Di mana?

1115 Words
Leon sedang beristirahat di ruangan duduk seraya menikmati makan siang yang ia pesan. Hari ini ia cukup lelah karena hari ini pasien yang membludak akibat musim pancaroba menyebabkan banyak masyarakat terkena penyakit yang biasa muncul setiap kali pergantian musim. Saat tengah menyantap makan siangnya, pintu ruangan diketuk. "Masuk," ucap Leon dari dalam. Pintu terbuka menunjukkan rekan kerjanya, Lucky yang berjalan masuk seraya membawa dua gelas jus jeruk. "Selamat siang Dok, ini ada jus jeruk dengan sedikit gula dan es," ucap Lucky sambil berjalan mendekati Leon dan duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu. "Thank you, Mr Lubis. BTW, di luar pasien gue masih banyak?" tanya Leon. Lucky mengangguk. "Makan aja dulu sebentar, dokter juga perlu makan." Lucky duduk di hadapan Leon yang kini kembali melanjutkan makan siangnya. Ia menyantap makanan dengan cepat agar bisa kembali bekerja untuk memeriksa pasien. "Calm down Dok, lo harus makan pelan-pelan biar enggak tersedak." Lucky mengingatkan. "Lagian emang enggak ada yang gantiin lo?" "Ada Dokter Ubay, cuma dia malah belum datang jam segini. Gue harusnya udah bisa balik," jawab Leon masih sambil sibuk dengan santapannya. Pintu terbuka, menunjukkan dokter yan terlihat sedikit lebih tua daru leon. ia adalah dokter ubay yang kini berjalan dengan santai menghampiri Leon. Sementara Leon dengan cepat menutup kembali bekal makan siang miliknya, memasukkan ke dalam tas. "Lama ya Dok," sendiri Leon. "Hehehe, macet Dok." jawabnya singkat dan terdengar tak bersalah. "Jakarta macet hal biasa harusnya bisa datang lebih awal dari rumah." Leon berujar sambil merapikan tasnya. Lucky diam dan memerhatikan ia tak ingin ikut campur dan membiarkan keduanya sibuk dengan percakapan mereka. Leon kemudian berjalan menghampiri Lucky. Dan segera mengajak berjalan ke luar ruangan. Saat ke luar ruangan masih cukup banyak pasien yang mengantri. Leon sesekali menganggukkan kepalanya. "Sebentar lagi ya Bu, sudah ada dokter Ubay,' ucap Leon sambil berlalu. Keduanya berjalan menuju taman belakang tempat andalan Leon untuk membuat pikiran menjadi lebih segar setelah penat seharian. pagi tadi ia sudah berangkat ke karuna untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda dan segera berangkat ke Rumah Sakit setelah peretemuannya selsai. Padahal hari ini ia baru menjalani pekerjaan selama lima jam, tapi ia merasa begitu lelah. Lucky memerhatikan Leon yang memijat-mijat tengkuknya. Ia lalu berinisiatif untuk memijat reka seprofesinya itu. "Capek ini lo kebanyakan tanggung jawab. Jadi orang jangan rakus dokter Leon. Cakep, pinter, dokter CEo pula. Lo enggak kasihan sama pria-pria seperti gue yang bahkan butuh mengiba untuk mendapatkan cinta?" tanya Lucky membuat Leon tertawa. "Sialan lo. Gue juga masih harus meminta dan berjuang buat dapat cinta dari perempuan yang gue suka," ucap Leon yang memang saat ini masih harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta dari Zhi. "Halah, susah-susah cari jodoh. Tuh kan ada Reta," ujar Lucky sambil meneguk jus miliknya. Leon tersenyum, kemudian bernyanyi. "Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Hahaha," kekehnya kemudian. Lucky menatap ke arah Leon. "Loh, lo tau Reta suka sama lo?" tanya Lucky. Leon anggukan kepala. "Gue ini cowok yang cukup peka sama yang namanya perempuan. Ya, cuma sejak lama gue enggak ada rasa ke Reta. Dulu gue cuma sayang sama satu orang. Perempuan yang gue sukai sejak gue SMP. Meski akhirnya kandas. Dan akhirnya gue sekarang menemukan seseorang yang baru." Leon terdiam kemudian meneguk jus yang dibelikan Lucky untuknya. "Siapakah perempuan yang beruntung itu? yang bisa lo cintai sedalam itu sampai akhirnya lo dicampakkan?" tanya Lucky sambil sedikit terkekeh ia tak terlalu percaya jika Leon yang dicampakkan gadis itu. Leon mendekatkan wajahnya pada Lucky. "Istrinya Mas gue," jawan Leon. Lucky terkejut, tatapan matanya membulat sementara tangan kirinya menutup mulutnya. "Serius?" Leon hanya mengangkat kedua alis sebagai jawaban. "Luck,' panggil Leon "Hmm?" sahut pria bertubuh besar itu sambil menghabiskan jus miliknya. "kenapa enggak lo aja yang ngejar Reta? Lo kan suka sama dia?" Uhuuk, Lucky terkejut ia bahkan menyemburkan jus yang sudah hampir terteguk setengah ke dalam tenggorokannya. "Apaan?" "gue tau lgi lo suka sama Reta." Leon menegaskan. "Aish, susah." "Kenapa gara-gara lo batak?" tanya leon penasaran. "O iya, lo harus nikah sama perempuan batak juga ya buat meneruskan marga?" Lucky gelengkan kepalanya. "Kalau sekarang enggak serumit itu. Perempuan bisa aja dapat marga juga. Yang penting seiman." "kan udah seiman," sahut Leon. "Reta chinese woy, gue enggak tau apa keluarga dia masih kolot atau enggak." "Bokap gue nikah sama nyokap gue," sahut Leon. Lucky memukul bahu Leon. "Bokap lo korindo woy." (Korindo= Korea Indonesia) "Hahaha, ya udah kenapa repot lo coba aja dulu kejar Reta. Kalau seandainya kalian cocok udah dan enggak ada persetujuan dari keluarga masih ada cara lain," kata Leon coba memberikan semangat pada Lucky. "He cara lain?" tanya Lucky bingung. Leon mendekatkan wajahnya pada Lucky kemudian berbisik. "Investasi saham masa depan." Leon kemudian kembali menjauhkan wajahnya dari Lucky. "Investasi sih gue ada. Cuma emang harus nambah lagi ya? Menurut lo selain emas investasi apa yang bagus?" tanya Lucky tak mengerti apa yang dikatakan Leon barusan. Leon mendesis kesal karena Lucky yang ternyata terlalu berpikiran positif. "Bukan investasi itu," kesal Leon. "Terus apa lagi?" "Investasi 'masa depan' pakai bibit unggul," leon menjelaskan dengan menekankan perkataannya. Lucky terdiam kemudian berpikir seraya merapalkan ulang apa yang dikatakan pria pemilik mata sipit yang kini duduk di sampingnya itu. "Bibit unggul?" tanya Lucky. "Aish, lo tuh." kesal Leon. "Itu," ucap leon seraya mengarahkan tatapannya ke arah celana leon Lucky. Lucky menutup rapat kakinya dengan cepat, kemudian menatap Leon dengan tatapan terkejut atas saran yang ia terima tadi. "Astaga ya Tuhan ampunilah dosa-dosa kami." Lucky berdoa atas saran sesat yang ia dengar barusan. "hahaha, jangan dianggap serius.' Leon berucap sambil melepas jas putih yang ia kenakan. "Kirain Dokter Leon mau nyuruh begitu." "Ya enggak baik memang. jangan diikutin, tapi enggak ada salahnya dicoba." Leon kemudian terkekeh setelah mengatakan itu pad Lucky. "Astagfirullah." Lucky terkejut. "Lo kristen ya Luck." Leon mengingatkan sambil terkekeh. "Gue balik duluan ya," pamit Leon kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu. Leon berjalan menuju trmpat parkir seraya sibuk dengan ponselnya. Leon: Dimana? Bunny: Kenapa tanya-tanya? Leon: Di mana? Bunny: Ada deh mau tau aja. Leon: Di mana? Bunny: KENAPA SIH TANYA DI MANA, DI MANA TERUS?! Leon: Di mana? Bunny: Di rumah Bita! lagi foto jangan kemari! Leon: Share lock. Bunny: Enggak! Leon: Share lokasi. Bunny: ENGGAK! Leon: Lokasinya sayang. Bunny: GUE TABOK YA LO LEON! Leon: Ikhlas kok ditabok. Harus ketemu dulu kan biar enak naboknya. Share lokasi. Bunny: Enggak Leon: Ya udah gue nunggu di rumah sama ayah dan mama. Bunny: Share location. Leon tersenyum tentu saja ia tak mudah menyerah jika menginginkan sesuatu. Kalau ada adu keras kepala mungkin ia akan masuk urutan unggulan. setelah mendapatkan jawaban sang dokter segera melangkahkan kakinya lebih cepat untuk segera menyusul Zhi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD