Cerita

514 Words
Ansel merebahkan tubuh Bunga dan Ansel telah berada di atas istrinya, lalu dia berkata "Ini yang aku maksud, menghabiskan waktu berdua saja." Hahha ... ini saja kamu tidak bisa menjelaskan, hm ... "  Membuka kemejanya, dan dia juga membuka baju yang terbuka di kenakan Bunga, "Aku sudah tidak sabar lagi, aku akan terkam kau sampai tak berdaya lagi. Bunga aku mencintaimu, jangan aku sampai kapan pun aku tidak ingin ada kebahagiaan kita berdua sedikit pun. " Bunga menganggukkan kepalanya Saja Tanpa merespont apa yang telah dia katakan itu. Kedua aset kembar itu terlihat jelas, Ansel menyelinap menuju leher jenjang Bunga dan perlahan-lahan dia meninggalkan bekas merah di sana.  Sampailah dia memainkan ujung dari Aset kembar itu, Bunga merintih nikmat. Ansel yang mendengarkannya langsung saja bergejolak dan membuat pisang telah menegang dan mengeras. Bunga sudah terkejut saat pisang Ansel mengarah ke bibir Area enggan keluar. "Ansel! Lakukan dengan pelan. Ucap Bunga yang masih trauma saat pisang itu menghatam dengan kuat.  " Iya sayang, aku tidak ingin melakukan dengan kasar, aku ingin kita berdua menikmati setiap gerakkan aku lakukan. Sayang ... jangan takut kau akan menikmatinya sampai merasa puas juga, " Bunga tersenyum dan meminta maaf Ansel untuk membina dan sambil berkata "Ansel, aku tidak ingin kau lepas dari pelukan itu, sekarang peluk aku dengan erat."  Baiklah.  Ansel menggoyangkan panggulnya dan menggerakkan batangan itu dengan pelan, dia hanya mendengarkan suara kenikmatan yang keluar dari mulut Bunga, dia berusaha membuat Bunga nyaman saat berhubungan dengannya, tidak sama sekali Bunga menolak saat itu masuk.  "Bunga, apa kau menikmati ini? Tanya Ansel kepada Bunga.  Wajah Bunga sudah memerah dan dia berusaha menahan sakit yang dia rasakan, dan dia berkata" Iya aku menikmatinya, jangan lepaskan atau punahnya. Ansel .... "Mulut Bunga bergetar dia kenikmatan yang sudah memuncak. Tatapan mata Bunga mengarah ke wajah Ansel. Ansel menggoyangkan panggulnya dan menggerakkan batangan itu dengan pelan, dia hanya mendengarkan suara kenikmatan yang keluar dari mulut Bunga, dia berusaha membuat Bunga nyaman saat berhubungan dengannya, tidak sama sekali Bunga menolak saat itu masuk.  "Bunga, apa kau menikmati ini? Tanya Ansel kepada Bunga.  Wajah Bunga sudah memerah dan dia berusaha menahan sakit yang dia rasakan, dan dia berkata" Iya aku menikmatinya, jangan lepaskan atau punahnya. Ansel .... "Mulut Bunga bergetar dia kenikmatan yang sudah memuncak Tatapan mata Bunga mengarah ke wajah Ansel. Saat itu Ansel masih terus ingin melakukan permainan itu sangat lama, wajah Bunga sudah memerah dan tubuhnya sudah lemah.  Ansel hanya bisa tersenyum melihat wajah pasrah istrinya yang terlihat sangat cantik. Jauh di pikirannya kalau semua yang dia lakukan hanya untuk membuat istrinya merasa puas saat permainan itu.  "Sayang ... ehhmm ... kau sangat menggairahkan."  Saat itu juga Ansel memuntahkan cairan kental itu, dan pisang milik Ansel terasa berdenyut, hentak kan yang diberikan itu membuat Bunga berteriak sakit "Argh ... Ansel ..."  Tubuh Ansel terjatuh di peluk kan Bunga, mereka berdua merasa sudah tidak berdaya lagi . Keesokkan harinya mereka berdua sedang membereskan semua perlengkapan mereka untuk pulang dan memulai aktivitas mereka seperti biasa. "Sayang, sudah selesai semua kan barang-barang yang akan di bawa?"  "Sudah sayang."  "Oke baiklah, kalau begitu kita mulai berjalan." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD