Membalas Bagas

1019 Words
"Hah baksonya pahit? Masa sih?" ucap salah seorang siswi setelah mendengar Clara menghina Naomi. Ia pun memakan bakso itu dan berikutnya adalah ekspresi yang amat sangat bahagia di wajahnya itu. "Mana ada pahit! Ini enak banget kok kayak biasanya nggak pahit!" lanjut siswi itu. "Iya kok tadi gue juga udah makan dan rasanya enak enak aja tuh!" "Gila ya si Clara fitnah banget," sahut siswi lain jadi rumpi. "Maksud kamu apa sih, Clara?" tanya Naomi datar. "Arhan, waduh cewek lu tuh malah ngelabrak Kak Naomi!" kata Rifky kaget. Arhan hanya melirik sekilas dan tak peduli lagi. "Biarin aja lah." "Parah lu!" sahut Bara. "Maksud gue tuh mendingan nggak usah jualan lagi di kantin sekolah ini! Ga enak makanannya tau nggak?" sahut Clara dengan nada yang tinggi. Namun hal itu tak membuat Naomi tak gentar sedikitpun, ia pun maju menghadapi Clara. "Emang kamu siapa kok seenaknya bisa ngomong kayak gitu? Kamu yang punya sekolah ini?" tantang Naomi. Clara mendengus. "Oh jadi lu berani nih sama gue?" "Kenapa aku harus takut sama kamu? Apa yang musti ditakutin? Kamu aja nggak punya sopan santun gitu kok seenaknya buang makanan. Kamu nggak tau banyak orang capek berdiri di sini ngantri buat makan tapi kamu malah seenaknya kayak gitu itu namanya nggak menghargai makanan." "Itu karena pahit nggak enak bikin perut gue sakit tau nggak?" balas Clara lagi. "Alesan aja kamu itu," balas Naomi. Lantas ia melihat ke pelanggannya yang duduk di sana sedang makan bakso. "Apa di antara kalian juga ada yang ngeluh kalau baksonya pahit?" tanya Naomi pada mereka dan merekapun langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak kok tetep enak enak aja tuh kayak biasa kok nggak pahit, Kak." "Iya deh aku juga rasain itu, baksonya enak kok." "Heem mana ada pait. Mulut lu aja tuh Clara yang bermasalah!" Naomi kembali menatap Clara yang terdiam itu. "Tuh kamu dengar sendiri kan cuma kamu doang yang bilang pait," katanya puas. "Lain kali kalau nggak suka makan di sini ya nggak usah ke warung kami," lanjutnya tegas. Clara pun angkat kaki dari warung Naomi dengan langkah cepatnya. Clara masuk ke gudang sekolah kemudian ia melempar barang apapun yang ada di dalam sana sambil berteriak histeris. "Awas lu ya Naomi! Kali ini lu menang tapi liat aja gue bakalan bikin lu menderita!" seru Clara kemudian ia membanting kursi yang sudah rusak hingga suaranya terdengar keras. Sangat keras sehingga Arhan yang tak sengaja lewat di sana pun bisa mendengarnya. Ia menghela napas, ia paham betul jika Clara sedang kesal sudah pasti larinya akan ke gudang sekolah untuk melampiaskan rasa marahnya itu. Ia pun masuk ke dalam gudang kemudian ia memeluk Clara dari belakang. "Arhan lepasin aku!" seru Clara sambil memberontak dari pelukan Arhan namun ia gagal karena tentu saja Arhan itu laki-laki jadi ia kalah tenaga. "Arhan lepasin," akhirnya Clara tak bisa menahan tangisnya. Ia pun menangis meraung-raung. "Arhan, kamu liat sendiri kan tadi aku tuh dibikin malu sama si gatel Naomi itu, aku nggak salah tapi dia yang salah. Aku nggak mau kalau dia yang menang dan aku yang malu, malu banget aku tadi," rengek Clara. "Kamu tenang aja biar aku yang bales," janji Arhan dengan tatapan tajamnya itu. Clara tersenyum licik di pelukan Arhan. "Beneran? Kamu janji kan sayang?" "Iya aku janji sama kamu." Arhan pun kemudian mencium kening Clara dengan lembut dan itu membuat Clara merasa amat bahagia. *** Dua hari kemudian Arhan pergi ke tempat tongkrongan Bagas, di sana hanya ada Bagas sendiri. Ia turun dari motornya kemudian ia menghampiri Bagas. Ia kemudian menendang Bagas dengan kencang hingga tersungkur di lantai. Bagas mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya yang sakit itu. "Apa apaan nih lu tiba-tiba main nyelonong aja terus hajar gue kayak gini! Mau lu apa hah?" seru Bagas. "Harusnya gua yang nanya maksud lu apa udah bikin gua celaka kemarin?" balas Arhan. Bagas tertawa kemudian ia bangkit berdiri dengan susah payah. "Harusnya lu introspeksi diri lu, Arhan! Gua bisa begitu karena ulah lu sendiri!" serunya kesal. "Emang gue pernah ngapain?" tanya Arhan. Bagas mendengus. "Clara! Lu itu itu ngambil dia dari gua! Dia itu tadinya cewek gua tapi malah seenaknya lu rebut! Apa yang kayak gitu gua harus diem aja? Mana ada! Jadi ya lu rasain sendiri lah akibatnya dan itu belum seberapa!" Arhan yang mendengarnya tentu saja marah, segera ia kembali menendang Bagas hingga jatuh tersungkur lagi. Ia kemudian menghajarnya habis-habisan hingga babak belur. "Gua peringatin jangan sekali kali lu nyentuh Clara! Clara itu udah jadi milik gua seutuhnya paham lu!" geram Arhan sambil mencengkram baju Bagas. Ia layangkan satu pukulan lagi di pipi Bagas dan barulah ia pergi dari tempat itu. Di perjalanan Arhan masih terngiang-ngiang ucapan Bagas. Apa maksudnya itu? Sejak kapan Bagas suka dengan Clara. Ia tak peduli akan hal itu, yang penting ia takkan pernah menyerahkan Clara kepada siapapun itu karena Clara adalah miliknya hanya miliknya sama seperti Naomi. Arhan mengerem motornya secara mendadak saat pikirannya tiba-tiba melayang ke Naomi. "Apaan sih? Ngapa tiba-tiba gua jadi keinget si Naomi? Udah kongslet nih gua keknya." Arhan pun lantas meneruskan perjalanannya, ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin kembali ke rumah untuk bertemu Naomi. Ia kembali menggelengkan kepalanya atas pikiran anehnya itu. Sampai di rumah, Arhan pun segera masuk ke dalam rumahnya. Saat ia melewati kamar Naomi yaitu yang merupakan kamarnya juga ia kaget melihat Naomi yang hanya memakai handuk mandi seperti itu. Ya, pintunya terbuka sedikit jadi ia bisa melihatnya. Tiba-tiba tanpa ia suruh ia pun masuk ke dalam kamar dengan pelan. Matanya sampai tak berkedip melihat istrinya itu yang saat ini sedang berjoget joget asyik sendiri setelah mandi. Ia tersenyum melihat aksi Naomi yang tak biasa itu, ya jelas saja baru kali ini ia melihatnya. Naomi sendiri tak melihat dan tak menyadari kehadiran Arhan yang berada di belakangnya itu. Ia malah asyik sendiri terus berjoget mengikuti video yang sedang ia tonton itu. Ya video dari media sosial yang sedang viral yang sedang hits itu ia ikuti sampai ia hapal gerakannya. "Siapa sangka Naomi yang polos ternyata jago goyang juga ya," komentar Arhan yang keceplosan. Ia pun lantas membungkam mulutnya sendiri karena sudah keceplosan seperti itu. Naomi terbelalak kaget mendengar suara Arhan, dan ia pun berbalik. "Arhan? Kamu..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD