Pagi itu datang tanpa sapaan hangat. Tak ada suara burung, tak ada hembusan angin yang menyejukkan hati. Hanya sinar matahari yang masuk dari celah tirai jendela, menusuk kelopak mata Alina yang bengkak karena tangis semalam.
Dengan tubuh lelah, ia terbangun perlahan, mencoba duduk meski nyeri di sekujur tubuhnya membuatnya menggigit bibir sendiri untuk menahan sakit.
Rasa pegal dan ngilu menyerangnya dari ujung kaki hingga ke tulang punggung. Ia menyapu pandangan ke sekeliling kamar, ruangan sunyi itu menyimpan bekas luka yang lebih dari sekadar fisik.
Seprei yang berantakan, bercak merah yang mengering di atas kain putih, menjadi bukti diam dari malam yang terpaksa harus ia lalui.
Alina menunduk. Napasnya tercekat. Kilasan kejadian semalam kembali menyergap, sejelas luka yang masih menganga di dalam dirinya.
Ia ingat jelas bagaimana Damian datang menghampirinya, tak ada tatapan lembut, tak ada kata pembuka, tak ada pelukan penyambut.
Ia hanya menarik tubuh Alina dengan gerakan kaku dan tergesa, seolah yang di hadapinya bukanlah seorang wanita, melainkan sebuah kewajiban yang harus diselesaikan.
Tangannya mencengkeram seprei saat tubuhnya mulai menyatu dengan pria itu, tapi tidak ada kelembutan di sana, hanya sentuhan kosong tanpa makna.
Damian tidak mengecupnya, tidak menyentuh dengan rasa. Ia hanya menarik dan mendorong, secepat dan sekasar mungkin, seolah ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.
“Aku harap ini berakhir dengan cepat dan aku tidak ingin mengulanginya,” ucap Damian dengan nada suara yang terdengar dingin, datar dan tak berjiwa, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya bukan ditujukan kepada manusia, melainkan kepada sebongkah batu yang tak layak menerima rasa atau empati sedikit pun.
Bukan itu saja, tatapannya juga kosong saat menunduk melihat Alina yang gemetar.
“Kau harus selalu mengingat, aku melakukan ini karena istriku, jangan pernah berpikir sedikitpun aku akan tertarik denganmu.”
Ketika tubuhnya meringis menahan sakit, ketika ia memohon tanpa kata agar pria itu sedikit memperlambat atau sekadar peduli, Damian justru mempercepat temponya.
Ia seperti tidak memiliki empati atau pun penyesalan yang ia lakukan padanya, yang bahkan ini adalah pertama kalinya ia melakukan hubungan intim seperti ini.
“Aku tidak peduli kau sakit atau tidak. Aku hanya ingin ini cepat selesai,” katanya sebelum menarik diri dan melangkah pergi. Tanpa menoleh. Tanpa meninggalkan satu pun hangat atau perhatian.
Alina menutup matanya kala ingatan itu kembali terlalu jelas.
Ia masih bisa merasakan bagaimana ucapan itu menghantam jiwanya lebih keras dari tubuh yang diterkam.
Dan kini, pagi telah datang, menyisakan Alina sendirian dengan rasa sakit yang menumpuk pada tubuh dan perasaannya.
Ia menarik selimut, menutupi tubuh yang terasa begitu kotor. Ia menggigil, bukan karena dingin, tapi karena rasa malu dan hancur yang tak bisa ia lawan.
Air mata akhirnya jatuh, diam-diam mengalir di sudut matanya. Ia sudah mencoba menahannya, tapi perih di dalam hatinya terlalu dalam untuk dibungkam.
Ia ingin terlihat kuat. Tapi bagaimana mungkin, jika yang tersisa dari dirinya hanyalah tubuh yang lelah dan harga diri yang terasa hancur, diinjak tanpa ampun?
Saat itulah ponsel di meja samping berbunyi. Layarnya menampilkan pesan singkat dari Agatha.
“Kau baik-baik saja? Damian sudah kembali bersamaku. Aku harap semuanya berjalan sesuai rencana, Alina. Maaf, Alina. Terima kasih sudah melakukannya untuk kami.”
Mata Alina menatap layar itu dalam diam.
Kata “maaf” dan “terima kasih” dari Agatha justru terasa seperti luka baru.
Kata-kata itu bukan penghiburan, melainkan pengingat bahwa ia hanya pelengkap, yaitu sebagai seorang pengganti.
Dengan jemari gemetar, Alina membalas pelan.
“Beri aku waktu untuk sendiri sebelum aku benar-benar berada dalam lingkungan kalian.”
Lalu ia bangkit perlahan dari tempat tidur, menahan rasa ngilu yang kembali menjalar.
Langkahnya gontai menuju cermin di sudut ruangan. Dan saat ia menatap bayangannya sendiri, ia hampir tidak mengenali sosok di sana.
Wajah yang sembab, rambut kusut, mata merah dan tubuh yang ditutupi selimut.
Ia terlihat seperti wanita asing, bukan Alina yang dulu penuh semangat dan harapan.
Bibirnya bergetar saat ia menyentuh kaca cermin itu, seolah ingin memastikan bahwa ia masih nyata. Bahwa semuanya bukan mimpi buruk semata.
Ini bukan hanya tubuh yang di pinjam, pikirnya. Tapi hati ini yang ikut terluka.
Aku bukan lagi Alina yang sama.
Namun jauh di dalam pikirannya, di balik luka dan air mata yang belum kering, ada satu kenyataan yang tak bisa ia abaikan.
Mungkin, di dalam tubuhnya nanti, akan tumbuh sebuah kehidupan, benih dari malam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Meski rasa sakitnya belum hilang, Alina sadar, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
***
Sinar matahari merayap pelan di langit barat, mewarnai cakrawala dengan semburat jingga yang temaram.
Jalanan sepi menyambut perjalanan dua insan yang duduk berdampingan dalam satu mobil, tapi hati mereka terbentang sejauh langit dan bumi.
Roda berputar, mesin mendengung stabil, tetapi suasana di dalam mobil jauh dari kata tenang.
Ada sesuatu yang tertahan di antara mereka yang tak terucap, tapi cukup kuat untuk membuat d**a terasa sesak.
Damian duduk di belakang kemudi dengan tubuh tegang.
Matanya terpaku ke depan, menatap lurus ke jalan, seolah sedang menembus kabut pikiran yang tak kunjung jernih.
Rahangnya mengeras, menahan bara emosi yang seolah siap meledak kapan saja.
Tangannya menggenggam setir begitu kuat, seakan berharap semua amarah dan luka di dadanya bisa berpindah ke benda mati itu menjadi getaran, menjadi tekanan, menjadi apa saja selain perasaan yang terus menyesakkan.
Di sebelahnya, Agatha duduk membisu, memeluk erat pergelangan tangannya sendiri. Satu-satunya bentuk perlindungan diri yang mampu ia lakukan saat itu.
Matanya memandang keluar jendela, tetapi tak benar-benar melihat apa pun.
Langit senja, pepohonan dan mobil-mobil yang lewat hanyalah bayangan kabur di balik kaca, tak mampu mengalihkan pikirannya dari sosok pria yang kini terasa asing, meski hanya berjarak sejengkal darinya.
Sejak mereka meninggalkan vila, tak satu pun kata terlontar.
Hening yang menyesakkan telah menjadi dinding pemisah di antara mereka dan semakin lama diam itu bertahan, semakin besar pula jurang yang tercipta.
Akhirnya, Agatha mengumpulkan keberanian. Suaranya keluar lirih, nyaris seperti bisikan yang takut terdengar.
“Damian ....”
Ia menoleh pelan, menatap suaminya dengan tatapan penuh keraguan dan harap.
“Semua berjalan baik ‘kan?” pertanyaan itu mengambang di udara, menunggu jawaban yang terasa seperti tak akan pernah datang.
Damian menarik napas, panjang dan berat. Butuh waktu sebelum ia menjawab dan saat ia melakukannya, suaranya terdengar datar, tanpa getaran perasaan, nyaris seperti batu yang jatuh ke dasar jurang.
“Aku hanya akan melakukannya sekali. Dan kalau ini gagal, maka cukup sampai di sini. Aku tidak akan menyentuh wanita mana pun selain kau.”
Kata-katanya dingin. Penuh ketegasan yang lebih mirip peringatan. Dan saat matanya sekilas menoleh pada Agatha, wanita itu bisa melihat amarahnya.
Amarah yang berasal dari luka dalam yang diam-diam berdarah, luka yang tak bisa di jahit oleh kata maaf.
Agatha terdiam. Bibirnya bergetar dan suara yang akhirnya keluar pun pecah, seperti daun kering yang hancur saat diinjak.
“Aku tahu… aku tahu kau marah ....” cicit Agatha pelan, kemudian ia mengatupkan bibirnya, berusaha menahan gemetar tangannya sendiri.
“Maaf, Damian. Aku… aku hanya ingin kau bisa merasakan bahagia. Aku ingin kita memiliki keluarga yang utuh. Tapi karena ketidaksempurnaanku, aku tidak bisa memberikannya padamu.”
Suasana dalam mobil kembali di selimuti sunyi.
Damian tak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Sorot matanya tetap keras, tetap kecewa. Ia tidak membalas, tidak menyanggah, tidak juga menyentuh tangan Agatha. Dan itu lebih menyakitkan daripada teriakan amarah.
Namun Agatha tahu, semua ini adalah akibat dari keputusan mereka sendiri, keputusan untuk menggunakan cara yang tak biasa demi meraih sesuatu yang tampaknya sudah lama mereka perjuangkan yaitu sebuah keluarga utuh.
Dalam diamnya, Agatha mencoba menelan pil pahit itu sendirian.
Tidak, ia tidak menangis. Hanya saja, hatinya sudah lebih dulu retak.
Retak oleh rasa bersalah, rasa cinta dan kenyataan bahwa suaminya telah menyentuh wanita lain, meski demi mereka berdua.
Meski begitu, di balik luka itu, ia tetap menggenggam harapan. Harapan yang rapuh, tetapi masih bersinar redup dalam gelap hatinya.
Semoga Alina mengandung… Semoga setelah ini, semua tekanan dari keluarga Damian akan berakhir… dan semoga setelah ini, Damian bisa memelukku kembali, tanpa jarak yang dibuat oleh rasa kecewa.
Agatha menatap Damian sekali lagi. Dalam hatinya, ia berjanji, jika Alina benar-benar hamil, ia akan menjaga anak itu seolah lahir dari rahimnya sendiri.
Bukan karena rasa bersalah, tapi karena cinta yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Karena pernikahan ini masih ingin ia perjuangkan, meski berdarah-darah.