berusaha melakukannya sendiri," ucapan itu membuat Alina semakin tertunduk. Namun, Damian sendiri tampak menyesal. Ia memejamkan mata sejenak, menyadari bahwa ucapannya barusan terdengar terlalu keras. Dengan gerakan enggan, ia mengambil gelas baru, menuang bubuk s**u hamil ke dalamnya, menambahkan air panas, lalu mengaduknya dengan hati-hati. Kemudian ia meletakkan gelas itu di hadapan Alina. “Aku melakukan ini semata-mata karena istriku,” katanya dengan nada yang dingin, seolah ingin menegaskan jarak. “Jadi, jangan pernah berpikir bahwa aku melakukannya karena keinginanku sendiri.” Alina hanya menatap gelas itu tanpa berani menyentuhnya. Damian pun berdiri tegak. Matanya menatap Alina serius sebelum akhirnya berkata, “Ingat, kau harus lebih berhati-hati. Kau sedang mengandung anaku dengan Agatha. Jangan sampai kecerobohanmu membahayakannya." Kata-kata itu begitu menusuk. Alina menelan ludah. Ada debar di dadanya. Rasa takut bercampur sesak memenuhi rongga dadanya. Ia hanya mengangguk pelan. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Damian mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin dan melangkah keluar dari dapur. Punggungnya menghilang di balik dinding, meninggalkan Alina seorang diri. Alina menggenggam gelas itu, menatap permukaannya yang beruap. Bodoh... kenapa aku masih berharap Damian kecil itu masih ada di sini? Pria yang dulu berjanji akan menikahiku. Sekarang, dia hanya menganggapku sebagai wanita asing yang kebetulan mengandung anaknya. Dan di ruang sunyi itu, Alina kembali menahan air mata yang tak pernah benar-benar pergi. *** Hujan mengguyur perlahan di luar kaca mobil, membasahi jendela dengan tetes-tetes yang bergerak turun seperti serpihan waktu yang terus berjalan tanpa ampun. Di dalam kabin mobil yang sunyi, hanya suara gemerisik hujan dan detakan lembut jarum jam dashboard yang terdengar. Cahaya dari layar tablet menyala di pangkuan Agatha, menampilkan gambar CCTV rumah besar yang tampak sepi dari luar tapi menyimpan riak ketegangan dari dalam. Ia duduk bersandar, mengenakan mantel wol berwarna kelabu yang membuat kulit pucatnya terlihat semakin sendu. Matanya yang tajam menatap layar, menelusuri setiap sudut ruangan dengan napas tertahan. Lalu, momen itu datang, sekelebat interaksi. Damian, suaminya, tampak tergesa menghampiri Alina. Ia melihat dengan jelas bagaimana Damian meraih tangan Alina yang memerah karena air panas. Gerakan tangannya begitu sigap, sorot matanya tegang tapi tak acuh seperti biasanya. Ia berbicara, bibirnya bergerak cepat dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Agatha melihat seberkas perhatian nyata dari pria itu. Agatha menghembuskan napas pelan, seolah menghempaskan sesuatu dari dadanya. "Dia... peduli," bisiknya, hampir tak terdengar, seperti rahasia yang hanya layak didengar oleh hujan dan langit malam. Rasa lega yang tak ia sadari mengalir perlahan di d**a, mencairkan beku yang selama ini membelenggunya. Meskipun insiden itu hanyalah akibat ketidaksengajaan, tetapi reaksinya bukan sesuatu yang bisa direkayasa. Damian tak membiarkan Alina menahan sakit sendirian. Itu cukup... setidaknya untuk saat ini. Namun, ketenangan itu hanya sebentar. Gelombang lain menyusul di benaknya, jauh lebih besar dan mengguncang. Apa aku akan cukup lama berada di sini untuk menyaksikan anak itu lahir? pikirnya. Tangan Agatha perlahan bergerak ke perutnya yang datar. Tidak ada kehidupan di sana, sampai kapanpun tidak akan pernah ada. Dokter sudah menegaskan, rahimnya rusak dan tubuhnya kian melemah. Penyakitnya telah merenggut kesempatan menjadi ibu dari darah dagingnya sendiri. Dan mungkin, waktu pun akan segera mengambil sisa-sisa keberadaannya di dunia ini. Ia menutup matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh, bukan karena cemburu atau kesal, tetapi karena sebuah pemikiran yang selama ini ia tekan keras-keras mulai muncul ke permukaan. "Bagaimana kalau aku tiada tak lama setelah bayi itu lahir? Siapa yang akan mencintainya dengan begitu tulus?" Ia tahu jawabannya. Satu-satunya sosok yang bisa mengisi ruang kosong itu dengan kasih sayang sejati adalah Alina. Meski awalnya semua ini hanyalah perjanjian. Alina, wanita itu bersedia menjadi surrogate mother demi sejumlah uang dan jaminan hidup. Tidak lebih, tidak kurang. Setelah bayi itu lahir, semua akan menjadi milik Agatha dan Damian, sementara Alina akan menghilang dari cerita. Namun sekarang, bayangan akan kepergiannya sendiri membuat Agatha mempertanyakan seluruh tatanan rencana yang dulu ia susun dengan penuh kendali. “Haruskah... aku membiarkannya menggantikan posisiku?” gumamnya lirih. Ia membuka mata, menatap layar tablet lagi. Kali ini bukan sebagai seorang istri yang curiga atau wanita yang menjaga rahasia, melainkan sebagai seorang manusia biasa yang mulai merelakan apa yang ia miliki. Tiba-tiba, suara supir dari depan memecahkan keheningan. “Nyonya Agatha, apakah Anda ingin saya kembali ke rumah?” tanya Axel, pasalnya Damian saat berangkat menitipkan pesan agar ia tidak membawa Agatha untuk pulang terlalu larut. Agatha menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan. “Tidak sekarang, Axel. Aku masih ingin di sini ," kata Agatha, kemudian sekilias menatap jalanan dari kaca mobil yang sudah sedari tadi ia naiki. Dan saat ia mengatakan pada Damian untuk mendatangi sebuah acara, ternyata itu hanyalah alibi atau rencana terselubung Agatha saja agar Damian bisa berinteraksi dengan Alina, terutama dengan anak mereka. Karena Agatha tahu, bila ia di rumah pasti Damian akan memilih menjaga jarak dari Alina. "Kau jalankan saja mobil ini kemana pun, intinya kita tidak bisa pulang sekarang." "Baik Nyonya," kata Axel kembali menjalankan mobil dengan tempo cepat. Dan untuk pertama kalinya, Agatha bicara dengan dirinya sendiri, lebih jujur dari biasanya. “Aku tidak ingin anak itu tumbuh tanpa kasih sayang. Aku tidak ingin Damian hancur setelah kepergianku. Mungkin... ini cara Tuhan menyiapkan mereka, bahkan sebelum aku benar-benar hilang.” “Kalau aku harus memilih, aku ingin Alina yang menggantikan tempatku. Bukan karena dia sempurna, tapi karena aku yakin... Alina akan mencintai anak itu dengan cara yang tak bisa aku lakukan lagi.” Dan di bawah langit yang tetap menangis dalam diam, Agatha pun mulai menata keberanian untuk merelakan. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengikhlaskan peran, agar cinta tetap ada, meski ia tak lagi bisa menjadi bagian darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD