bc

Still You

book_age16+
7.6K
FOLLOW
69.1K
READ
family
second chance
goodgirl
independent
sweet
bxg
like
intro-logo
Blurb

"Enak?" tanya Mas Abhi.

"Hmm,” sahutku.

"Ikannya juga enak?" tanya Mas Abhi lagi.

"Hmm."

"Kapan jadwal meetingnya?"

"Jam dua."

"Kapan selesainya?"

Aku mengedik.

"Kapan mau pacaran sama Mas?"

Dan aku langsung terbatuk gara-gara tersedak makanan yang baru mau kukunyah.

chap-preview
Free preview
-1-

***

"Nggak ke kantin dulu?"

Kepalaku menggeleng cepat, nggak kalah cepat dengan gerakan tanganku masukin buku-buku ke ransel.

"Tadi katanya mau jajan siomay pulang sekolah?"

"Besok aja ya, aku mau pulang," sahutku sambil nunjukin raut menyesal ke teman sebangkuku.

Begitu meja sudah terlihat bersih, aku langsung pamit pada Desy dan melesat keluar sambil megangin tali ransel di pundak.

Suasana di luar lumayan ramai, karena ini memang jam bubar sekolah. Aku harus susah payah cari celah biar bisa cepat mencapai gerbang.

Di antara deretan para penjemput, mataku langsung menangkap sosok yang berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana abu-abunya. Senyum di wajahnya terkembang lebar, bikin aku mempercepat langkah dan langsung menubrukkan badan kecilku ke pelukannya.

"Kebiasaan!" tegurnya sambil tertawa pelan melihat tingkahku, tangannya ngacakin puncak kepalaku lembut.

"Aku kangen sama Mas Abhi!"

Dan remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya ini, langsung mencubit pipiku gemas.

Dia nggak bawa motor seperti mas-mas yang sering kulihat di jalan. Kadang kalau dia jemput, kami pulang naik angkutan umum bareng, atau kadang Papa Gama yang jemput Mas Abhi terus baru jemput aku.

"Tapi Mas nggak kangen, Jani," godanya yang bikin aku langsung cemberut sampai tawanya pecah.

Aku kesal.

Tapi aku juga suka lihat Mas Abhi tertawa.

Dia ... manis.

*

*

*

"Kenapa beli bukunya banyak?"

Mas Abhi malah tersenyum tanpa melepas gandengan tangannya dariku.

Aku nggak bohong, tas yang dibawa Mas Abhi sudah hampir penuh sama buku yang kami beli. Aku bahkan nggak kuat kalau disuruh bawa tas dengan tulisan nama toko buku ternama.

Sepulang sekolah, dia emang ngajak aku ke toko buku. Katanya udah ijin sama Ayah dan Ibu, dan aku percaya aja, karena emang Mas Abhi nggak akan pernah berani bawa aku main kalau belum ijin Ayah sama Ibu.

"Memang Mas bisa baca semua?"

"Bisa dong, kalau nggak dibaca buat apa Mas beli?"

"Tapi perpustakaan Papa Ucha juga banyak bukunya kan?" tanyaku masih penasaran. Soalnya buku di perpustakaan Papa emang banyak banget, tebal-tebal juga. Sampai aku sebesar Mas Abhi nanti, aku yakin nggak bakal bisa selesai baca semua buku di perpustakaan Papa Ucha.

"Tapi yang ini belum punya," jawab Mas Abhi sambil nunjukin buku lumayan tebal dengan gambar alat yang biasanya dipakai dokter meriksa pasien.

"Itu buku apa? Alatnya dokter?"

"Ini buku tentang ilmu kedokteran."

"Ilmu kedokteran?" tanyaku sambil menatapnya bingung. "Mas mau jadi dokter?"

Kepalanya mengangguk dengan sangat jelas. Seingatku Mas Abhi kalau ditanya mau jadi apa, selama ini nggak pernah jawab mau jadi dokter.

"Kenapa?"

"Biar kalau ada yang sakit, Mas bisa obati."

Aku diam ngamatin Mas Abhi selama beberapa saat.

"Kalau gitu, aku mau jadi suster!" celetukku kemudian.

Kali ini dia tertawa geli dengar reaksiku, "kemarin-kemarin katanya mau jadi polwan?"

"Soalnya Mas mau jadi polisi."

Tangannya yang menggenggam tanganku terlepas dan langsung mencubit pipiku gemas. "Kalau Mas mau jadi presiden?"

"Aku mau jadi istrinya presiden!"

Matanya seketika membentuk garis karena tertawa. Padahal menurutku nggak ada yang lucu.

Aku serius.

Meski usiaku masih 11 tahun, tapi aku beneran serius.

Aku mau sama-sama Mas Abhi terus ... kayak Ayah sama Ibu.

“Jangan lupa habis ini anterin aku ke rumah Papa Luthfi ya?” pintaku selagi kami menyusuri rak dengan buku-buku tebal tertata rapih. “Tadi kan udah dapat ijin dari Ayah sama Ibu.”

“Iya,” sahut Mas Abhi sembari tersenyum.

Kemarin malam Mbak Ayik telepon Ayah, minta aku main ke rumah. Berhubung besok hari libur, jadi Ayah sama Ibu ngijinin aku main ke rumah Papa Luthfi.

Naik angkutan umum, aku duduk sebelahan di samping Mas Abhi yang selalu tersenyum tiap kali kami saling lihat. Papa Syuja emang nggak ngasih ijin Mas Abhi bawa motor, cuma sesekali aja dia dibolehin bawa motor. Selebihnya Mas Abhi naik angkutan umum, atau di antar jemput Papa Gama.

“Mas Abhi,” panggilku sambil berbisik karena penumpang angkutan umum lumayan ramai.

“Eung?”

“Kalau jadi istri harus nikah dulu kan ya?” tanyaku masih dengan berbisik.

Mas Abhi yang duduk di sampingku sempat agak jauhin kepalanya buat lihat aku, sebelum kemudian tersenyum dan nganggukin kepala.

“Kayak Ibu nikah sama Ayah, makanya bisa jadi istri Ayah, iya?”

Sekali lagi Mas Abhi ngangguk.

“Kalau gitu, aku harus nikah sama Mas Abhi ya?”

“Jani mau nikah sama Mas Abhi?”

“Sekarang?” tanyaku balik, dan Mas Abhi tahu-tahu tergelak sambil nyubit pipiku gemas.

“Nanti, kalau Jani udah besar, kalau Papa Bintang udah kasih ijin,” jelasnya setelah berhenti tertawa.

Aku refleks ngangguk.

Kalau itu bisa bikin aku bisa sama-sama dengan Mas Abhi, kayak Ibu sama Ayah, aku nggak akan nolak.

*

*

*

"Kamu nggak suka sama Mas Abhi?"

Sosok cewek yang dapat pertanyaan barusan, malah asik dengan manganya sambil gelengin kepala malas. Tapi bukan aku yang nanya.

"Kenapa? kan Mas Abhi ganteng, Yik?"

"Yayahku lebih ganteng."

Jawaban yang sama tiap kali ada yang ngomong gitu di depan Mbak Btari, akrab kami panggil Mbak Ayik. Dia emang selalu bilang Papa Luthfi ganteng ke semua orang.

Waktu aku sampai di rumah Papa Luthfi tadi, ternyata ada teman Mbak Ayik lagi main di rumahnya. Kami beberapa kali pernah ketemu, soalnya aku sama Mbak Ayik pernah satu sekolah, meski beda tingkat.

Usia Mbak Ayik 3 tahun di atasku, jadi pas aku kelas 1 SD, Mbak Ayik udah kelas 3 SD. Selama 3 tahun Mbak Ayik jagain aku di sekolah, dan sering ngajak aku main sama temen-temennya, salah satunya Mbak Indah ini. Kami baru terpisah pas Mbak Ayik lulus SD, sekolahnya jauh dari sekolah SD kami. Dia bahkan harus naik angkutan umum dua kali kata Mama Ara. Meski ada Papa Gama, atau Mas Abhi yang nawarin ngantar, Mbak Ayik keseringan nolaknya. Kalau kepepet banget dia baru mau di antar salah satu dari mereka.

"Kalau gitu, bantu deketin aku sama Mas Abhi dong? Kan katanya Mas Abhi belum punya pacar!”

Tanpa sadar aku gigit bibir. Mbak Indah cantik, juga pintar. Dulu Mbak Ayik pernah cerita kalau Mbak Indah banyak yang suka. Jadi kupikir pasti Mas Abhi juga bakal suka Mbak Indah seandainya mereka saling kenal.

"Kamu," ujar Mbak Ayik sambil nutup manganya, "belajar pakai pembalut yang bener dulu, baru ngomongin cowok. Nggak malu apa tiap bulan tembus mulu?"

Kali ini susah payah aku nahan diri biar nggak tertawa dengar omongan Mbak Ayik yang emang seceplas-ceplos itu ke siapapun.

Aku memang belum ngerasain fase itu, tapi Mbak Ayik sering cerita gimana rasanya datang bulan yang katanya bikin ribet dan nggak nyaman. Apalagi katanya datang bulan suka bikin Mbak Ayik jadi galak.

"Lagian," tambah Mbak Ayik sembari buka lagi manganya, "kalau aku comblangin kamu, nanti Dek Caca nggak mau main sama aku lagi."

Aku nunduk, diam-diam nahan senyum biar nggak ketahuan Mbak Indah. Rupanya Mbak Ayik masih ingat omonganku hari itu.

"Mbak kalau udah gede mau jadi apa?"

"Pengangguran yang kaya raya."

Aku nggak tahu apa artinya, tapi kepalaku ngangguk aja, pura-pura ngerti.

Nggak masalah.

Nanti aku bisa tanya Ayah atau Ibu apa artinya.

"Kalau Caca, mau jadi apa ?"

"Jadi istrinya Mas Abhi."

***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Perfect You (Indonesia)

read
267.3K
bc

EX-HUSBAND

read
51.1K
bc

Azura Salsabila [Indonesia]

read
49.9K
bc

Luka Hati Seorang Istri

read
257.7K
bc

Suamiku Seperti Batu

read
80.7K
bc

ESCAPE from Marriage ( Rein - Zayn ) Indonesia

read
236.1K
bc

Rujuk

read
372.3K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play