Digerebek Warga

1300 Words
"Ayo kita bawa aja ke pak RT!" Naomi terbangun mendengar suara ramai tersebut, matanya terbelalak melihat para warga berkumpul di depan rumah kosong itu. Ia tentu saja panik melihat mereka semua. Naomi menoleh ke sampingnya dan melihat Arhan yang masih tidur pulas itu. "Arhan, bangun!" "Nanti aja masih ngantuk nih gua." Arhan malah menguap dengan mata yang masih terpejam. Naomi berdecak kesal, ia duduk lalu menggoyangkan pundak Arhan agar bocah itu bangun dari tidur lelapnya. "Arhan buruan bangun!" Meski sambil berdecak kesal karena merasa tidurnya terganggu, Arhan pun bangun. Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat rombongan yang masih berteriak ingin mengarak mereka ke pak rt tersebut. "Apa gua salah liat yak?" gumam Arhan sambil mengucek matanya. "Kamu nggak salah liat, Arhan. Mereka itu memang ke sini lagi demo. Kamu nggak denger apa kalau mereka mau ngarak kita ke pak RT." "Buruan keluar kalian berdua! Ikut kami ke pak RT sekarang!" "Kalian sudah berbuat hal yang tak pantas di sini!" Arhan terlihat emosi kali ini. Apa-apaan mereka semua itu! Ia pun bangun dan menghampiri mereka. Naomi di belakangnya mengikutinya dengan takut-takut. "Ada apa ya? Dan apa maksud kalian berteriak-teriak seperti itu? Saya dan Mbak Naomi tuh nggak berbuat apa-apa. Kami berdua semaleman kejebak hujan jadi terpaksa kami nginep di sini," jelas Arhan panjang lebar. "Jangan banyak alesan! Dulu juga ada yang seperti kalian ini banyak alesan padahal pasangan belum sah. Kami nggak mau hal itu terulang lagi, jangan mengotori daerah sini!" "Aduh gimana nih?" bisik Naomi ke dirinya sendiri namun Arhan bisa mendengarnya ternyata. Arhan menoleh ke Naomi. "Udah lu tenang aja nggak usah takut gitu," ucapannya itu sangat menenangkan Naomi. Naomi pun mengangguk saja. Arhan kembali melihat ke arah para warga yang berada di sana. "Terus mau kalian semua apa?" tantangnya sengak. Ia bukan orang yang sabar ingat? Ya, kesabarannya hanya setipis tisu itupun dibagi dua. "Waduh kasar banget ya omongan kamu itu padahal masih bocah ingusan begitu! Kalian ikut kami ke pak RT ayo!" Akhirnya Arhan dan Naomi terpaksa mengikuti perintah mereka semua. Mereka berdua pun diarak ke rumah pak RT ramai-ramai. Arhan terus merangkul pundak Naomi agar Naomi tak terjatuh. "Udah lu tenang aja ok?" kata Arhan dan Naomi mengangguk sambil menahan air matanya. Ketika mereka sampai di rumah pak RT, si tuan rumah pun akhirnya keluar. Ia bingung melihat para warga ramai dan berisik seperti itu. "Ada apa ini kok ribut sekali kalian?" tanya pak RT. "Begini, Pak RT mereka berdua ini adalah pasangan yang telah berbuat tak senonoh di daerah kita ini, jadi kami mengarak mereka ke sini agar diberi sangsi yang sangat tegas, Pak," kata salah satu dari para warga yang mencoba menjelaskan. "Betul itu, Pak RT! Enak saja udah mengotori daerah sini!" "Ayo nikahkan saja mereka berdua, Pak!" Naomi semakin menunduk takut dan air matanya pun kini tak bisa dibendung. Ia menangis tanpa suara di dekat Arhan. Arhan yang melihat keadaan Naomi tersebut semakin mengeratkan pelukannya di pundak gadis itu. "Pak semua itu nggak bener! Saya dan Mbak Naomi itu nggak ngapa-ngapain kami berdua kejebak hujan makanya terpaksa neduh. Udah gitu doang kok dan kami nggak berbuat seperti yang mereka semua tuduhkan!" ucap Arhan. "Bohong kamu! Orang jelas banget kok kalian itu tidurnya pelukan jadi mana mungkin nggak terjadi apapun. Udah jangan banyak omong kamu bocah!" "Iya mana ada sih maling yang ngaku!" "Betul itu! Palingan juga sebentar lagi pacar kamu itu udah isi." Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Arhan marah. Mereka sudah menuduh sembarangan tanpa bukti dan juga sekarang malah menghina Naomi seperti itu. "Otak kalian aja yang pikirannya kotor! Pikir dong di tempat kayak gitu yang terbuka mana bisa gua berbuat kayak gitu! Logikanya dipakai dong!" seru Arhan penuh emosi. Naomi semakin menangis, ia pun berkali-kali menghapus air matanya itu dengan tangannya. "Namanya juga anak muda ada kesempatan ya di mana aja bisa lah bahkan di tempat terbuka sekalipun." "Sudah sudah jangan ribut lagi!" lerai pak RT dengan bijak. Pak RT mengajak mereka semua untuk musyawarah di dalam rumahnya. Naomi dan Arhan duduk berdampingan di sofa panjang dan para warga berdiri karena saking banyaknya yang datang bangku tak cukup. "Nama kalian berdua siapa?" tanya pak RT. "Saya Arhan, Pak," jawab Arhan setelah ia menghela napas. "Dan mbaknya namanya siapa?" kali ini pak RT bertanya kepada Naomi. "Saya Naomi, Pak." "Baik, saudara Arhan dan saudari Naomi. Saya minta kalian berdua untuk menghubungi orang tua kalian masing-masing karena hari ini juga di tempat ini kalian akan menikah." "Nah kami setuju Pak! Nikahkan saja mereka sekarang di sini!" Naomi terbelalak kaget mendengar hal tersebut. Apa? Menikah? Dengan Arhan dan hari ini juga? Ia refleks menutup mulutnya tak mampu berkata-kata. Begitu juga dengan Arhan yang tak kalah terkejutnya mendengar titah pak RT tersebut. Tanpa sadar tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. "Maaf pak tapi saya nggak setuju! Saya sangat keberatan!" seru Arhan penuh emosi. "Nggak setuju gimana sih? Eh kamu tuh harus nikahin mbak Naomi ini biar anak yang dia kandung ada bapaknya. Kamu jangan lari dari tanggung jawab dong!" kata salah satu warga itu. "Naomi nggak hamil jangan nuduh sembarangan kalau nggak ada bukti!" balas Arhan menatap tajam warga tersebut. "Udah jangan dengerin dia pak, nikahkan aja mereka pak! biar saya yang panggil pak penghulu biar langsung dinikahkan di sini sekarang juga." "Iya iya mohon tenang, jangan ribu ribut lagi seperti itu!" lerai pak RT lagi. Ia merasa pusing dengan mereka semua. Arhan menoleh ke arah Naomi, sekarang tatapannya tak seperti sebelumnya yang menenangkan. Justru sebaliknya sekarang ia menatap gadis itu dengan tatapan yang penuh kebencian. Untung saja Naomi tak melihat Arhan, jika ia melihatnya sudah pasti ia akan takut pada bocah itu. Tak lama kemudian Orang tua Arhan dan juga Sukma telah datang ke tempat pak RT untuk ikut menyaksikan pernikahan Arhan dengan Naomi. "Saya terima nikah dan kawinnya Naomi binti Haris dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Arhan dengan lantang. "Bagaimana para saksi sekalian? Sah?" tanya pak penghulu. "Sah!" seru para saksi di sana. Devi dan Sukma yang duduknya berdekatan pun saling melempar senyuman bahagia. "Yes, akhirnya rencana kita berdua berhasil, Bu Sukma," lirih Devi. "Betul itu, Bu Devi. Sukses besar," balas Sukma dengan senyuman yang penuh rasa syukur. Ia telah berhasil menikahkan anaknya itu dengan anak orang kaya. ( Sebentar lagi aku bisa dapet rumah mewah dan juga perhiasan banyak! ) seru Sukma dalam hatinya. Mereka berdua tersenyum melihat Naomi yang sedang mencium tangan Arhan dan gantian Arhan yang mencium kening Naomi. Mereka kini sudah sah menjadi pasangan suami istri. Naomi langsung dipeluk oleh Devi sambil menangis haru, Naomi menangis sedih. Sukma juga gantian memeluk Naomi. "Selamat ya, Nak." Naomi diam saja karena ia terus menangis sedih. "Tolong jaga Naomi ya, Nak Arhan," pinta Sukma saat Arhan menantunya itu mencium tangannya sebagai bakti seorang menantu kepada ibu mertuanya. "Iya, Tante," balas Arhan tanpa ekspresi. "Jangan Tante dong, panggilnya Mama gitu ya!" perintah Sukma sambil tersenyum. Arhan hanya mengangguk saja lalu ia menoleh ke arah Naomi. Tatapannya kesalnya muncul kembali dan tangannya mengepal erat. Setelah acara pernikahan mendadak tersebut Naomi diboyong ke rumah mewah keluarga Arhan. Awalnya ia menolak karena masih ingin tinggal bersama ibunya namun Sukma juga yang mendesaknya untuk mau tinggal di rumah Arhan mulai hari ini. Naomi masuk ke kamar Arhan yang mulai hari ini akan menjadi kamarnya juga. Ia takjub melihat ruangan kamar tersebut sangatlah mewah namun nuansanya gelap. Ia maklum akan hal itu karena ini kan kamarnya laki-laki. Malam telah larut namun Naomi belum lagi melihat suaminya. Karena mereka haus ia pun keluar kamar dan ia terkejut mendengar suara cekikikan seorang wanita dari dalam kamar sebelah. "Kok kayak kenal suara itu?" gumam Naomi yang merasa familiar dengan suara wanita itu. Karena merasa penasaran Naomi pun mengintip dari celah pintunya dan matanya terbelalak kaget melihat Arhan yang sedang berpelukan mesra dengan Clara di dalam kamar itu. Arhan bersama Clara? Ya, sekarang ia tahu suara siapa itu, ternyata Clara!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD