Damian melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah datar, langkah-langkahnya nyaris tanpa bunyi.
Wajahnya tanpa guratan ekspresi, seperti topeng bisu yang
menyembunyikan gelombang pikiran yang belum sempat di urai.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, hanya suara alat bantu pernapasan dan detak jantung Agatha yang terdengar di dalam ruangan.
Agatha segera menoleh begitu mendengar langkah kaki itu.
Senyumnya merekah, rona semangat yang jarang muncul di wajah pucatnya kini terpancar terang. Matanya menyala dengan harapan, cahaya yang hanya muncul ketika sesuatu yang sangat berharga sedang ia genggam.
“Damian …,” bisiknya lirih, mengabaikan sakit yang masih bersarang di sekujur tubuhnya.
“Aku, baru saja berbicara dengan Alina.”
Damian berjalan mendekat tanpa berkata apa-apa. Ia menarik kursi perlahan dan duduk di samping tempat tidur Agatha.
Tatapannya kosong menatap dinding, kemudian perlahan beralih ke tangan Agatha yang gemetar, tapi antusias.
“Dia hamil,” lanjut Agatha penuh semangat.
“Alina hamil… Damian, kita akan memiliki anak. Anak yang kita tunggu-tunggu selama ini.”
Damian menunduk. Kelopak matanya turun perlahan seperti menahan beban yang mendadak tertahan di dadanya.
Ia mendengarkan setiap kata Agatha dan bisa merasakan ketulusan dalam suaranya. Tapi, jantungnya tidak melonjak seperti yang seharusnya terjadi saat mendengar kabar seperti itu.
Agatha menanti. Dalam diamnya Damian, ia tahu pria itu tengah berpikir. Tapi mengapa begitu hening?
“Damian?” panggilnya lirih.
“Kau tidak bahagia?”
Butuh beberapa detik bagi Damian untuk menjawab. Ia mendongak pelan, matanya menatap mata Agatha yang penuh harap.
“Aku bahagia, untukmu,” ucapnya, suaranya tenang, tapi terdengar berat.
“Kau layak mendapatkan kabar seperti ini, setelah semua yang kau lewati.”
Agatha menatap Damian, ia menangkap jeda yang terlalu panjang darinya.
Damian menarik napas dalam, pandangannya mengarah ke luar jendela.
“Aku hanya… belum siap. Semuanya terasa terlalu cepat. Begitu tiba-tiba," jawab Damian datar.
“Tapi ini yang kita inginkan, bukan?” Agatha mencoba menahan gemetar dalam suaranya.
“Alina mengabulkan keinginan kita, Damian. Kita akan menjadi orang tua.”
Damian mengangguk perlahan, dengan kedua manik mata yang sengaja ia alihkan karena tak berani menatap kedua mata istrinya, “Ya… tapi aku tidak menyangka akan merasa seperti ini. Aku pikir, jika saatnya tiba, aku akan merasa lebih, yakin. Tapi sekarang, aku tidak bisa mengabaikan satu hal.”
Agatha menautkan kedua alisnya, menunggu lanjutan jawaban dari Damian.
“Bahwa anak itu, tidak sedikitpun memiliki darahmu," lanjut Damian tanpa ekspresi sedikitpun yang ia perlihatkan.
Agatha terdiam.
Seketika keheningan mencengkeram ruangan seperti kabut tebal.
Damian menatap tangan Agatha, lalu menggenggamnya perlahan.
“Aku tahu, kita sepakat untuk melakukannya. Tapi saat mendengar kabar itu, tentang kehamilannya, aku merasa kosong. Karena aku menyadari, tidak ada bagian darimu dalam darahnya. Dan itu… terasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga untukku."
Mata Agatha mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Damian lebih erat.
“Tapi dia akan menjadi anak kita, Damian. Anak yang kita cintai bersama. Yang tumbuh dari keinginan kita bersama. Meskipun tubuhku tidak dapat mengandung, hatiku akan ada dalam setiap langkah yang dia ambil.”
Damian menunduk, menempelkan bibirnya di punggung tangan Agatha. Lama dan sunyi.
Tapi saat Damian memejamkan mata, ada satu kegelisahan yang masih melingkup hatinya.
Yaitu, ketakutan pada dirinya sendiri, apakah ia bisa mencintai anak itu sepenuh hati, ketika bayangan Agatha tak mengalir dalam darahnya?
***
Pagi itu, Alina berdiri di depan cermin, membenarkan blouse putih bersih yang ia kenakan.
Pakaian itu sederhana tapi terlihat rapi, pilihan yang ia ambil dengan penuh pertimbangan. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tetapi juga tak ingin tampak ceroboh di hadapan Agatha.
Tangannya terhenti di perut yang masih datar, seolah mencoba merasakan denyut kehidupan di balik sana. Napasnya tertahan dan dadanya sesak oleh kenyataan yang belum sepenuhnya ia terima.
“Kau hamil, Alina,” bisiknya pada bayangan dirinya sendiri di cermin, suaranya pelan namun getir.
“Siapa yang mengira hidupmu bisa berubah secepat ini? Dari hanya sebagai pengganti sementara, menjadi seseorang yang membawa kehidupan baru dari nyawa kecil ini,” lirih Alina pelan.
Ia memejamkan mata, menahan gelombang emosi yang perlahan menggerogoti kepercayaan dirinya. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah titik balik.
Karena pagi ini, ia akan menyampaikan kenyataan pada dua orang yang kehidupannya akan terhubung oleh bayi yang kini ia kandung, Agatha, sang istri sah dan Damian, sang suami sekaligus pria dari masa lalu yang telah melupakannya bak ia tak pernah hadir di kehidupannya.
Dan seolah semesta menjawab, suara klakson lembut terdengar dari luar.
Ia mengintip dari balik jendela.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan apartemennya. Seorang sopir dengan jas hitam turun dan membuka pintu mobil dengan sopan, menanti kedatangannya.
Langkah Alina terasa berat saat menuju pintu. Saat ia hendak menggenggam kenop, tangannya kembali gemetar, ia menarik napas panjang.
“Kau bisa, Alina. Ini untuk bayi ini… dan untukmu sendiri,” gumamnya.
Setibanya di luar, sang sopir membungkuk kecil. Alina membalas dengan anggukan singkat, lalu masuk ke dalam kabin mobil yang begitu senyap dan nyaman. Aroma kulit mewah dan parfum halus memenuhi udara.
Namun, batinnya sama sekali tidak nyaman.
“Kenapa jantungku berdebar begini… ini bukan pertama kali aku bertemu Damian. Tapi kenapa rasanya seperti... akan dihukum?” pikirnya.
"Apakah Damian akan menerima kenyataan ini dengan lapang d**a?" tanyanya dalam hati.
"Atau… apakah pria itu hanya akan mengangguk pasrah demi Agatha, tanpa benar-benar melihat keberadaanku sebagai ibu dari anak ini?"
Ia mencengkram tangannya sendiri, tapi bayangan Damian yang begitu dingin, kaku dan tak bersuara setelah malam intim itu, terus menghantui pikirannya. Malam itu terjadi begitu cepat, dan usai tanpa perasaan.
“Apa dia akan menyesal?”
“Apa dia akan membenci apa yang sudah kami lakukan?”
Alina memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan gelombang kekhawatiran.
“Damian bukan orang yang mudah ditebak... Tapi hari ini, dia akan tahu. Dan aku hanya bisa berharap dia tidak menganggapku sebagai beban barunya.”
Mobil mulai memasuki kawasan elit. Jalanannya bersih, pepohonan rapi berjajar, dan rumah-rumah menjulang megah bak galeri arsitektur.
“Sebentar saja, Alina. Kau akan pergi lagi setelah ini. Tidak ada yang akan berubah... kecuali segalanya,” ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan suara hati yang tak terlalu percaya.
***
Mobil berhenti di depan rumah besar bergaya klasik-modern, dengan tiang-tiang tinggi di beranda dan taman yang tertata sempurna. Saat pintu mobil dibuka, seorang pelayan menyambutnya dengan sopan.
Alina melangkah turun. Tumit sepatunya mengetuk pelan ubin batu granit di halaman. Ia mendongak.
Pintu rumah terbuka.
Agatha berdiri di sana, mengenakan pakaian rumah berwarna krem yang lembut. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya menyala dengan semangat yang sulit disangkal. Di sampingnya, berdiri Damian.
Pria itu berdiri dengan postur tegak. Matanya dingin, tak ada senyum, tak ada reaksi. Wajahnya begitu datar seperti batu.
Mata mereka bertemu. Alina merasakan jantungnya tercekat.
“Jangan berpaling, Alina… jangan lemah sekarang,” batinnya memerintah. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba tampil tenang meski dalam hatinya badai tak berhenti menggulung.
“Selamat datang, Alina,” ucap Agatha ramah, suaranya lembut meski tubuhnya masih tampak letih.
“Terima kasih sudah datang hari ini.”
Alina membalas dengan senyum ragu. “Terima kasih… sudah menjemputku.”
Damian masih diam. Matanya hanya mengamati, menilai, tanpa menunjukkan isi pikirannya.
Agatha memberi isyarat tangan. “Ayo masuk. Kalian pasti butuh bicara.”
Alina melangkah masuk, Damian bergeser sedikit memberi jalan. Tapi bahkan dari jarak sedekat itu, ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Di ruang tamu yang luas dengan cahaya matahari masuk dari jendela kaca tinggi, mereka duduk. Alina di ujung sofa, Agatha di tengah dan Damian berdiri bersandar di samping istrinya, menyilangkan tangan.
Agatha berbicara pertama.
“Aku ingin semuanya terbuka, Damian. Aku ingin kau tahu... bahwa ini adalah berkah. Aku tahu kau belum sepenuhnya bisa menerima, tapi aku percaya waktu akan membantu.”
Damian akhirnya bersuara, lirih dan dingin.
“Aku tidak menyangkal kenyataan ini. Aku hanya merasa… ini terlalu cepat.”
"Terlalu cepat untuk seorang wanita bayaran yang bahkan tak kubayangkan akan mengandung anakku."
"Dan terlalu terlambat untuk mimpi kami, mimpi bodoh yang pernah kami rawat untuk memiliki anak dari cinta dan benih kami sendiri, bukan dari kontrak dingin dan uang yang menghina harga diri kami sendiri!" dengus Damian dalam batinnya, penuh ironi dan luka yang tak kunjung sembuh.
Alina menunduk, hatinya menegang.
Agatha mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi kenyataan tidak menunggu kesiapan kita, Damian. Aku yang memintanya... dan aku tidak menyesal.”
Damian menatap ke arah jendela, suaranya sedikit lebih berat.
“Bagaimana aku harus menghadapi anak ini… saat ia tak memiliki darahmu sama sekali, Agatha?”
Kalimat itu menusuk. Alina menggigit bibirnya.
Agatha menoleh padanya, matanya menghangat.
“Damian… darah bukan segalanya. Kau tahu itu. Bukankah kau yang mengajariku soal itu dulu? Kalau cinta tidak mengenal batasan?"
Damian tertawa kecil yang terkesan pahit.
“Dulu, mungkin. Tapi sekarang aku tidak tahu apakah aku masih cukup... percaya.”
Ia menatap Alina dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di balik matanya, bukan kemarahan, bukan dingin, tapi, kebingungan yang menyakitkan.
“Kenapa aku merasa terjebak dalam dua kenyataan? Aku ingin membahagiakan Agatha. Tapi setiap aku menatap Alina… aku melihat luka yang belum selesai."
"Malam itu… bukan salahmu, Alina. Tapi aku terlalu takut untuk jujur pada diriku sendiri, yang sebenarnya sangat tidak menginginkan hal itu terjadi!" ucap batin Damian.
“Dan sekarang kau hamil anakku. Anak yang tak mengandung darah wanita yang paling kucintai... tapi tetap anakku.”
Damian menarik napas panjang, lalu duduk, masih menjaga jarak dari Alina.
Ia berbicara, perlahan. “Aku tidak akan lari. Anak itu… tetap tanggung jawabku," ucap Damian pada akhirnya.
Agatha tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Alina. “Itu sudah lebih dari cukup.”
Namun di hati Alina… kata-kata itu belum menenangkan apa pun.
Karena ia tahu, yang mengganjal bukan hanya penerimaan, melainkan rasa.
Alina mengalihkan pandangan saat Damian kembali membisu setelah kalimat pendeknya tadi.
Tak ada tatapan lembut, tak ada gestur pelindung. Yang ada hanya jarak tak kasat mata, tapi cukup tajam untuk melukai.
Agatha tersenyum, menggenggam tangan Alina dengan harapan yang tulus.
Namun Alina tahu, ini bukan tentang kehamilan semata. Ini tentang rasa yang tak pernah padam, untuk pria yang bahkan tak lagi mengingat dirinya.
Dan itu... jauh lebih menyakitkan daripada ditolak secara terang-terangan.