Lukas dan Jani

1030 Words
Pagi ini seperti biasanya di rumah Jimmy semua berkumpul untuk sarapan. Lian akan selesai dengan kuliahnya bulan depan dan Jani kini telah benar-benar memegang Filter Wedding Organizer milik sang ayah. Sesekali Zhi masih membantu untuk memberikan ide atau juga menemani Jani dalam beberapa rapat. Zhi telah benar-benar menikmati hidupnya sebagai influencer dan juga selebgram. Pendapatannya juga cukup besar dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. "Lian setelah kamu selesai kuliah kamu yang harus pegang perusahaan." Disha membuka pembicaraan pagi ini. "Aku Mi?" tanya lian seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar . "Ya kamu, siapa lagi. Eyang yang minta, kamu tau kan kalau Om Hobi sama sekali nggak mau pegang. Lebih parahnya dia sok-soknya mau ikut orang-orang free child," cicit Disha kesal dengan keputusan sang kakak. Free Child adalah pilihan dari pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak ataupun mengadopsi anak setelah mereka menikah karena beberapa alasan. Hobi juga sang istri memilih untuk tak memiliki anak karena mereka merasa tak sanggup dibebani tanggung jawab itu dan beberapa hal lain. Sudah banyak sekali masyarakat yang memutuskan untuk tak mempunya anak. Ya sebenarnya itu sah-sah saja karena setiap individu berhak untuk memutuskan meski itu bertentangan dengan pendapat orang lain. "Ya mami kan masih bisa urus," tolak Lian. "Aku masih merasa belum siap Mi." "Kan ada Kak Jani, ada mami dan ayah yang akan bantu." Jimmy buka suara. Mencoba meyakinkan agar si bungsu mau untuk menuruti permintaan sang mami. "Iya, dicoba dulu lagi," ujar jani sambil menikmati santapan paginya. Dulu juga ia ragu mengurus perusahaan milik sang ayah. Kini ia menikmati pekerjaannya Lian tak banyak bicara ia tak bisa menolak tentu saja, apalagi ketiga orang di hadapannya kini memintanya untuk mencoba. Gadis itu hanya menganggukan kepalanya berusaha setuju dengan apa yang diminta sang ibu. "Kamu dijemput Lukas, Ni?' tanya Jimmy sambil mengunyah nasi goreng miliknya. "Iya yah, dijemput Kak Lukas." jani menjawab. Setelah keduanya bertunangan Lukas yang kini menemani Jani kemanapun ia pergi. Lukas dengan setia mengantar jemput calon istrinya itu jika akan berangkat bekerja dan juga ketika pulang kerja. Hanya sesekali Jani mengendarai mobil sendiri jika Lukas benar-benar sibuk dan tak biasa mengantar jemput. "Hari ini Juna belum telepon. Mami kangen sama Ajeng," ujar Disha yang mendadak begitu rindu dengan cucu semata wayangnya. "Masih tidur kali Mi. Kan biasanya telepon jam sepuluh ini masih jam tujuh," timpal Lian. "Iya ya, kangen banget mami sama Ajeng. Setiap liburan biasanya ada yang ngerasain dan mami buatin makanan istimewa. Sekarang sepi banget." Disha mengatakan itu ia benar-benar rindu pada Ajeng yang setiap liburan akan selalu datang ke rumah. "Iya, mami sekarang jadi enggak pernah masa lagi. Padahal kan ada Lian sama Kak Jani," cicit Lian merasa kesal karena sang mami memilih berleha-leha setiap liburan. "Ya, kamu kan bisa jajan," Ujar Disha. Jimmy dan Jani hanya bisa menggelengkan kepala melihat Disha dan Lian yang adu mulut. Keduanya memang sering adu mulut dan terlibat pertengkaran kecil karena sama-sama mudah tersulut emosinya. Jadi, perdebatan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa nagi keluarga itu. "Permisi," sapa sebuah suara. Semua menoleh mendapati Lukas yang berjalan mendekat. Ia lalu mencium tangan Disha dan Jimmy lalu duduk di samping Jani. "Udah sarapan kamu Kas?" tanya Jimmy. "udah Yah," jawan Lukas. "Gimana kerjaan?" kini giliran Disha yang bertanya pada calon menantunya itu. "Alhamdulilah lancar Mi. ya gitu, kadang aja overtime karena memang sekarang enggak ada Luna dan Luna kan hanya bisa bantu sedikit. Belum Bisa dapat yang sebagus LUna untuk gambar animasinya." Lukas menjawab pertanyaan Disha. "Lho padahal kan animator banyak sekali coba dong kasih saran Leon buat open rekruitment." Jimmy kini menimpali diikuti anggukan oleh Disha. "Udah bilang Pak Leon juga oke cuma memang belum nemu yang karuna banget." Lukas semakin dekat dengan kedua orang tua sang calon istri ia bahkan memanggil Disha dengan sebutan mami dan memanggil Jimmy dengan panggilan ayah. Setelah perbincangan singkat seraya menunggu Jani untuk sarapan. Lukas dan Jani segera beranjak untuk segera berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ke kantor keduanya berpamitan pada orang tua jani. Dan segera berjalan menuju mobil Lukas. Dengan perhatian Lukas membantu Jani untuk masuk ke dalam mobil. Ia bahkan membukakan pintu untuk kekasihnya itu. Setelahnya Lukas berjalan menuju kursi kemudian dan segera masuk ke dalam mobil. Ia mengenakan sabuk pengaman, melirik ke arah sang calon istri yang sudah mengenakan sabuk pengaman. "Siap jalan Ibu?" tanya Lukas menggoda membuat Jani tersenyum. "Siap Bapak,"jawab jani. Pria itu segera melajukan mobilnya untuk segera mengantarkan wanita yang begitu ia sayangi. Jani mengambil sesuatu dalam tasnya lalu letakan di atas dashboard. "Apa itu Jan?" tanya Lukas. "Skin care," jawab Jani sambil merapikan riasan wajahnya. "Untuk aku?" tanya Lukas lagi tentu saja ia bingung mengapa tiba-tiba jani memberikan skincare. "Hehehe, bukan kak. Kemarin ibu tanya aku pakai skincare apa, atau aku ke dokter kecantikan gitu. AKu bilang aku skincare-an aja. Ibu nau coba katanya." Jani menjelaskan. Dan itu membuat Lukas merasa kesal. Ia lalu menghela nafasnya. Sejujurnya ia tau jika secara finansial memang Jani berada jauh diatasnya dan saat ini ia juga tengah berjuang untuk membuat dirinya lebih baik lagi. Lalu yang dilakukan ibu tirinya benar-benar menjatuhkan harga dirinya. "Jangan kasih ibu terus. Aku yang enggak enak sama kamu kalau gini." Lukas mengatakan itu dengan coba meredam rasa kesalnya ia tau ini bukan salah Jani. Jani tersenyum seraya mengusap wajah kekasihnya agar tak marah . "Cuma ini kak, jangan marah oke? Lagian harganya enggak seberapa." "Aku cuma takut jadi kebiasaan. Kalau minta lagi kakak mohon banget ya, jangan kamu kasih." Lukas Meminta ia tak ingin sang ibu tiri semakin tak sopan dengan meminta ini itu kepada calon istrinya. Padahal Lukas sudah dengan jelas melarang. "iya kak," sahut jani berjanji. "Bener lho, kamu kemarin janji juga tapi ini kamu kasih lagi." Lukas coba kembali bertanya agar Jani benar-benar melakukan permintaannya. Jani menganggukan kepala dan mengatakan. "Iya aku janji kak." Sebenarnya, Jani hanya ingin memberikan itu sebagai bentuk perhatian. gadis itu juga merasa tak ada yang salah dengan memberikan sesuatu. Apalagi pada calon ibu mertua. hanya saja Lukas tentu lebih mengetahui bagaimana ibu tirinya itu. Lukas tak ingin ini jadi kebiasaan yang akan terus berulang. Maka ia meminta pada Jani untuk tak memberikan apapun lagi. Yang paling Lukas takutkan adalah penilaian dan perasaan Jani akan berubah karena kelakuan sang ibu tiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD