Sontak saja Naomi terbelalak kaget. Arhan si bocah berandalan itu yang akan jadi suaminya? Ia merinding tak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
"Mama lagi bercanda ya? Bercandaan Mama tuh nggak lucu tau."
"Bercanda kamu bilang? Mama tuh serius mau jodohin kamu sama Nak Arhan."
Naomi menatap sang ibu, ia ingin mencari apakah ada kebohongan si sana namun ternyata tidak ada, ia tak menemukannya. Yang ada hanyalah raut wajah serius.
"Ma, Mama tau kan apa yang udah Mama bilang itu? Mama nggak serius kan mau jodohin aku sama dia? Ma, dia tuh masih bocah dia aja masih sekolah belum lulus. Gimana bisa dia jadi imam aku? Gimana juga dia bisa ngasih nafkah buat aku dia aja belum kerja gitu kok."
"Kamu nggak usah mikirin itu, Naomi. Kamu ngapain khawatir segala kamu kan tau dia itu anak orang kaya."
"Ya masa mau bergantung sama harta ortu dia sih Ma. Mama yang bener dong, pernikahan tuh bukan main-main pernikahan tuh sakral dan harus dengan niat yang serius."
"Udah kamu nggak usah banyak alesan! Mama nggak butuh alesan kamu dan ocehan kamu itu. Yang Mama butuhin tuh persetujuan dari kamu doang!"
"Tapi kan, Ma..."
"Nggak ada tapi-tapian pokoknya kamu secepatnya harus nikah sama Nak Arhan. Lagian dia anak yang baik kok, urusan nafkah itu sih gampang udah ada orang tuanya yang bakalan nanggung. Yang penting kamunya harus mau."
"Aku tuh nggak mau, Ma. Pokoknya aku nggak setuju nikah sama si bocah yang masih ingusan itu. Ya masa iya sih aku nikahin anak kecil anak kemarin sore."
Naomi masih kukuh dengan ucapannya itu karena menurutnya ide ibunya bukan ide yang bagus. Ia tentu sadar diri dengan umurnya yang sudah dua puluh empat tahun mana mungkin menikah dengan bocah yang usianya masih belasan tahun.
"Udah udah cukup Naomi Mama nggak mau dengerin alesan kamu, Mama nggak mau dengerin penolakan dari kamu. Yang harus kamu lakukan adalah setuju sama pilihan Mama dan Arhan itu calon menantu terbaik yang udah Mama pilihin buat kamu." Setelah berkata seperti itu Sukma pun langsung pergi begitu saja.
Naomi menghela napas kasar, ia bertekad tak akan menuruti perintah ibunya yang menurutnya sangat tak masuk akal itu.
"Pilihan Mama tuh nggak banget deh, bocah ingusan yang bau kencur itu malah disodorin ke aku. Kayak nggak ada yang lain aja deh yang lebih cakepan dikit." Ucapan Naomi tersebut jika didengar oleh para perempuan pecinta Arhan pasti akan membuatnya diamuk mereka semua. Ya jelas, secara Arhan itu cowok paling diincar karena ketampanannya itu.
"Ah udah deh nggak usah dipikirin lah nggak penting. Mendingan aku lanjut aja deh nonton video lagi." Naomi pun kembali ke kamarnya untuk bersantai.
Walaupun Naomi sekarang bersantai tidur-tiduran seperti itu tapi bukan berarti ia hanyalah gadis yang pemalas. Namun ia bersantai karena ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya yaitu menyapu dan mengepel.
"Naomi sini kamu!" seru Sukma lagi.
Segera Naomi kembali keluar dari kamarnya untuk menemui sang ibu. Ia melangkah cepat menghampiri Sukma.
"Ada apa, Ma?" tanya Naomi sabar.
"Tadi Mama belanja tapi malah wortel sama kentang ketinggalan. Buruan kamu sana ke pasar ambilin ya!"
"Oke deh."
Naomi pun pergi ke pasar seperti yang diperintahkan oleh ibunya itu. Ia ke pasar naik angkot karena memang ia tak punya kendaraan pribadi.
"Makasih ya, Bang!" kata Naomi pada sopir angkot setelah ia sampai di pasar.
Naomi segera pergi ke tukang sayur langganan ibunya lalu ia pun mengambil barang yang tertinggal itu. Setelah dapat ia berniat untuk pulang.
"Duh mendung banget gini lagi gimana bisa pulang cepet nih kalau kayak gini."
Naomi yang menenteng plastik kresek itu berdiri di pinggir jalan sedang menunggu angkutan umum lewat.
Tak lama Arhan yang mengendarai motornya lewat di depannya. Naomi mendengus kesal, bocah yang seperti itu yang ibunya jodohkan padanya?
"Bareng gua aja yuk! Nggak ada angkot udah mau hujan nih!" seru Arhan yang tiba-tiba menghentikan motornya.
Naomi terkejut apa bocah itu mendengar omongannya ya?
"Nggak deh! Kamu duluan aja lagian belum hujan ini!"
Arhan memundurkan motornya dan berhenti tepat di depan Naomi. Ia melepas kaca helmnya membuat matanya yang setajam elang itu terlihat.
"Buruan naik!"
Entah mengapa mendengar perintah tegas dari Arhan tersebut membuat Naomi luluh seketika dan ia pun menurut. Ia naik motor Arhan, duduk di belakang bocah itu.
"Pegangan biar nggak jatuh!"
"Udah jangan banyak omong ah! Jalan aja!" sungut Naomi.
"Pegangan, Naomi!"
"Iya ah!"
Naomi pun menuruti perintah Arhan lagi, ia memegang jaket Arhan sedikit. Dan Arhan pun melajukan motornya meninggalkan pasar.
Di pertengahan jalan hujan pun turun membuat mereka berdua kelabakan. Arhan memutuskan untuk berhenti di sebuah jalanan yang sepi untuk berteduh. Jarak rumah mereka masih lumayan jauh jika diterabas maka sudah pasti akan basah kuyup.
"Kita neduh di sini aja dulu ya?" ucap Arhan.
"Hooh." Naomi turun dari motor Arhan kemudian ia berlari menuju gubuk kecil itu. Arhan juga mengikutinya dan berdiri di sampingnya.
"Aduh gimana nih makin deres aja hujannya."
"Nih pakai jaket gua aja biar lu nggak kedinginan!" Arhan melepas jaketnya dan memberikannya kepada Naomi.
Naomi terlihat enggan menerima jaket itu namun karena merasa kedinginan ia pun menerimanya dengan terpaksa dan memakainya.
Naomi tersipu malu karena ia merasakan kehangatan dan juga wangi dari jaket milik Arhan itu.
"Kita masuk aja yuk kalau berdiri di sini terus nanti kita bisa basah kuyup."
"Oke deh."
Arhan masuk terlebih dahulu dan Naomi mengikuti di belakangnya. Mereka duduk di lantai di gubuk kosong itu dengan canggung.
Mereka baru pertama kali ini terlibat obrolan yang lumayan banyak, biasanya kan hanya mengobrol dua atau lima patah kata saja itu pun sebagai pembeli dan penjual.
DUAR! DUAR ! CTARRR!
Naomi berteriak kaget mendengar suara petir menyambar itu dan ia pun refleks menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena ia merasa ketakutan.
Arhan yang melihatnya tentu saja merasa khawatir dan ia pun mendekati Naomi dengan canggung. Ia terkejut saat gadis itu tiba-tiba refleks memeluknya, wajahnya menegang seketika. Ia pun menelan ludah karena gugup.
"Aku takut banget sama suara petir," isak Naomi sambil membenamkan wajahnya di d**a bidang Arhan.
"Udah nggak usah takut kan ada gua di sini," ucap Arhan menenangkan Naomi sambil mengusap-usap punggungnya pelan.
Naomi merasa lebih rileks berada di pelukan Arhan, matanya pun terpejam.
Arhan masih terjaga sedangkan Naomi sudah tertidur pulas di pelukannya. Tangannya sejak tadi tak berhenti menepuk-nepuk punggung gadis itu agar terlelap tidurnya. Ponselnya bergetar tanda ada yang menghubunginya. Ia pun memeriksanya dan ternyata itu pesan dari Clara.
[ Sayang kamu sekarang lagi di mana sih? Kok dari tadi aku telepon kamu tapi nggak kamu angkat? ]
Arhan menghela napas, ia merasa bersalah pada Clara karena sejak tadi ia tak mendengar ada telepon.
[ Maaf, Baby. Tadi tuh aku nggak denger soalnya handphone aku silent. Aku lagi di jalan nih kejebak hujan. ]
Setelah ia Clara tak membalasnya lagi. Arhan menghela napas lagi. Pasti Clara ngambek lagi nih, pikirnya.
Tak terasa sore pun berganti malam namun belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Naomi yang merasa perutnya keroncongan pun terbangun dari tidurnya. Ia terkejut karena posisinya masih berada di pelukan Arhan yang hangat.
Arhan melihat ke bawah ke arah wajah Naomi. "Udah bangun?" tanyanya dengan suara beratnya yang mampu membuat Naomi memerah wajahnya. Ia tersenyum melihat gadis itu tersipu seperti itu.
"Iya nih. Hujannya kok nggak berhenti sih dari tadi," keluh Naomi. Ia bangun dan melepaskan diri dari pelukan Arhan. Ia duduk tegak menyandar di tembok.
"Tau nih kayaknya hujannya besok pagi baru berhenti, kita semaleman bisa ada di sini."
Naomi terbelalak mendengar ucapan Arhan tersebut, ucapan bocah itu terdengar santai sekali.
"Ih ogah ah aku mau pulang nanti Mamaku marah kalau aku nggak pulang semaleman."
"Mau gimana lagi," kata Arhan cuek. Ia mengambil sebungkus roti dalam tasnya kemudian ia berikan ke Naomi.
"Apaan nih maksudnya?"
"Roti buat lu, makan aja gih!"
Naomi pun mengambil roti itu dan mulai memakannya dengan canggung.
Esok harinya.
"Wah ada pasangan yang lagi m***m nih di sini kita laporkan ke pak RT yuk biar ditangkap terus dinikahkan langsung!"