Kiss

1001 Words
"Bayar utangmu pakai ciuman!" ucap Kiara dengan tatapan lantangnya kepada Rio. Sejak dua minggu yang lalu Rio meminjam uang Kiara untuk membayar uang kas kelas. Rio tercengang dengan ucapan Kiara. Dia mengerjapkan matanya, mencoba membuka indra pendengaran serta mensinkronisasi otaknya. Ciuman? Dia tak salah dengar? "Ciuman? Maksudnya?" tanya Rio menyerngitkan keningnya. Bagaimana bisa Kiara meminta ciuman dengan mudahnya. Cup. Satu kecupan seketika mendarat di bibir Rio, syaraf tubuh Rio seketika menegang, dia bingung harus bagaimana. Rio mematung menatap Kiara. "Aku suka sama kamu." Kiara mengucapkan hal itu lalu berbalik kembali ke kelas. Kiara Queen Azzura, dia baru saja menginjak usia tujuh belas tahunnya hari ini. Satu hal yang dia impikan di usia tujuh belas tahunnya, menyatakan cintanya kepada Arya Satrio Alvanza. Cinta pertamanya sejak dua tahun lalu. Sejak dia di bangku SMA kelas satu. Hari ini keinginannya terwujud, bahkan dia benar-benar bahagia bisa mengecup bibir Rio. "Gila itu cewek," gumam Rio. Dia benar-benar tak habis pikir. Kakinya terasa membeku setelah kecupan dadakan dari Kiara. Dan lagi, suara Kiara yang dengan lantang mengatakan dia menyukai Rio masih menggema dengan jelas. Matanya masih tak lepas menatap punggung Kiara yang kian menjauh dan masuk ke kelas. Rio menggerakkan kakinya, dia juga kembali ke kelas. Aneh rasanya, apalagi Rio duduk di samping Kiara, satu bangku. Sungguh dia heran dengan sikap Kiara, kenapa bisa Kiara menyukai dia? Rio melirik ke samping, Kiara sibuk menunduk menuliskan catatan sekolahnya. Rio masih heran, bagaimana bisa Kiara santai seperti itu? Padahal Kiara baru saja mengecup bibir Rio. "Ki," lirih Rio. Tiba-tiba dia memanggil Kiara begitu saja, tanpa alasan. Kiara mendongak, matanya menatap manik mata Rio. Bibir merah ranum Rio ditatap Kiara lekat-lekat, dia tersenyum sendiri, beberapa menit yang lalu merasakan lembutnya bibir Rio. "Heh! Liat apa?" ucap Rio galak. Matanya menatap Kiara tajam, sungguh dia merasa aneh saat ini, ditatap oleh Kiara seperti itu. "Enggak, ga liat apa-apa," ucap Kiara lalu memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang saat ditatap Rio seperti itu. "Lain kali jadi cewek yang sopan," ucap Rio dengan lantang. Kiara menaikkan alisnya, menatap Rio kembali. Mata mereka saling menatap. "Maksudnya?" ucap Kiara setengah kesal dengan omelan Rio. "Yang tadi, ngapain pake cium segala?" ucap Rio. Untung saja di kelas hanya ada mereka berdua. Teman lainnya sedang istirahat di kantin. "Cium? Itu cium? Itu cuma kecupan," ucap Kiara. Rio menghela napas, lama-lama dia kesal dengan Kiara seolah gadis di sampingnya merasa tidak bersalah. Rio malas berdebat, dia hanya diam dan menatap ke papan tulis, perutnya lapar tapi dia enggan makan, moodnya memburuk karena kecupan Kiara. Seumur hidupnya Rio tidak pernah berciuman dengan perempuan lain. Sungguh dia antara kesal, bingung, gelisah, semua campur aduk. "Aku suka sama kamu," ucap Kiara lagi setelah beberapa detik tercipta keheningan. Rio merogoh sakunya, dia memberikan uang dua puluh ribu kepada Kiara. "Utang aku lunas." Kiara mengatupkan bibirnya, dari nada bicara Rio, dia tau Rio marah, dan kini pasti Rio akan menjauh darinya. Rio meletakkan uang dua puluh ribu itu, dia lalu mengambil tasnya dan menaruhnya ke bangku paling belakang, bangku di samping Ucup yang kosong. "Lo kok pindah?" tanya Kiara. Sejak awal masuk kelas tiga, bangku diacak dan Kiara mendapat bangku bersama Rio. Rupanya Rio benar-benar kesal dengan Kiara, dia butuh waktu sendiri dan enggan menatap Kiara. Rasanya dia geli menatap Kiara. Rio tidak lagi menjawab ucapan Kiara, bahkan kini dia memilih menjadi pendiam. Guratan wajahnya menunjukkan dia sedang marah. Kiara kembali menatap papan tulis, sedih. Rasanya dia menyesal menyatakan cintanya kepada Rio. Dia memang lega mengungkapkan perasaannya yang membuncah, tapi dia juga sedih karena Rio tiba-tiba bersikap dingin. Kiara menghela napas, ada sedikit rasa nyeri di hatinya ketika melihat sikap Rio. Sungguh, dia kesal. "Ngapain duduk di sini?" tanya Ucup setelah kembali dari kantin. Sebenarnya di samping Ucup, itu bangku milik Bagas, tapi Bagas sedang sakit radang. "Emang gaboleh?" tanya Rio. Ucup qhanya diam, dia melihat ekspresi Rio yang menyeramkan, menusuk dingin seperti es. "Yaudah duduk aja." Mata Ucup hanya melirik sekilas ke mata Rio, sepertinya Rio memang sedang kesal dan tidak bisa diganggu. Detik kemudian Ucup melirik Kiara, sepertinya Kiara juga kesal kepada Rio, Ucup tak tau masalah apa yang terjadi kepada mereka berdua, tapi sepertinya bukan masalah sepele, biasanya Kiara dan Rio terlihat akrab. Kiara menopang dagunya, penjelasan dari gurunya sama sekali tidak masuk ke dalam otaknya. Sedari tadi Kiara hanya bisa diam, melamun memikirkan nasib kehidupan cintanya. Bagaimana kalau nantinya Rio membencinya? Bagaimana kalau dia gagal mendapatkan cinta Rio? "Kiara? Bisa maju ke depan?" Kiara tersentak karena namanya disebut, dia melihat papan tulis dan mengerjapkan mata. Deretan angka itu, membuat dia sedikit pusing. Namun Kiara akhirnya memilih maju ke depan mengambil spidol. Entah benar atau tidak jawaban dia, setidaknya semalam dia sudah mempelajari materi ini. Setelah menuliskan jawaban, dia meletakkan spidol, berbalik, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Rio. Kiara terpaku sejenak menatap Rio, rasa hati ingin menjelaskan semua isi perasaannya kepada Rio. Dia tidak sanggup memendam perasaannya. Disisi lain, Kiara juga tak mau kehilangan Rio sebagai teman dekatnya. Kiara lalu duduk kembali, dia bernapas lega ketika gurunya menulis angka seratus di samping jawabannya, setidaknya dia tidak mempermalukan dirinya sendiri. Dia berhasil menjawab dengan sempurna. Wajah pundung Kiara menarik perhatian Sheila, sahabatnya yang paling dekat dengan Kiara. "Kenapa murung? Sedih?" tanya Sheila bingung. Kiara hanya tersenyum tipis sembari menggeleng. Rasanya malu mengatakan kepada Sheila. Namun dalam dadanya juga sesak, Kiara bingung harus melakukan apa sekarang. Dia harus bersikap apa dengan Rio. "Yakin? Gapapa? Keliatan banget wajah kamu murung, ada masalah?" tanya Sheila. Sekali lagi Kiara menggeleng, dia hanya tersenyum tipis. Sheila akhirnya menyerah bertanya, dia menemani Kiara menunggu jemputan mereka. Tak lama, Rio pun melewati mereka berdua. Kiara ingin menyapa Rio, tapi Rio wajahnya masih marah dan pergi berlalu begitu saja. "Si Rio kenapa? Kamu bertengkar sama dia?" tanya Sheila penasaran. Melihat gelagat mereka yang tidak biasa, semua orang pun tau jika Kiara dengan Rio pasti bertengkar. "Enggak, gapapa kok," jawab Kiara cepat. Sheila hanya mengangguk kecil menanggapinya, tapi dia yakin, pasti ada sesuatu diantara mereka. Biasanya Rio dengan Kiara sangat akrab, dimana ada Rio, pasti ada Kiara di sampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD