Kemarahan Clara

1121 Words
Setelah sampai di rumahnya, Clara langsung masuk ke dalam kamarnya dan membanting semua barang-barang yang ada di atas meja riasnya sambil berteriak marah. Vas bunga juga tak luput dari pandangannya langsung ia banting juga ke lantai hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Clara menjerit sekeras-kerasnya lalu ia jatuh terduduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Lelah menjerit, Clara kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya yang dindingnya itu banyak terpanjang foto Arhan dan dirinya. Foto anak laki-laki yang masih kecil ia ambil lalu ia pandangi sambil tertawa sedih. Ia kembali teringat kejadian tadi siang saat di sekolah saat ia yang tak sengaja lewat di belakang sekolah dan ia melihat Arhan dan Naomi yang berciuman itu. Hatinya masih terasa sangat sakit hingga kini. "Arhan, kamu tau kan kalau aku itu sayang banget sama kamu dari dulu waktu kita itu masih kecil? Tapi kenapa kamu lakuin itu ke aku, Arhan? Kenapa kamu malah ciuman sama si Naomi yang gatel itu! Kenapa Arhan?" nada suara Clara yang awalnya pelan memelas sekarang meninggi penuh rasa amarah yang mendalam lalu air matanya pun mengalir keluar membasahi pipinya. "Aku sama kamu itu udah terikat dari kecil, kita itu udah ditakdirkan untuk bersama dari dulu. Kamu selalu janji sama aku kalau kamu bakalan jagain aku terus. Tapi kenapa kamu sekarang ingkarin janji kamu sendiri? Katanya kamu nggak bakalan biarin satu orangpun nyakitin aku tapi kenapa justru kamu sendiri yang sekarang nyakitin hati aku? Kenapa Arhan? Kenapa!" Ponsel milik Clara yang berada di atas tempat tidurnya berdering. Arhan Calling! Clara tak mempedulikannya, ia masih berteriak frustasi melampiaskan rasa sakit hatinya itu. Sementara itu Arhan yang ternyata sudah masuk ke rumah Clara. Ya, tentu saja ia punya akses untuk masuk ke dalam rumah kekasih hatinya itu karena Clara sendiri yang memberikannya kepadanya. "Kok telepon gua kagak diangkat ya?" gumam Arhan yang bingung. Ia pun mematikan sambungan telepon dan melanjutkan langkahnya, ia menaiki tangga menuju lantai atas ke kamarnya Clara. Saat membuka pintu kamar Clara Arhan dibuat terkejut begitu melihat kekasihnya itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya seperti itu. "Sayang kamu kenapa?" tanya Arhan khawatir sambil masuk ke kamar Clara dan langsung berjongkok memeluk kekasihnya itu. "Kamu baik-baik aja kan, Sayang? Jawab aku!" Clara semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan Arhan. "Kenapa kamu lakuin itu ke aku? Kenapa kamu tega banget sama aku Arhan? Kenapa?" tanya Clara sambil terisak-isak dan memukuli pundak pacarnya itu pelan. Tentu saja Arhan bingung mendengar Clara mengatakan hal seperti itu kepadanya. Ia melepaskan pelukannya lalu ia perhatikan wajah cantik kekasih hatinya itu. Ada pancaran kesedihan yang mendalam di wajah itu. "Apa maksudnya kamu bilang kayak gitu?" tuntut Arhan meminta penjelasan dari Clara. "Tadi aku liat dengan mata kepala aku sendiri kamu lagi ciuman mesra sama si gatel minta digaruk si gatel yang nggak tau diri alias si Naomi itu!" sembur Clara sambil melotot marah. Arhan terlihat panik, jadi Clara tadi berada di belakang sekolah juga? Ia menelan ludah gugup tak tahu harus mengatakan apapun, apalagi menyatakan pembelaan karena memang ia sendiri yang salah ia mengaku hal itu. Ia yang salah tadi karena tak bisa mengontrol dirinya dan malah mencium Naomi. Clara mendengus lalu ia tertawa mengejek. "Iya kan? Bahkan kamu sekarang langsung diem nggak bisa berkutik ya iyalah orang kamu emang salah kok! Iya kan?" Arhan menghela napas pasrah. "Iya aku minta maaf sama kamu, Sayang. Aku yang salah ok aku minta maaf," ucapnya sambil menggenggam tangan Clara lalu ia menciumnya dengan lembut. Clara yang marah lantas menarik tangannya dari genggaman tangan Arhan dengan kasar. "Kamu minta maaf?" Clara tertawa sarkas. "Kamu pikir dengan kamu minta maaf terus semuanya bakalan langsung selesai gitu?" serunya emosi. Ia bangun dari duduknya lalu ia duduk di atas kasurnya. Arhan melihat semua pergerakan Clara dengan tatapan yang sedih dan rasa bersalah yang sangat mendalam. "Kamu inget janji kamu Arhan? Dulu kamu udah janji sama aku buat jagain aku dan bakalan bikin aku bahagia terus tapi sekarang apa? Justru kamu sendiri yang udah nyakitin aku! Hati aku sakit banget liat kamu mesra sama si gatel itu!" Arhan teringat masa kecil mereka saat mereka duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak. Flashback Pagi itu suasananya sangat cerah terlihat dua anak kecil laki-laki dan perempuan yang tengah tertawa bersama sambil bermain ayunan. "Arhan besok kalau kita udah besar kamu bakalan terus sama aku kan?" tanya Clara kecil. Arhan kecil tersenyum. "Iya, aku bakalan jagain kamu terus kok. Kita bakalan bareng-bareng terus selamanya," janjinya. Clara tersenyum senang. "Beneran ya? Awas kalau bohong." "Iya aku nggak bakalan bohong." Mereka berdua pun saling melempar senyuman yang penuh dengan rasa bahagia. Flashback off Arhan menghela napas, lalu ia pun mengikuti Clara. Ia duduk di depannya lalu memeluknya dengan erat. Ia tak peduli jika Clara mengamuk memberontak di pelukannya itu. "Aku minta maaf, aku nggak akan lakuin itu lagi." Sedangkan Clara yang lelah mengamuk pada akhirnya ia hanya bisa menangis meraung-raung. Sementara itu, Naomi yang sedang memakai handbody lotion di kakinya dikejutkan dengan kehadiran Arhan yang tiba-tiba saja ada di belakangnya itu. Ia melihat suaminya itu dari cermin meja riasnya. Ke mana saja suaminya itu pergi sampai pulangnya larut malam begini? "Kamu baru pulang?" tegur Naomi sambil mengoleskan handbody lotion di tangannya. "Bukan urusan lu!" balas Arhan dingin. Naomi menghela napas. "Cuma nanya doang kok, soalnya..." "Apa?" potong Arhan sambil mendekati Naomi, ia menyeringai licik saat melihat istrinya itu panik. "Jadi lu udah nungguin gua dari tadi hm?" bisik Arhan sambil menundukkan badannya agar posisinya bisa sejajar dengan Naomi yang saat itu duduk di bangku di depan meja rias. "Arhan kamu tuh apa-apan sih?" Naomi yang memerah wajahnya itu pun meletakkan botol handbody lotion di atas meja riasnya lalu ia berjalan pergi ingin menghindar dari sang suami. Ia heran mengapa seharian ini Arhan bersikap seperti itu kepadanya, terkesan menggodanya dengan terang-terangan seperti itu. Arhan mendorong badan Naomi hingga terjatuh di atas tempat tidur lalu ia membuka kancing kemeja hitamnya itu kemudian ia menindih istrinya. Ia tersenyum puas melihat wajah Naomi yang terlihat panik itu. "Kenapa, Sayang? Kok kamu takut gitu, bukannya ini ya yang kamu mau? Hm?" bisik Arhan di telinga Naomi. Kedua tangan Naomi ia kunci di atas kepala istrinya itu karena Naomi memberontak ingin dilepaskan. "Arhan please lepasin! Kamu jangan bercanda deh, ini nggak lucu!" "Terus kenapa waktu itu lu nggak nolak pas kita disuruh nikah? Lu itu cuman cewek gatel yang kebelet kawin makanya lu mau mau aja kan nikah sama gua?" tuding Arhan kejam. Naomi terbelalak kaget mendengar tudingan Arhan yang terdengar sangat sadis tersebut. "Lu dengerin gua baik-baik, Naomi. Lu jangan pernah ngarep apa-apa dari pernikahan kita ini karena gua nggak sudi nyentuh lu!" Setelah mengatakan hal yang semakin sadis tersebut Arhan pun bangkit dari atas Naomi dan mengancingkan kembali kemejanya. Ia pergi begitu saja ke luar dari kamar mereka meninggalkan Naomi yang terguncang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD