"Jangan lupa pulang. Sampai kapanpun, rumah ini akan selalu jadi rumahmu." Aku ngangguk, terus pelukin Ayah lagi. Sudah nggak kehitung berapa kali dan berapa lama sebenarnya aku meluk beliau. Waktu kami ditinggalin Ibu berdua aja di kamar, Aku dan Ayah berpelukan cukup lama, sambil saling menangis haru. Ayah bicara terus terang tentang apa yang beliau rasakan, termasuk tentang sosok Bunda yang belakangan ini selalu hadir dalam mimpi Ayah. Itu sebabnya, sepasang mata Ayah kelihatan bengkak. "Kapanpun kamu kangen Ayah, Ibu, dan adek-adekmu, telepon kami." Aku ngangguk dalam pelukan Ayah. "Bahkan kapanpun kamu pulang, kami akan selalu menunggumu dengan tangan terbuka." Aku menggigit bibir, berusaha agar air mataku nggak lagi jatuh. Nggak peduli seberapa banyak air mataku tumpah tadi
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


