Merasa Sendiri

1111 Words
Naomi masih berbaring miring di atas tempat tidurnya itu. Perkataan Arhan yang sangat sadis dan kejam masih terngiang-ngiang di kepalanya dan itu sungguh menusuk hatinya. Suaminya itu sudah menuduhnya yang tidak benar tentang ia yang bersedia untuk menikah. Ia bisa berbuat apa saat mereka digerebek dan dinikahkan dengan paksa seperti itu selain diam? Ia tak bisa berbuat apapun. Dan meskipun ia berbicara dan menolaknya mentah-mentah hal itu takkan berubah para warga tetap tak percaya dan pernikahan mereka tetap akan terlaksana. "Arhan udah bener-bener keterlaluan," isak Naomi saat ia teringat ucapan suaminya itu yang mengatakan jika ia hanya wanita yang sudah kebelet kawin itu. "Pokoknya aku nggak mau lagi ngomong sama dia!" tekad Naomi sambil menghapus air matanya. Sementara itu Arhan masuk ke dalam kamar sebelah lalu ia melepas kemejanya dan hanya memakai kaos hitamnya itu. Ia kemudian berjalan menuju balkon dan di sana ia merokok. Ia teringat kejadian tadi saat di rumah Clara, kamar Clara terlihat berantakan saat ia masuk. Dan Clara itu langsung mengamuk histeris seperti itu saat melihatnya. Ia jadi berpikir melihatnya sedang mencium Naomi saja sudah membuat Clara murka seperti itu apalagi jika sampai pujaan hatinya itu tahu tentang pernikahannya dengan Naomi. Arhan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, sudah pasti Clara akan sangat kecewa dan sakit hati dan ia tak ingin hal itu terjadi. "Ini semua gara-gara si Naomi itu! Dasar perempuan sok polos kebelet kawin!" ucap Arhan dengan penuh rasa kesal yang mendalam. Arhan mendengus. "Dia pikir gua nafsu apa sama dia? Kagak bakalan! Ngeliat dia aja gua benci banget liat tampang sok polosnya itu." Ponselnya berbunyi, Arhan pun mengangkatnya. [ Woy, bocah lu di mane dah sekarang? Buruan ke mari! ] seru Rifky di seberang sana. [ Gua lagi di rumah, ada apaan emang? ] [ Si Bagas nantangin kita balapan, buruan lu ke mari gua sama Bara udah nungguin lu dari tadi. Kita kasih dia pelajaran biar dia kagak bisa songong lagi. ] [ Ok! ] Klik! Sambungan telepon Arhan matikan kemudian ia membuang puntung rokoknya ke asbak yang ada di atas meja. Kembali ke Naomi, saat ini ia sedang merias wajahnya di depan cermin. Setelah selesai ia pun mengambil tas branded miliknya itu lalu ia keluar dari kamarnya. Saat ia menuruni anak tangga ia melihat Arhan yang juga turun tangga. "Aku mau pergi sebentar boleh kan?" tanya Naomi pada Arhan. Arhan tak peduli bahkan menoleh pun tidak. "Terserah lu lah! Ngapain lu minta ijin ke gua segala? Lu mau ke mana kek itu sih terserah lu bukan urusan gua. Gua kagak bakalan peduli apalagi ngelarang lu!" balasnya cuek lalu ia pun jalan lebih dulu meninggalkan Naomi yang berdiri di anak tangga. Naomi menghela napas mencoba untuk bersabar. Sebagai seorang istri yang baik ia tahu aturan mainnya, biar bagaimanapun ia harus tetap meminta ijin dari Arhan jika ia ingin pergi kemanapun. Naomi tak pamit pada ayah dan ibu mertuanya karena mereka sedang berada di luar negeri sedang ada urusan pekerjaan di sana selama seminggu. Ia pergi menggunakan taksi kali ini, ia ingin sendirian pulang ke rumah orang tuanya malam ini. Di dalam taksi ia merenung lagi. Ia mendengus saat ia teringat kejadian yang baru saja terjadi. Arhan melihatnya saja tak sudi, bahkan saat ia meminta ijin untuk pergi malam-malam seperti inipun suaminya itu tidak merasa khawatir. Jadi memang ia setuju dengan ucapan Arhan yang mengatakan jika ia tidak boleh mengharapkan apapun dari pernikahan mereka itu. "Dia emang nggak peduli sama aku, dari awal," bisik Naomi pada dirinya sendiri dengan sedihnya. "Turun di sini Kak? Sudah sampai nih!" kata pak sopir taksi dengan ramah. Naomi langsung tersadar dari lamunannya itu, ia pun segera turun dari taksi setelah membayar. Ia melangkah cepat menuju rumahnya. Ia berharap ibunya akan mendengarkan keluh kesahnya. Tok tok tok! Naomi mengetuk pintunya dan tak lama ibunya membukakan pintu. Ia kecewa karena yang ia harapkan adalah senyuman ibunya namun yang ia lihat justru sebaliknya. Ibunya itu menatapnya dengan tatapan kaget dan tak ada senyum sama sekali untuknya. "Ngapain kamu ke sini malem-malem gini hah?" tanya Sukma sinis. "Ma, bisa nggak sih sambutannya jangan kayak gitu? Emangnya Mama nggak kangen sama aku?" tuntut Naomi sedih. Sukma mendengus mendengar ucapan Naomi yang menurutnya terdengar sangat sentimentil itu. "Ngapain kangen sama kamu? Eh Naomi, kamu harusnya tuh bersyukur karena Mama yang udah bikin kamu tinggal di rumah mewah itu. Kamu di sana bisa makan enak, tinggalnya nyaman tidurnya nyenyak." "Iya, Ma. Makasih," balas Naomi menunduk sedih. "Padahal aku niatnya ke sini tuh mau curhat sama Mama tapi malah..." "Tapi apa? Kamu mau curhat apa? Aduh jadi orang tuh nggak usah menye-menye deh ya! Mama tuh membesarkan kamu untuk jadi orang yang kuat jadi orang yang tangguh bukan untuk jadi orang yang lemah kayak gitu. Nggak usah curhat ke Mama, kamu nggak usah ngomong apapun lebih baik sekarang kamu pulang ini udah malem Mama ngantuk mau tidur!" Setelah berkata panjang lebar seperti itu Sukma lantas menutup pintunya membuat Naomi kaget. Naomi hanya bisa menghela napas, dari dulu ibunya memang tak berubah. Ia hanya ingin menyampaikan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya kepada ibunya sendiri namun yang ia dapatkan hanya penolakan. Lagi, dua orang sudah menolaknya. Sekarang ia merasa sendirian tak ada tempat untuk mengeluh. Naomi memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar ke taman yang jaraknya dekat dengan rumah ibunya itu. Di sana sepi namun hal itu tak membuatnya takut, ia memutuskan duduk di ayunan. Naomi tertawa sarkas. "Bahkan Mama aku aja nggak peduli sama aku. Aku dateng aja langsung kena usir, hahaha..." rasanya ia sangat ingin berteriak dan tertawa sekeras mungkin di sini karena tak akan ada yang mendengarnya. "Pengen banget bisa ketawa di sini biar hati aku lega," gumam Naomi. "Kalau gitu ketawa aja nggak apa-apa nggak ada yang denger ini kok!" Naomi terkejut lalu ia menoleh dan melihat seorang lelaki yang sangat ia kenal. "Mas Hendra?" sapa Naomi ramah pada tetangganya itu. Hendra tersenyum pada Naomi. "Boleh kan aku duduk di sini nemenin kamu?" ijinnya sopan. Naomi mengangguk. "Iya, Mas." Di sisi lain, terlihat Arhan yang mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi dan saat di tikungan tiba-tiba saja Bagas menendang motornya itu sehingga membuatnya jatuh dari motornya. Badannya terguling di rerumputan dan pastinya lukanya cukup parah sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Kembali ke Naomi, saat ia sedang mengobrol dengan Hendra tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rifky calling! "Arhan nelepon aku? Tumben banget ada apa ya?" tanya Naomi bingung namun ia mengangkat telepon tersebut. [ Hallo, Kak Naomi ini saya Rifky. ] Oalah jadi Rifky yang meneleponnya dari ponsel Arhan toh. [ Iya, Rifky ada apa ya kamu nelepon saya? Arhan di mana? ] [ Arhan kecelakaan, Kak! ] DEG! Naomi terbelalak kaget mendengar hal itu, ponsel yang Naomi genggam langsung terjatuh ke rumput. Arhan kecelakaan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD