-26-

1008 Words

"Maafin Caca, Ayaah," sesalku dengan sorot memelas. Menggamit lengan Ayah yang sedang bersedekap. Beliau duduk di sisi ranjangku, dan aku di samping kanan. Pikiranku jadi was-was setelah Ayah nyuruh Mas Abhi langsung pulang tadi. Padahal Mas Abhi juga sudah susah payah mengatasi kegugupannya begitu lihat Ayah duduk di teras. Berulang kali dia juga bilang serius dengan apa yang tadi dibilang ke aku sebelum makan. Tahunya, begitu kami sudah gantian cium punggung tangan Ayah, Mas Abhi langsung diperintah pulang. Nggak peduli kalo Mas Abhi udah bilang mau bicara dengan Ayah, jawaban beliau tetap sama, "Abhi pulang dulu sekarang." Terus Ayah bilang mau bicara denganku sepeninggal Mas Abhi. Tapi selagi kami meniti tangga menuju kamarku, Ayah malah nggak ngomong apa-apa. Dan tepat waktu kami

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD