Senja memerah di luar jendela saat percakapan di ruang rapat pribadi itu berlangsung tegang. Agatha berdiri, tegar tapi gemetar, menatap Damian tanpa ragu.
“Damian, kau tidak mengerti,” suaranya nyaris gemetar.
“Aku tahu ini terdengar gila, tapi ini satu-satunya cara jika kita ingin memiliki anak.”
Damian meremas formulir itu untuk yang kedua kalinya dengan tatapan matanya yang menajam.
“Kau ingin… seorang wanita asing, mengandung anak kita, yang bahkan nantinya tidak akan memiliki darahmu sedikitpun?” tanyanya, suaranya dalam dan bergetar, entah karena marah, kecewa, atau takut.
Agatha mengangguk. “Ya, asal anak itu masih memiliki darahmu, aku bersedia.”
“Lagipula aku telah menentukan syarat dan batasan untuk orang yang nantinya mau menerima tawaran ini.”
Bagi Damian, ini tetap terasa seperti pengkhianatan dalam pernikahan.
Percakapan itu berubah menjadi keheningan sarat luka.
Di akhir malam, saat lampu kota mulai menyala, Damian akhirnya mengalah. Ia tahu tekanan dari keluarganya sendirilah yang menjadi penyebab, terutama soal cucu, menjadi alasan kuat di balik keputusan istrinya.
“Baiklah,” ucapnya lirih.
“Tapi satu syarat, setelah anak itu lahir, aku tak mau berhubungan dengan wanita itu. Ia tak boleh menampakkan diri padaku, bahkan anak itu pun tak boleh tahu siapa ibu kandungnya.”
Kata-katanya terdengar dingin, tapi bagi Damian, itu satu-satunya cara menjaga pernikahan yang telah ia bangun susah payah.
***
Sementara itu, di ujung kota yang jauh dari gemerlap dan kemewahan, tepatnya di sebuah rumah sakit ada seorang wanita yang saat ini tengah memandangi selebaran formulir ditangannya.
Alina Oceanne, seorang wanita berusia 27 tahun, mengenakan blus putih yang sedikit lusuh, duduk di lantai sebuah kursi di samping ranjang dengan mata sembab.
Dibutuhkan Surrogate Mother dengan Pembayaran tinggi, berikut persyaratan yang ada.
Bait demi bait wanita cantik bermata hijau itu membaca dan memahami setiap persyaratan yang tertulis.
Hatinya bergemuruh ketika membaca, ini bukan karena godaan uang, tetapi karena bayangan ibunya yang membutuhkan biaya.
Kanker otak stadium lanjut yang di idap ibunya harus segera menjalani sebuah operasi yang tak bisa lagi ditunda. Dan ia, sebagai seorang anak satu-satunya, tak memiliki cukup biaya untuk menyelamatkan hidup ibunya.
Alina menurunkan selebaran formulir itu kemudian melirik ibunya yang terbaring di sampingnya dengan mata terpejam.
Matanya tak sanggup untuk menahan air matanya yang siap menerobos keluar dari pelupuk matanya.
Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak bisa berdiam diri melihat ibunya tiada secara perlahan karenya penyakit ganas itu.
Ketika air mata Alina benar-benar jatuh dari matanya, sang ibu terbangun dari lelapnya, mungkin karena efek obat penenang telah habis.
Alina segera menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh ibunya. Tapi, ibunya itu tetap tahu mata sang putri terlihat sembab dan memerah.
Hatinya bergemuruh sedih melihat beban berat yang dipikul putrinya, seharusnya hal ini tidak terjadi pada permata hidupnya.
“Mommy ...,” sapa Alina berusaha terlihat tegar bahkan memperlihatkan senyumannya.
Perlahan, tangan yang terpajang infus itu bergerak ke atas tangan Alina dan menggenggamnya.
“Nak, Mommy minta maaf… Karena Mommy terus merepotkan mu,” lirih ibunya, menatap putrinya dengan pandangan kosong yang dipenuhi rasa bersalah.
“Tidak, Mom. Jangan katakan itu,” ucap Alina dengan suara gemetar.
“Bahkan jika aku bisa, aku ingin menggantikan Mommy di sini. Aku rela, asal Mommy tidak seperti ini.”
“Karena, hanya Mommy saja yang aku miliki disini.”
Tetesan air mata pun akhirnya benar-benar jatuh dari mata ibunya. Tangan ringkih itu mengelus kepala putrinya dengan gemetar.
“Alina, kau masih muda, Nak… hidupmu masih panjang. Jangan membuang waktumu, tenagamu hanya untuk Mommy, yang mungkin hanya tinggal menunggu--“
“Tidak Mommy, jangan katakan itu. Alina masih membutuhkan Mommy… hanya Mommy yang Alina punya,” ucap Alina dengan isak tangis yang terasa menekan dadanya.
Isadora Marianne, menatap putrinya dengan air mata yang terus menetes jatuh.
Hatinya sakit melihat putrinya mati-matian berjuang untuk kehidupan mereka dan penyakitnya ini, sedangkan ayahnya Alina, pria b******k itu meninggalkannya dengan putrinya hanya karena selingkuhannya dan membuat kehidupan mereka menjadi berantakan.
Ia tidak peduli ditinggalkan, tapi Alina butuh sosok ayah.
Hening sejenak. Hanya suara detak jantung mesin yang menemani kesedihan itu.
Alina menarik napasnya sejenak, berusaha menghentikan isak tangisnya.
“Alina… Alina sedang mencari jalan untuk kesembuhan, Mommy,” bisik Alina, pelan.
“Alina janji, akan mencari cara agar Mommy bisa operasi. Apa pun itu… Alina akan lakukan.”
“Alina hanya minta satu hal… agar Mommy tetap bertahan dan jangan meninggalkan Alina sendirian di dunia ini …,” ucap Alina dengan menahan isak tangisnya yang hampir pecah lagi.
Tangan ibunya menggenggam lebih erat, walau tak memiliki banyak tenaga.
Dan saat itu, dalam diam, Alina tahu, ia benar-benar akan melakukan hal paling gila sekalipun… agar ibunya tetap berada di sisinya.
***
Setelah menelusuri internet tentang surrogacy dan dengan segala pemikiran matang akhirnya Alina memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi calon kandidat Surrogate Mother dari keluarga kaya itu.
Meskipun ia tahu metode mulai dari inseminasi buatan hingga cara alami yang mungkin saja harus ia lakukan.
Hari itu, Alina mendatangi sebuah tempat yang mengundangnya untuk hadir dari proses seleksi sebagai Surrogate Mother.
Seleksi berlangsung di hotel mewah yang asing bagi Alina dengan beberapa kandidat wanita lain yang juga ada di sana.
Ia datang mengenakan gaun paling sopan yang di milikinya, dengan wajah polos dan mata yang menyimpan luka masa kecilnya, luka karena ditinggal ayah dan haya di besarkan oleh ibu yang memikul dunia seorang diri.
Alina menelan ludah. Ingin kabur. Tapi bayangan ibunya kembali menghantui.
Tidak, Alina. Hanya cara ini satu-satunya yang kau miliki. ucap batin Alina.
Tak lama, seorang pria masuk. Berjas gelap, dengan clipboard di tangan, wajahnya tak menampakkan senyum sedikit pun.
“Selamat pagi. Saya Lorenzo. Tangan kanan dari Tuan dan Nyonya, yang akan merekrut salah satu di antara kalian.” Suaranya tegas.
“Saya akan mengambil formulir yang sudah kalian isi. Kami tidak mencari wanita sempurna. Kami mencari yang sesuai dengan kehendak mereka.”
Ia melirik sekilas pada formulir Alina, matanya terhenti sesaat. Lalu melanjutkan ke kandidat berikutnya.
“Ini bukan permainan. Jika kalian hanya mencari ketenaran, lebih baik mundur sekarang. Ini menyangkut keluarga konglomerat, sekali terlibat, tak ada jalan keluar dengan mudah.”
Beberapa wanita saling melirik. Ada yang mulai gelisah. Tapi tidak dengan Alina.
Ia menunduk pelan, menahan napas,
Aku tidak memiliki kemewahan untuk takut. Hidup Ibuku, kini ada di ujung tanduk.
***
Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya ia mendapatkan sebuah kabar, entah kabar bahagia atau kabar buruk.
Alina terpilih menjadi Surrogate Mother dan ia di arahkan untuk bertemu kedua pasangan tersebut.
Dan kini ia telah berada di sebuah ruangan mewah dan sunyi menyambutnya.
Aroma bunga putih bercampur wangi parfum mahal membuat kepalanya sedikit pening. Ia duduk di ujung sofa, jantungnya berdentum tak karuan.
Seorang wanita elegan dengan wajah tenangnya masuk terlebih dahulu dari balik pintu yang menjulang tinggi.
Itu adalah Agatha. Lalu sosok pria tegap dengan sorot mata dingin menyusul di belakangnya.
Alina meneguk ludahnya. Ia menatap dalam wajah pria itu, yang seperti tidak asing baginya.
Alina mengenali pria itu.
Damian Leoric Harrington, teman masa kecilnya, pria yang dulu berlari bersamanya di jalanan, bermain bola kaleng dan berjanji akan menikahinya suatu hari nanti.
“Kau akan menjadi istriku saat besar nanti, Anne. Aku janji!”
Kenangan itu terpantul kuat di matanya.
Tapi saat Damian menatapnya kini, tidak ada sedikit pun sisa ingatan di sana yang justru hanya terlihat kosong, datar dan terasa asing.
Damian menoleh pada Agatha. “Ia kandidatnya?”
Agatha mengangguk. “Iya. Namanya Alina Oceanne. Berdasarkan formulir dan alasan yang ia tulis, aku pikir ia adalah pilihan terbaik. Ia ingin hidupnya dengan Ibunya tetap berjalan. Alasannya kuat, bukan sekadar uang tapi tentang kebersamaan dengan orang terkasihnya,” ucap Agatha pelan kepada suaminya.
Damian mengangguk pelan, masih menatap Alina. “Baik.”
Tak ada sapaan. Tak ada pengakuan bahwa mereka pernah saling mengenal, meski hanya sebatas masa kecil.
Hati Alina mencelos.
Agatha kemudian menyampaikan persyaratan dengan nada pelan tapi jelas.
“Kami memiliki beberapa ketentuan yang tidak bisa ditawar,” ucapnya pelan.
“Sebelumnya, kau sudah membaca persyaratan dan memahaminya ‘kan?” tanya Agatha, Alina hanya mengangguk bila ia telah membaca dan memahaminya.
“Pertama, kau tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang peranmu sebagai seorang Surrogate Mother. Kedua, kau akan tinggal bersama kami selama masa kehamilan. Ketiga ....” Ia menoleh sebentar ke arah Damian, lalu kembali menatap Alina, “Proses ini akan dilakukan secara alami. Kami tidak akan menggunakan inseminasi.”
Alina tercekat. Secara alami?
Dunia serasa berhenti sejenak.
Namun, di balik syok dan gugup, ada tekad keras yang menyala di matanya. Ia menunduk pelan.
“Aku mengerti… Aku terima.” Suaranya bergetar, Alina sudah tahu konsekuensi dari semuanya.
Tangannya mengepal di atas dressnya. Ini demi ibunya. Ini satu-satunya jalan. Ia harus kuat, meski hatinya sendiri tercabik.
***
Malam yang telah di tentukan, Agatha akhirnya tiba.
Tepatnya, di sebuah kamar private dan tenang telah ia siapkan dengan hati berat, sebab meski ia tampak tegar, batinnya hancur.
Agatha tahu ini adalah keputusan terberat dalam hidupnya, membiarkan wanita lain menyentuh suaminya demi keturunan yang tak bisa ia berikan.
Alina mengenakan gaun tidur berwarna putih sederhana yang diberikan Agatha.
Tangannya gemetar, dadanya sesak oleh rasa asing yang sulit ia jelaskan. Saat Damian masuk dan melihatnya, pria itu menahan ekspresi.
Tatapannya begitu datar.
“Aku melakukan ini karena istriku,” ucapnya dingin.
“Jangan pernah berpikir kau bisa menggantikan posisinya. Kita hanya dua orang asing yang terpaksa melakukan ini.”
Alina menunduk, menelan kepahitan. Ia tidak diharapkan, tidak diingat, meski dulu Damian pernah menjadi cinta pertamanya. Tapi ia tahu batasnya.
Malam itu pun berlalu tanpa pelukan, tanpa bisikan hangat, hanya tubuh yang bersentuhan dalam kesunyian dan keterpaksaan.
Damian tak ingin berlama-lama.
Dalam hati, ia hanya berharap, sekali ini cukup dan benih itu tumbuh tanpa perlu mengulang.