Naomi mundur selangkah sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Wajahnya sangat merah karena malu sekali pada Arhan.
"Kamu...kamu ngapain di sini, Arhan?" lirih Naomi tanpa menatap ke arah suaminya itu.
Sedangkan Arhan seperti terhipnotis, ia berjalan mendekati Naomi. Tatapannya terus tertuju ke bibir istrinya itu dan dengan pasti ia memeluk pinggang Naomi dengan mesra.
Naomi terbelalak namun ia diam saja, ia malah membalas pelukan Arhan. Matanya terpejam saat wajah tampan sang suami mendekat ke wajahnya dan selanjutnya yang ia rasakan adalah ciuman Arhan yang lembut dan ia pun membalasnya. Mereka berciuman dengan mesra dan pelukan Arhan semakin erat.
Arhan membaringkan tubuh Naomi ke atas tempat tidur kemudian ia menindihnya tanpa melepaskan ciuman mereka yang mulai brutal. Namun mendadak ia teringat bayangan Clara dan amarahnya kembali menguasai dirinya. Secepat kilat ia mengakhiri ciuman mereka lalu kepalan tangannya memukul kasur tepat di samping wajah Naomi membuat istrinya itu terbelalak kaget.
Dan berikutnya yang Arhan lakukan adalah bangun dari atas tubuh Naomi kemudian ia keluar kamar meninggalkan istrinya yang masih tercengang itu.
Arhan berjalan cepat ke dapur kemudian ia mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. Ia meneguknya dengan begitu cepat.
"Apa yang udah gua lakuin barusan? Gila ya hampir aja gua kebablasan," gumam Arhan.
***
Beberapa hari setelah kejadian di kamar, Arhan masih terbayang bagaimana ia menikmati ciumannya dengan Naomi. Namun detik berikutnya ia berdecak kesal.
"Apaan sih gua kan punya Clara, nggak mungkin lah gua seneng ciuman sama si Naomi," monolog Arhan.
Arhan menoleh saat Naomi lewat di depannya, ia perhatikan istrinya itu hari ini memakai daster mini berwarna biru corak bunga-bunga dengan kerutan di bagian dadanya itu. Membuat istrinya itu terlihat seksi apalagi tubuh Naomi itu langsing.
"Duh ternyata bini gua seksi banget ya," lirih Arhan sambil terus memperhatikan Naomi yang saat ini sedang sibuk menyiram bunga.
Ya, mereka kini sedang ada di taman yang berada di samping rumah. Tamannya sungguh asri dengan berbagai tanaman hias dan juga berbagai bunga cantik. Devi sangat menyukai tanaman dan juga bunga maka dari itulah ia menanamnya.
Sedangkan Naomi yang belum melihat ternyata ada Arhan yang duduk di sana ia pun terus menyiram tanaman sambil sesekali bernyanyi.
Tanpa sadar Arhan tersenyum melihat tingkah Naomi yang menurutnya imut itu, membuatnya gemas.
"Keren kali ya kalau aku bikin vlog atau aku bikin video di sini terus aku upload deh ke sosmed," ucap Naomi.
"Nggak bakalan gua ijinin, gua nggak mau semua orang liatin lu seksi begitu!"
Naomi terkejut mendengar suara Arhan, ia pun menoleh dan wajahnya langsung merah begitu ia melihat suaminya itu duduk dengan santai di kursi yang ada di taman. Ia malu sekali, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah nekat memakai daster minim seperti itu. Awalnya ia mengira jika Arhan berangkat sekolah maka dari itu ia berani memakai daster. Lagipula kedua mertuanya juga tak ada di rumah karena mereka pergi ke London.
Naomi meletakkan gembor yang ia gunakan untuk menyiram tanaman tadi ke lantai. Ia pun kemudian berniat pergi dari sana namun ia terkejut saat Arhan memeluknya dari belakang.
"Mau ke mana? Hm?" bisik Arhan di telinga Naomi.
Naomi yang gugup hanya terdiam dan matanya terpejam saat Arhan mencium pipinya dengan mesra. Namun tiba-tiba saja ia kembali teringat kejadian saat itu, saat Arhan marah setelah menciumnya.
"Arhan lepasin!" pinta Naomi sambil memberontak ingin dilepaskan.
"Kenapa, Sayang? Kamu nggak suka? Hm? Bukannya kamu sengaja pakai daster seksi begini biar aku liat kan?" bisik Arhan lagi.
"Nggak kok..." Naomi tak bisa melanjutkan ucapannya karena Arhan membalikkan tubuhnya kemudian menciumnya dengan paksa. Ia juga tak bisa lagi memberontak karena tubuhnya dipeluk dengan erat.
"Dengerin aku baik-baik, Naomi. Jangan pernah pakai baju minim begini kecuali lagi sama aku doang!" titah Arhan tegas.
"Huum," Naomi mengangguk patuh. Ia pun tak mengerti mengapa ia tak bisa tidak jadi penurut di hadapan suaminya itu.
"Bagus!" Arhan tersenyum senang. "Aku mau makan, kamu bisa kan masakin makanan buat aku?"
"I...iya."
"Oke."
Mereka berjalan keluar dari taman dengan lengan Arhan yang merangkul pinggang Naomi. Dan setelah mereka tiba di dapur pelukan mereka terlepas.
Arhan duduk di meja makan sambil bermain game online di ponselnya sedangkan Naomi mulai sibuk menyiapkan bahan makanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Naomi yang gugup itu.
"Apa aja boleh kalau kamu yang masak pasti enak!" sahut Arhan sambil tersenyum.
Naomi mengangguk. Ia pun mengambil kubis dari dalam kulkas juga bumbu lainnya. Ia ingin masak sop ayam untuk Arhan.
Setelah selesai masak, Naomi menyajikan semangkuk sop ke meja tepat di mana Arhan duduk. Ia juga menyiapkan nasi, lauknya yaitu tempe goreng dan juga ada sambal agar lebih enak.
"Wah udah pasti enak banget nih!" ucap Arhan sambil menghirup aroma sop yang terhidang di hadapannya itu.
"Silakan dimakan," kata Naomi.
"Kok kamu duduknya jauhan gitu? Sini kamu duduknya deket suami kamu ini."
"Iya." Naomi menuruti perintah Arhan, ia duduk tepat di samping suaminya itu.
"Nah gitu dong! Kan kata Mamaku kayak gitu."
Naomi kemudian berinisiatif untuk mengambilkan nasi juga sayurnya untuk Arhan dan suaminya itu mengucapkan terima kasih yang membuatnya bahagia.
"Yuk kita makan bareng-bareng!" ajak Arhan.
"Iya." Naomi mengambil piring lalu mengambil nasi, sayur dan juga lauknya.
Mereka berdua pun mulai makan setelah Arhan selesai membaca doa.
Naomi tersenyum sendiri melihat Arhan yang makan dengan lahap seperti itu berarti suaminya itu menyukai masakannya.
Setelah selesai makan Arhan mengajak Naomi ke kamar mereka berdua. Sebelum sampai kamar Arhan sudah mencium Naomi lagi dengan brutal. Saking brutalnya sampai Naomi merasa kewalahan.
Arhan menutup pintu kamarnya dengan kaki kemudian ia mengangkat tubuh Naomi dengan gaya pengantin dan kemudian membaringkannya di tempat tidur.
"Ini kan yang lu harapkan dari pernikahan kita ini?" bisik Arhan yang membuat Naomi terkejut.
"Apa maksud kamu?" tanya Naomi.
Arhan mendengus. "Jangan sok polos, udah gua bilang kalau lu itu cuman cewek gatel yang kebelet kawin! Lu pasti berharap banget abis ini kita lanjut kan? Jangan mimpi!" serunya sambil memukul kasur membuat Naomi lagi dan lagi terbelalak kaget.
Arhan kemudian bangkit dari atas tubuh Naomi dan ngeloyor pergi lagi sama seperti saat itu.
Naomi terdiam karena ia merasa syok dan tanpa ia minta air matanya mengalir keluar membasahi pipinya.
Ternyata Arhan hanya mempermainkan dirinya saja. Dan ia menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia bisa kecolongan lagi, mengapa ia terus membiarkan Arhan berbuat seperti itu kepadanya. Arhan membuatnya merasa bahagia karena diperlakukan dengan baik lalu detik berikutnya Arhan jugalah yang membuatnya menangis. Itu bagaikan ia diterbangkan lalu dijatuhkan dengan begitu keras ke tanah dan itu rasanya sakit sekali.