Mentari pagi menyusup halus melalui celah-celah tirai putih, sinar hangatnya jatuh di atas sosok wanita yang tengah berdiri di depan cermin, mengenakan dress bernuansa nude dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya.
Dress itu merupakan dress yang dulu hanya dikenakan saat ia masih aktif di atas panggung runway, tapi kini kembali membalut tubuh Agatha, seolah membawa kenangan dari kehidupan yang dulu ia tinggalkan.
Di balik tempat tidur yang masih sedikit berantakan, Damian mulai menggeliat.
Matanya yang masih berat perlahan terbuka ketika semburat cahaya menyilaukan menyentuh wajahnya.
Ia mengerjapkan mata, kemudian mengangkat kepala. Pandangannya menangkap bayangan istrinya yang tampak sudah rapi dengan rambut ditata sederhana tetapi anggun.
“Sayang... kau mau ke mana pagi-pagi begini?” tanyanya, suaranya masih berat karena baru bangun, tetapi sorot matanya sudah dipenuhi rasa ingin tahu.
Tatapannya melekat pada dress yang kini dikenakan Agatha, dress yang tak asing, tapi telah lama tak terlihat.
Agatha menoleh pelan, lalu tersenyum kecil.
“Hari ini aku diundang ke acara modeling. Teman lamaku, salah satu rekan sesama modelku dulu, mengadakannya,” jawabnya lembut, sembari membenarkan kalung kecil di lehernya.
Damian mengernyit. Ia mengangkat tubuhnya, bersandar pada sandaran ranjang, mengusap wajahnya sejenak sebelum berkata dengan nada tak sepenuhnya yakin,
“Acara modeling? Untuk apa? Dan ini hari Minggu. Bukannya kau sudah lama berhenti dari dunia itu?”
Agatha menghela napas, matanya tetap hangat tapi jelas ada ketegasan yang terselip. Ia menatap Damian seolah hendak menenangkan keraguan yang mulai tumbuh di benaknya.
“Dunia ini tak mengenal hari libur, Sayang. Beda dengan pekerjaanmu. Kami tetap tampil, bahkan di hari seperti ini. Dan aku pun hadir hanya sebagai tamu undangan.”
Damian masih belum sepenuhnya puas dengan jawaban itu. Ia lalu duduk lebih tegak dan meraih tangan Agatha, menggenggamnya.
“Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarmu. Kita bisa pergi bersama. Toh aku juga hari ini libur,” ujarnya dengan nada lebih tenang, tapi dalam matanya tersimpan kekhawatiran yang tak mampu ia tutupi.
Namun Agatha hanya tersenyum dan menepuk tangan suaminya.
“It’s okay, Sayang. Aku bisa pergi sendiri. Aku sudah meminta Axel untuk mengantarku," katanya sambil menepuk punggung tangan Damian dengan lembut.
Damian tak segera menjawab. Pandangannya melekat pada wajah istrinya, mencoba membaca sesuatu yang mungkin disembunyikan.
Kegelisahan tumbuh pelan dalam dadanya. Ia tahu kondisi Agatha belum benar-benar pulih, meski wanita itu selalu berusaha terlihat kuat.
Ada sisi dalam dirinya yang tak bisa tenang saat istrinya harus bepergian sendiri, terlebih jika harus menghadiri acara yang pasti melelahkan.
“Agatha... bagaimana kalau terjadi sesuatu---" Kalimat itu terpotong ketika Agatha menggenggam kedua tangan suaminya, menariknya pelan mendekat dan mengecup punggungnya dengan lembut.
Tak hanya punggung tangannya saja, tetapi Agatha juga mengecup pipi Damian.
“Ssst... aku baik-baik saja,” bisiknya lembut.
“Aku tidak selemah itu. Lihatlah aku, Sayang. Aku masih bisa berdiri tegak dan tersenyum. Jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi.”
Damian terdiam. Matanya menatap jejak kecupan Agatha yang kini meninggalkan noda lipstik samar di pipinya. Ia mengangkat tangan dan menyentuh bekasnya, tersenyum tipis.
Agatha, yang melihat itu, justru terkekeh pelan.
“Oh, dan satu lagi,” ucapnya sambil meraih tas kecilnya yang diletakkan di kursi.
“Tolong perlakukan Alina dengan baik hari ini. Aku tahu kadang kau kesal, tapi... tahan sedikit amarahmu, ya?” Nada suaranya tetap lembut, tetapi penuh harap.
Damian menunduk sedikit, tak segera menanggapi. Pembicaraan tentang Alina masih menjadi topik yang sulit ia sambut dengan hangat.
Ada sesuatu dalam dirinya yang belum benar-benar damai dengan kehadiran gadis itu.
Agatha menyadari itu. Ia hanya tersenyum lagi, lebih tipis kali ini.
“Setidaknya aku senang melihat kalian mulai berbicara beberapa hari terakhir ini. Itu sudah cukup berarti buatku,” ucapnya pelan, sebelum akhirnya berjalan menuju pintu.
Langkahnya ringan, tapi hatinya menyimpan kesadaran bahwa Damian belum sepenuhnya bisa menerima semuanya.
Ia tak menunggu balasan dari suaminya, hanya melempar kalimat terakhir sebelum menutup pintu,
“Aku akan mengabari saat sudah sampai dan saat akan pulang, Damian. Jaga dirimu ....”
Damian hanya bisa menghembuskan napas panjang saat pintu tertutup di belakang Agatha.
Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik, lalu menggerakkan tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dengan satu tarikan napas, ia mengetuk layar dan menghubungi seseorang.
“Ya, Tuan?” suara Axel terdengar jelas dari seberang.
Damian tak membuang waktu.
“Axel, aku percayakan Agatha padamu hari ini. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia melakukan hal-hal yang berat,” ucapnya tegas.
“Baik, Tuan. Saya akan pastikan Nyonya Agatha aman.”
“Dan satu hal lagi, jangan biarkan dia pulang terlalu malam. Apapun alasannya.”
“Baik, Tuan. Saya mengerti,” jawab Axel cepat, nada suaranya serius dan penuh tanggung jawab.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian memutuskan sambungan telepon.
Ia menyandarkan tubuhnya kembali di sandaran ranjang, mengusap wajahnya dan membiarkan pikirannya melayang.
Hatinya belum tenang, tapi ia tahu, Agatha butuh ruang. Dan ia hanya bisa berharap bahwa ruang yang di berikan tak akan menjauhkan mereka satu sama lain.
***
Alina saat ini tengah duduk seorang diri di atas sofa, tubuhnya bersandar lemas seolah seluruh energi telah terkuras habis.
Di tangannya, sebuah ponsel menampilkan potret dirinya bersama sang ibu, dalam pelukan erat dan senyuman yang kini terasa begitu jauh dari kenyataan.
Ia menatap foto itu lama, jemarinya mengusap layar seolah ingin menyentuh wajah ibunya yang semakin tirus di dunia nyata. Rasa rindu mencengkeram dadanya dengan kuat, nyaris membuatnya sesak.
Mom... bagaimana kabarmu hari ini? Apakah Mommy juga memikirkan aku, seperti aku memikirkan Mommy setiap waktu?
Sudah hampir tiga bulan Alina tidak menjenguk ibunya di rumah sakit.
Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena Agatha melarangnya pergi ke mana pun.
Semua biaya kemoterapi ibunya ia bayarkan melalui perawat pribadi yang ia tugaskan untuk merawat sang ibu.
Kepada perawat itulah ia menitip pesan bahwa dirinya tengah berada di luar kota untuk mengurus pekerjaan. Kebohongan itu terasa menusuk hati, tetapi ia tidak punya pilihan.
Alina menundukkan kepala. Ia sadar, tidak bisa terus seperti ini.
Bagaimana jika ibunya merasa cemas karena ia tidak pernah datang? Bagaimana jika sang ibu mulai merasakan firasat bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan?
Ia memegang perutnya, tak lama lagi pasti kandungannya akan semakin bertambah besar.
Cepat atau lambat, ibunya pasti tahu. Dan ketika saat itu tiba, ia belum siap menjawab semua pertanyaan.
Tarikan napas panjang menyertai keputusannya untuk mematikan layar ponsel.
Ia mengingat sesuatu, ini sudah waktunya untuk meminum s**u khusus kehamilannya.
Biasanya, Agatha yang akan membuatkan untuknya. Namun, sejak pagi tadi, ia itu pamit karena ada urusan di luar rumah.
Kini, Alina hanya ditemani para pelayan yang lebih banyak diam dan menjaga jarak.
Dengan langkah hati-hati, ia beranjak ke dapur.
Suasana dapur begitu tenang, nyaris kosong dari aktivitas.
Alina mengambil gelas, menuangkan s**u bubuk hamil ke dalamnya, lalu mulai menuang air panas dari termos.
Namun belum sempat ia menyelesaikan semuanya, suara langkah kaki di belakangnya membuatnya menoleh refleks.
Seketika ia membeku.
Damian berdiri hanya beberapa langkah dari tempatnya, dengan rambut yang masih basah dan kaus putih tipis yang menempel erat di tubuhnya, membentuk siluet d**a dan lengannya yang berotot.
Alina tidak pernah mengira pria itu masih berada di rumah.
Kehadirannya begitu tiba-tiba, mengejutkan dan menggetarkan.
Gelas ditangannya pada akhirnya tak sengaja jatuh dan pecah di lantai, menyebarkan serpihan kaca dan cipratan air panas ke segala arah.
“Sshh!” Alina meringis, menahan rasa perih yang langsung menyengat di kulit tangannya.
Damian spontan menoleh dan melihat Alina berdiri dengan wajah meringis menahan sakit.
“Tanganmu!” ucap Damian cepat, lalu bergegas mendekat tanpa ragu.