Episode 11

2026 Words
Wuri masih terlihat terbaring lemah. Namun, sepertinya ia sekarang terlihat lebih membaik. Ia lalu menggeliat terbangun dari tidurnya. Wanita paruh baya itu tersadar dan tersenyum melihatnya yang menggeliat baru bangun. Wuri adalah peri yang paling cantik di alamnya, bertubuh langsing tinggi yang hampir sama dengan Agra berambut panjang sedikit bergelombang, berkulit putih sedang mulus, bermata besar dan berbulu mata lentik, pipi yang tirus, bibir yang tipis, berhidung mancung dan mempunyai dagu sedikit berbelah maka tak salah ia di jadikan seorang ratu di sana, ia juga sangat hebat, ia mempunyai sayap paling besar berwarna putih keemasan di antara peri lainnya. Namun, karena ia sekarang sedang sakit sayapnya terluka parah dan tak bisa ia bentangkan. Wujud aslinya memakai pakaian berwarna kuning keemasan seperti Zanna namun kepalanya memiliki mahkota karena ia memang seorang ratu di alamnya, jubah di belakangnya sangat panjang yang akan menjadi sayapnya jika ia ingin terbang. Itu lah perbedaannya yang tidak ada di tubuh peri lainnya. Ia terjatuh ke bumi karena saat sedang bertarung dengan musuhnya begitu hebat di alamnya sampai-sampai ia terpenta jauh ke bumi. Wuri terlihat mulai membuka matanya. Ia langsung terkekeh saat merasakan tubuhnya yang begitu lengket karena terus di baluri ramuan untuk mengobati luka-luka yang ada di tubuhnya. Wuri tersadar sekarang bahwa ia benar-benar di rawat oleh seorang makhluk dari dunia ini yang bernama manusia itu. Wuri terlihat memutar kedua bola matanya masih panik. "Uhuk! Uhuk!" Ia terbatuk sampai terpejam lalu membuka matanya mengerutkan alisnya terlihat sakit. Wanita paruh baya yang bernama Bi Iyem itupun menghampirinya. "Ughhm,", ia sedikit menjerit. Terdengar lembut dan begitu feminim suaranya itu meski terdengar sedikit parau. "Kamu udah bisa bangun? Hmm," ucap Bi Iyem merasa senang seraya menatapnya tersenyum lembut. Wuri lalu menatap wanita paruh baya yang baik hati itu terdiam mengerutkan kedua alisnya. Ia seakan baru pertama kali melihat orang. Bi Iyem menyadari hal itu dan mengangkat kedua alisnya menatap Wuri maklum. Wuri menghela nafasnya lalu memegangi dahinya. Ia memang dari awal tak pernah bicara entah kenapa. Sampai Bi Iyem juga penasaran dengan suaranya. "Kamu udah bisa bicara? Hm? Ayoo bilang aja gak papa. Ntar Bibi bantu kok," bujuk Bi Iyem berusaha agar ia merasa tak panik karena kondisinya yang masih terlihat lemah belum sembuh total. Namun, Wuri hanya menatapnya seakan kebingungan. Wuri lalu mencoba untuk membangunkan dirinya. "Eh eh! Pelan-pelan ya Nak, sini Bibi bantu emm," tampik Bi Iyem seraya memegangi bahunya lembut agar ia tak sempoyongan. Wuri terlihat membiarkannya saja. Ia lalu melirik ke bawah memutar bola matanya. Rambut lurus bergelombang di bawahnya itu sungguh indah di pandang mata meski ia masih terlihat cemong bekas di olesi ramuan berwarna hijau tua pekat itu setiap hari oleh Bi Iyem. Namun, itu seakan tak memudarkan kecantikannya. Bi Iyem juga sampai melongo sebentar melihat dirinya yang begitu cantik. Wuri sekarang pasrah. Ia terlihat sudah tak panik lagi dan menghela nafasnya memejamkan matanya. Ia lalu pelan-pelan melirik Bi Iyem sedih yang masih setia di depannya tersenyum menopang bahunya dan melepaskannya pelan-pelan karena ia terlihat sudah duduk sempurna. Bi Iyem tersenyum padanya dan mulai membujuk lembut menanyakan tentang dirinya. "Hmm, kamu makan dulu ya?" bujuk Bi Iyem seraya menyodorkan nasi jagung yang begitu sederhana itu. Wuri hanya bingung menatapnya termenung. Saat Bi Iyem mulai menyuapinya ia malah memalingkan wajahnya tanda menolak. Bi Iyem terheran. Ia baru pertama kali juga melihat makanan itu karena memang di alamnya tidak ada makanan seperti itu. Ia terlihat kebingungan dan merasa heran mengerutkan alisnya menatapi nasi jagung itu. Bi Iyem tersenyum padanya dan hanya memakluminya. Wuri sepertinya memang makhluk yang jarang bicara, ia termasuk peri yang pemalu. "Kamu gak pernah ya makan makanan seperti ini sebelumnya?" taya Bi Iyem merasa lucu. Wuri hanya meliriknya mengerutkan alisnya sedih. Ia akhirnya mau merespon Bi Iyem. Ia terlihat menggelengkan kepalanya kecil tanda benar. Bi Iyem terlihat menyukainya yang sudah mau merespon serta ternyata memgerti saja apa yang di bicarakan Bi Iyem. Saat Bi Iyem asik ingin membujuknya lagi untuk mau makan. Bi Iyem terkekeh dengan tanda yang ada di pergelangan tangannya yang seakan berbentuk gelang mengelilingi pergelangan tangannya. Terlihat tanda itu berwarna hijau tua yang bertuliskan tulisan entah bahasa apa sangat indah menghiasi pergelangan tangan kirinya dan di hiasi gambar 3 bintang-bintang kecil menjalar ke bawah membuat Bi Iyem berpikir bahwa itu hanya tatto. Tanda itu memang tanda kalau ia adalah seorang peri juga tanda memang di takdirkan menjadi Ratu peri di alamnya tanpa Bi Iyem tahu. "Ya udah, gak papa. Kamu makan ini aja biar lekas sembuh ya?" bujuk Bi Iyem lagi ingin menyuapinya dengan tulus. Wuri terlihat terdiam dengan tatapan sendu memandanginya. Sepertinya ia sekarang merasa tak tega ingin menolak kebaikan Bi Iyem padanya. Akhirnya setelah terdiam beberapa saat ia mau membuka mulutnya dan menyuap makanan itu, ia menguyahnya meski terlihat seakan merasa aneh membelalakkan matanya mengerutkan alisnya tanda baru merasakan itu. Bi Iyem sangat senang melihatnya mau makan. Tanpa di sadari, Wuri telah menghabiskan sepiring nasi jagung itu. Betapa tak meyangkanya Bi Iyem melihatnya. "Baguss syukurlaah kamu bisa habis makannya hmhm! Pasti bentar lagi kamu akan sembuh Nak!" seru Bi Iyem begitu bangga padanya seraya tersenyum menatapnya mengusap lembut bahu kirinya. Wuri yang terus melihat senyuman yang terlihat berenergi baik itu menatapnya juga membuatnya sekarang merasa tenang. Ia terlihat mulai ikut tersenyum memandangi Bi Iyem. Bi Iyem terkekeh saat sekarang Wuri terlihat mulai tersenyum tipis padanya. Begitu cantik wajahnya dan manis saat senyuman tipis itu terukir indah di kedua bibir tipisnya. Ia lalu menunduk seperti malu. Bi Iyem sempat terdiam melihat kecantikannya itu. Bi Iyem semakin mengira bahwa Wuri bukan manusia biasa. Bi Iyem lalu menyodorkannya air minum dan Wuri mau juga meminumnya. Bi Iyem terus menatapinya dengan senyuman sedikit penasaran. "Bibi akui ya Nak, kamu itu punya wajah cantiik banget. Bibi benar-benar tidak menyangka dan sangat bersyukur kamu bisa tersadar lagi sekarang, hehhee," puji Bi Iyem sangat melongo melihat wajahnya itu dan merasa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil mengobati Wuri sampai kembali pulih seperti ini. Wuri yang mendengar itu seakan sedikit terkejut mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap Bi Iyem dengan tatapan kosong. "Ahhaha, mungkin kamu masih merasa bingung karena baru siuman. Ya sudah, kamu mau istirahat lagi? Atau mau keluar? Biar Bibi bantu Nak," ajak Bi Iyem seraya menengok ke luar menatapnya tersenyum. Wuri terkekeh saat melihat keluar pintu yang terlihat begitu terang karena cerahnya matahari. Ia sempat melongo dan seakan terpana dengan sinar matahari yang menerangi bumi itu. Bi Iyem tersenyum lebar merasa lucu pada Wuri. Wuri terlihat tersenyum tipis memandangi keluar. "Kamu mau keluar?" tanya Bi Iyem. Wuri menatapinya terdiam. Bi Iyem hanya menunggu ia mengangguk. Wuri kembali menatap keluar pintu itu seraya tersenyum tipis. Ia lalu menatapi Bi Iyem dan mengangguk kecil seakan memang ingin keluar. Akhirnya Bi Iyem mencoba membantunya untuk berdiri. Ia erat memegangi kedua tangan Wuri untuk membantunya berdiri. Wuri terlihat sempat kehilangan keseimbangan karena baru pertama kalinya ia bisa berdiri kembali setelah tak sadarkan diri berhari-hari. Kini ia sudah berhasil bisa berdiri. Ia tersenyum lebar. Gigi putih rapinya kini sudah terlihat. Betapa manisnya senyuman lebar itu. Lesung pipi kirinya kini juga terlihat. Ia terlihat bahagia sekarang dan tidak merasa resah lagi. Bi Iyem terus membimbingnya untuk berjalan keluar dengan pelan-pelan. Wuri memang bertubuh tinggi juga langsing. Ia memang terlihat seperti model yang begitu sempurna di mata manusia. Akhirnya ia sudah sampai di depan pintu. Betapa bahagianya ia merasakan itu. Bi Iyem juga terlihat bahagia melihatnya. Wuri lalu menghirup aroma luar rumah itu begitu tenang sampai ia memejamkan matanya begitu menghayati seraya terus terukir senyuman yang menyatakan bahwa dirinya sekarang begitu tenang. Bi Iyem menatapnya sangat lucu tertawa kecil. Ia lalu membuka matanya perlahan memandangi pemandangan yang menghijau sangat indah itu. Ia terus menikmati pemandangan kebun teh yang begitu luas itu di depannya juga kebun-kebun sayur dan buah yang berdekatan. Begitu tenangnya pemandangan desa di lembah pegunungan itu. "Gimana perasaan kamu sekarang? Lebih tenang?" tanya Bi Iyem sangat bahagia memandanginya. Wuri hanya mengangguk kecil seraya terus memandangi pemandangan itu. Namun, ia terkekeh saat melihat ada bunga Kenikir-kenikiran yang tertanam di halaman Bi Iyem. Ia langsung membelalakkan matanya terdiam melihat itu. Karena ia kaget tanaman itu seperti persis seperti yang ada di alamnya, alam peri. Ia terlihat mengerutkan alisnya, karena bunga itu terlihat begitu kecil di sini. Bi Iyem merasa heran dengannya yang tiba-tiba mengerutkan alisnya. "Bunga?" tanyanya heran mengangkat alisnya sebelah. Itulah perkataan yang pertama kali di dengar Bu Iyem dari mulutnya. Bi Iyem ternganga saat mendengarnya. Bi Iyem langsung menengok ke arah bunga yang di bilang Wuri. "Ohhh, hehe iya Nak. Itu bunga yang Bibi tanem di depan halaman Bibi. Kenapa? Kamu mau?" ucap Bi Iyem menawarkannya. Wuri mengangkat kedua alisnya lalu melirik Bi Iyem. Ia terlihat bingung sekarang lalu menggeleng. Bi Iyem heran mengangkat alisnya. Akhirnya Bi Iyem hanya diam terheran tak jadi memetikkan bunga untuknya. Wuri terlihat masih bingung dan heran kembali memandangi bunga itu. Bi Iyem semakin penasaran karenanya. "Memang kenapa dengan bunganya Nak?" tanya Bi Iyem merasa heran dengan dirinya. "Kenapa bunganya begitu kecil? Aku sedang di mana sekarang?" gumamnya dalam hati bingung pada dirinya sendiri. "Nak?" panggil Bi Iyem membuyarkan lamunannya. Ia pun langsung menggeleng cepat menutup matanya lalu menatapi Bi Iyem bingung. Bi Iyem hanya menatapnya seakan tahu Wuri ingin berkata sesuatu padanya. Wuri terlihat masih malu-malu dan ragu untuk mempertanyakan hal itu. Ia memang makhluk yang begitu pemalu. Wuri menundukkan pandangan mengerutkan alisnya tipis mencoba mengumpulkan niatnya untuk bicara. Bi Iyem sepertinya merasa akan hal itu. "Katakan, apa yang ingin kamu bilang," kata Bi Iyem tersenyum lembut meyakinkannya. Wuri menatapnya masih malu. Ia membuang nafasnya seakan gelisah. "Aku... Aku di mana?" tanyanya lirih sempat terdiam sebentar menatap Bi Iyem seakan begitu merasa malu pada dirinya sendiri. Bi Iyem yang mendengar perkataannya kembali itu merasa sangat senang. Bi Iyem tak bisa menutupi tawanya. "Kamu sekarang ada di Desa Pariangan di lembah pegunungan. Kamu saya temukan kemarin sudah tak sadarkan diri di dalam hutan, dan saya bawa ke rumah ini," jawab Bi Iyem memberitahunya sekarang. Betapa terkejutnya ia mendengar itu. "Desa?" tanya Wuri masih bingung tak mengerti mengerutkan alisnya. "Iya Nak, entah kenapa kamu kemarin terluka sangat parah sudah tak sadarkan diri. Jadi saya bawa kamu dengan gerobak kebun saya sampai di rumah saya ini," jawab Bi Iyem juga merasa sedih mengingat itu. Wuri langsung membelalakkan mata membuang pandangannya sungguh tak percaya. Ia lalu kembali ingin mengingat sebelum ia tak sadarkan diri. Ingatannya masih rada-rada lupa. Namun, ia bisa mengingat saat bertarung dengan musuhnya yang bernama Adrienne peri. Adrienne peri adalah peri berwajah sangat judes dan pemarah meski terlihat agak cantik juga. Ia jug bergaun merah tua yang sangat mengerikan. Ia mengingat sedikit saat ia mengambil sebua bola putih yang bercahaya dan menyihirnya menghilang ia simpan di dalam sayapnya, kondisinya juga sudah terlihat sekarat dan penuh luka dan langsung terkena serangan merah Adrienne begitu keras dan meledak hingga ia terpental dan itu membuat kepalanya sakit. Ia langsung memegangi kepalanya kuat menutup matanya kuat karena tak tahan sakit berusaha mengingatnya sampai ia kehilangan keseimbangannya lagi. "Ugh!" jeritnya seraya mencengkram kepalanya kuat. Bi Iyem langsung menangkapnya cepat panik. "Ya ampun! Kamu kenapa Nak? Ya udah ayo kembali lagi ke kasur, sini Bibi bantuu," teriak Bi Iyem panik khawatir dan membawanya pelan menuju kasur tipis itu lagi. Akhirnya karena terus berusaha mengingat semua itu ia kembali tak sadarkan diri. Bi Iyem langsung panik dan berusaha mengobatinya kembali. Tak sadarkan diri itu akhirnya ia mengingat semua kejadian yang melemparnya jauh ke bumi. Jauh dari bumi dan keluar dari Galaksi Bimasakti. Ada sebuah planet yang begitu bercahaya sangat putih bersinar dan itu adalah alamnya Wuri. Ya, alam bagi semua peri. Alam itu begitu indah dan tenang. Banyak bunga-bunga begitu besar warna-warni menghiasi alam itu. Seluruh tanah di sana pun berwarna hijau sangat indah. Ada sebuah tangga yang begitu panjang mengalihkan perhatian di sana. Ya, tangga itulah yang menujukan tempat singgasananya Wuri. Tangga yang begitu panjang menuju atas langit itu adalah tangga istananya Wuri. Di bawah tangga terlihat ada seorang peri bergaun pink tua dan biru terlihat ingin menaiki tangga itu. Namun, ada seorang Kurcaci berbadan kerdil berpakaian serba merah itu menghalangi mereka di tangga itu turun menghadapinya. "Ya para peri yang berhati menarik. Apakah ada yang bisa saya sampaikan pada Ratu peri?" tanya Kurcaci itu bertingkah lucu. Sepertinya para Kurcaci itu adalah para penjaga Wuri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD