"Naomi kamu lagi ngapain, Sayang?" tegur Devi yang membuat Naomi terlonjak kaget.
"Aku nggak liat apapun kok, Ma," dusta Naomi sambil tersenyum paksa. Rasa bersalahnya kepada Arhan dan Clara dan terutama pada Clara karena telah merebut Arhan dari gadis itulah yang membuatnya terpaksa berbohong pada Devi. Ia ingin melindungi mereka berdua agar ibu mertuanya itu tak melihat mereka di dalam kamar sana.
Devi yang terlihat curiga itu lantas melihat ke dalam kamar sebelah. Betapa terkejutnya ia melihat Arhan sedang bermesraan dengan Clara. Ia sangat teramat kesal menyaksikan hal itu.
"Anak itu nggak bisa dikasih tau rupanya, awas ya kamu Arhan," ancam Devi lirih.
"Kalau gitu aku mau permisi ke dapur dulu ya, Ma. Aku haus mau ambil minum," pamit Naomi dengan takut-takut. Ia ingin pergi saja dari sana karena ia tak akan tega jika mendengar Clara dan Arhan dimarahi oleh ibu mertuanya itu.
"Iya, Sayang." Devi tersenyum sambil mengangguk.
Setelah Naomi pergi Devi pun masuk ke dalam kamar itu membuat Arhan dan Clara terkejut dan saling menjauh. Clara terlihat panik dan hal itu membuat Devi semakin kesal.
"Arhan sini kamu! Mama mau bicara sama kamu," tegas Devi.
"Mau ngomong apa lagi sih, Ma? Nggak bisa nanti aja ya? Aku lagi sibuk nih sekarang," balas Arhan dengan malas.
Devi semakin naik pitam mendengar ucapan anaknya itu. "Kamu itu benar-benar udah keterlaluan ya, Arhan! Dan kamu Clara, sekarang juga kamu pulang orang tua kamu pasti nyariin kamu dari tadi!" hardiknya.
"Iya, Tante," cicit Clara takut-takut.
"Biar aku yang anterin kamu pulang!" tegas Arhan sambil menatap ibunya dengan tak ada rasa takutnya.
"Cepetan pergi!" usir Devi.
Arhan dan Clara pun keluar dari kamar, Clara menundukkan wajahnya saat ia melewati Devi.
"Anak itu susah banget sih dibilangin! Dia kan sekarang udah nikah, bukannya nemenin Naomi di kamar malah asyik pacaran sama perempuan lain." Devi tak tahu lagi bagaimana caranya mengatur Arhan.
Setelah minum Naomi pun kembali ke kamarnya, saat ia melewati kamar sebelah ia tak melihat Arhan di sana. Ia merasa sedih dan juga merasa bersalah pada bocah itu. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian di rumah kosong itu. Kalau saja mereka tak bertemu sudah pasti bocah itu masih single sekarang.
Naomi memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya ke kamarnya. Di dalam kamar ia menangis, kini ia sudah membuat Arhan harus memikul tanggung jawab sebagai seorang suami di usianya yang masih sangat muda.
"Ini semua gara-gara aku jadinya kayak gini," lirih Naomi sambil terisak sedih.
Arhan pulang dalam keadaan basah kuyup, ia langsung pergi ke kamarnya bersama Naomi untuk mengambil handuk karena ia ingin mandi. Saat itulah ia mendengar suara isakan tangis. Dilihatnya Naomi yang sedang menangis di pojokan tempat tidur sambil memeluk lututnya sendiri.
DUAR ! CTARRRR! DUAR !
Arhan sekarang ingat, Naomi sangat takut terhadap suara petir yang menyambar. Tanpa ba-bi-bu ia pun masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi ia segera memakai kaos hitamnya juga celana pendek dan mendekati Naomi.
"Hiks hiks hiks..."
Ternyata rasa kasihan Arhan jauh lebih besar daripada rasa bencinya pada Naomi. Ia pun memeluk istrinya itu dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
"Jangan nangis lagi, gua udah di sini jadi jangan takut," bisik Arhan di telinga Naomi.
Naomi mengangguk pelan, ia sudah merasa tenang sekarang. Ia membenamkan wajahnya di pelukan hangat suaminya itu.
CTARRR! DUARRRRR!
Naomi kembali dibuat kaget oleh suara petir itu, namun Arhan terus menenangkannya jadi ia merasa nyaman.
"Lu tidur aja biar nggak denger suara petir lagi. Gua bakalan di sini nemenin lu."
Naomi mengangguk patuh, ia pun berbaring dan memejamkan matanya.
Esok harinya, Naomi terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia terkejut melihat Arhan tidur di sampingnya dan memeluknya erat. Mereka berdua sudah tidur bersama? Ia mengira jika suaminya itu pindah tidur di kamar lain tapi ternyata tidak. Lantas ia memeriksa keadaannya dan ia menghela napas lega karena mereka berdua masih berpakaian. Itu berarti mereka tak melakukan apapun semalaman.
Bisa saja kan mereka berdua khilaf dan melakukan ini itu karena berada di kamar yang sama. Namun Naomi berharap hal seperti itu jangan dulu terjadi karena ia mementingkan masa depan Arhan. Suaminya itu statusnya masih siswa sekolah menengah atas jadi belum saatnya mereka melakukan hubungan suami istri meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri.
"Aku mau bikinin sarapan dulu deh buat Arhan," kata Naomi. Ia bangun dari tempat tidurnya dan membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Setelah itu Naomi pergi ke dapur, di sana sudah ada asisten rumah tangga yang sedang memasak.
"Eh ada Non Naomi? Pagi banget bangunnya Non?" sapa Mbak Juminten, sang asisten rumah tangga itu dengan ramah.
Naomi tersenyum. "Iya nih, Mbak. Saya mau bikinin sarapan buat Arhan."
"Aduh nggak usah repot-repot, Non. Non Naomi mau masak apa biar saya yang masakin."
"Nggak apa-apa, Mbak. Biar saya aja yang masak," tolak Naomi halus.
"Ciee Non pengantin baru mau masak sarapan buat suami nih ye," goda Mbak Juminten. "Ya udah deh silahkan Non. Tapi kalau sampai Nyonya tau gimana Non?"
"Nggak apa-apa kok, Mbak."
"Gitu ya, Non? Ya udah deh kalau gitu yuk kita masuk bareng."
Naomi mulai meracik bumbu, ia ingin memasak sop semoga saja Arhan suka dengan masakannya.
Setelah selesai masak, Naomi kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian juga keperluan sekolah Arhan. Suaminya itu masih tertidur pulas belum bangun sejak tadi. Ia geleng-geleng kepala melihatnya sambil tersenyum maklum. Tak tahu mengapa ia yang awalnya merasa kesal pada Arhan namun setelah mereka menikah rasa kesalnya itu seketika menghilang.
Sudah pukul enam dan sekarang saatnya Naomi untuk membangunkan Arhan. Ia tersenyum melihat wajah tidur Arhan itu, ternyata jika tertidur seperti itu suaminya jauh lebih tampan. UPS! Naomi membuang pikirannya tersebut, bisa-bisanya ia mempunyai pikiran seperti itu kepada bocah kecil.
"Apaan sih Naomi, jangan mikir aneh-aneh deh ah!" Naomi merutuki pikirannya sendiri.
"Arhan bangun udah jam enam nih! Buruan bangun biar nggak telat sekolahnya," pinta Naomi sambil menggoyang-goyangkan badan Arhan.
Arhan bangun dan membuka matanya perlahan. Ia tak terkejut jika Naomi yang membangunnya. Ia menguap lalu duduk sambil menguap lagi.
"Aku udah siapin baju seragam kamu dan semuanya," kata Naomi sambil tersenyum.
"Ngapain? Gua kan nggak nyuruh lu jadi nggak usah repot-repot deh! Lu nggak usah sok baik sama gua!" balas Arhan pedas. Ia pun ngeloyor pergi meninggalkan Naomi yang terguncang sedih.
Hati Naomi terasa sakit, ia hanya ingin berbuat baik dan berbakti kepada suaminya itu namun Arhan malah berkata seperti itu. Perkataan yang sangat menyakitkan hatinya.
Di ruang makan
Para anggota keluarga Aditya sudah berada di ruang makan kecuali Arhan. Bocah itu datang paling akhir dan segera duduk di sebelah ibunya.
"Loh kok kamu malah duduknya di sini sih, Nak? Kamu duduk di sebelah istri kamu dong!" tegur Devi.
"Apaan sih Ma? Aku duduk di mana aja ya terserah aku lah! Sama aja kok!"
"Ardi kamu itu jangan bicara seperti itu sama Mama kamu sendiri! Kalau bicara tuh yang sopan dong!" kali ini Pak Rama yaitu ayahnya Arhan yang menegur anaknya itu.
Namun Arhan sama sekali tak peduli, ia malah asyik dengan ponselnya.
Naomi tak berani berkata apapun karena ia takut salah maka ia hanya diam saja namun ia merasa tak enak dengan mereka semua karena gara-gara dirinya mereka harus ribut seperti itu.
"Dasar kamu itu dibilangin susah banget!" omel Devi lagi.
"Sudah sudah yuk kita mulai sarapan saja!" titah Rama. Ia pun memimpin doa dan mereka pun mulai menyantap makanan yang telah tersaji di meja makan.
"Wah ada sayur sop nih! Kayaknya enak nih seger! Tumben nih ada sayur sop. Pasti Naomi kan yang masak?" ucap Devi sambil tersenyum. Ia mengambilkan peralatan makan untuk suaminya dengan telaten.
Naomi juga melakukan hal yang sama kepada Arhan, ia mengambilkan nasi ke piring Arhan.
"Iya, Ma," jawab Naomi malu-malu.
"Aku mau sarapan asal jangan taruh sop itu di piring aku!" ucap Arhan sinis.
Ucapannya yang terdengar sadis tersebut membuat kedua orang tuanya marah seketika.
"Kamu nggak boleh bicara kasar seperti itu, Arhan! Memangnya selama ini Papa mendidik kamu begitu?" hardik Rama.
Naomi hanya tertunduk sedih dan terdiam.