Akila menarik napasnya, dia menyisir rambut sembari berkaca, ketika mendapati dirinya telah rapi, dia menuruni tangga, tak lupa dengan arloji miliknya.
"Non, silahkan masuk," ucap Toni, supir barunya yang menggantikan pak Aji karena istrinya yang melahirkan. Akila melempar senyum dan masuk ke dalam mobil. Terik matahari Akila tatap dengan lekat, ada rasa gundah sekaligus ragu memasuki semester baru, gelisah jika dia nantinya masuk di kelas yang sama dengan Jasmine ataupun Feby. Sungguh, dia tidak sanggup jika satu kelas lagi dengan mereka, kejadian buruk di gunung Rinjani membuat dia muak, dia kesal. Meski kata maaf sudah meluncur di bibif Akila, namun hatinya masih memberontak. Dia tidak ingin berteman lagi denga toxic people.
Langkah kakinya terhenti di depan papan pengumuman, tertera jelas dia di kelas yang berbeda dengan teman lamanya. Ada sedikit rasa lega, dia satu kelas dengan Radja dan Sheila.
Akila tersenyum, dia melangkah mundur dan tanpa sengaja menubruk seseorang di belakangnya, Akila berbalik, matanya menatap lelaki itu, seketika alisnya terangkat.
"Nathan?" ucap Akila setengah tak percaya. Sungguh dia tidak menyangka jika Nathan di depan dia sekarang.
"Hai, akhirnya ketemu lagi. Kamu kelas apa?" tanya Nathan.
"Ipa C, kamu sekolah disini juga?" tanya Akila kepada Nathan. Lelaki itu mengangguk. Nathan lalu menarik Akila, menjauhi dari kerumunan.
"Aku pindah ke sini karena Mama," ucap Nathan.
"Mama kamu kenapa?" tanya Akila penasaran. Jarak antara sekolah Nathan yang lama dengan sekarang sangatlah jauh. Pasti ada alasan logis yang membuat Nathan terpaksa pindah.
"Papa cerai sama Mama dan Mama pindah tugas di sini, jadi guru matematika anak-anak kelas sepuluh."
Akila hanya mengangguk, dia tidak berkomentar lebih, takut salah bicara, apalagi Nathan sendiri yang cerita jika ibunya bercerai. Pasti Nathan menghadapi hal yang sulit.