Kikil tunjang

1129 Words
"Ini yang mana?" Tanya Sisil ibunda dari Kiki kepada Bita yang berdiri di sampingnya. Bita mengucapkan kata dokter tanpa bersuara. Sementara melihat kelakuan Bita dan sang ibu mertua membuat Zhi kesal. Gadis itu jelas tahu bahwa Bita memberitahu kepada Ibu mertuanya perihal Leon dan Patra. Ia membayangkan bagaimana serunya kedua wanita itu saat berghibah tentang dirinya. "Oh ini yang dokter," ucap Sisil mertua Bita alias Ibu dari Kiki seraya menepuk bahu Leon. "Iya Tante nama saya Leon saya juga CEO lho." Leon memperkenalkan diri dengan sopan kemudian mencium tangan Sisil. Tentu saja mendapatkan perlakuan sopan seperti itu dari seorang pemuda tampan membuat Sisil merasa senang. Tentu saja meskipun sudah berusia 50-an menatap pemuda tampan itu bisa menjadi kekuatan dan menurut Sisil bisa membuatnya tetap awet muda apalagi dengan statusnya saat ini yang sudah menjanda sejak suaminya meninggal 20 tahun yang lalu. "Aduh, aduh tante tuh paling senang deh sama anak cowok yang sopan seperti kamu." Kemudian menoleh pada Bita. "Bita lihat tuh Leon kok kamu bisa-bisanya malah jatuh cinta sama Kiki." Mendengar apa yang dikatakan sang Ibu membuat Kiki kesal. Sementara ketiga temannya yang lain kini tertawa terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh. "Sebenarnya itu anak Bunda itu aku apa Leon sih? Bisa-bisanya ngomong kayak gitu kamu menantu sendiri," protes Kiki kepada sang Bunda. "Ya kan Bunda cuma nanya aja sama Bita Kenapa dia malah naksir sama kamu. Ya kamulah anak bunda tapi kan tetap aja Bunda itu realistis." Lagi apa yang dikatakan oleh Sisil membuat semua yang ada di sana tertawa terkekeh termasuk berita yang kini ditatap kesal oleh sang suami. "Ya udah aku pulang dulu ya Tante." Zhi berpamitan untuk segera pulang. "Main lama juga nggak apa-apa disini lain kali ajak juga satunya lagi biar Tante bisa makin awet muda." Sisil tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan hal itu kepada Zhi. "Nanti Tante kalau dua-duanya ada di sini malah repot. Soalnya mereka berdua kalau dikumpulin itu emang bikin heboh." Zhi berkata sambil membereskan tas bawaannya. Setelah perbincangan singkat tadi Zhi dan Leon kemudian segera berjalan keluar dari rumah itu. Setelah Bita dan Kiki menikah keduanya awalnya tinggal di rumah orang tua Bita. Tapi setelah mendekati hari kelahiran Kiki meminta beta untuk tinggal di rumahnya saja karena jaraknya tak terlalu jauh dari rumah sakit bersalin yang sering dikunjungi beta untuk melakukan pemeriksaan. Zhi diantar oleh Leon menggunakan mobil milik Leon, sementara mobil milik Zhi sengaja ia tinggalkan di rumah Kiki agar sahabatnya itu bisa menjemputnya pagi besok di rumah karena Kiki harus membawa banyak barang Endorse yang masih berada di rumahnya untuk kembali melakukan pemotretan. Jalan malam Jakarta yang padat seperti biasanya jam-jam segini adalah waktunya para pekerja pulang. Ingin segera beristirahat setelah lelah seharian. Leon melirik pada Zhi yang sejak tadi terdiam tak seperti biasanya. Saat mobil berhenti ia bergerak mendekat dan memegang kening Zhi. Buat Zhi menoleh dan reflek menepis tangan Leon. "Ngapain sih?" Leon masih menatap Zhi, ia mendengar suara Zhi yang sedikit berubah. "Lagi enggak enak badan ya? Musim pancaroba gini jangan banyak begadang dan makan sembarangan dulu." Leon kemudian segera kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah menyala hijau. Zhi hanya menatap Leon, wajar sih sikap Leon barusan menurutnya karena laki-laki di sebelahnya adalah seoran dokter. Entahlah, Zhi hanya tak suka diperlakukan dan diperhatikan dengan berlebihan. Mobil melaju ke arah yang tak seharusnya, buat Zhi menatap dengan heran. "Kita mau ke mana?" tanta gadis itu. "Makan dulu, lo belum makan kan?" jawab Leon tanpa menoleh dan tetap fokus pada kemudinya. "Gue enggak mau makan," jawab Zhi. Leon tak menjawab sejujurnya hari ini Leon juga sedikit merasa tak enak badan juga lelah setelah selama tiga hari belakangan harus bekerja ekstra karena mendekati hari rapat direksi yang akan menjadi pengalaman pertamanya. meskipun Juna, Yogi dan reina membantunya dalam banyak hal, tetap saja ia harus mempelajarinya. Mobil berhenti di rumah makan padang yang biasa menjadi langganannya bersama Juna, Reres dan Luna. Leon melirik pada Zhi yang kini juga menatapnya. "Makan dulu," kata Leon tegas tak ada senyum seperti biasanya. "Kok lo judes sih?" tanya Zhi. Pertanyaan Zhi buat Leon segera tersenyum lebar membuat susunan gigi nya terlihat. "Makan yuk Bunny," ajak Leon lagi kali in dengan senyum manisnya. "Stop panggil gue Bunny ya." Kata Zhi sambil melepaskan sabuk pengamannya. Leon berjalan cepat ke luar mobil agar bisa membukakan pintu untuk gadis yang ia sukai itu. Setelah sampai di luar Zhi sudah ke luar dari dalam mobil ia lalu menjulurkan lidahnya pada leon. Leon hanya tersenyum melihat kelakuan Zhi yang tak pernah mau kalah darinya. Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam. Leon segera memesan makanan sementara Zhi memilih duduk. Tak lama Leon kembali. ia lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Zhi. "Coba buka mulut lo." Leon meminta. "Enggak mau," tolak Zhi cepat. "Anggap aja dapat pemeriksaan gratis," kata Leon lagi sedikit memaksa. Zhi menatap Leon yang menggerakan matanya mengatakan bahwa Zhi harus membuka mulutnya. Zhi hela napas kemudian mengangguk ia kemudian membuka mulutnya, tapi segera menutupnya kembali. "Radang juga tuh, makan apa aja lo?" cecar Leon. "Makan orang, makan hati, makan daun pintu, beling semu gue makan," jawab Zhi ngegas. Leon terkekeh mendengar jawaban dari Zhi. "Gemas deh sama Kakak Zhi jadi semakin ingin memiliki." "Mulut lo ya Yon," kesal Zhi semakin menjadi. Mendengar apa yang dikatakan Zhi buat Leon memonyongkan bibirnya, kemudian menjulurkan lidah dan terkekeh. "Jangan gemas gitu kakak, adek enggak kuat." Zhi melirik Leon kesal ia kemudian memukul bahu Leon dengan dompet miliknya. Smentara Leon jelas semakin senang jika Zhi marah dan kesal seperti ini. Saat itu makan malam mereka datang, di sajikan di atas meja makan aneka lauk khas rumah makan padang. "Silahkan Mas Leon," ucap sang pelayan. '"Thank you Uda," ucap leon. Zhi menatap, heran juga karena Leon begitu terkenal. "Terkenal ya Anda?" "Gue udah langganan di sini dari SMA. Gue, Mas Juna, Mbak Luna sama Reres." Leon menjawab sambil mulai menuangkan kuah tunjang ke atas piringnya. Zhi hanya mengambil ayam bakar, tapi belum sempat ia menyantap makan malam, ponsel miliknya berdering. Zhi segera menerima panggilan. Panggilan dari salah seorang yang ingin di promosikan produknya. Pembicaraan sepertinya akan berjalan cukup lama karena membahas tentang ketentuan dan lainnya. "oke nanti lanjut di chat aja ya kak," ucap Zhi kemudian mematikan panggilan tapi kini sibuk dengan chat yang masuk. Leon hanya menatap, kemudian menyendokkan makanan dan menyuapi Zhi yang refleks membuka mulutnya. Leon tersenyum kemudian Zhi menoleh menatap Leon kaget juga karena Leon menyuapinya. "Kok lo nyuapin gue?" "Makan, biar enggak sakit." jawab Leon kemudian melanjutkan kegiatan makannya. "Ini apa Yon?" tanya Zhi sambil menunjuk mulutnya. Leon menunjuk menu yang ditanyakan Zhi. "Ah kikil." "tunjang," sahut Leon. "kikil," sergah Zhi tak mau kalau. "kikil tunjang iya deh lo menang." Zhi membecik menatap Leon sebal. "Sebel banget gue sama lo," kesal Zhi. Leon tersenyum kemudian mengarahkan telunjuknya k arah pipi. "Terima kasih kakak, jangan lupa bintang limanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD