Suara jam dan pendingin ruangan mengisi kesunyian.
Aroma antiseptik yang khas menusuk hidung, tapi Alina bahkan tak sempat memperhatikan hal itu. Matanya tertuju pada sosok pria paruh baya yang duduk di depannya, mengenakan jas putih bersih dengan stetoskop menggantung di lehernya.
Ia adalah dokter yang selama ini menangani ibunya dan kini menatap Alina dengan raut serius dan kekhawatiran profesional yang mendalam.
"Operasi ini tidak bisa ditunda lagi, Alina," ucap sang dokter dengan nada tegas tetapi lembut.
"Jika terlalu lama dibiarkan, kondisi Ibu Anda bisa semakin memburuk dan… bisa berujung fatal. Kami sudah membicarakan ini dua bulan lalu dan saya benar-benar menyarankan Anda untuk segera mengambil tindakan."
Perkataan itu menghantam Alina seperti badai yang datang tiba-tiba. Ia hanya bisa terdiam, matanya berkaca-kaca menahan rasa panik yang menyeruak dari dalam d**a.
Semua yang dikatakan dokter itu memang benar. Ia sudah diberi peringatan dua bulan lalu, dua bulan yang di penuhi kecemasan dan beban pikiran.
Namun kenyataan pahitnya adalah, selama dua bulan itu, ia tak mampu mengumpulkan uang sepeser pun untuk membayar biaya operasi sang ibu.
Dana yang diberikan oleh Agatha, wanita yang kini menjadi penguasa dalam kehidupannya, hanya cukup untuk dua kali pengobatan kemoterapi ibunya.
Kompensasi awal yang Agatha janjikan memang datang, tetapi tak cukup besar untuk menyentuh angka fantastis biaya operasi kanker otak ibunya, itu hanya setetes air di tengah lautan kebutuhan.
Alina menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan.
Ia merasa sesak, seakan-akan beban dunia menggantung di pundaknya yang rapuh.
Perjanjian yang ia buat dua bulan lalu bukanlah pilihan, melainkan jalan terpaksa, di mana ia harus mengandung anak dari lelaki yang bahkan hanya menganggapnya seperti angin lalu, hanya demi satu-satunya orang yang masih ia miliki di dunia ini, ibunya.
Baru setelah ia mengandung anak itu, Alina akan mendapatkan uang dalam jumlah besar, cukup untuk membiayai operasi.
Begitulah perjanjian dingin yang ditawarkan padanya selepas malam yang begitu menyedihkan di hidupnya. Sungguh ironis, nyawa ibunya bergantung pada harga dirinya sendiri.
Dan kini, waktu terus berjalan, sementara ibunya semakin lemah di ranjang rumah sakit.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dan peringatan dokter, Alina hanya bisa menundukkan kepala. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan selain sebaris bisikan dalam hati, penuh doa dan rasa bersalah.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Dok," ujarnya lirih, memaksakan senyum tipis meski tubuhnya terasa begitu lelah.
Ia masih harus bekerja hari ini.
Bahkan di tengah semua tekanan batin dan fisik yang mendera, ia tak bisa membiarkan dirinya berhenti.
Bekerja adalah satu-satunya cara agar ia tetap bertahan dan tetap berjuang.
Langkah Alina meninggalkan ruang konsultasi terasa berat. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya lemas dan dunia di sekelilingnya tampak berputar. Tapi ia tetap melangkah, dengan tekad yang mulai retak tapi belum sepenuhnya hancur.
Karena, selama ibunya masih hidup, ia tahu ia tak punya pilihan lain selain terus berjalan, seberat apapun jalan itu.
***
Setiap hari, Alina merasakan tubuhnya semakin lemah.
Di pagi hari, saat ia membuka mata, rasanya seperti baru saja berperang melawan kantuk dan rasa letih yang tak pernah hilang.
Ia merasakan pusing yang datang secara tiba-tiba, seperti dunia berputar cepat. Namun, keadaannya yang semakin memburuk tak cukup kuat untuk membuatnya berhenti bekerja.
Setiap senja, ia selalu kembali ke rumah dengan tubuh yang hampir tak sanggup menanggung beratnya, tapi ia tetap bertahan, berusaha untuk mengumpulkan uang demi biaya hidup dan lebih penting lagi, demi biaya pengobatan ibunya.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia tahu ia tak bisa terus memaksakan tubuhnya.
Terlalu banyak yang harus ia tanggung, terlalu banyak tekanan yang datang dari segala arah.
Ketika rasa lelah itu mulai berubah menjadi rasa sakit yang tajam di beberapa bagian tubuhnya, Alina memutuskan bahwa ia tak bisa lagi mengabaikan keadaannya. Ia harus memeriksakan diri ke rumah sakit.
Dengan langkah yang perlahan, Alina menuju ke rumah sakit, meskipun langkah itu terasa berat seperti harus membawa beban yang sangat besar.
Ia tahu ini adalah langkah yang harus diambil. Apalagi setelah beberapa minggu terakhir, tubuhnya semakin menunjukkan tanda-tanda yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Sesampainya di rumah sakit, Alina langsung menuju ruang praktek dokter yang biasa menangani keluhannya.
Ia duduk di ruang tunggu, menunggu namanya dipanggil dengan hati yang penuh kecemasan.
Entah mengapa, hari ini ada rasa takut yang menyelubungi dirinya, meskipun ia tahu bahwa ia sudah sedikit banyak mencari tahu melalui internet mengenai gejala yang ia rasakan.
Alina merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, sesuatu yang membuatnya curiga. Dan setelah mencari informasi secara diam-diam, ia mulai merasa bahwa mungkin, ada satu kemungkinan yang harus ia periksa, yaitu kehamilan yang mungkin terjadi.
Panggilan nama Alina akhirnya terdengar dan dengan perasaan campur aduk, ia memasuki ruang dokter.
Dokter yang biasa menangani pasien dengan keluhan seperti dirinya tersenyum ramah begitu ia masuk. Namun, senyuman itu tak mampu menghapus kecemasan yang menggumpal di d**a Alina.
“Selamat pagi, Ibu Alina. Apa kabar? Apa yang bisa saya bantu?” tanya dokter sambil menatapnya dengan lembut.
Alina menghela napas, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab.
“Dok, saya… merasa tubuh saya semakin lelah belakangan ini. Ada beberapa gejala yang saya rasakan dan saya ingin memastikan, apakah itu mungkin karena saya hamil?” tanya Alina dengan suara yang hampir tak terdengar, suaranya penuh ketegangan. Ia menatap mata dokter, berharap mendengar jawaban yang tak terlalu mengejutkan.
Dokter itu mengangguk, tampaknya sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Alina. "Hmm, mari kita cek lebih lanjut. Coba berbaring di sini dan kita akan melakukan pemeriksaan."
Hening menggantung sebelum suara dokter memecahnya, pelan dan pasti.
“Ibu Alina, Anda hamil," ujar dokter dengan suara yang tetap tenang tapi penuh perhatian.
“Ini mungkin sedikit mengejutkan, tetapi saya yakin Anda sudah mencurigainya, bukan?"
Alina hanya mengangguk pelan. Ternyata dugaan yang ia pikirkan selama ini memang benar.
Kehamilannya nyata. Ia memang sudah mencurigainya dari gejala-gejala fisik yang muncul belakangan
Semua itu ternyata adalah tanda-tanda yang tak bisa ia pungkiri. Meskipun demikian, mendengar konfirmasi dokter itu tetap membuat hatinya terasa berat.
Dokter melanjutkan, “Sekarang, yang terpenting adalah Anda menjaga kehamilan ini dengan baik. Anda harus lebih berhati-hati, beristirahat yang cukup dan tentunya menjaga pola makan yang sehat. Kehamilan ini membutuhkan perhatian ekstra.”
Alina hanya bisa mengangguk sekali lagi dan membalas senyum itu dengan lemah.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter memberinya beberapa nasihat tambahan dan beberapa resep untuk membantu kesehatannya selama masa kehamilan.
Alina menerima semuanya dengan langkah yang berat, mencoba menyusun kembali pikirannya yang kacau.
Ia berjalan keluar dari ruang praktek dokter, meninggalkan ruang itu.
***
Sementara itu, di tempat lain, Agatha yang tengah duduk santai di sofa mendadak menegang saat menerima kabar bahwa Alina terlihat sakit sepulang dari kantor. Kekhawatiran langsung muncul. Ia bertanya-tanya apakah Alina baik-baik saja.
Kabar itu membuat Agatha cemas, meskipun ia sendiri tidak tahu pasti kenapa.
Dengan cepat, Agatha mencoba menghubungi pesuruh yang selama ini ia percayai untuk memantau gerak-gerik Alina dari kejauhan. Namun, jawaban yang ia terima justru membuatnya semakin tidak tenang.
Orang suruhannya itu mengalami kendala pada kendaraan, sehingga tidak dapat melanjutkan pengawasan terhadap Alina. Itu berarti, saat ini Agatha kehilangan jejak Alina, walau hanya untuk sementara.
Selama ini, Agatha memang tidak ingin mengambil risiko.
Ia sudah cukup banyak membuat rencana rumit dan salah satu bagian terpenting adalah memastikan Alina tetap berada di lingkungan yang aman dan terkendali dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun meskipun begitu, Alina sejauh ini tampak tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan. Itu membuat Agatha sedikit lega, meskipun hatinya tetap belum bisa sepenuhnya tenang.
Setelah percakapan singkat dengan pesuruhnya berakhir, Agatha sempat terdiam.
Ia menatap layar ponsel dengan pandangan kosong. Ada dorongan dalam hatinya untuk langsung menghubungi Alina dan menanyakan keadaannya secara langsung. Namun, ia menahan diri.
Agatha telah membuat janji pada dirinya sendiri, ia tidak akan mencampuri kehidupan Alina, setidaknya hingga waktunya tiba.
Hingga hasil yang ia harapkan benar-benar terkonfirmasi. Jika kehamilan itu nyata, maka Alina tidak akan bisa pergi ke mana pun.
Tapi jika tidak, maka semua akan kembali menjadi seperti semula. Dan untuk memastikan hal itu, ia masih memiliki waktu satu bulan lagi. Satu bulan untuk melihat apakah dari satu kali hubungan antara suaminya dan Alina, benar-benar terjadi kehamilan.
Pikiran itu berputar cepat di kepala Agatha.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi tiba-tiba sebuah rasa sakit yang tajam muncul di panggulnya.
Rasanya seperti tekanan besar menghantam dari dalam, membuat tubuhnya membeku seketika.
Rasa sakit itu datang begitu cepat dan tak terduga, memaksa Agatha meringis sambil memegang perut bagian bawahnya.
Tangannya yang semula menggenggam ponsel dengan erat kini melemah dan ponsel itu jatuh begitu saja ke lantai.
Suara benda logam kecil itu menyentuh lantai marmer, terdengar nyaring di tengah keheningan ruangan.
Dalam kondisi setengah kesakitan, Agatha bahkan tidak sadar bahwa Damian baru saja tiba di rumah.
Suaminya itu masih mengenakan setelan kerja yang belum sempat diganti.
Ketika Damian membuka pintu dan melihat istrinya tengah membungkuk kesakitan di sofa dengan wajah pucat dan keringat yang mulai membasahi pelipisnya, seketika itu juga wajahnya berubah panik.
“Agatha?! Sayang, kau kenapa?” serunya sambil berlari mendekat.
Damian langsung berlutut di hadapan istrinya, menggenggam kedua bahunya dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Tapi Agatha tak mampu menjawab.
Bibirnya bergetar menahan rasa sakit, matanya memejam kuat dan napasnya mulai memburu.
Melihat itu, Damian tidak menunggu lebih lama. Ia segera mengangkat tubuh istrinya, membopongnya dalam pelukan yang kua dan tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar rumah.
“Bertahan, Agatha. Aku akan membawamu ke rumah sakit,” bisik Damian dengan suara cemas di tengah deru langkahnya yang tergesa.
Kekhawatiran menyelimuti dirinya. Ia tak tahu pasti apa yang sedang terjadi, tapi ia tahu satu hal, istrinya dalam bahaya dan ia tidak akan tinggal diam.