"Udahlah aku nggak laper!" Arhan bangun dari duduknya.
"Kamu mau ke mana, Arhan?" tegur Rama.
Naomi merasa tak enak dengan mereka gara-gara kejadian ini namun ia bisa apa selain diam.
"Mau berangkat sekolah lah ke mana lagi!" Setelah berkata seperti itu Arhan pun pergi.
"Tunggu, Arhan! Papa belum selesai ngomong!"
Namun Arhan tetap tak memperdulikan seruan ayahnya, ia berangkat sekolah dengan mengendarai motor sportnya.
Devi menghela napas, ia juga menjadi tak enak pada Naomi. Anaknya memang sangat susah diatur dan dinasehati.
"Nak, Naomi. Mama minta maaf ya atas nama Arhan. Tapi kamu tenang aja suami kamu itu aslinya baik kok. Cuma sekarang sekarang aja dia jadi begitu itu pasti karena si Clara itu."
"Nggak apa-apa kok, Ma. Aku bisa ngerti kok," balas Naomi tersenyum tulus.
"Ya udah ayo kita lanjut sarapan, biarin Arhan lapar di sekolah karena nggak mau nurut omongan orang tuanya," kata Pak Rama.
Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang.
Setelah selesai sarapan, Naomi kembali ke kamarnya karena ia ingin bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ya, ingat? Ia kan bekerja di kantin sekolah.
Naomi mandi dan berpakaian, setelah itu ia pun pamit pergi pada ayah dan ibu mertuanya itu yang sedang duduk santai di ruang tamu
"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Devi setelah Naomi mencium tangannya tanda hormat pada dirinya itu.
"Iya, Ma."
Naomi sudah lebih dulu salim pada sang ayah mertua. Setelah itu ia pun pergi ke sekolah dengan diantar oleh pak sopir keluarga.
"Terimakasih ya, Pak," ucap Naomi setelah ia telah sampai di depan gerbang sekolah. Ia pun masuk ke sekolah dengan terburu-buru. Sampai-sampai ia menubruk seseorang.
"Aw!" pekik Naomi.
"Lain kali kalau jalan hati-hati dong!" ucap suara orang yang telah ia tubruk itu. Orang itu pun berdecak kesal, suara yang sangat ia kenali dan juga harum wanginya.
Naomi segera mendongak dan ia tak kaget jika seseorang itu ialah Arhan suaminya sendiri.
"Aduh aku minta maaf deh, aku buru-buru banget tadi udah mau telat soalnya ini. Kamu nggak apa-apa kan?"
"Gua baik-baik aja!" Arhan pun pergi begitu saja dari hadapan Naomi. Naomi menghela napas berat, sampai kapan Arhan memperlakukannya seperti itu.
"Udah ah aku mau ke kantin mau siap-siap," kata Naomi yang menghilangkan pikiran macam-macamnya.
Naomi terus melanjutkan langkahnya hingga sampai di kantin. Di sana sudah ada Saskia rupanya, rekan kerjanya itu sedang sibuk beres-beres. Melihat Saskia yang beres-beres sendiri ia pun jadi tak enak hati.
"Aduh maaf ya, Sas. Aku malah agak telat hari ini, " kata Naomi sambil meletakkan tasnya di meja.
"Udah nggak apa-apa kali, Na. Kan aku juga malah yang seringnya telat daripada kamu," balas Saskia sambil tersenyum. Ia sedang menyapu lantai dengan pelan.
"Nanti aku yang ngepel ya, Sas!"
"Oke sip!"
Naomi pergi ke toilet untuk mengambil air untuk mengepel. Saat ia sampai di sana ia terbelalak melihat Arhan sedang berciuman dengan Clara di sana. Ia menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana bisa mereka berdua melakukan hal seperti itu di tempat umum apa mereka tidak malu ya jika ada yang melihat mereka?
"Ehem!" dehem Naomi yang membuat kedua insan yang sedang bermesraan itu langsung kaget dan memisahkan diri. Mereka berdua terlihat kesal melihat Naomi.
"Ganggu aja sih!" ucap Arhan sinis sambil ngeloyor pergi. Clara mengikutinya, berjalan di belakangnya.
Saat melewati Naomi, Clara menatap sengit Naomi namun Naomi tak peduli.
"Apaan dah nggak banget masa pacaran di toilet sih mana sepi pula," ujar Naomi yang tak habis pikir dengan mereka berdua terutama Arhan.
Naomi melanjutkan pekerjaannya, ia mengambil air setelah itu ia kembali ke kantin dan mulai mengepel lantai karena Saskia sudah selesai menyapu.
Tanpa Naomi sadari ternyata ada seorang pria yang sejak tadi menatapnya dengan begitu takjub. Pria itu duduk di kantin di warung mie ayam.
"Cantik banget dia, udah gitu sifatnya baik sederhana pula. Bisa nggak ya gua dapetin tuh cewek," gumam pria itu sambil terus menatap ke arah Naomi sang target.
Pagi telah berganti siang dan saatnya murid sekolah untuk beristirahat. Merekapun berdatangan ke kantin untuk makan siang mengisi perut mereka yang lapar. Dan seperti biasa dari mereka banyak yang menyerbu warungnya Naomi dan Saskia.
"Kak Naomi, aku mau dong bakso ya tanpa mie!"
"Kak, kalau aku soto aja ya Kak tanpa nasi!"
"Iya iya oke sabar ya, adek adek cantik ganteng," ucap Naomi sambil meracik soto.
Saskia juga sibuk melayani pembeli yang memesan bakso.
Sementara itu di tempat lain
Terlihat Arhan, Rifky dan juga Bara sedang duduk santai di anak tangga dalam sekolah.
"Eh kita kantin yuk laper nih gua!" ajak Rifky.
Mendengar tentang kantin membuat Arhan menjadi kesal lagi sekarang padahal sebelumnya tidak sama sekali. Itu karena Naomi yang telah membuatnya kesal.
"Ok cus!" ucap Bara.
Rifky menoleh ke Arhan namun sahabatnya itu terlihat malas. "Ayo buruan kita ke kantin!" ajaknya.
"Kalian aja sono gua di sini aja," tolak Arhan sambil sibuk bermain game di ponselnya itu.
"Lu kenapa sih? Tumben kek nggak semangat idup gitu lu napa dah?" tanya Rifky dan Bara mengiyakan.
"Kagak napa-napa dah lu berdua pergi sono!"
"Dih ya udah, gua mah dari pada di mari mendingan ke kantin ye kan?" ucap Rifky dan Bara mengangguk setuju.
"Yoi bro! gua mau sekalian lihat Kak Naomi yang cantik paripurna itu!" seru Bara lalu ia tertawa.
"Bisa ae lu kocak! Mana mungkin Kak Naomi demen sama elu!" ejek Rifky.
"Namanya juga usaha," balas Bara.
Entah mengapa mendengar ucapan Bara tersebut membuat Arhan kesal. Ia pun mematikan ponselnya dan berdiri.
Rifky dan Bara kaget melihat Arhan berjalan pergi.
"Woy mau ke mane lu, Arhan!" seru Rifky.
"Ke kantin lah gua mau makan bakso!"
Sontak saja Bara dan Rifky melongo. "Lah tadi katanya males ye kan? Sekarang ngape dia malah ngeloyor duluan kek gitu yak?" ucap mereka bersamaan.
Bara dan Rifky mengikuti Arhan, mereka berdua pergi ke kantin dan duduk di bangku warungnya Naomi.
Arhan melihat ke arah Naomi, ternyata istrinya itu sedang sibuk melayani pembeli.
"Gila ya cantik banget Kak Naomi itu, kalau aja gua bisa dapetin dia pasti asyik banget tuh gua bisa disayang sayang sampai gua terbang ke langit," oceh Bara sambil tersenyum sendiri melihat Naomi.
"Ngaca! Lu punya kaca kan di rumah?" sembur Rifky. "Mana mungkin Kak Naomi suka sama elu, kocak!"
"Bisa aja kan kalau gua ini jodohnya dia ya pasti lah gua bisa nikah sama dia. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini brow!"
Arhan tak suka mendengar Bara berbicara seperti itu tentang Naomi. Enak saja Naomi itu istrinya, tak ada yang bisa memiliki istrinya itu! begitulah pikirnya.
"Berisik lu berdua! Bisa diem kagak sih? Malu lah kalau Naomi bisa denger omongan kalian!" tegur Arhan dengan tatapan kesalnya itu.
Rifky dan Bara sontak saja saling bertatapan bingung.
"Nih bocah kenapa dah kesel gitu keliatannya?" gumam Rifky bingung.
"Jangan-jangan lu juga naksir sama Kak Naomi?" ucap Bara pada Arhan dan ucapannya itu membuat Arhan tersedak dan terbatuk-batuk.
"Ya kagak lah gila aja lu! Clara mau gua kemanain?" balas Arhan kesal.
"Ya udah kalau gitu ngapain lu nyolot kalau gak demen sama Kak Naomi?" balas Bara menatap Arhan dengan tatapan curiga. ( Jangan jangan bener nih bocah naksir juga sama Kak Naomi calon gebetan gua) sambungnya dalam hati.
Arhan diam saja tak ingin membalas Bara.
"Woy! Lu berdua kalau emang demen sama Kak Naomi noh liat sekarang! Lu berdua udah pasti kalah start! Liat noh Kak Naomi disamperin sama orang!" seru Rifky.
Sontak saja Bara dan Arhan melihat ke arah warungnya Naomi, di sana terlihat jelas ada seorang pria dua puluhan tahun mendekati gadis cantik itu.
Melihat pemandangan tersebut membuat Arhan sangatlah kesal, tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras.
"Lu berdua lihat kan? Kak Naomi udah punya pacar tuh dia pacarnya datengin dia ke kantin," ucap Rifky yang sok tahu itu.
Arhan yang semakin kesal ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke warung Naomi.
"Minggir lu semua!" bentak Arhan membuat para pembeli di sana kaget dan menepi membiarkannya lewat.
"Arhan?" ucap Naomi yang kaget melihat suaminya itu sudah berdiri di hadapannya.