Pengagum Rahasia

2034 Words
Zahira duduk termenung di kursi balkon rumahnya. Menatap layar Handphone yang menampilkan foto pernikahan Mahardika, atasannya. Hari ini adalah hari bahagia Mahardika karena menikahi seorang yang ia cintainya. Tetapi tidak untuk Zahira. Zahira telah lama memendam perasaan kepada atasannya itu. Namun, ia tak berani menyatakan perasaan cintanya. Perasaan Zahira kepada Mahardika sangat mendalam, sehingga ia memilih untuk memendamnya. Awalnya Zahira memendam perasaannya karena takut terluka. Nyatanya justru memendam perasaan yang membuat luka. Semilir angin malam membuat Zahira kedinginan. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Karena Zahira belum menunaikan Shalat Isya’, ia pun segera mengambil air wudhu dan shalat. Tak lupa Zahira memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Zahira takut tetap mencintai Mahardika yang sekarang sudah mempunyai istri. Sebagai seorang perempuan, Zahira tentu saja tak akan merebut Mahardika dari istrinya. Ada karma yang akan menantinya kelak. --- “Wah gila ini Amira adeknya Zafran, cantik woii mantep nih jadi istri gue” Ucap Anton melihat i********: yang menampilkan foto Amira. Diki yang berada di dekat Anton hanya bisa menggelengkan kepala “Amira masih SMA, gila lo” Ucap Diki menimpali “Hahaha tau kok canda kali, duh kalo Zafran denger bisa babak belur gue” “Lagian ada Zahira tuh, cantik alim lagi, lo gak mau Ton” “Lah bukannya elo yang naksir Zahira Dik” Ucap Anton sedikit terkekeh. Anton tau Diki pernah menatap Zahira dengan tatapan mengagumi. “Dahlah gue mau balik dulu, Assalamualaikum” “Waalaikumussalam” Diki meninggalkan Anton menuju mobilnya yang ia parkir di depan. Sebelum pulang, Diki mendatangi penjual Martabak manis. Tiba-tiba saja ia ingin makan martabak manis. Ketika sampai di sana ia tak sengaja bertemu dengan Zafran. “Zaf, beli martabak juga” Zafran yang awalnya melihat gawai langsung melihat ke arah orang yang menyapanya “eh Diki , iya nih, Amira minta beliin martabak” “Ini mas” Ucap penjual kepada Zafran sembari menyerahkan kresek hitam yang berisi sekotak martabak “Gue duluan ya Ki” Zafran pun meninggalkan Diki menuju mobilnya dan pulang. Diki yang menunggu pesanannya merasa bosan. Ia pun mengambil gawainya di kantong kemejanya dan membuka aplikasi twitter. Membaca cuitan orang-orang yang lucu membuat Diki terkekeh. Hingga tak sengaja Diki membaca salah satu cuitan yang membuatnya terdiam ‘Jika cinta katakan, jangan sampai engkau menyesal di kemudian hari ketika melihat orang itu bahagia bersama yang lain’ Kalimat tersebut ditulis oleh @Zhrds112 yang Diki tak tahu siapa itu. Cuitan itu muncul karena disukai oleh Anton makanya muncul di beranda Diki. Diki jadi teringat ucapan Anton tadi. Ia bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah sebenarnya ia menyukai Zahira atau tidak. Diki merasa biasa saja kepada Zahira. Malah ia merasa Antonlah yang menyukai Zahira. Karena Diki sering kali melihat Anton yang melirik Zahira. Tak lupa Diki juga melihat tingkah manis Anton kepada Zahira. “Ini mas martabaknya” suara penjual membuat Diki mengalihkan pandangannya dari handphone. Membayar lalu menuju mobilnya untuk segera pulang. --- Menyesap kopinya, Anton tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan ke Diki kemaren malam. Anton menyukai Amira. Tapi ia tak dapat memastikan perasaan suka yang seperti apa ke Amira. Amira selalu salah memanggil Anton dengan sebutan ‘Om’ yang membuatnya merasa tua. Memang umur Anton dan Amira berbeda 10 tahun. Anton yang berusia Ia merasa menjadi seorang p*****l. Pemikirannya itu membuat Anton tertawa. Ada-ada saja memang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit. Anton segera berangkat ke kantor. Takut juga kalau semisal ia telat apalagi sampai diketahui atasannya. Pernah sekali Anton telat, ia masuk ke kantor pukul 10 pagi dan sialnya itu diketahui oleh Mahardika, atasannya. Serentetan kalimat yang dilontarkan Mahardika bahkan terngiang sampai sekarang. Hari ini ia ke kantor menggunakan motor. Mobilnya sekarang berada di bengkel karena adiknya meminjam tetapi Kembali malah ringsek gegara adanya tabrakan. Dito, adik Anton bahkan sekarang berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Sebelum menuju kantor, Anton ke toko bunga milik kakak perempuannya yang sudah menikah. Untung saja toko bunga tersebut searah dengan kantornya. Sebelum berangkat mamanya menitipkan bingkisan makanan ke kakaknya. Katanya sedang ngidam makanan buatan mama. Sehabis dari toko bunga, Anton pun melajukan motornya dengan cepat. Untung saja ketika sampai kantor ia tidak telat, masih tersisa beberapa menit. Anton menuju tempatnya yang berdekatan dengan tempat Diki dan Zahira mengingat mereka satu tim. Tampaknya kedua temannya tersebut belum datang. Tetapi ketika melihat ada tas di kursi milik Diki, Mungkin saja Diki sudah datang tetapi pergi entah ke mana. Tak lama kemudian datang Diki dan Zahira jalan berdampingan sembari mengobrol yang tak Anton ketahui sedang membicarakan apa. Zahira menuju ke tempatnya. Zahira sempat terpaku sejenak. Terdapat bunga mawar merah yang berada di mejanya. Ia pun bertanya kepada kedua temannya. “eh kalian tau gak ini dari siapa?” Tanya Zahira sambil melihat kedua temannya “enggak tau” Jawab Anton dan Diki kompak. “eh beneran lo, kan kalian datang duluan” “Enggak tau Ra, tadi gue waktu dateng udah ada tuh bunga” ucap Anton yang membuat Zahira menatap selidik kearahnya lalu menatap Diki Diki yang ditatap Zahira langsung menimpali, “Enggak tau juga gue Za, gue tadi dateng belum ada tuh bungaa” “la terus siapa dong” Zahira mulai penasaran Mata Zahira tak sengaja menatap CCTV yang terpasang di bagian pojok. Senyum Zahira muncul, mungkin melihat CCTV ia akan mengetahui siapa yang memberinya Bunga “Yaudah deh gue cek CCTV aja nanti” Ucapan Zahira membuat Diki dan Anton saling menatap lalu mereka memutuskan pandangan. Merasa tak peduli. Anton pun menyalakan komputernya yang diikuti oleh Diki. --- Ketika jam istirahat Zahira memutuskan ke ruang kontrol CCTV. Ia akan bertanya kepada penjaganya apakah bisa melihat rekaman tersebut atau tidak. “Maaf Bu Zahira, saya tidak bisa memperlihatkan tanpa izin dari atasan, apakah Bu Zahira ada izin?” Ucapan Petugas membuat Zahira menghela napas. Lagian ini juga tak ada kepentingan dengan kantor hanya kepentingan pribadinya. “Ya sudah kalau begitu , saya permisi Pak” Pamit Zahira lalu meninggalkan ruang kontrol CCTV. Perut lapar membuat Zahira menuju kantin. Setelah memesan, ia duduk di kursi paling ujung. Sembari melihat pemandangan kota yang terlihat lewat kaca. “Za” Sapaan tersebut membuat Zahira menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Diki yang sekarang sudah duduk di hadapannya. “Udah makan Ki?” “Udah Za, tadi kemana kok ga langsung kantin?” Tanya Diki Ketika jam istirahat tadi Zahira langsung pergi entah kemana. Sedangkan Diki dan Anton langsung menuju ke kantin. “Oh ke ruang CCTV, kepo gue, siapa yang ngasih bunga” “Coba deh besok berangkat pagi aja, kali aja ketemu orangnya” Saran dari Diki membuat Zahira menganggukkan kepalanya. “Okedeh besok gue bakal berangkat lebih pagi” Ucap Zahira --- Sesuai saran Diki kemarin, Zahira berangkat lebih pagi. Dilihatnya kantor yang masih sepi. Ia pun langsung menuju tempatnya. Diki dan Anton juga masih belum kelihatan. Tas mereka juga tidak ada. Zahira menatap mejanya. Yang sekarang sudah ada bunga mawar merah. Diambilnya bunga tersebut. Tidak ada nama pengirimnya. Awalnya Zahira mencurigai Diki dan Anton. Tapi melihat mereka yang belum datang membuat ia berpikir ulang. Siapa sebenarnya yang mengirimi ia bunga. Dilihatnya jam dinding yang sedang menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit. Ia sudah merasa berangkat lebih pagi mengingat jam kantor dimulai pukul 8 pagi. Masih banyak waktu, Zahira memutuskan untuk pergi ke warung pecel yang tempatnya tak jauh dari kantornya. Ia bahkan belum sarapan karena kepo dengan pengirim bunga mawar tersebut. Jarang sekali Zahira makan di warung pecel itu. Meskipun enak Zahira masih ke 3 kalinya ke warung tersebut. Selesai makan Zahira pun menuju kantornya kembali. Masih pukul 7. Ia menyesal berangkat terlalu pagi. Sendiri dan tidak ada teman buat berbicara. Mengambil gawainya, Zahira membuka twitternya. Melihat cuitan para novelis yang terkadang lucu dan juga kadang membuatnya baper. --- Anton dengan kebiasaannya bangun kesiangan. Mamanya bahkan sekarang mengomelinya karena sudah hampir pukul 8. “Sudah gausah sarapan, ini mama udah buatin bekal, makan di kantor aja” Omelan tersebut sering kali Anton dengar bahkan sudah sejak jaman ia masih SMP. “Iya ma, Anton berangkat dulu, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” Setelah mencium tangan Mamanya, Anton pun segera mengambil motornya. Jalanan sudah ramai, dilihatnya jam tangan yang ia pakai menunjukkan pukul 8 lebih 10 menit. Alamak, nanti kalau dipecat gimana nih gue. Batin Anton berteriak. Mengingat peraturan kantor yang tak boleh telat. Anton sudah pasrah. Ia berdoa agar tidak dipecat. Sesampainya di kantor, Anton pun segera memarkirkan motornya lalu menuju ruangannya. Tak sengaja ia berpapasan dengan Mahardika dan juga Zafran. Yang membuat Anton lemas seketika.  “Anton kamu telat lagi” Hardik Mahardika “Iya pak mohon maaf” Anton menjawabnya dengan hati-hati “Habis ini kamu ke ruangan saya, kita lihat kinerja kamu bagaimana” Ucap Mahardika dan berlalu dari hadapan Anton “Yang sabar ya Ton haha” Ucap Zafran sambil tertawa lalu meninggalkan Anton yang sedang berdiri terpaku. Anton dengan lesu menuju ruangan Mahardika. Tidak tahu lagi nasibnya akan berakhir bagaimana. Apalagi Anton sering kali telat datang ke kantor. --- “Anton kok belum datang sih” Tanya Zahira heran “Biasalah si Anton kan emang sering telat” jawab Diki. “Iya juga sih, nanti kalau dia dipecat gimana dong” “Ya gak gimana-mana, sok perhatian banget” Zahira menatap Diki dengan aneh. Tak berselang lama, dilihatnya Anton yang berjalan lesu menuju tempatnya. “jangan ajak bicara gue” ucap Anton ketika tahu kedua temannya akan bertanya. Anton merasa s**l hari ini, tetapi untung saja Bosnya tidak memecatnya mengingat kinerjanya yang menurut Bosnya bagus. Dengan segera Anton menyalakan komputernya. Ia harus segera bekerja. Waktunya tadi terbuang banyak karena Mahardika yang mencercanya dengan waktu lama. Sampai-sampai telinganya ingin ia sumpal saja tadi. --- Jam dinding menunjukkan pukul 6. Dengan segera ia menuju ke toko bunga. Secara rutin mulai hari dimana wanita yang dicintai merasa sedih karena lelaki yang wanita itu cintai menikah dengan orang lain. Ia ingin menjadi penghibur meskipun tanpa diketahui oleh Zahira. Iya Zahira, wanita yang ia cintai sejak masih SMA. Ia awalnya hanya mengagumi Zahira saja. Tetapi perasaan itu lambat laun menjadi cinta. Ia tak terlalu mengharapkan balasan dari Zahira. Ia hanya ingin melihat Zahira bahagia saja walau tak bersamanya. Lagian ia berpikir Zahira tak mungkin menyukai cowok culun sepertinya. Dengan mengenakan pakaian serba hitam tak lupa dengan hoddie berwarna hitam pula. Ia menuju ke toko bunga langganannya. Dengan cepat memilih satu bunga mawar dan segera melaju menuju kantor tempat Zahira bekerja. Kantor Zahira masih terlihat sepi. Ia dengan segera meletakkan bunga mawar ke meja Zahira. “hei kamu” suara wanita menginterupsinya. Ia melirik sedikit ke arah pintu. Dan dilihatnya Zahira yang menatapnya. Ia dengan segera mencoba menutupi identitasnya. Takut Zahira akan mengenalinya. Ia ingin segera pergi tetapi Zahira sedang berada di pintu. Ia harus mencari celah untuk kabur. Zahira mendekat ke arahnya. Ia menemukan celah sedikit. Dengan cepat ia haru segera meninggalkan kantor tempat Zahira bekerja. Ketika ia berlari tangannya tak sengaja dipegang oleh Zahira yang sedang menahannya. Kemudian ia segera lepas dan berlari “kamu siapa? Kenapa setiap hari kamu memberi bunga ke saya?” tanya Zahira dengan berlari mengejarnya. Dengan cepat ia menuju ke parkiran dengan Zahira yang masih mengejarnya. Ia bersembunyi di tempat yang ia rasa Zahira tak menemukannya. Ia takut jika ia menaiki motor, Zahira akan melihat plat nomor kendaraannya. --- Zahira sekarang berada di parkiran. Jejak orang yang memberinya bunga tidak terlihat. Ia  juga sudah menyusuri parkiran. Mungkin saja ia sudah kecolongan. Dengan napas tersengal, Zahira mencoba untuk menetralkan pernapasannya. Lumayan capai juga mengejar orang tersebut. Batin Zahira Dari perawakan, Zahira merasa orang itu seorang laki-laki. Sayang sekali Zahira harus kehilangan sosok itu. Padahal tinggal satu langkah lagi. Dengan gontai Zahira menuju ke ruang kerjanya. --- Setelah melihat Zahira akan pergi. Ia menunggu sebentar hingga Zahira benar-benar tidak terlihat di hadapannya. Rencana hari ini hampir saja gagal. Ia tak mau Zahira mengetahui identitasnya. Ia sudah merasa senang dengan tindakannya selama ini. Ia berharap Zahira akan mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus dan yang pastinya tidak cupu seperti dirinya. Ahh tiba-tiba ia teringat, Lusa ia akan ke London. Setidaknya sebelum pergi ia melihat Zahira hari ini untuk terakhir kalinya. Ini adalah pertemuan terakhir kita Zahira. Good Bye, Zahira. ---  Terima kasih buat semua yang telah membaca ceritaku jika ada salah kata mohon maaf. Terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD