Kecurigaan Clara

1032 Words
"Arhan maksud kamu itu apa sih? Mama tuh bener-bener nggak ngerti lagi deh sama kamu. Ngapain kamu bilang seperti itu ke istri kamu sendiri? Jangan ngomong yang macem-macem deh ya! Mama nggak suka ya kamu ngomong sembarangan seperti itu!" tegur Devi karena ia tak terima jika menantunya tersayang itu dituduh seperti itu meski itu oleh anaknya sendiri. Karena ia tahu Naomi adalah perempuan baik-baik maka dari itu ia sengaja menikahkan mereka berdua. Ia sangat bahagia mempunyai menantu seperti Naomi. Bagaimana dengan keadaan Naomi yang mendengar hal itu? Ya, apa lagi, jelas ia merasa sedih jadi ia hanya terdiam di tempatnya berdiri. Rama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sang anak yang seperti anak kecil itu. "Papa heran sama kamu, Arhan. Mendengar kamu bilang seperti itu Papa jadi merasa asing ke kamu. Anak Papa tuh nggak pernah ngomong yang ngawur kayak kamu itu," tegur Rama kali ini. Ia tak habis pikir dengan anaknya itu. "Iyalah, kasian Naomi nggak tau apa-apa kok dituduh seperti itu," ucap Devi menambahi. "Ya kan emang bener, aku jadi kecelakaan kayak gini tuh gara-gara dia, Ma!" ucap Arhan kesal. Naomi tertunduk sedih dan juga ia hanya bisa diam. Hatinya memang terasa sakit mendengar tuduhan Arhan yang kasar tersebut namun ia bisa apa selain diam? Masih diam pun ia salah apalagi jika ia sampai bicara dan membalas tuduhan suaminya itu? "Kok bisa gara-gara Naomi? Udah deh kamu jangan ngawur! Ayo Pa mendingan kita pulang aja yuk Mama males nih lama-lama di sini dengerin ocehan dia yang nggak masuk akal itu!" ajak Devi kepada suaminya dan Pak Rama pun mengangguk setuju. "Mama kok malah balik sih? Anaknya lagi sakit gini malah kabur!" protes Arhan. "Cuma luka kecil kegores gitu kok, nggak usah lebay deh," balas Devi. "Luka kecil gimana sih Ma? Mama nggak liat apa kalau tangan sama kakiku sampai diperban gini?" "Udah deh kamu nggak usah manja gitu jangan ngerengek kayak anak kecil," balas Devi sambil memakai tasnya lagi. "Ayo, Pa kita pulang aja yuk! Oh iya Naomi, kamu aja ya yang di sini jagain suami kamu yang kekanakan itu. Mama mau balik dulu capek banget abis turun dari pesawat langsung ke sini. Mama sama Papa mau istirahat di rumah." "Iya, Ma, Pa. Hati-hati di jalan," kata Naomi. Devi mengangguk sambil tersenyum, Rama pun tersenyum pada Naomi. Lalu mereka segera keluar dari ruangan rawat Arhan. "Ngapain lu masih diem di sini? Mendingan lu sono ikutan mereka pulang! Males banget gua liat lu di sini, males gua liat muka sok polos lu itu!" bentak Arhan tanpa menatap Naomi. "Maaf tapi aku harus di sini..." "Kenapa? Karena Mama yang nyuruh lu tetep di sini? Lu takut sama Mama gua? Iya?" "Bukan gitu tapi..." "Lu liat sendiri kan gara-gara lu dateng ke sini Clara jadinya diusir. Udah berapa kali lu liat dia diusir sama Mama gua? Makanya gua kagak salah kalau bilang gua tuh kayak gini gara-gara elu!" semprot Arhan. Sudah cukup! Naomi sudah tak bisa lagi membendung air matanya itu. Air matanya mengalir begitu saja di pipinya tanpa ia suruh. Perkataan Arhan sungguh sangat menyakitkan hatinya. Tapi walau bagaimanapun ia tetap tak bisa pergi begitu saja dari sisi Arhan. Itu karena Devi yang memintanya tetap di sana dan itu memang benar adanya. Arhan menoleh untuk melihat Naomi, ia melihat air matanya yang mengalir di pipi wanita itu, istrinya sendiri. Tanpa ia duga ia bisa merasakan sedih dan perasaan tak tega pada Naomi. Namun jika ia teringat Clara, teringat bagaimana Clara yang penuh emosi hingga merusak perabotan di kamarnya sendiri hanya karena kejadian ciumannya dengan Naomi mendadak rasa bencinya pada Naomi yang mendominasi perasannya itu. "Kenapa lu masih di sini? Belum pergi juga lu? Kagak tau diri banget lu padahal udah gua usir!" Naomi menghapus air matanya dengan pelan. "Maaf tapi aku lebih baik di sini karena Mama yang nyuruh." Arhan mendengus. "Ternyata lu lebih nurut sama omongan Mama gua dari pada nurut sama gua suami lu sendiri. Istri macem apa tuh kayak gitu?" cibirnya sadis. Naomi tak memperdulikan perkataan Arhan yang kasar tersebut. Ia duduk di kursi tempat Clara tadi duduk di sana. Ia mengambil buah apel kemudian ia kupas dengan pisau. Dan tanpa ia tahu ternyata Arhan diam-diam memperhatikan apa yang ia lakukan itu. "Kamu pasti dari tadi belum makan kan? Mama bilang kamu itu suka banget sama apel, aku bantu kupasin ya buat kamu makan?" kata Naomi. "Iya emang bener kalau gua suka banget sama apel, tapi kalau itu lu yang kupasin gua kagak mau makan! Lagian gua udah kenyang kok tadi kan Clara yang nyuapin gua makan bubur." Naomi menghela napas, ia pun kemudian tersenyum legowo. "Gitu ya? Ya udah deh kalau gitu biar aku aja yang makan apel ini." Arhan tak mengatakan apapun lagi setelah itu, ia menatap ke arah lain asal tidak ke arah Naomi. Dalam hatinya ia bingung mengapa Naomi tetap bersih keras berada di sisinya padahal sudah ia usir dengan kasar seperti itu. Naomi memakan apel yang telah ia kupas tersebut dengan sedih, air matanya kembali menetes. Sementara itu, Clara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan di jalanan yang sepi lalu lintas. Wajahnya terlihat sangat kesal sekali. "Gue benci banget sama si ganjen Naomi itu! Lagi dan lagi gara-gara ada dia gue jadinya diusir sama Tante Devi! Oke gue masih bisa terima kalau Tante Devi emang nggak suka sama gue gara-gara gue deket sama Arhan. Tapi gue lebih nggak terima lagi kalau Tante Devi tuh lebih belain si Naomi daripada gue. Gila ya ternyata si Naomi itu selain dia gatel dia juga penjilat banget orangnya. Awas lu ya Naomi, gue janji gue bakalan bikin lu menderita! Gue bakalan bikin lu nyesel karena udah hidup di dunia ini!" seru Clara penuh rasa emosi sambil memukul-mukul kemudi. Namun tiba-tiba Clara merasa bingung tentang sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Lantas ia menggerem mobilnya secara mendadak. "Tapi kok aneh ya? Kenapa si gatel itu bisa terus muncul di antara keluarga Arhan?" gumam Clara sambil berpikir keras. Lantas ia kembali teringat jika Naomi juga pernah berada di rumah Arhan pada malam hari sekalipun. Sebenarnya Arhan dan Naomi mereka berdua ada hubungan apa? Mengapa Arhan tak pernah mengatakan apapun kepadanya? "Si Naomi itu juga kayaknya tinggal di rumahnya Arhan deh." "Apa jangan-jangan mereka berdua itu udah..." Clara terbelalak kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD