Pengorbanan dan Penolakan

1804 Words
Layar komputer di hadapan Damian menampilkan kata-kata yang menampar pikirannya dengan keras, Gestational Surrogacy. Dua kata yang tak pernah benar-benar ia pahami secara mendalam, tapi kini menjadi pusat dari segala harapan dan keputusan hidupnya. Jari-jarinya menggulir halaman demi halaman informasi, menyelami dunia baru yang terasa asing, sebuah dunia yang bisa menjadi jalan terakhir baginya dan Agatha untuk memiliki keturunan. Gestational Surrogacy sendiri merupakan sebuah metode reproduksi berbantu yang memungkinkan seorang wanita lain mengandung anak dari pasangan melalui proses penanaman embrio yang telah dibentuk dari sel telur sang istri dan benih sang suami. Dalam kasus mereka, itu berarti benih Damian dan Agatha tumbuh di rahim perempuan lain. Ide itu terdengar aneh, bahkan nyaris tak masuk akal bagi Damian pada awalnya. Namun, kini, tiga tahun lalu sejak vonis medis jatuh atas kondisi rahim Agatha dan baru Damian ketahui, ide itulah satu-satunya yang tampak bercahaya di tengah kegelapan yang menyesakkan. Tahun kedua, sejak dokter memaparkan bahwa Agatha, istrinya tercinta, mengalami kondisi rahim yang begitu kompleks dan nyaris tak bisa ditangani. Saat itu, Damian terlalu terpukul, terlalu menolak kenyataan. Ia menutup telinga, menolak menerima dan akhirnya menunda semua saran yang sempat dokter berikan. Salah satunya adalah Gestational Surrogacy, sebuah opsi yang sekarang, di tengah desakan orang tuanya agar menikah lagi demi penerus keluarga, terasa seperti satu-satunya tameng untuk menyelamatkan cinta dan janji suci pernikahannya. “Pikirkan keluarga kita, Damian. Keluarga kita harus selalu memiliki garis keturunan yang akan mewarisi Harrison Group. Kalau kau tidak memiliki anak, lalu siapa yang akan menggantikanmu kelak?” Perkataan ayahnya, William Alexander Harrington terus terputar dan menghantui pikiran Damian tanpa henti. Dengan tubuh bersandar di kursi dan wajah yang terkubur di balik kedua telapak tangan, Damian menghela napas berat. Pandangannya kosong, tapi pikirannya begitu penuh. Ia merenungi segalanya, keputusan yang tertunda, waktu yang terbuang dan rasa bersalah yang kini menampar dirinya bertubi-tubi. Jika saja ia mendengarkan lebih awal. Jika saja ia tak menyangkal sekeras itu. Mungkin ia masih memiliki kesempatan. Namun tidak ada gunanya menyesali yang sudah berlalu. Ia berpikir, jika memang harus membayar wanita untuk menyewakan rahimnya, maka biarlah begitu. Tak masalah, tidak akan ada perasaan, tidak akan ada hubungan intim. Hanya sebuah transaksi yang sah dan profesional. Tapi, di tengah harapan yang mulai ia tanamkan lagi, Damian tetap merasa perlu memastikan. Ia tidak ingin mengambil langkah yang tidak sepenuhnya ia pahami. Ia ingin memastikan bahwa proses ini tidak melibatkan hubungan fisik, tidak melukai Agatha secara emosional, tidak mengkhianati janji mereka. Tanpa memberitahu Agatha, Damian menemui dokter kandungan yang telah lama menangani istrinya. Harapan itu, yang sudah ia bangun setengah hati, seketika runtuh saat mendengar pernyataan dokter. “Maaf, Tuan Damian, saran yang saya berikan mengenai Gestational Surrogacy tiga tahun yang lalu itu sama sekali tidak bisa dilakukan.” Tubuh Damian seketika melemas. Ia menahan napas, berharap mungkin ia salah dengar. Tapi, tatapan mata sang dokter tak memberi ruang untuk harapan palsu. “Kondisi rahim Nyonya Agatha sudah terlalu parah. Sel kanker telah menyebar ke bagian ovarium,” lanjut dokter dengan nada hati-hati tetapi tegas. Damian merasakan dadanya sesak. Dunia terasa sempit. Ia tak menyangka harapan yang ia bangun perlahan itu akan diruntuhkan dalam sekejap. “Satu-satunya jalan adalah menggunakan donor sel telur,” ujar dokter lagi. Damian menautkan alisnya. “Maksudnya …?” “Artinya, Anda tetap bisa melakukan Gestational Surrogacy, tapi embrio harus berasal dari benih Anda dan sel telur donor, bukan dari Nyonya Agatha.” Lagi-lagi, dunia Damian runtuh. Ia berusaha mencerna informasi itu, tetapi sulit. Bagaimana bisa ia memiliki anak yang bahkan tidak mengandung sedikit pun darah Agatha? Tertawa pelan, Damian menggigit bibir bawahnya. Bukan tawa bahagia. Bukan pula tawa lega. Tapi tawa getir, tawa yang lahir dari ketidakberdayaan. Semua ini terasa salah dan terlalu menyakitkan. “Sebelumnya saya juga sudah menyarankan untuk melakukan pembekuan sel telur,” kata sang dokter dengan lirih. “Tapi Anda tidak memberikan respons saat itu.” Itu benar. Damian mengingatnya. Waktu itu ia terlalu sibuk menolak kenyataan, terlalu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, atau mungkin terlalu takut untuk menghadapi kenyataan pahit bahwa waktu mereka terbatas. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Damian berdiri dari kursinya dengan langkah berat, seolah beban dunia ada di pundaknya. Ia tidak punya pilihan lain. Impiannya untuk memiliki anak dari darah dan daging Agatha harus dikubur dalam-dalam. Ia tidak hanya kehilangan satu kemungkinan, tapi kehilangan seluruh harapannya. Dalam perjalanan pulang, pikiran Damian berkecamuk. Haruskah ia memalsukan kehamilan Agatha? Haruskah mereka berpura-pura dan kemudian mengadopsi anak? Apakah Agatha akan menyetujuinya? Atau justru ia akan menolak dan menganggap semua itu sebagai pelarian semu? Tapi di sisi lain, tanpa sepengetahuan Damian, Agatha juga tengah menyusun langkahnya sendiri. Diam-diam, Agatha membuat formulir untuk wanita yang bersedia menjadi ibu pengganti. Ia mencari, menimbang dan mempelajari persyaratan yang telah ia buat. Persyaratan yang ia tetapkan bukan main-main. Setiap poin disusun untuk menjaga kehormatan, kekuasaan dan yang paling penting, kerahasiaan. Persyaratan pertama dan paling utama, wanita itu harus menjaga kerahasiaan sepenuhnya. Tidak boleh ada kebocoran, desas-desus, atau informasi yang keluar, sekecil apa pun. Kedua, tidak diperbolehkan ada ikatan emosional terhadap anak yang dikandung. Ia harus siap menyerahkan bayi itu tanpa keterikatan. Ketiga, wajib memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat, bebas dari penyakit dan trauma yang dapat membahayakan kehamilan. Keempat, usia harus antara 22 hingga 32 tahun, usia reproduktif yang dianggap ideal dan minim risiko. Kelima, tidak sedang terikat pernikahan atau hubungan hukum lainnya. Keenam, bersedia menjalani pengawasan dan pemeriksaan rutin selama masa kehamilan. Dan terakhir, semua harus disahkan dalam kontrak hukum selama satu tahun. Tertulis. Ditandatangani. Mengikat. Dan di bawah pengawasan Agatha sendiri. Formulir itu akhirnya rampung. Sepotong kertas dengan segel Harrington yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar tentang kelanjutan garis darah yang ingin ia jaga dengan segala cara. Ia menyelipkannya ke dalam map berwarna hitam, lalu menguncinya di dalam laci besi. Satu hal yang pasti bagi Agatha, ini bukan hanya tentang kelangsungan keluarga, tapi pernikahannya juga. Namun Agatha sadar, dirinya tak lagi punya banyak waktu. Jika operasi lanjutan harus dilakukan dan itu menghilangkan semua kemungkinannya untuk menjadi seorang ibu, maka sebelum semua itu terjadi, ia harus melakukan sesuatu. Ia harus berani. Ia harus mengorbankan sebagian dirinya demi senyum yang akan kembali ke wajah suaminya. Cinta sejati terkadang membutuhkan pengorbanan di luar batas logika. Dan dalam senyapnya, Agatha memilih jalan itu. *** Rencana Agatha telah ia susun dalam diam. Setiap langkahnya penuh perhitungan, setiap risikonya ia pertimbangkan baik-baik. Semua demi satu tujuan, memberikan Damian seorang anak. Ia tahu waktu mereka sempit. Ia tahu rahimnya sudah tak mampu. Maka, ia memilih untuk bergerak diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya, menyusuri jalan yang berliku dan penuh duri demi cinta yang ingin ia wariskan dalam bentuk kehidupan kecil, seorang bayi, yang akan menjadi saksi cinta mereka. Namun, tak ada rahasia yang benar-benar abadi. Damian akhirnya tahu. Entah dari mana asal informasi itu, tapi malam itu, saat Damian pulang lebih cepat dari biasanya, ia menemukan catatan-catatan yang terselip di meja rias Agatha. Persyaratan untuk menjadi Surrogate Mother. Darahnya mendidih. Kepalanya penuh amarah dan kekecewaan. Ia tak bisa mempercayai apa yang dibacanya. Maka malam itu, pertikaian pun tak terelakkan. “Agatha!” serunya begitu masuk ke kamar tidur mereka. Matanya menatap lurus, tajam dan dalam. Agatha terperanjat. Wajahnya memucat. Namun, ia tak menghindar. Ia tahu waktu itu akan datang. “Apa maksud semua ini?!” Damian mengangkat lembaran kertas yang gemetar di tangannya. Agatha menarik napas dalam, lalu menjawab dengan suara tenang, meski dadanya bergetar hebat. “Itu… satu-satunya jalan yang tersisa untuk kita, Damian.” “Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini, Agatha!” Nada suara Damian begitu tegas, penuh penolakan, suaranya menggema di ruangan tempat mereka berdiri. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, sementara wajahnya merah karena menahan emosi. Agatha hanya menatap Damian dengan wajah pucat, tapi sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat. Ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terbongkar, tapi tidak menyangka Damian akan bereaksi sekeras itu. “Ini satu-satunya cara, Damian,” bisiknya pelan. “Aku sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa memiliki anak. Kau tahu itu, Damian.” Damian menggeleng keras. “Aku tahu, Agatha. Dan kau sadar apa yang kau lakukan dengan membuka persyaratan itu?” Agatha menarik napas, menunduk. Jemarinya saling meremas erat. “Aku sadar. Tapi aku juga sadar, kita tidak memiliki banyak pilihan. Kecuali kau ingin menjalani perjodohan itu.” Kata-kata itu menghantam Damian seperti palu besar. Ia memejamkan mata sesaat, tubuhnya goyah karena beban batin yang selama ini ia pendam. Perjodohan. Tekanan dari orang tuanya. Pandangan masyarakat. Semua seolah memaksanya untuk bergerak maju, meninggalkan Agatha yang sekarang tidak bisa memberinya keturunan. Namun tidak ada satu detik pun di mana Damian memikirkan opsi itu sebagai jalan keluar. “Kau pikir aku sebodoh itu? Menyerah hanya karena kau tak bisa hamil? Aku tidak akan melakukannya, Agatha!” ujar Damian dengan suara meninggi. “Aku tidak akan memilih wanita lain manapun hanya demi meneruskan keturunan. Tidak untuk mengorbankan pernikahan suci kita!” Agatha menatap Damian, matanya berkaca-kaca. “Damian… aku tidak ingin kau kehilangan segalanya hanya karena memilihku. Kau pantas mendapatkan keluarga. Anak-anak yang mewarisi wajahmu… dan matamu yang lembut saat sedang tidak marah seperti ini.” Perkataan Agatha begitu halus, tetapi menikam. Damian menatapnya lama, wajahnya melembut, tapi rahangnya masih mengeras menahan amarah dan ketidakberdayaan. “Agatha,” katanya lebih pelan, “aku tidak pernah mempermasalahkan kita tidak memiliki anak. Yang kuinginkan… hanya kau. Bahkan jika dunia ini berbalik menolak kita, aku tetap akan memilihmu.” “Lalu apa yang akan kita lakukan terhadap tekanan keluargamu?” Agatha balas bertanya. “Mereka tidak akan berhenti sampai kau menikah lagi. Mereka akan mencarikan wanita dari keluarga terpandang. Aku tidak ingin kau justru akan terjebak di antara dua pilihan, Damian.” Damian menghela napas panjang. Ia melangkah pelan, lalu duduk di sisi ranjang. Suaranya terdengar letih, tapi mantap. “Kita akan melawan bersama. Aku tidak akan menikahi siapa pun. Tidak sekarang, tidak nanti. Mereka harus tahu… aku memilihmu. Bahkan jika harus kehilangan hak waris atau status keluarga.” Agatha terdiam. Bibirnya bergetar. Air matanya akhirnya jatuh satu per satu. “Tidak, Damian, kau tidak bisa melakukan itu,” ucap Agatha menahan sesak di dadanya, ketika melihat Damian harus merelakan segalanya hanya untuk dirinya yang sudah tidak sempurna. Ini tidak adil untuknya. Damian memejamkan mata sejenak. “Agatha jika pilihan yang kau maksud itu terjadi, tetap saja anak itu tidak akan ada darahmu. Aku tak yakin bisa melihat bayi itu dan tak merasakan luka, Agatha. Luka karena tahu kau tidak ada di dalam dirinya.” Keheningan menyelimuti mereka. Damian melanjutkan, suaranya pelan. “Aku lebih memilih mengubur harapan itu, daripada melihatmu hancur karena berpikir kau bukan wanita ‘sempurna’. Kau tetap sempurna bagiku. Bahkan dalam keadaan sekarang.” Agatha meneteskan air matanya. Ia tahu, cintanya pada Damian begitu besar, sampai ia rela kehilangan kehormatannya sendiri sebagai istri hanya agar Damian bisa menjadi ayah. Tapi kini, Damian memeluk semua luka dan rasa sakit itu, menolak cara-cara dunia yang menyudutkan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD