“Is that Pigeon Blood, Ja?” tanya Ayah yang duduk nggak jauh dariku dengan ekspresi terkejut ketika aku baru saja membuka kotak beludru yang disodorin Papa Ucha ke aku. Isinya sebuah kalung dengan liontin merah kecil yang sangat cantik. “Hmm.” “Myanmar?” tanya Ayah sekali lagi. Aku nggak tahu apa maksudnya, tapi lihat ekspresi Ayah setelah Papa Ucha ngangguk, aku tahu seberharga apa hadiah yang ada di tanganku ini. “Nggak, ini berlebihan Ja,” tolak Ayah sembari ngambil kotak beludru berwarna navy dari tanganku, lalu nyerahin kotak itu ke Papa Ucha. “Nggak ada yang berlebihan,” jawab Papa tenang dan kembali nyerahin kotak beludru padaku. “Ai’ minta kami ngasih hadiah buat Kakak,” lanjut Papa sembari menatapku teduh. “Tapi tetap saja itu berlebihan, Ja,” ulang Ayah masih terdengar ngga

