Episode 7

2017 Words
Salah satu preman itu pun tersadar. Betapa terkejutnya dia saat melihat mata Zanna yang berubah seketika. Zanna lalu menjulurkan lidah bercabang panjangnya itu. "WAAAA!!!" Mereka langsung berteriak ketakutan dan melepaskan Zanna. Agra yang tersadar akan hal itu langsung menengok ke arah Zanna yang sudah mengubah kakinya menjadi ekor. Para preman itu langsung berlari terbirit ingin kabur tapi Zanna tak membiarkan mereka begitu saja. Ia langsung menampar mereka semua beruntun dengan ekor besarnya. Kini mereka terjatuh keras tak berdaya. Agra langsung gemetar melihat kejadian yang dia lihat dengan mata kepala sendiri itu. Zanna terlihat benar-benar sangat marah sekarang. Ia terus melotot geram ke arah mereka dan langsung melilit kuat mereka semua menjadi satu sampai mereka kehabisan nafas dan meninggal dengan mengeluarkan darah dari mulut mereka. Tak sampai di situ. Setelah itu Zanna langsung melempar mereka tinggi sampai mereka terjatuh keras ke tanah. Agra langsung melotot mematung kaku melihat itu semua. Kini dia gemetar sendiri seraya melirik takut ke arah Zanna yang masih brwujud seperti tadi. Para preman itu kini sudah tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa sebagian. Zanna lalu menenangkan kembali dirinya. Ia menutup mata lalu pelan-pelan mengubah wujudmya lagi menjadi sedia kala. Agra membelalakkan mata mengangkat kedua alisnya tinggi sungguh gemetar melihat Zanna. Zanna lalu membuka matanya. Ia terlihat khawatir pada Agra. Ia langsung berlari kecil mendekati Agra. "Kamu gak papa?" tanya Zanna. Agra langsung mencoba menepis rasa takutnya tadi. "Uhh umm yaa! Aku gak papa kok," jawab Agra gemetaran berpura-pura santai. Zanna terlihat tersenyum haru melihatnya. Namun, saat Agra mencoba bangun tiba-tiba dia malah pingsan karena masih syok melihat kejadian tadi dengan wajah yang konyol. Zanna langsung panik melihat itu. "Gra, Gra! Kamu kenapa? Bangun! Gra?!" teriak Zanna panik menggoyang-goyangkan pipi Agra. Zanna langsung mendengus seraya memegangi dahinya. * Agra terbangun, Zanna mengantarkannya ke rumahnya. Agra kini tersadar dan kaget sendiri. "Kamu sekarang udah baikan?" tanya Zanna. Agra langsung menengok ke arahnya. "Zan, Zanna? Aku, tadi kenapa?" tanyanya bingung sendiri. Zanna tersenyum padanya. "Kamu tadi pingsan, mungkin karena kaget melihat aku melawan preman-preman itu," jawab Zanna dengan polosnya. Agra membelalakkan matanya mendengar hal itu. "Uhh yaa," jawab Agra kikuk. Zanna mencoba menenangkannya. Ia membuatkan secangkir minum untuk Agra. "Terimakasih ya," ucap Agra. Agra pelan mengambil cangkir itu darinya. Zanna tersenyum tipis. Agra lalu meminum teh itu dan merasa tenang. Zanna terlihat terpana memandanginya. Sepertinya siluman ular betina itu sudah mulai menaruh perasaan pada Agra. "Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman bersama manusia ini," gumam Zanna dalam hatinya seraya menundukkan pandangannya salah tingkah. **** Dari tempat asal Zanna terlihat ada seekor ular cobra hitam juga merayap. Ia seperti mencari sesuatu. Saat ia sampai di tengah lapang. Ia merubah wujudnya. Ia ternyata adalah siluman juga seperti Zanna. Setelah merubah wujudnya ia langsung berdiri. "Zanna, kamu di mana sekarang? Kenapa kamu menghilang? Aku sudah mencarimu ke mana-mana," tanyanya panik sendiri. Ternyata ia adalah sepupu Zanna. Ia bernama Sutty. Memiliki paras yang juga cantik namun terlihat lebih judes. Tubuhnya terlihat lebih mungil dari Zanna dan juga ramping. Ia tersadar karena sudah lumayan lama Zanna tidak bertemu dengannya. Ia lalu berlari entah ke mana. Ia berlari menuju sebuah kuil minim cahaya itu. Ia lalu mendongak melihat sekeliling kuil itu kemudian masuk. Terlihat di dalam kuil itu memang di penuhi tumbuhan yang merayap menghiasi semua dinding-dinding kuil itu. Sutty terus melangkah masuk dan di dalam juga sudah ada seorang pria berambut panjang yang sudah memutih semua dengan janggut panjang lebat yang juga sudah memutih. Pria itu sepertinya seorang siluman pertapa yang menunggu kuil itu. Sutty berhenti di samping pria itu lalu memberikan salam yang begitu menghormatinya. "Permisi guru. Maaf mengganggu bertapamu," ucap Sutty sopan seraya terus menyatukan telapak tangannya menunduk sopan. Pria itu kemudian membuka matanya pelan. Dia terlihat masih terdiam lalu menarik nafasnya kuat dan menyipitkan matanya terus menatap ke depan. Sutty terlihat sedikit tak nyaman juga padanya. Ternyata pria itu memang guru dari mereka. Dialah yang selalu membimbing dan mengajarkan mereka saat setelah kedua orangtua mereka tiada. Pria itu memang sesepuh dan menjadi kepercayaan Ibu juga Ayah mereka sejak dulu sehingga dialah siluman yang paling sakti dan tahu menahu tentang ilmu sihir yang mereka semua miliki. Pantas saja Sutty terlihat sangat menghormatinya. Pria itu kemudian berdiri dengan pelan. Dia lalu berdiri menghadap Sutty seraya menatap Sutty tajam. "Ada apa kau memanggilku Sutty?" tanya Guru Brah. Ya, dia bernama Brah. Sutty terlihat gelisah sekarang juga sedikit terengah menunduk memikirkan sesuatu. Ia lalu menengok Guru Brah. "Guru, aku kehilangan jejak Zanna sejak kemarin. Entah ke mana dia, apa Guru tau keberadaannya sekarang di mana? Aku coba menghubunginya lewat telepati juga... Juga tak terhubung," ucap Sutty merasa khawatir. Guru Brah menghela nafasnya. Sepertinya dia sudah tahu dengan watak Zanna yang memang agak keras kepala. Dia lalu melangkah menjauh dari Sutty lalu berhenti. "Aku juga tidak tau ke mana dia sekarang. Tapi yang pasti, aku tau. Dia sudah bosan hidup bersama kita di sini," jawab Guru Brah. Sutty langsung mengerutkan alisnya terheran dan melangkah mendekati Guru Brah. "Maksud Guru?" tanya Sutty mengerutkan alisnya bingung. "Aku sudah memperingatinya agar tidak pergi menjauh dari alam ini. Tetapi, dia tak mendengarkanku. Sekarang, sepertinya dia sudah di luar alam kita ini," jawab Guru Brah. Betapa terbelalaknya mata Sutty mendengar hal itu. "M-maksud Guru jadi... Zanna itu pergi dari kita?" tanya Sutty masih tak percaya. Guru Brah lalu berpaling ke arahnya. "Ya," jawab Guru Brah. Sutty melotot seakan tak percaya dengan hal itu. Ia menggeleng kecil tanda masih tak percaya. Guru Brah lalu kembali berbalik membelakanginya. "Dia berada di alam manusia sekarang," ucap Guru Brah. "Karena, hubungan telepati kita akan terputus. Kalau salah seorang dari kita keluar dari alam ini dan berada di alam manusia," sambung Guru Brah meliriknya tajam. Sutty sungguh tak percaya dengan hal itu. Ia terus melotot mengerutkan alisnya menggeleng. "Kalau sampai para manusia tau keberadaan kita di sini karena dia. Habislah kita, pembantaian dahulu kala akan terulang," ucap Guru Brah juga merasa cemas sebenarnya. Sutty langsung menundukkan pandangannya tanda geram pada kelakuan sepupunya yang nekat itu. "Guru Brah, semua itu tak akan terjadi. Aku akan membawa kembali Zanna dan menghindarinya dari para manusia!" jawab Sutty menatap tajam mengerutkan alisnya meyakinkan Guru Brah agar tak kecewa. Guru Brah hanya menyipitkan matanya. "Zanna benar-benar keterlaluan kau!" geram Sutty sangat kesal padanya. Sutty lalu menyatukan tangannya lagi untuk salam izin pamit pada Guru Brah. "Terimakasih Guru," ucap Sutty. Guru Brah hanya membuang pandangannya seakan tak merasa Zanna akan kembali bersama Sutty. Guru Brah hanya menyeringai ketika Sutty melangkah pergi. "Semoga Zanna hanya ingin balas dendam pada manusia. Jika tidak, manusia akan mengelabuinya dan kalah! Aku tidak ingin itu semua terjadi terulang kembali!" ucap Guru Brah juga gelisah. Namun, dia tetap mencoba tenang dan percaya pada Sutty. **** Zanna terlihat sangat bahagia dengan kehidupan barunya sekarang. Agra juga terus menghiburnya. Agra kini membawanya ke sebuah pesta yang memang di undang oleh salah satu rekan kerja Agra. Betapa cantiknya wanita itu bergaun indah. Rambutnya yang lurus sedikit bergelombang di bawah membuat semakin anggun dan feminim tampilannya. Agra terlihat senang melihatnya. "Kamu emang sangat cantik Zanna. Gak sia-sia aku ajak kamu ke salon tadi," puji Agra. Agra memang laki-laki yang tulus membantu Zanna. Dia sangat tulus selalu membantu dan menemani Zanna di sini serta mengajarkan Zanna apapun di kehidupan manusia. Kini Zanna terlihat sudah terbiasa. Zanna menggandeng Agra seraya menatapnya tersenyum. "Iya, makasih ya," jawabnya tersenyum lebar begitu manis. Agra membalas senyumannya. Semua orang mengira mereka adalah pasangan. Musik di sana mulai di mainkan. Pesta semakin meriah. Para orang-orang terlihat kini mulai berdansa bersama pasangannya masing-masing. Agra melihat semua itu juga begitu senang. Zanna hanya tersenyum melihat mereka semua. Agra lalu meliriknya seakan mecandainya menggoda. "Kamu mau dansa juga?" ajak Agra. Zanna terlihat mengangkat alisnya terdiam. Agra lalu mengajaknya seraya mengulurkan tangannya. Zanna terlihat begitu malu. Akhirnya ia mau di ajak Agra. Mereka melangkah ikut ke tengah-tengah lantai dansa itu. Agra terlihat canggung juga. Zanna memandanginya, dengan malu-malu Agra mulai menggenggam tangannya lalu memeluk pinggangnya. Zanna seakan paham. Ia juga merangkul leher Agra lembut. Kini mereka mulai berdansa santai. Agra juga membalas memandanginya seakan deg-degan. Zanna juga terlihat bahagia, ia tersenyum memandangi Agra. Agra merasa hilang canggungnya sedikit karena senyuman dari Zanna yang manis. Agra lalu melebarkan tangannya dan Zanna berputar dengan indahnya. Zanna lalu terdekap sempurna di d**a bidang Agra. Agra tersenyum menampakkan giginya tanda merasa Zanna sangat hebat berdansa. Zanna tertawa karenanya. Mereka pun semakin berdansa dengan indahnya. Agra sungguh tak menyangka Zanna adalah penari yang handal. Kini mereka semakin romantis saja, Zanna melenturkan badannya dengan terus kayang ke belakang di tahan Agra lalu kembali berdansa. Kini mereka terlihat semakin dekat saja sekarang dan karena itu juga Zanna semakin jatuh hati padanya tanpa Agra sadari. Mereka lalu tertawa bersama merasa puas dengan gerakan dansa mereka yang begitu sempurna. Setelah selesai berdansa. Mereka berjalan di jembatan indah yang tak jauh dari sana. Mereka memandangi lautan yang membiru karena cahaya malam serta lampu-lampu kuning yang merayap menghiasi seluruh jembatan putih yang indah itu. Zanna merasa sangat bahagia sekarang. Ia merasa baru kali ini begitu senang dan nyaman. Ia juga memandangi lautan yang luas biru indah itu dengan senyuman yang tenang. Agra lalu mendekatinya. "Gimana? Apa kamu betah tinggal di alam aku?" tanya Agra tersenyum mencandainya. Zanna tertawa mendengarnya. "Iya, betah bangett. Aku malah baruu aja merasakan sebahagia ini selama aku hidup ber abad-abad ehhee!" jawab Zanna. Agra langsung melotot saat mendengar itu. "Kamu? Kamu benar-benar udah lama?" tanya Agra terbata sangat tidak percaya. Zanna meliriknya. "Iya, aku dulu emang pernah juga ke alam manusia tapi. Aku tidak menemukan manusia sebaik kamu, aku cuman menyamar dan sekarang lagi aku bisa kembali ke sini dan bertemu sama kamu," jawab Zanna. Agra semakin tertarik mendengar kisahnya. "Aku sadar, sebenarnya manusia itu mempunyai umur yang begitu pendek. Mereka juga tua begitu cepat. Tapi, menurut aku itu jauh sangat menarik. Daripada seperti aku yang sangat lambat berubah," ucapnya merasa bosan pada dirinya sendiri seraya menopang dagunya di kayu jembatan bercat putih itu. Agra hanya mengerutkan alisnya merasa lucu dengan hal itu. "Kamu benar-benar menakjubkan," puji Agra. Zanna menengok ke arahnya. "Kalau manusia, kamu itu awet muda. Hmm, bagiku juga umur kamu seumur aku aja malah lebih muda dari aku hee," jawab Agra tertawa padanya. Zanna tersenyum. "Emang berapa umur kamu?" tanya Zanna polos. "Haha, aku yakin bagi kamu umur aku ini cuman seujung kukumu saja," jawab Agra sangat tertawa. Zanna hanya mengerutkan alisnya tersenyum. "Aku 28 tahun. Bagi manusia, itu adalah umur yang sudah sangat dewasa," kata Agra mengangkat sebelah alisnya seraya mengindikkan bahu. Zanna tertawa mendengarnya. "Haha, kita emang jauh berbeda ya," jawab Zanna. Agra tersenyum padanya. "Meski manusia cepat menua, aku sangat tertarik hidup di dunianya," ucap Zanna tersenyum pada Agra. "Maka dari itu, aku terus berusaha pergi menjauh dari tempat tinggalku yang begitu membosankan itu. Dan karena kelakuanku yang begitu nekat menerobos batas alam kita itu. Aku selalu di temui dan di lukai hewan buas, mulai dari Elang, Macan, Beruang dan lain-lain. Bahkan, aku juga pernah bertarung dengan sesama ular sepertiku. Tapi, dia adalah ular Piton," ucap Zanna bercerita terus terang pada Agra. Agra mengangkat kedua alisnya lalu mendekatinya untuk terus mendengarkan cerita menarik darinya. "Wow, terus apakah kamu menang?" tanya Agra begitu penasaran dan tegang. Zanna menyeringai mengingat semua itu. "Ya, meski aku sempat sekarat. Lilitan dari tubuh besarnya begitu kuat, hingga aku kehabisan nafas. Namun, saat itu ada batu permata yang tak sengaja aku bawa dari Guru kami. Batu itulah yang membantu memulihkan kekuatanku kembali dan... Akhirnya dia mati aku serang dengan bisaku," jawab Zanna. Agra sangat merinding mendengarnya. Dia juga terlihat sangat tertarik. Dia malah bertepuk tangan dengan polosnya meski dia merasa takut kembali pada Zanna. Zanna terkekeh. "Woww, Woow! Aku benar-benar takjub mendengar hal itu sekaligus takut sama kamu," jawab Agra seraya terus bertepuk tangan ternganga. "Haha, bukannya kalian lebih hebat dari kami?" tanya Zanna. Agra langsung menggeleng. "Tidak! Justru aku yang takut dengan kamu!" seru Agra mengerutkan alisnya. Zanna tertawa lalu membuang pandangannya ke lautan luas itu. "Haha, asal kau tau. Menjadi ular itu sangat membosankan," ucap Zanna. "Sekarang, kau tidak perlu merasa bosan lagi karenaa, aku akan selalu menemani kamu," jawab Agra. Zanna semakin merasa kenyamanan pada dirinya. Agra tersenyum. Zanna memandanginya dengan tatapan yang dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD