"T-tuan," gumam Asha. Posisi ini sangat mendebarkan baginya. Bagaimana tidak? Tuannya Yuuji tengah memeluknya, sengaja menjatuhkan diri ke atas kasur, dan jarak yang terlalu dekat. Asha bahkan dapat merasakan hembusan nafas Tuannya di puncak kepalanya. "Saya suami kamu, Asha." "Maksud, Tuan." "Jangan panggil Tuan." Wangi Yuuji tak kalah dengan aroma mawar dan melati yang ada di sini. Dengan wajah tepat di bagian bidang Tuannya, semakin membuat Asha bisa menghirup wangi yang menenangkan. Asha pun dapat merasakan kerasnya di bagian bidang sana. "Izinkan saya tetap memanggil begitu, Tuan. Rasanya sangat berbeda. Dan saya menyukainya." Asha merasakan helaan nafas Yuuji. Tampaknya Yuuji tidak menyukai panggilan itu. "Tidak di depan umum." "Kamu istri saya, Asha." Seraya menganggukkan

