Episode 3

2020 Words
Agra bersama teman-temannya terlihat sangat menikmati liburan itu. Mereka begitu bahagia dan asyik. Namun, tiba-tiba Rendy mengajak Aldo untuk lebih ke pojok hutan itu entah kenapa. "Ehh Bro! Kita ke sana yok!" ajak Rendy menunjuk ke hutan itu. "Ya elah lu mau ngapain ke situ! Mau cari tringgiling?!" ketus Agra kesal. "Enggak, siapa tau di sana pemandangan puncaknya lebih estetik! Lebih indah! Kan lebih tinggi tu tu!" tunjuk Rendy. Agra dan Aldo hanya mengerutkan alisnya saling bertatapan heran. Akhirnya Aldo dan Agra mau menuruti ajakan teman mereka itu meski bagi mereka konyol. Mereka lalu berjalan ke arah hutan itu. Agra terlihat sedikit merinding melihat suasana hutan yang lumayan rindang itu. Saat mereka sedang berjalan tiba-tiba suara seekor burung nyaring berkicau membuat Agra kaget dan melompat mendengarnya. Aldo dan Rendy tertawa melihat tingkah konyol teman mereka itu. "Ya elah lu bro gak gentemen amat suara burung doang lo takut! Ahaha!" ledek Aldo menepuk bahunya tertawa. Agra menatapnya kesal lalu langsung bergaya sok cool lagi seraya mengibaskan tangannya ke bajunya terus menatap Aldo dan Rendy kesal. Mereka lalu kembali terus berjalan ke arah lebih dalam ke hutan itu. Rendy dan Aldo yang terlihat sangat menikmati pemandangan itu terus berbicara di depan berdua. Karena ganjil Agra mengalah untuk di belakang mereka saja dan mengikuti mereka saja. Agra juga terus melirik ke kanan kiri dengan raut wajah yang agak takut. Tanpa sadar dia tersandung akar sebuah pohon dan tersungkur tanpa Rendy dan Aldo sadar. Akhirnya Agra tertinggal jauh. Entah mengapa Aldo dan Rendy malah terlihat begitu asyik mengobrol sampai tak sadar Agra terjatuh dan tertinggal. Agra yang awalnya mengira bisa bangun kembali kini langsung panik saat akar itu ternyata lumayan rumit untuk di lepaskan. "Aduh ya elah ni akar napa sih susah amat ah!" rengek Agra kesal seraya terus berusaha melepaskan akar itu. Dia terus menarik akar itu sekuat tenaga agar lepas dari kakinya sampai dia terdorong sendiri kuat meski akar itu sudah lepas dari kakinya. "Agh!" Agra menjerit dan terlentang ke tanah lumayan keras. Dia lalu bangun mengusap-usap belakang kepalanya yang sakit akibat terlentang ke tanah keras akibat menarik akar tadi. Namun, saat dia mencoba ingin berdiri lagi. Sesuatu yang jauh di belakangnya mengalihkan perhatiannya. Dia lalu terdiam dan menyipitkan matanya terkekeh melihat itu. "Hah? Apa itu?" tanyanya heran. Karena penasaran dia merasa ingin saja mendekati itu tapi seketika dia terhenti. "Ah! Ngapain gue deketin! Jangan-jangan bahaya lagi!" katanya ragu, tapi itu semakin membuatnya penasaran saja. Dia lalu mencoba diam-diam lebih mendekat dan melihat lebih jelas apa itu. Dia mengintip dan bersembunyi di balik pohon dan betapa terkejutnya dia ternyata yang dia lihat tadi adalah orang. "Apa! I-itu kek orang deh!" ucapnya panik. Aldo dan Rendy yang sekarang lumayan jauh itu kini tersadar bahwa sahabat mereka sudah hilang tak ada dengan mereka lagi. "Eh! Agra ke mana bro!" teriak Rendy panik. "Loh? Iya ya bukannya tadi dia di belakang kita?" tanya Aldo heran. "Wah parah tu orang, yuk kita balik siapa tau dia terlambat," ucap Rendy seraya melangkah kembali ke tempat tadi. "Oke," jawab Aldo mengikutinya. . Agra terlihat semakin takut. Namun, dia juga sepertinya penasaran. Akhirnya dia beranikan diri untuk terus mendekati wanita ular yang sudah pingsan tersungkur tak berdaya itu. Saat Agra sudah semakin dekat, dia terlihat begitu takut. Ragu-ragu dia mendekat lalu melompat lagi menjauhi wanita itu. Dia bergidik dan langsung bersembunyi lagi ke pohon. Tetapi dia rasa wanita itu tidak bergerak. "Loh? Dia kok gak bangun? Dia gak denger langkah gue? Atau jangan-jangan...." Dia membelalakkan matanya sendiri membayangkan hal mengerikan. "Apa jangan-jangan dia sudah mati!" ucapnya takut sendiri. "Tapi... Gue takut teriak ntar rame lagi orang pada ke sini. Duhh, apa gue periksa aja ya dulu? Ah takutnya jangan-jangan dia langsung bangun dan ngebahayain lagi hiii!" ucapnya bingung sendiri bergidik ketakutan. Dia terus menatap wanita yang masih tersungkur pingsan itu. Agra lalu mendongak ke wanita itu lebih memperhatikannya. Agra melihat luka goresan hang lumayan besar di belakang wanita itu. Terlihat baju kuning emasnya juga ada darah. Agra langsung mengerutkan alisnya. "Dia luka? Apa jangan-jangan dia habis di lukai hewan buas lagi?" tanya Agra. Melihat itu tanpa pikir panjang Agra langsung mendekatinya. Kini sepertinya rasa takut juga khawatirnya hilang melihat luka dari wanita itu. Agra sempat terdiam dan masih merasa ragu untuk menyentuh wanita itu, tapi Agra coba memberanikan dirinya. "Misi Mba, Mba kenapa?" tanya Agra ragu-ragu dan mulai menggoyangkan tubuhnya pelan. Namun, tak ada respon sama sekali dari wanita itu. Kini Agra tahu bahwa memang wanita itu sekarat atau pingsan. "Mba?! Mba?" tanya Agra lebih menggoyangkan tubuhnya agar wanita itu tersadar. Wanita itu masih tak sadarkan diri. Agra lalu mencoba membalikkan badannya untuk melihat wajahnya. Betapa tak menyangkanya Agra melihat wajah itu dengan mata terpejam tak sadarkan diri itu. Wanita itu ternyata berparas begitu cantik meski wajahnya sekarang kotor akibat debu dan tanah. Wanita itu memiliki ciri dengan wajah yang sangat cantik, tubuhnya ramping dan bermata besar yang masih terpejam tak sadarkan diri, bulu matanya juga lentik dan tebal, berkulit putih mulus, hidung mancung, serta mempunyai bibir yang sedikit seksi. Agra yang melihat itu sungguh tak menyangka dan ternganga sejenak. Dia lalu mencoba untuk melupakan itu dulu dan membantunya. "Mba? Apa Mba masih hidup?" tanya Agra yang sudah memangkunya. Agra mencoba menggoyangkan pipinya lagi dan wanita itu masih tak sadarkan diri. Agra panik. Dia mencoba mengecek nadi wanita itu dulu apakah masih hidup atau sudah mati. Agra semakin tak menyangka ternyata nadi wanita itu masih berdenyut. Agra langsung berteriak meminta tolong. "TOLONG!! REN! DO! KALIAN DI MANAA! TOLOONGGG!!!" teriak Agra lantang terus memangku wanita itu dengan wajah yang khawatir bercampur takut. . Rendy dan Aldo yang mendengar samar-samar suara Agra itu langsung berhenti mencoba memfokuskan dari mana asal suara itu. "Weh Bro! Itu suara Agra kan?" tanya Rendy menahan bahu Aldo. Aldo memperhatikan sekitar menengok ke atas. "Bener Bro! Asal suaranya kayaknya dari sana Bro! Ayo kita susul!" seru Aldo menunjuk. Rendy langsung mengangguk dan mereka berlari kecil mencoba menyusul Agra. . Agra terus memangku wanita itu dan menggetar-getarkan pipinya agar wanita itu tersadar. "Ya ampunn, dia benar-benar sekarat! Gua harus bawa dia ke rumah sakit sekarang! Ah ALDOO! RENN!!!" ucap Agra cemas lalu berteriak sekencang-kencangnya. Tak begitu lama Rendy dan Aldo akhirnya menemukan mereka. Agra sangat bersyukur dan begitu lega Rendy dan Aldo bisa menemukannya kembali. "Ya ampun Gra! Lo ke mana aja sih dari tadi!" gerutu Aldo yang ngos-ngosan menopang tangannya di kedua lututnya. "Iya! Ah syukur kami bisa nemuin lo lagi," sambung Rendy yang terlihat juga ngos-ngosan. "Iya gue tadi kesandung akar Ren, Do, gak tau juga ternyata akar tu kuat banget lilit kaki gue. Tapi udah! Itu lupain dulu. Bro tolong ya bantuin ni cewek gue tadi nemu dia di sini, belakangnya terluka lumayan parah, kayaknya dia habis di lukai hewan buas deh," jawab Agra menjelaskan. Rendy dan Aldo yang tersadar akan hal itu langsung melotot ke arah wanita itu. "Hah?! Buset Bro! Lo berani amat bawa orang! Bro jangan deh biarin aja ntar kalau kita ada apa-apa gimana?!" tolak Rendy kaget dan takut. "Udaah gak apa-apa orang dia juga manusia kok lihat! Udah ayo nih dia udah sekarat banget yo ke rumah sakit!" jawab Agra meyakinkannya. "Aduh Bro lo itu asal bawa-bawa aja lo gak tau kan asal-usulnya dari mana? Kalau dia ada niat jahat gimana buat ngelabuin kita doang, kan banyak kan kek gitu," gerutu Aldo juga merasa ragu. Agra berdecak kesal. "Ah! Gak mungkin orang lukanya beneran kom sumpah parah Bro! Ayo cepat," pungkas Agra meyakinkannya dan langsung berdiri menggendong wanita tak sadarkan diri itu tanpa ragu. Rendy dan Aldo langsung ternganga kaget saat melihat temannya itu tanpa ragu benar-benar membawa wanita itu. Rendy dan Aldo terlihat panik menggaruk kepala mereka dan mengerutkan alisnya. Mereka langsung mencoba menyusul Agra yang sudah lumayan melangkah pergi membawa wanita itu. . Terlihat ada juga sebagian orang yang terheran melihatnya menggendong wanita itu ke arah mobil. Namun dia hiraukan saja semua orang itu dan terus berjalan mendekati mobil. "Ren! Do!" teriaknya menyuruh mereka untuk membukakan mobil. "Lo yakin?" tanya Rendy merasa takut mengerutkan alisnya. Agra melirik malas tajam ke arahnya yang membuatnya takut juga. Rendy akhirnya pasrah lalu membukakan pintu belakang mobil itu untuknya. Agra lalu masuk membawa wanita itu tanpa ragu. Rendy dan Aldo yang masih takut juga ragu saling berhadapan seraya mengerutkan kedua alis mereka dan mengindikkan bahu tanda pasrah saja. Mereka pun lalu ikut masuk ke mobil. Saat di mobil, Rendy juga Aldo lalu menengok ke arah Agra dengan takut. Agra terlihat bosan pada mereka yang terus ragu dan takut. "Apa lagi? Ayo," ucap Agra. Rendy akhirnya pasrah lalu menyalakan mobil mereka. Mereka lalu mulai berjalan dan pergi dari tempat itu. . Mereka sudah sampai di rumah sakit, Dokter dan Suster yang ada di sana juga langsung menangani wanita itu. "Maaf ya Pak, kalian bisa tunggu di sini saja," perintah Dokter itu. Agra mengangguk dan Dokter itu masuk menutup pintu ruangan itu. Agra melirik ke belakang pada Rendy dan Aldo. Mereka lalu bengong lalu duduk di kursi tunggu. . Dokter pun mengobatinya. Namun, ada sesuatu yang membuat Dokter juga Suster di sana merasa ada yang aneh. Mereka melihat bahwa jantung yang di punyai oleh wanita itu seakan tidak biasa. Padahal lukanya memang parah dan lumayan kehabisan banyak darah tetapi ia terlihat masih hidup hanya pingsan dan tak sadarkan diri saja. Namun mereka mencoba untuk berpikir biasa saja. Mereka mengira bahwa memang wanita itu mempunyai jantung yang kuat dan beruntung lebih kuat dari orang lain. Mereka selesai mengobatinya dan memakaikannya alat oksigen. Dokter keluar dan memberitahu pada Agra. "Pasien sekarang sudah di obati, pasien juga sudah kami donorkan darah yang kebetulan ada kantong darah yang sama dengan darah pasien. Pasien memang memiliki kekuatan jantung yang luar biasa sehingga dia sekarang bisa bertahan, kita tinggal menunggu pasien tersadar. Kami akan terus kontrol dan cek keadaan pasien," ucap Dokter. Agra juga merasa lega sekarang mendengar hal itu. "Oh baik syukurlah kalau begitu Dok, kalau terimakasih banyak Dok," jawab Agra. "Iya sama-sama," jawa Dokter lalu berlalu. "Eh Bro, gue juga penasaran sekarang sama tuh cewek. Dari mana ya asalnya?" ucap Rendy. "Iya, mana kata Dokter dia punya jantung yang kuat lagi. Emang hebat ya, padahal katanya tadi lukanya lumayan parah terus kehabisan banyak darah lagi," sahut Aldo. "Yaa kita tanya aja nanti kalau dia udah sembuh juga siuman," jawab Agra seraya berdiri. "Ya udah, gimana kalau kita pulang aja sekarang? Besok aja gua cek lagi keadaannya," kata Agra. Rendy dan Aldo langsung nyengir mendengar hal itu. Mereka lalu ikut berdiri dan mereka bertiga berjalan bersama ingin pulang. . Agra mengantarkan mereka ke rumah mereka masing-masing. "Gra, nanti kalau cewek itu udah sadar dan sembuh. Kabarin gue juga ya?" pinta Rendy nyengir. Dia sepertinya merasa penasaran juga. Agra tertawa mendengarnya. "Iya, tenangg," jawab Agra memapangkan jempolnya seraya menutup pintu mobil itu. Rendy tersenyum lebar mendengar hal itu. "Oke, gua cabut dulu ya?" pamit Agra seraya memutar mobil mewahnya dan menutup semua kaca mobilnya. **** Keesokan hari telah datang. Wanita itu masih saja terlihat tak sadarkan diri. Namun, seketika jari telunjuknya bergerak meski begitu pelan. Sepertinya ia sudah lumayan tersadar dari komanya. Wanita itu seakan bermimpi dari awal ia berjalan dan di terkam seekor Elang. Ia lalu bergelut berhasil mematuk lalu di lempar Elang ke sebuah tempat. Mimpi itu seakan mengganggunya. Ia terus terbayang itu dan ia bermimpi sedang menari-nari begitu lincah dan ceria di sebuah kuil. Memang cantik sekali wanita ini. Ia terus menari dengan lincahnya dan membuat gerakan yang indah terus memutar. Ia menari-nari di depan sebuah batu besar hitam yang terlihat sebagai tempatnya bertapa di sana. Mungkin, tempat itu adalah tempatnya berdiam. Ia terus menari sampai berhenti dan ingatan itu membuatnya langsung membuka matanya. Kini ia tersadar dari komanya. Ia terlihat syok menarik nafasnya dengan mata melotot terbuka lebar. Dokter dan Suster masih belum memeriksa keadaannya. Ia masih melotot dan diam tak bergerak. Ia lalu mulai menggerak-gerakkan jemarinya. Ia juga menoleh ke kiri kanan dengan pelan. Ia masih terlihat kaget dan bingung dengan apa yang terjadi. Ia membelalakkan matanya melihat dirinya di infus juga di pakaikan alat oksigen yang belum ia pernah lihat sebelumnya. Ia sedikit syok dan mulai panik. Ia mulai menggerakkan tangannya ingin mengamuk karena panik dan terus melotot seakan takut melihat semua itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD