Pulang Ke Rumah

1035 Words
"Apa mungkin mereka berdua itu udah pacaran ya di belakang gue?" gumam Clara yang mengira jika Arhan telah berselingkuh dengan Naomi di belakangnya. Amarah Clara meluap-luap dan kembali ia memukul-mukul kemudi saking tak bisa menahan amarahnya itu. Mendadak ia kembali teringat saat Arhan mencium Naomi di belakang sekolah. "Nggak! Itu nggak mungkin terjadi! Nggak mungkin dan nggak akan pernah! Arhan itu cuman punya gue dan dia nggak bakalan setega itu ke gue, dia nggak mungkin selingkuh sama si ganjen Naomi itu!" seru Clara. Arhan itu hanya miliknya dan tak ada seorang pun yang berhak mengambil Arhan darinya, tak seorang pun terutama Naomi. Clara mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya kemudian ia mencoba untuk menghubungi Arhan, ternyata tak diangkat. Tak menyerah ia pun masih mencoba lagi. Dan lagi lagi usahanya itu harus sia-sia saja karena teleponnya tak diangkat oleh Arhan. Clara berteriak kesal sambil membanting ponselnya itu ke bangku sebelah tempat duduknya itu. Ia berteriak frustasi lagi lalu ia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Awas ya lu Naomi, lu liat aja sebentar lagi adalah awal dari kehancuran hidup lu!" ancam Clara. "Sebentar lagi gue sendiri yang bakalan hancurin hidup lu! Gue akan pastikan itu! Gue bakalan pastiin lu nangis darah karena udah berani macem-macem sama gue." Esok harinya sekitar pukul setengah sepuluh pagi Arhan sudah pulang dari rumah sakit bersama Naomi. Arhan terus saja menolak saat istrinya itu akan memegangi tangannya agar tak terjatuh. "Gua bisa sendiri! Udah gua bilang gua bisa jalan sendiri!" bentak Arhan saat Naomi mencoba untuk memegang tangannya saat ia akan terjatuh setelah turun dari mobil. "Iya iya oke oke sorry," balas Naomi. Ia menghela napas pasrah. Ia heran mengapa Arhan sangat keras kepala seperti itu padahal ia hanya ingin membantunya. Arhan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah mewahnya itu. Naomi mengikuti di belakangnya dengan sangat sabar. Ia merasa kesulitan saat akan menaiki tangga menuju kamarnya dan saat Naomi ingin membantunya lagi ia pun kembali menolaknya dengan cara membentak Naomi dengan kata-katanya yang kasar menusuk hati Naomi. Naomi hanya diam saja dan tak berani membantah suaminya itu. Ia tak ingin ada pertengkaran di rumah itu karena ia tak enak pada kedua mertuanya itu. Mereka berdua kan saat ini pasti sedang istirahat jadi ia tak ingin menganggu. Arhan akhirnya telah sampai di dalam kamar sebelah meski dengan susah payah. Ia pun berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya. Naomi terlihat kecewa melihat Arhan yang malah istirahat di kamar sebelah dari pada di kamar mereka berdua namun ia tak ingin mempersalahkan hal itu. Ia tak masalah yang penting Arhan bisa merasakan nyaman. "Ngapain lu ikut masuk ke sini? Pergi sana ke kamar lu sendiri jangan ganggu gua, gua mau istirahat!" usir Arhan saat ia melihat Naomi yang ikut masuk ke kamar itu. "Aku mau di sini biar kalau ada apa-apa aku bisa cepet bantu kamu, Arhan," balas Naomi dengan pelan. "Udahlah jangan sok baik lu! Buruan pergi sono! Lu harus tau kalau gua tuh nggak butuh bantuan lu, paham?" Sudah cukup! Akhirnya Naomi pun mengangguk sambil menahan air matanya agar tak mengalir keluar. Ia pun segera angkat kaki dari sana dan pergi menuju kamar mereka berdua. Di dalam kamar barulah Naomi bisa menangis sejadi-jadinya, ia jatuh terduduk sambil menangis. Mengapa hidupnya jadi seperti ini sekarang? Mengapa setelah menikah ia malah merasa tak bahagia? Bukankah kata orang-orang pernikahan adalah suatu hal yang sangat membahagiakan? Tapi mengapa malah sebaliknya? Ia malah mempunyai suami yang usianya jauh di bawahnya dan juga sangat kasar padanya. Ternyata yang ia lihat selama ini di konten tentang indahnya rumah tangga tak seperti yang ia bayangkan. "Iyalah itu kan cuman konten, yang nyata mah nggak semuanya bahagia contohnya aku," gumam Naomi sambil menghapus air matanya. Mama. Ya, yang saat ini Naomi butuhkan adalah sosok ibunya namun apa kenyataannya? Ibunya tidak berada di sampingnya kini, dan bahkan ia pernah diminta oleh ibunya itu untuk berbahagia karena sudah menikah dengan anak orang kaya raya jadi tak ada waktu untuk menangisi hal itu. Bagaimana ia bisa bahagia jika suaminya saja tak pernah sedikitpun menghargai dirinya? "Aku sekarang lagi sedih gini aja Mama nggak tau," gumam Naomi. Ia kemudian tertawa sedih. "Kenapa hidupku jadi gini sih?" Dua hari kemudian Naomi sudah kembali bekerja di kantin karena Arhan juga sudah sekolah lagi. Ya, kondisi Arhan memang tak parah hanya luka ringan saja jadi sudah tentu bisa sekolah lagi seperti biasanya. "Sorry ye brow, kemarin pas lu lagi dirawat di rumah sakit gua kagak bisa dateng soalnya gua lagi jagain Mama gua yang lagi dirawat di rumah sakit juga," kata Bara penuh penyesalan. Ia adalah sahabat baik Arhan namun ia terpaksa tak menjenguk sahabatnya itu karena ibunya sendiri sedang sakit. "Santai aja yang penting gua udah sembuh," balas Arhan sambil bermain game online di ponselnya itu. "Iya sih lu parah banget masa Arhan sakit tapi lu ga jenguk ke rumah sakit, katanya sohib," cibir Clara tepat sasaran. "Ya sorry, Ra." Bara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Clara memutar bola matanya kemudian ia menyeruput jus mangganya dengan santai. Saat ini mereka bertiga sedang berada di kantin dan duduknya di bangku tukang mie ayam yang dekat dengan warung Naomi. Sesekali Naomi mencuri pandang ke arah Arhan sambil ia melayani para pembeli. Ia hanya ingin memastikan jika keadaan Arhan baik-baik saja. "Aku pesen bakso tiga ya Kak tapi dibungkus!" "Oke bentar ya," balas Naomi dengan senyuman ramahnya itu. "Oke Kak." "Makin rame aja ya warungnya Naomi," kata tukang cilok. "Iya tuh orangnya baik dan ramah sih," balas tukang mie ayam salut dengan Naomi. "Aduh! Apaan nih kok baksonya nggak enak gini sih pait banget!" seru Clara sambil membuang baksonya ke lantai. Sontak saja mereka yang berada di kantin terkejut mendengar suara teriakan Clara tersebut. Dan juga mereka terkejut melihat aksinya. Naomi terbelalak kaget melihat apa yang telah dilakukan oleh Clara itu. Ia pun menutup mulutnya saking kagetnya ia. Arhan terlihat tak peduli, ia hanya menoleh sebentar ke arah Clara lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Clara berjalan ke warungnya Naomi kemudian ia meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja dengan kasar hingga membuat Naomi kaget. "Lu bisa masak nggak sih? Masa bikin bakso aja nggak becus pait gini!" protes Clara dengan nada yang sangat menghina. "Lu dengerin gue baik-baik ya, gue bakalan viralin biar jualan lu sepi!" ancam Clara membuat Naomi terbelalak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD