"Pak, itu Ira kan? Dia habis dari mana? Eeh itu Mas Sabda sama Gading di sana!" Ujar Maya yang saat ini mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah dua orang pria yang sedang berdiri di depan Cafe.
"Pikiranmu sama dengan bapak, May?" Tanya Khoirul dan ditanggapi anggukan oleh Maya, putrinya. "Apa maunya mas mu itu?!"
Tidak lama, terlihat Gading dan Sabda berjalan mendekat ke arah keluarga mereka. "Kalian dari mana?" Tanya Maya pada kedua saudara nya itu.
"Hih mba may kepo!" Ujar Gading lalu memeletkan lidahnya. "Uwasem koe!" Ujar maya dengat tatapan kesal dan geram ke arah Gading dan terutama Sabda.
"Dari mana mas?" Tanya Maya lagi. "Bukan urusanmu" ujar Sabda datar dan cuek. "Udah tak bilang kan.. Mba May ndak usah kepo. Ngertos?"
"Hilih"
"Pak, pulang nanti Sabda mau bicara sama bapak dan ibu" ujar Sabda yang hanya dijawab dehaman oleh Khoirul. Setelah Sabda sedikit menjauh dari mereka, Sara, ibunya Sabda berbisik "Tumben anakmu, pak" ujarnya setelah menyikut pelan Khoirul. "Kita lihat saja apa lagi maunya anak itu" ujar Khoirul tanpa ekspresi.
"Pak, bu, saya akan segera menikah"
"Alhamdulillah gusti.. ya allah nak ibu senang sekali mendengarnya. Ibu tau, kamu pasti setuju dengan keputusan kami" ujar Sara dengan mata berbinar bahagia.
"Sabda tidak pernah bilang kalau Sabda setuju, bu. Sabda bilang Sabda akan menikah bukan berarti setuju dengan perjodohan itu" ujar sabda dengan wajah tenang.
"B-bagaimana?" Tanya ibu yang sedikit bingung dan terkejut.
"Apa maksud kamu, Sabda?" Tanya Khoirul dengan wajah yang lebih tenang dan datar dari Sabda.
"Saya akan menikahi Ira, pacar saya. Bukan gadis yang bapak dan ibu pilihkan" ujar Sabda masih dengan nada datar.
"Tidak bisa! Kamu mau menikahi ular londo itu? Kamu mau manikahi perempuan tidak berakhlak itu? Mau kamu kemanakan masa depanmu nanti naaak? Bagaimana nasib anak-anakmu nanti.. bahkan nama lengkap dan asal usul garis keturunan keluarganya pun kamu tidak tau nak.." ujar Sara.
"Bu, ibu salah.. yang bilang Ira tidak berakhlak itu siapa? Ibu tau dari mana? Bahkan ibu baru bertemu beberapa kali dengan Ira. Ibu tidak bisa langsung mengambil keputusan seperti itu" ujar Sabda yang mulai melunak.
"Tentu ibu bisa mengambil keputusan. Ibu dan bapak sudah tua Sabda. Kami bisa menilai seseorang, bisa membedakan mana orang yang baik dan tidak untuk anak kesayangan kami" ujar Sara.
"Saya masih akan tetap menikahi kekasih saya" ujar Sabada yang kembali menegapkan tubuh kekarnya dan menatap lurus. Hal tersebut berhasil membuat timbulnya kristal-kristal bening di mata Sara.
"Apa yang membuatmu menolak pilihan kami?" Tanya Khoirul masih dengan ketenangannya.
"Apa yang bapak dan ibu lihat dari dia?" Ujar Sabda. "Saya sedang bertanya, dan kamu harus menjawabnya. Bukan malah balik melontarkan pertanyaan" ujar Khoirul setelah berdeham.
Sabda berdeham sebentar lalu menjawab pertanyaan sang ayah, Khoirul. "Apa bapak dan ibu mengerti sekarang? Saya dan perempuan itu terllau berbeda. Terlalu bertolak belakang. Dan juga dia sama sekali bukan kriteria wanita idaman saya" ujar sabda sesusai menjelaskan alasannya.
"Apa kamu pikir kami tidak mempertimbangkan hal tersebut sebelum menjodohkanmu?" Ujar Khoirul, Sabda terdiam mencerna ucapan sang ayah, lebih tepatnya berusaha mencari kosa kata yang tepat untuk menyanggah alasan dan argumen dari ayahnya tersebut.
"Sayang tolong ambilkan air" ujar Khoirul pada Sara dan diangguki oleh Sara. Setelah air di gelas itu tandas, Khoirul kembali berbicara.
"Sabda" ujarnya penuh penekanan. "Kamu itu anak bapak. Putra tertua bapak. Bapak sangat tau kamu itu bagaimana, apa yang kamu suka dan tidak. Dari dulu bapak selalu memberikan kebebasan kepada kamu untuk memilih. Apapun itu. Dari mainan, sampai profesi." Ujarnya lalu menarik nafas sebentar.
"Dulu saat kamu menolak melanjutkan bisnis bapak dan memilih jadi Dokter, bapak menyetujui keputusan kamu walau sedikit berat tapi melihat kamu sepertinya sangat bahagia, bapak merelakan itu. Lalu tiba-tiba kamu bilang mau sekolah bisnis dan mendirikan perusahaan sendiri, bapak juga setuju. Semua yang kamu masu bapak setuju" ujar Khoirul yang kembali terhenti. Khoirul mengambil napas kembali dan melanjutkan kata-katanya.
"Kamu tau kenapa bapak selalu menyetujui kemauan kamu?" Tanya Khoirul yang langsung di jawabnya sendiri "Karena bapak sangat menyayangi kamu, Sabda, putra sulung bapak. Bapak ingin masa depanmu cerah dan selalu bahagia. Ibumu juga begitu" ujarnya lalu menghembuskan napas berat. Tampak sekali sudah lelah dan kewalahan dengan semua masalah kehidupannya terutama masalah anak sulungnya ini.
"Bapak dan ibu tidak pernah meminta apapun ke kamu, Sabda. Jadi bapak minta sama kamu, terima dan laksanakan perjodohan ini. Kami berdua sudah tua, Sabda. Kami hanya ingin melihat anak-anak kami menikah dan memiliki cucu dari kalian. Itu.. saja.." ujar Khoirul yag mulai merasa sesak di akhir kalimatnya.
Sabda tidak terutunduk ataupun bergeming sama sekali. Tubuhnya terduduk tegap degan sorot mata yang memantang lurus manik ayahnya, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi nihil. Semua yang dikatakan ayahnya adalah kejujuran, tulus dari hati. Dari ekor matanya ia melihat ke arah ibunya yang mulai tergugu dalam keheningan.
Hati Sabta tergoyah dinding itu runtuh saat melihat pemandanga yang didapatnya saat ini. Khoirul meski dengan guratan tua di wajahnya, lelaki itu tidak pernah tampak sedih, suram dan muram. Tidak pernah ada hembusan napas lelah darinya, ia selalu tegap, tegas, dan selalu berkharisma. Sara, wanita yang selalu menasihatinya tanpa henti, selalu tersenyum kepadanya, saat ini, air mata mengalir deras dari matanya yang tampak selalu indah.
"Tapi Saya mencintai kekasih Saya, pak, bu" ujarnya dengan nada rendah. "Saya tidak bisa menikah dengan orang yang tidak saya cintai" ujar Sabda.
Khoirul terdiam memandang putra sulungnya. Terukir segatis senyuman yang sangat tipis di wajah tua nya. Sara pun ikut terdiam beberapa detik, lalu ia menghapus semua air mata yang telah membasahi wajahnya. Sara berjalan sedikit pelan ke arah sebuah lemari kayu besar di belakang kursi Khoirul. Ia mengambil beberapa benda yang tebal.
Album.
Sara menarik kedua tangan anaknya, memposisikan agar tangan Sabda dapat memegang benda-benda itu dengan baik dan benar. Lalu sara memegang bahu Sabda dengan kedua tangannya. Memberikan tekanan yang cukup mewakilkan keyakinannya. Seperti memberi sebuah semangat, pengertian, dan penjelasan, ataupun alasan yang sangat cukup untuk meyakinkan putra sulungnya itu.
Sara tersenyum teduh ke arah anaknya yang menatapnya dengan tatap bertanya. Sara menepuk salah satu pundak anaknya lalu tangan yang satunya mengusap lembut pipi kiri putranya. "Pergilah ke kamarmu, bersihkan diri, lalu berdoalah pada gusti Allah, minta petunjuk dari-Nya. Setalh itu, bukalah album-album ini. Insyaallah cukup" ujar Sara sambil tersenyum ke arah putranya itu.
Sabda menghembuskan napas berat lalu segera berdiri dan pamit kepada kedua orangtuanya dengan beberapa album foto berada di tangannya.
Sabda sedang membuka album foto yang diberika oleh ibunya tadi. Tiba-tiba terdengar deringan dari ponsel yang ada di sampingnya. Honey is calling. Ia langsung menerima dan men-loadspeaker kan panggilan tersebut.
Triring.. triring..
"Hmmm" ujar Sabda sambil memijat pelipisnya.
"Honey, honey lagi apa?"
"Baring aja"
"Eeeh, tumben, hon? Capek banget ya?"
"Hmm"
"Kamu dimana? Aku kesana ya?"
"Kamu lagi apa? Baru selesai Shooting ya?"
"Iya, seperti biasa"
"Hmm.. eh kok berisik banget sih di tempet kamu? Kamu dimana hon?"
"Hmmmh.. ha? Ap-apa? Kamu nanya apa tadi hon?"
"Kamu lagi dimana?"
"Eenggggh, aaaku lagi di club sama Saron"
"Lok kok ke club sih? Katanya baru pulang Shooting. Kamu harus istirahat Iraa.."
"Emmmh.. iiya sayang. Bentar aja kok, lagi bosen aja. Engh.. kebetulan tadi Saron ngajak ke club"
Hm? Tumben banget dia manggil aku sayang. Batin sabda.
"Kamu kenapa sih dari tadi kok suaranya begitu?"
"Ha? I.. i'm fine honey, of course. Capek aja dikit.. emmmh, udah dulu ya hon, aku dipanggil sama Saron"
"Ooh oke hon. Get well soon ya, my bunny.."
Lalu sambungan telpon terputus. Dan Sabda merasa ada yang aneh, sedikit. Sedikit doang. Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
"Mas? Aku boleh masuk? Aku bawa kopi nih!" Teriak Maya dari luar kamar Sabda.
"Masuk aja dek" balas Sabda dari dalam.
"Masih ngeliatin album? Kenapa ngga langsung diterima aja sih perjodohannya" ujar maya sambil memberikan segelas kopi tanpa gula kepada Sabda.
"Hm? Kok kamu ikut-ikutan sih dek?" Tanya Sabda yang langsung sewot saat mendengar penuturan Maya. "Yeee langsung sewot. Kan aku bantu kasih rekomendasi aja. Hih! Eh tau ngga mas.. calon yang dipilihkan untuk mas itu, baik banget loh orangnya, maniiis, imut, sopan, tinggi, pinter.. huwah pokoknya top the masss.. high kuality!" Ujar Maya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya dengan mata penuh binar.
"Halah. Pembelaan mu itu ngga mempan sama mas" ujar Sabda lalu mendorong kepala maya dengan satu jarinya.
"Hiiih mass, aku itu ndak lagi membela siapa-siapa ya! Aku itu lagi memberikan sesuatu yang terbaik buat mas, kalau istilah kantormu itu memberikan proposal yang sudah jadi yang tinggal ditanda tangani... ceunah..." ujar Maya dengan semangat 45!
Sabda terkekeh melihat tingkay adik bungsunya itu. "Bahasamu May.. May.. belajar dimana sih kamu yang kayak begitu hmm?" Ujarnya lalu mencubit kedua pipi Maya. "Sakit mas" ujar maya sambil memukul dengan sekuat tenaga tangan Sabda, tapi tidak berpengaruh pada cubitan kakaknya itu. "Gendeng!" Ujar maya dengan tatapan permusuhan pada Sabda setelah pria itu melepaskan cubitannya.
Maya beranjak dari ranjang Sabda, berjalan menuju pintu kayu berwarna biru tua itu dengan kaki yang dihentak-hentakkan karena kesal. Saat hendak keluar Maya berhenti di ambang pintu dan membalikkan kembali tubuhnya ke arah kakaknya.
"Kalau masalah cinta, buktinya Maya dan Kak Fadlan dulu bisa kan? Lantas, kenapa mas ngga bisa?" Ujar Maya datar lalu segera beranjak dari pintu menuju ke kamarnya yang berselang 3 ruangan dari kamar Sabda.
Sabda terdiam setelah mendengar penuturan adiknya itu. Pasalnya, Maya tidak pernah membicarakan tentang hal itu sejak 4 tahun lalu, tepatnya setelah kecelakaan yang menewaskan suaminya, Fadlan.
"Jadi bagaimana Sabda?" Tanya Khoirul.
"Saya...