Empat bulan sudah kehidupan Alina, berubah.
Dimana kehidupannya mulai di kendalikan oleh Damian dan Agatha, agar Alina tidak melakukan aktivitas apapun termasuk bekerja, beraktivitas apa pun yang berat dan kini Alina benar-benar harus tinggal di rumah Damian dan Agatha dalam pengawasan mereka berdua
"Bukankah hidupku saat ini bagaikan boneka?" gumam Alina pelan menatap pemandangan dari atas balkon.
Tentu saja ia di perlakukan begitu ketat, karena Agatha tidak ingin hal berbahaya terjadi pada kandungannya, meskipun ia sangat mencintai pekerjaannya.
Tapi Alina, harus kembali mengingat bila ia harus patuh dan mengikuti kontrak yang berlaku selama masa kehamilan yang telah ia sepakati.
Suara langkah pelan pun terdengar mendekat. Alina menoleh dan menemukan Agatha berdiri di ambang pintu kaca, membawa nampan kayu berisi semangkuk bubur hangat, jus jeruk segar dan potongan buah.
“Pagi ini sedikit dingin, aku takut kau lupa sarapan,” ujar Agatha lembut, berjalan perlahan ke arahnya.
Bukan hanya mengawasi saja, tapi seperti apa yang ia lakukan saat ini Agatha selalu mengantarkan makanan untuknya dan menjadi teman bercerita untuknya.
Alina yang tengah duduk segera bangkit dan berniat menuju ke arah Agatha “Agatha, kau tidak perlu—”
“Duduk saja, Alina. Kau sudah cukup membawa beban di tubuhmu, biar aku yang urus sisanya,” potong Agatha sambil meletakkan nampan itu di meja kecil di sebelah kursi yang ada di balkon.
Alina menunduk. “Kau terlalu baik padaku... aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua ini.”
Agatha hanya tersenyum kecil, mengambil selimut dari sandaran kursi dan menyampirkannya ke bahu Alina.
“Kau tahu?” katanya pelan.
“Menjaga seseorang... kadang bukan hanya tentang balasan. Tapi mengenai harapan. Kau menjaga harapan kami yang ada di dalam tubuhmu. Jadi, aku yang menjaga kau.”
Alina mengedip cepat, menahan perasaan yang mendesak ke tenggorokan. Ia mengambil sendok, mencicipi bubur itu pelan-pelan.
Hangatnya menyusup ke dalam, seperti kata-kata Agatha yang diam-diam membuat dadanya sesak.
"Maaf ya, hidupmu jadi sedikit berbeda Lin, hidupmu tidak sebebas dulu. Tapi, kau bisakan untuk menahannya selama delapan bulan ke depan?" tanya Agatha dengan senyum tulusnya.
"Dan juga, setelah bayiku ini lahir, aku berjanji akan segera melunasi bayaranmu," lanjut Agatha lagi dengan wajah menahan kekecewaan.
Bagaimana tidak, seharusnya pembayaran atas kehamilan yang Alina dapatkan segera di lakukan, tetapi Damian meminta untuk menahannya, karena takut bila Alina lari bersama bayinya, bila pembayaran itu di lakukan di awal.
"Uang sebesar seratus ribu dollar USD, kau ingin memberikan padanya? bahkan bayi itu belum lahir, bagaimana bila ia penipu, Agatha?!"
Agatha benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Damian berpikiran begitu buruk terhadap Alina.
"Damian, setidaknya separuh pembayaran, kita harus memberikan padanya di awal, kau jangan bersikap kejam terhadap wanita yang sudah mau mengandung anak kita."
"Bagaimana jika Alina sangat membutuhkan uang, sehingga ia memilih cara ini dan bersedia menjadi ibu pengganti untuk kita? Tapi kita justru tidak segera---"
Damian mendecih, "Dengarkan saja aku, atau kau ingin bayi itu tidak menjadi bagian dari kita?"
Sebuah pilihan sulit yang Damian berikan, ia berpikir ini adalah cara terkejamnya kepada Alina tapi ia pun tak ingin Damian menjauhkannya dari bayi yang bahkan telah Agatha sayangi.
Tapi, meskipun begitu, Agatha tetap melakukan pembayaran melalui dana pribadinya setiap bulan untuk ia berikan kepada Alina dan tanpa sepengetahuan suaminya juga.
"Tidak perlu meminta maaf, Agatha, bahkan uang darimu yang kau berikan selama empat bulan ini padaku, sangat berguna untukku," kata Alina, karena dari uang itu ibunya masih bisa bertahan untuk melakukan kemoterapi hingga pembayarannya atas surrogasi ini dilakukan.
Agatha mengusap bahu Alina, "Maaf juga, bila, Damian terkadang bersikap tidak baik padamu,"
Alina tersenyum tipis, menahan perasaan.
"Tidak apa-apa, Agatha. Aku mengerti. Jangan terus meminta maaf padaku."
Agatha kembali menyuapi Alina dengan lembut. Mungkin karena ia anak tunggal, kehadiran Alina membuatnya merasa seperti memiliki adik sendiri. Ada rasa nyaman yang tumbuh setiap kali ia berada di dekat wanita itu.
"Terima kasih, Agatha. Kau… sudah sangat baik padaku."
"Tentu saja, Alina," jawab Agatha dengan lembut.
Alina menarik sudut bibirnya, berusaha tersenyum.
Di dalam hatinya, masih ada rasa tak percaya, bahwa Agatha bisa bersikap sebaik ini padanya, bahkan setelah ia tidur dengan suaminya, demi menghadirkan bayi kecil yang kini tumbuh di rahimnya.
"Ah ya, aku baru mengingat hari ini kau harus periksa kandunganmu,"
Alina menatap Agatha, dengan setengah terkejut, "Oh ya? aku sama sekali tidak mengingatnya, kau benar-benar Ibunya, Agatha."
"Kau juga ibunya, Alina. Setelah ini, aku dan Damian akan menemanimu ke rumah sakit,"
***
Bunyi detak jantung kecil itu mengisi ruang pemeriksaan.
Irama mungil yang berdetak cepat di monitor USG membawa warna hangat pada wajah Agatha.
Tatapan matanya tak bisa lepas dari layar.
Di sana, janin mungil yang sedang tumbuh di rahim Alina tampak jelas, bergerak kecil, jari-jari mulai terbentuk, seolah menyapa dunia luar dengan bisikan tanpa suara.
"Ya Tuhan ...," gumam Agatha, jemarinya menggenggam ujung ranjang pemeriksaan dengan erat.
"Dok, itu... gerakannya barusan, itu normal, kan?"
Dokter tersenyum ramah. Seorang wanita paruh baya dengan suara tenang dan lembut, seolah terbiasa menyampaikan keajaiban setiap hari.
“Ya, Ibu Agatha. Gerakan janin seperti itu menandakan tumbuh kembangnya sangat baik. Beratnya juga sesuai usia kehamilan. Tidak ada indikasi gangguan apapun sejauh ini.”
Agatha mengangguk, matanya berbinar. “Syukurlah... Tuhan, aku lega sekali. Terima kasih, Dok.”
Alina hanya diam. Ia berbaring dengan gel dingin masih membalur perutnya yang mulai membuncit.
Meski matanya juga tertuju ke layar, rasa canggung itu tetap bertahan di udara. Ia mendengar setiap kata yang terucap, tapi tidak tahu bagaimana harus menanggapi.
Setiap kebahagiaan Agatha seolah menjadi pengingat bahwa anak ini bukan benar-benar miliknya.
“Apakah makanan yang selama ini kami berikan cukup mendukung perkembangan janinnya?” tanya Agatha kemudian, dengan nada cemas seorang ibu.
“Cukup baik, bahkan sangat ideal,” jawab dokter.
“Nutrisi seimbang dan istirahat yang cukup jelas berdampak besar. Ibu Alina juga sangat kooperatif, itu sangat membantu.”
Alina tersenyum tipis, sekadar formalitas. Ia mendengar dirinya disebut, tapi tetap tak merasa sepenuhnya hadir.
Sementara itu, di sudut ruangan, Damian berdiri diam, tatapannya kosong menembus dinding putih yang tak punya suara.
Sejak masuk, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan pandangannya tak pernah benar-benar mendarat pada Alina atau layar monitor yang kini memperlihatkan kehidupan darah dagingnya sendiri.
Ia hanya berdiri di sana, tubuh tegap dan wajah kaku seperti patung yang dipaksa hidup.
"Seharusnya aku tidak di sini," gumamnya dalam hati.
"Kalau bukan karena Agatha memaksaku datang, aku tak akan pernah menginjakkan kaki di ruangan ini. Bahkan... mendengar detak jantung anak ini saja membuatku ingin pergi."
Bayang-bayang malam itu masih menghantui.
Malam yang dia harap tidak pernah terjadi. Malam yang dia anggap sebagai pengkhianatan terhadap janji suci yang ia ucapkan di altar, terhadap wanita yang kini berdiri di samping ranjang pemeriksaan dengan wajah bersinar.
"Aku tak pernah menginginkan ini. Bahkan untuk melihat wajah Alina saja… rasanya seperti menampar kesetiaanku pada Agatha."
Suara Agatha memecah lamunannya.
“Sayang,” katanya lembut. “Lihat ini... bayinya sehat. Dia tumbuh sempurna.”
Mau tak mau, Damian mendekat. Kaku. Ia berdiri di belakang Agatha, lalu mengalihkan pandangan sekilas ke layar monitor.
Ada denyut kehidupan di sana. Sebuah nyawa yang lahir dari tubuh wanita lain, tetapi di besarkan oleh harapan istrinya.
“Ya,” jawab Damian singkat. Matanya tak lama di layar, seolah takut terlalu lama menatap akan menumbuhkan rasa yang tak seharusnya ada pada bayi itu.
Agatha tidak menyadari kegelisahan yang merayap di sekitar mereka.
Matanya masih berbinar penuh haru, menatap monitor yang menampilkan gambar samar calon anak yang akan ia peluk suatu hari nanti.
Senyumnya tak pernah luntur sedetik pun. Baginya, inilah bukti bahwa harapannya bersama Damian sedang tumbuh nyata, meskipun bukan dari rahimnya sendiri.
Sementara Damian...
Ia hanya berdiri bak patung. Matanya kosong menatap layar, seolah tak benar-benar melihat apa pun. Suara detak jantung bayi yang memenuhi ruangan justru semakin membuat kepalanya berdegung.
"Semoga semua ini cepat selesai," batinnya menggeram.
"Semakin lama ini berlangsung, semakin sulit rasanya menahan semua kepalsuan ini."
"Begitu bayi itu lahir, aku akan bicara pada orang tuaku. Tidak ada lagi perjodohan yang mungkin akan mereka rencana kan. Karena aku dan Agatha telah memiliki anak, meskipun bukan anak kandung yang berasal dari dari Agatha sendiri, tapi seharusnya itu cukup untuk membatalkan semuanya."
Ia menggenggam tangan kirinya erat-erat di balik saku kantong celananya, seolah berusaha mencengkeram kendali yang hampir lepas dari dirinya.