Episode 4

2026 Words
Dokter yang baru saja memasuki ruangan itu langsung terkaget melihat wanita itu panik. Dokter mencoba langsung menenangkannya. Wanita itu terlihat ketakutan saat di kelilingi Dokter juga Suster. Matanya sampai berubah menjadi mata ular berwarna kuning dengan pupil garis yang mengerikan. Dokter terus mencoba menenangkannya seraya tersenyum agar ia rileks dan memeriksa kondisinya. Wanita itu kini terlihat sedikit mengerti bahwa orang-orang itu tidak berniat jahat padanya. Akhirnya matanya kembali seperti manusia dan syukurlah ia tak jadi marah. Dokter itu seakan merasakan ada hawa yang aneh tetapi dia coba singkirkan dan terus memeriksa wanita itu. "Baik, syukur sekali. Selamat Nona, kondisi kamu sekarang semakin membaik. Kalau hari ini kamu istirahat total. Maka besok kamu sudah bisa pulang," ucap Dokter tersenyum senang padanya. Ia hanya diam tak merespon apapun. Suster lalu membantunya untuk minum obat dan melepas alat oksigennya pelan. Suster itu tersenyum padanya seraya menaruh obat dan air itu ke meja. "Mari Mba," ucapnya tersenyum ramah. Wanita itu hanya menatap Suster heran seakan bingung. Suster melepaskan alat oksigennya. Sekarang begitu jelas wajah cantik itu terlihat. Bahkan sampai Suster itu pun tercengang padanya seketika. Suster itu melongo seakan juga terkagum pada kecantikannya padahal ia juga seorang perempuan. Suster itu langsung tersenyum membuyarkan lamunannya sendiri agar bisa memberikan obat pada pasiennya. Suster itu membantunya untuk bangun dan bersender. Ia mau saja duduk. Suster itu lalu menyuapinya obat dan ia mau meminum air itu di gelas. Sepertinya tingkahnya juga mirip saja dengan manusia dan tahu tata cara seperti orang biasanya. "Baik sudah Mba, saya akan data diri Mba dulu ya. Apa Mba sudah bisa bicara?" tanya Suster itu ramah seraya mengambil papan ujian itu siap menulis data diri pasien itu. Wanita itu hanya mengerutkan alisnya. Entah ia paham atau tidak apa yang di katakan Suster itu. "Maaf Mba, apa Mba masih belum bisa bicara karena masih sakit? Saya mau data diri Mba dulu biar keluarga Mba bisa dengan mudah mencari kasur rawat Mba," beritau Suster itu tersenyum sekali lagi. Sepertinya ia paham saja lalu mengerutkan kedua alisnya. "Data?" tanyanya dengan suara yang halus. Ia sepertinya masih tak paham apa itu data diri. Suster akhirnya tertawa merasa senang sekaligus lucu pada dirinya. "Iyaa, data diri Mba. Nama Mba, juga umur Mba," jawab Suster itu seraya menulis di kertas itu Wanita itu terlihat berpikir keras mengingat dan memahami semua yang di katakan Suster itu. "Kalau boleh tau nama Mba yang cantik ini siapa?" tanya Suster itu begitu ramah. Ia hanya mengangkat kedua alisnya. "Nama?" tanyanya seperti orang linglung saja. Suster itu mengangguk. "Iya, nama Mba, nama panggilan aja juga gak papa," jawab Suster itu. Wanita itu seakan berusaha mengingat sesuatu. Ia lalu teringat pada mendiang Ibunya zaman dulu. "Zanna, ingat. Nama kamu Zanna. Semua orang tau. Zanna adalah anak dari ratu. Ratu dari semua Cobra di alam ini," ucap mendiang Ibunya yang juga berparas begitu cantik persis seperti dirinya dengan tampilan yang juga sama seperti ia hanya saja Ibunya berbaju merah dengan lebih banyak perhiasan berwarna kuning emas itu menghiasi seluruh tubuh Ibunya itu. Ia akhirnya mengerti dan ingat dengan namanya sendiri. "Zanna, namaa aku Zanna," jawabnya terlihat polos. Suster itu mengerutkan alisnya. "Zanna?" tanya suster itu meyakinkan seraya tersenyum lucu. Zanna hanya tersenyum pada Suter itu. Suster itu tertawa melihat sikapnya yang terlihat bingung dan polos. "Oke Mba Zanna, nama yang cantik kayak orangnya hm. Umur Mba?" jawab Suster itu tersenyum memujinya seraya menulis namanya di kertas itu. Zanna yang terlihat tersenyum lalu langsung merasa bingung lagi saat di tanya umur. Ia terlihat berpikir bingung. Ia menatap Suster itu, Suster itu hanya tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya siap mendengarkan Zanna memberitahunya. "Emm 1000 tahun," jawabnya. Suster itu langsung ternganga mendengar itu. Zanna hanya diam polos menatapi Suster itu. "Ehhehehee! Mba bisa bercanda ya? Umur Mba," kata Suster. Suster memang tak percaya dan menganggap Zanna hanya bercanda karena Suster itu tak tahu siapa Zanna sebenarnya. Zanna hanya mengerutkan alisnya. Ia lalu teringat sesuatu lagi dalam pikirannya. "Zanna, di dunia ini ada satu makhluk yang berbahaya untuk kita. Dia memiliki pikiran yang begitu licik, suka mencelakai, bahkan membunuh. Dia selalu menuduh kita adalah makhluk yang berbahaya. Meski umur mereka itu sangat pendek. Dia bernama manusia..." Kata-kata dari mendiang Ibunya itu selalu ia ingat. Kini Zanna tersadar bahwa ia sekarang ada di dunia manusia dan orang yang ada di hadapannya ini adalah manusia. Zanna membelalakkan matanya seakan tak percaya. "Ka-kamu manusia?" tanya Zanna mengerutkan alisnya. Suster itu semakin bengong dan mengerutkan alisnya terheran pada Zanna. "Hmm maksud Mba?" tanya Suster itu merasa lucu dan hanya menganggap Zanna hanya bercanda dengannya. "Iya saya manusia, sama seperti Mba. Hehee," jawab Suster itu tertawa lucu padanya. Zanna hanya diam mengerutkan alisnya terus menatap Suster itu. Namun, saat Suster itu ingin bertanya lagi umurnya. Agra datang menemuinya. Kini Agra melongo di depan pintu melihat wanita itu sudah tersadar dan terlihat sehat sekarang bersama Suster. Zanna juga kini melihat laki-laki tampan putih bertubuh tinggi bahu lebar itu. Agra melongo melihat wanita itu, dia seakan ternganga melihat kecantikan Zanna. "Eh maaf apa Mas suaminya Mba ini?" tanya Suster itu. Agra langsung terbuyar dari lamunannya. Zanna hanya heran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Agra lalu melangkah mendekati mereka. "Em enggak Sus, saya... Cuman orang yang nolong dia kemaren," jawab Agra. Zanna mengerutkan alisnya menatap Agra heran. Suster hanya mengangguk tersenyum malu-malu. "Baiklah, kalau begitu saya permisi aja. Mari Mba Zanna," izin Suster itu membungkuk sopan lalu menempelkan kertas itu ke ranjang kasur Zanna. Agra menengok ke namanya. Agra ternganga saat membaca Zanna. Dia lalu kembali duduk dan menatap Zanna. Dia melotot. "Jadi... Nama kamu Zanna?" tanya Agra heran. Zanna terdiam dan menatap tajam ke arahnya. "Ohh, ya sukurlah kalau kamu udah siuman. Aku Candra, kemarin aku yang bawa kamu ke sini. Aku gak niat jahat kok, aku cuman nolong kamu doang," ucap Agra memperkenalkan dirinya juga memberitahukannya agar ia tak takut pada Agra. Agra mengulurkan tangannya. Zanna terdiam dan melirik tangan Agra itu bingung. Agra hanya menunduk lalu melirik ke Zanna berharap agar Zanna mau membalas jabatannya. Zanna mengerutkan alisnya, ia lalu melirik ke arah Agra. Agra mengangkat alisnya sebelah. Zanna lalu mulai mengangkat tangannya dan membalas jabatan Agra. Agra tersenyum padanya. Zanna terlihat masih bingung menatap Agra hanya dengan tatapan kosong. Zanna lalu menundukkan pandangannya. Agra lalu melepaskan jabatannya sembari tersenyum. Kini dia terlihat kikuk. "Kamu juga manusia?" tanya Zanna yang tiba-tiba, membuat Agra melongo. "Yaa menurut kamu. Iya aku manusia kok," jawab Agra. Zanna langsung membelelakkan matanya. Ia terlihat langsung mengundurkan dirinya menjauh dari Agra. Agra menjadi semakin bingung di buatnya. "Hey hey! Jangan takut, aku manusia juga kok! Bukan siluman," ucap Agra juga panik melototinya melihatnya seperti itu. "Kamu, di mana kamu menemukanku!" geram Zanna seakan tak percaya dengannya. Agra ternganga melihatnya seperti itu. Agra lalu mencoba santai saja. "Yaa aku nemuin kamu kemaren. Waktu aku sama temen-temen aku gak sengaja ke hutan sebelah taman puncak Palapa, aku melihat kamu pingsan dan terluka parah di sana. Jadi, aku bawa kamu ke rumah sakit ini untuk di obati," jelas Agra menjelaskannya. Zanna membelalakkan matanyas seakan tak percaya dengan hal itu. Ia kini mengerutkan alisnya dan menundukkan pandangannya mencoba mengingat saat ia memang di terkam Elang saat itu. Agra meliriknya melongo terus menatapinya dari atas sampai bawah. "Oke, aku minta maaf. Aku benar-benar gak ada niat jahat sama sekali sama kamu. Aku cuman mau bantu," ucap Agra mengangkat kedua tangannya konyol mencoba meyakinkan Zanna. Zanna menatapinya dan ia sudah mengingat semuanya memang benar ia tak sadarkan diri dan tak bisa mengingat apa-apa lagi saat seusai di jatuhkan Elang itu. Zanna lalu meliriknya. Siluman itu seakan terpana dengan kebaikan hati laki-laki tampan itu padanya. "Oke, sekarang. Kamu beritahu aja. Di mana keluarga kamu, biar aku kabarin nanti sama mereka kalau kamu sekarang sedang di rawat di sini," kata Agra. Zanna kini terdiam. Ia masih merasa ragu pada Agra karena ia teringat dengan perkataan Ibunya itu. "Oke, kalau kamu gak mau bicara sekarang. Selamat beristirahat," ucap Agra tak memaksanya. Agra lalu menjauh dan keluar dari tempat itu. Agra berhenti di depan pintu itu sebelum keluar. Dia berbalik lagi menengok wanita itu. Zanna terlihat masih seperti tadi dan melirik tajam ke arah Agra. Agra lalu memakluminya dan keluar. Zanna masih terdiam berpikir dan terlihat ketakutan sendiri. . Keesokan harinya, Zanna terlihat semakin sembuh. Kini ia sudah sembuh total. Ia bisa berdiri. Agra lalu kembali menjenguknya. Agra sengaja membelikannya baju untuk ia pulang. Ia mau menuruti perintah Suster yang menyuruhnya untuk mandi juga ganti baju sebelum pulang. Agra mengurus administrasinya. Saat Zanna sudah keluar dari ruang inap. Ia langsung pergi tanpa memerdulikan Agra. Karena ia takut kalau para manusia akan mengetahui dirinya sebenarnya. Ia buru-buru mencoba pergi dari sana. Namun, Agra yang memang mencoba terus mengawasi wanita itu agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya di luar sana langsung mencoba mengejarnya lagi. Zanna terlihat sudah berhasil menemukan yang ia rasa aman untuk mengubah wujudnya. Ia lalu mulai jongkok seraya memejamkan matanya dengan kedua tangan dilipat di pahanya. Namun, saat ia ingin mengubah wujudnya menjadi ular. Agra menghampirinya. Betapa terbelalaknya matanya saat itu. "Hey!" teriak Agra menghampirinya. Agra terlihat ngos-ngosan. Zanna langsung berdiri berbalik ke arahnya dengan was-was. "Kamu mau apa lagi!" teriak Zanna. Ia terlihat memang panik dan mencoba membela dirinya. "Hey, tenang! Aku benar-benar gak ada niat jahat sama sekali sama kamu. Aku cuman mau ngantar kamu ke keluarga kamu lagi ok?" sahut Agra mencoba menenangkannya. Zanna kini terdiam. Ia lalu berbalik membelakangi Agra. Agra mengerutkan alisnya. "Sebaiknya kamu pergi saja sekarang," ucap Zanna. Agra terdiam mendengar itu. Zanna melirik ke arahnya. Zanna terlihat sedikit iba pada Agra. Ia terlihat menarik nafasnya dan membuangnya cepat seraya menundukkan pandangannya. "Terimakasih," ucap Zanna. Agra langsung ternganga mendengar hal itu. Zanna lalu berbalik kembali dan malah melangkah pergi. Agra yang tersadar akan hal itu seakan tak terima di tinggal begitu saja. Dia langsung menyusul wanita itu. Karena dia juga khawatir kalau ada orang berniat jahat padanya. Zanna terus berjalan cepat. Ia terlihat panik sendiri saat ada motor lewat nyaris menyerempetnya. Ia semakin ketakutan gemetaran melihat tempat yang penuh keramaian itu. Ia langsung berlari mencoba pergi dari tempat di penuhi manusia itu. Agra yang melihatnya khawatir seperti itu langsung mengejarnya terus mengikutinya dari belakang. Zanna terlihat semakin panik dan ketakutan. Kini ia terlihat sudah hilang kendali. Ia terus merasa cemas melirik sekitar dan kembali berlari untuk menjauh secepatnya dari tempat ramai manusia itu. Namun, saat ia berlari ia masih tak mengerti jalan raya. Ia malah berlari ke sana dan mobil yang lumayan cepat itu langsung mengklakson panjang. Zanna terbelalak melotot panik melihat itu. Ia akhirnya terdiam kaku ketakutan begitu syok dan langsung berteriak. "AAAAA!!!!" "GREP!!" Agra langsung menarik dan memeluknya begitu cepat sampai mereka tersungkur ke pinggir jalan. Semua orang di sana ikut terlihat tegang saat melihat semua itu karena nyaris Zanna di tabrak mobil yang melaju kencang. Kini Zanna tersungkur di pelukan Agra. Agra juga tak menyadari hal itu. Ia lalu mencoba melirik ke arah Zanna. Agra langsung terdiam. Zanna yang dari tadi tersungkur di d**a Agra kini mengibaskan rambutnya mencoba bangun melihat keadaan. Betapa terbelalaknya matanya saat ia melihat badannya menindih tubuh laki-laki itu. Agra terlihat hanya diam membiarkan wanita cantik itu terdekap di hadapannya. Agra terlihat terkesima dengan wajah wanita itu karena sangat dekat dengan dirinya. Tanpa sadar Agra terlihat tersenyum tipis memandanginya. Zanna langsung mendorongnya kuat dan bangun. "Uh!" jerit Agra kesakitan di dorong Zanna kuat. Zanna lalu bangun dan membetulkan tasnya berjalan cepat menjauh pergi dari Agra. Agra langsung bangkit dan mencoba mengejarnya lagi. "Zanna! Zanna! Kamu harus hati-hati tunggu aku aja woy! Zanna!" teriak Agra terus mencoba mengejarnya. Zanna seakan semakin gelisah karenanya apalagi sekarang ia melihat begitu banyak manusia ia temui. Zanna terus berjalan ke arah tempat yang lebih sunyi dan lapang dari manusia. Agra yang terus saja mengikutinya itu juga tak sadar. Zanna yang terlihat semakin panik itu terdiam menghentikan langkahnya memejamkan matanya. Agra yang masih mengejarnya itu langsung menghampirinya. Setelah Agra mendekatinya semburan api begitu besar langsung muncul membuat Agra langsung melompat kaget dan tersungkur keras ke tanah karena menghindari itu semua begitu kaget. Betapa syoknya Agra melihat itu. Dia masih gemetar dengan apa yang terjadi. Agra lalu menengok kanan kiri gelisah. Ia lalu menengok ke depan dan betapa melototnya dia saat melihat Zanna di hadapannya menatap tajam ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD