Memberitahu Kabar Kehamilan

1701 Words
Langit sore itu tampak suram, seolah ikut merasakan kesakitan yang tengah dialami oleh Agatha. Di dalam salah satu ruang perawatan rumah sakit, tubuh wanita itu terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Cairan bening mengalir perlahan ke dalam tubuhnya, menjadi saksi bisu dari penderitaan yang telah berulang kali ia alami. Raut wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Tapi tak ada keluhan, tak ada rintihan. Hanya diam... seperti biasa. Ia telah terlalu sering menghadapi gejala mendadak dari kanker ovarium yang dideritanya. Seolah rasa sakit itu adalah bagian dari rutinitas hidupnya, teman yang tak diundang tapi tak pernah benar-benar pergi. Beruntung, Damian pulang lebih cepat hari itu. Ia menemukan Agatha meringkuk di atas lantai, tubuhnya gemetar. Tanpa banyak bicara, Damian mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit, dengan napas tercekat dan ketakutan menyelinap dalam setiap hembusannya. Sekarang, ia duduk di tepi ranjang, menatap wanita yang telah menjadi separuh jiwanya. Wajahnya keras, tetapi mata cokelat itu menyimpan kegelisahan yang nyaris tak terbendung. “Agatha.” suara Damian parau, nyaris seperti bisikan. “Kau sudah mendengar 'kan apa yang dikatakan Dokter, Dokter mengatakan agar kau harus segera dioperasi. Ini bisa jadi membahayakan... kau bisa kehilangan nyawa bila terus menunda.” Agatha menoleh pelan, senyuman lembut terbentuk di bibirnya meski matanya masih basah oleh sisa rasa sakit. “Aku baik-baik saja, Damian,” bisiknya. “Jangan khawatirkan aku.” Damian memejamkan mata sejenak. Ia tahu itu bohong. Ia tahu Agatha sedang menenangkannya, bukan karena ia benar-benar baik, tapi karena ia tak ingin menambah beban di pundaknya. Dan itu membuat dadanya semakin sesak. “Kau bilang kau baik-baik saja… tapi lihat dirimu sekarang, Sayang," katanya dengan nada suara yang sedikit ia rendahkan. “Kau tadi tak sadarkan diri, tubuhmu bahkan dingin saat aku menyentuhmu. Kau pikir itu baik-baik saja?” Jujur Damian merasa kesal dengan respon istrinya, tetapi ia juga tidak dapat marah disaat keadaan istrinya sedang memburuk. Hening kembali menyelimuti ruangan. Hanya suara detak mesin infus yang terdengar, berdetak pelan seperti irama waktu yang berjalan lambat bagi mereka. “Setidaknya ....” Damian melanjutkan, menggenggam tangan Agatha yang dingin dan menaruhnya di dadanya sendiri. “Setidaknya... dengar aku satu kali saja dan ikut saranku. Lakukan operasi itu. Demi kita. Demi masa depan kita, Agatha." Agatha menatap wajah suaminya lama sekali. Ada guratan lelah di sana, tapi juga cinta yang tak pernah pudar. Ia tahu, Damian ingin mempertahankannya, sama seperti dirinya ingin bertahan. Namun ketidakpastian tentang hasil operasi itu membuat hatinya ragu. “Damian ...,” gumamnya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Kalau aku operasi dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasimu bagaimana? atau kemungkinan buruknya--" “Berhenti, Agatha,” potong Damian cepat. Ia mencium punggung tangan Agatha. “Jangan bicara seperti itu. Aku tidak ingin mendengar kemungkinan terburuknya sekarang. Aku hanya ingin kau tetap berjuang dan baik-baik saja." Lelaki itu lalu menarik napas panjang, sebelum akhirnya menatap dalam-dalam ke mata istrinya. "Berjanji padaku, bahwa kau akan kembali sehat. Bahwa kau akan tetap hidup dan kita akan wujudkan mimpi kita yang masih belum kita capai." Air mata yang semula ditahan oleh Agatha akhirnya jatuh. Ia mengangguk perlahan, meskipun hatinya masih dipenuhi pertanyaan dan ketakutan. Apakah ini akan menjadi janji yang bisa ditepati? Atau justru janji yang takkan sempat di selesaikan? *** Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela rumah kecil milik Alina. Cahaya lembutnya menyapu wajahnya yang pucat, seolah hendak membangunkannya dari tidur panjang. Tapi kenyataannya, ia belum benar-benar tidur nyenyak selama beberapa hari terakhir. Tubuhnya masih terasa lemah meski perlahan mulai membaik, gejala-gejala kehamilan yang sempat membuatnya nyaris tidak bisa berdiri kini mulai mereda. Mual yang menyiksa itu sudah tidak seintens tiga hari yang lalu, meskipun perutnya masih sesekali terasa kosong dan perih. Ia membalikkan badan di atas ranjang, menyentuh perutnya yang masih rata, seakan mencari kenyataan dari segalanya. Ada kehidupan yang tumbuh di dalamnya, kecil, belum berbentuk, tapi sudah mengubah seluruh arah hidupnya. Sejak pemeriksaan di rumah sakit tiga hari yang lalu dan kemudian ia dinyatakan positif hamil, pikirannya tak pernah berhenti bekerja. Ia bahkan belum mengabari siapa pun mengenai keadaannya yang kurang sehat, baik itu teman kerja, ibunya, termasuk Agatha. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Dalam kesunyian itu, pikirannya melayang pada ibunya. Sejak sakitnya semakin parah, Alina nyaris tidak pernah absen menjenguknya. Namun, kini, dalam kondisi seperti ini, ia bahkan tidak sanggup berjalan jauh. "Alina janji, Mom... semua ini untuk Mommy," bisiknya lirih. “Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan apa pun agar Mommy bisa secepatnya melakukan operasi.” Tangannya meraih ponsel di atas nakas. Ini sudah waktunya untuknya memberitahu kehamilan ini pada Agatha. Waktunya tidak banyak, operasi ibunya harus dilakukan dalam waktu dekat. Ia harus menyampaikan kabar ini pada Agatha secepat mungkin, sebelum kesempatan itu lenyap. Namun, jari-jarinya sempat terhenti di atas layar ponsel. Sebuah keraguan kembali menyelinap. Ia teringat pada sorot mata Damian terakhir kali mereka bertemu yang begitu dingin, seolah tak benar-benar menginginkan perjanjian itu terwujud. Hati Alina mencelos. Bagaimana jika mereka membatalkan segalanya? Bagaimana jika kehamilan ini masih tidak diterima oleh Damian? "Apa yang kau pikirkan, Alina. Agatha, sangat menginginkan kehamilanku terjadi, aku tahu itu," gumamnya pelan. Sejenak Alina pun mulai kembali mengetikkan pesan di ponselnya kepada, Agatha. *** Sudah tiga hari Agatha terbaring di rumah sakit, terikat oleh selang infus yang menyalurkan cairan demi cairan yang membantunya bertahan dari serangan kanker ovarium yang kembali menyerangnya dengan brutal. Ia telah terbiasa dengan rasa nyeri yang seperti membakar dari dalam, tapi tidak pernah benar-benar sanggup mengabaikan rasa getir yang datang bersamaan, perasaan lemah, tak berdaya dan terancam kehilangan waktu yang tersisa. Namun hari ini, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan. Napasnya tak lagi sesak seperti kemarin dan kulit wajahnya yang pucat mulai kembali memiliki rona samar. Dokter mengatakan kondisinya mulai stabil, tapi masih butuh pemantauan intensif. Agatha sendiri tak peduli berapa lama ia harus di sini, selama ia masih bisa menjaga kendali atas apa yang tengah ia pertaruhkan di luar ruangan ini, kesepakatan dengan Alina. Dengan tubuh yang masih lemah, ia meraih ponselnya dari meja kecil di samping ranjang. Ada banyak pesan masuk dari staf, asisten pribadi, hingga pengurus rumah. Tapi matanya langsung mencari satu nama yang selama tiga hari terakhir mengganggu pikirannya, Alina. Ia membuka pesan dari orang suruhannya yang selama ini diam-diam ia tugaskan untuk mengawasi wanita itu. Laporan terakhir membuatnya mengerutkan dahi. “Tiga hari ini saya tidak melihat nonya Alina keluar dari rumah, Nyonya. Tirai jendelanya selalu tertutup. Tidak ada tanda-tanda dia menerima tamu.” Agatha menatap layar ponselnya dengan ekspresi berubah. Hatinya mulai dirambati kekhawatiran yang tak bisa ditepis. Tiga hari, itu bukan waktu yang singkat. Ke mana saja Alina? Apa yang ia lakukan di dalam rumah tanpa pernah keluar? Ataukah? Pikiran itu datang seperti badai kecil. Jangan-jangan dia memutuskan untuk mundur? Membatalkan semuanya dan pergi diam-diam? Agatha memejamkan mata, menahan denyutan yang tiba-tiba menusuk di sisi kepalanya. Tidak, Alina tidak akan bertindak seperti itu. Alina yang ia temui waktu itu begitu yakin, begitu berani mengambil risiko demi kompensasi yang Agatha tawarkan. Wajah wanita itu bahkan menyiratkan kesungguhan yang tulus ketika mengangguk pada perjanjian mereka. Tidak mungkin ia pergi begitu saja. Tidak mungkin ia membatalkan rencana ini. "Alina tidak akan mengecewakanku, aku yakin itu," ucap Agatha pelan Meskipun begitu keraguan tetap berputar seperti pusaran kecil di dadanya. Ia terlalu sering melihat orang mundur ketika tekanan datang. Terlalu sering menyaksikan mereka yang awalnya yakin, berubah goyah begitu kenyataan menyentuh kulit mereka. Agatha memejamkan mata lebih lama, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi tepat saat itu, sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Nada dering yang ia atur khusus untuk satu kontak. Alina. Tangan Agatha sedikit bergetar ketika ia membuka pesan itu. Kalimat pertama yang terbaca membuatnya terdiam, jantungnya seakan melambat sejenak sebelum berdetak kembali dengan irama yang berbeda, berat, tapi penuh harap. “Aku ingin memberitahumu, bila aku saat ini telah mengandung anak kalian, aku hamil.” Agatha menatap layar ponsel itu beberapa detik tanpa berkedip. Tidak ada tambahan penjelasan, tidak ada detail, hanya satu kalimat itu. Tapi bagi Agatha, kalimat itu lebih dari cukup. Segalanya telah dimulai. Tangannya yang masih lemah meraih tombol panggil dan menghubungi nomor Alina. Butuh tiga kali nada sambung sebelum suara itu menjawab. “Halo?” suara Alina terdengar begitu pelan. “Alina,” ujar Agatha perlahan, suaranya masih serak karena infus dan obat-obatan. “Kau... yakin dengan yang kau kirimkan tadi?” Di ujung telepon, Alina terdengar menghela napas pelan. “Aku tidak akan mengirimkan pesan seperti itu kalau aku tidak yakin. Aku ke Dokter beberapa hari lalu... saat tubuhku mulai melemah. Dan hasilnya jelas. Aku hamil.” Agatha menutup matanya sejenak, mencoba mengatur napas yang mulai tercekat karena emosi. “Kapan kau mengetahui kehamilan itu?” “Tiga hari lalu. Tapi aku menunggu... memastikan tubuhku sedikit lebih baik sebelum memberi tahu.” “Aku mengerti,” ucap Agatha, lirih. “Kau membuatku hampir gila, tahu?” “Hanya saja, sesuatu sempat mengganggu pikiranku. Aku takut kalau kalian berubah pikiran setelah aku memberi tahu kabar ini.” “Kami tidak akan berubah pikiran,” potong Agatha cepat. “Aku tidak akan mundur. Kau harus tahu, ini... ini adalah satu-satunya harapan yang kumiliki.” Keheningan menyusul, tapi bukan keheningan kosong. Ada gema emosi yang melingkupi mereka, seperti benang halus yang menghubungkan dua wanita dalam keterikatan yang tidak biasa. “Aku bahagia, Alina,” lanjut Agatha dengan suara bergetar. “Sungguh. Kau tidak tahu seberapa besar artinya ini bagiku. Aku akan... aku akan menjadi seorang Ibu.” "Besok, bagaimana bila besok kau datang ke rumah kami, aku akan mengirim orang untuk menjemputmu," ucap Agatha lagi dengan nada penuh semangat. “Baik. Aku bersedia datang,” jawab Alina setelah jeda yang cukup panjang. “Dan malam ini... tolong jaga dirimu. Jangan lakukan pekerjaan berat. Jaga kandungan itu, seperti kau menjaga hidupmu sendiri.” Setelah melakukan panggilan, Agatha pun mematikan sambungan teleponnya. Agatha menatap langit-langit kamarnya. Rasa sakit masih mendera tubuhnya, tapi untuk pertama kalinya sejak ia dirawat, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Impiannya untuk memiliki anak bersama dengan Damian, akan segera terwujud. Namun, tanpa ia sadari, di balik ambang pintu yang tak sepenuhnya tertutup, Damian berdiri diam. Pria itu mendengarkan tiap patah kata dari percakapan barusan, seolah waktu berhenti bergerak di sekitarnya. Jadi, wanita itu, saat ini benar-benar hamil?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD