Apa bapak bodoh?

995 Words
Sepanjang perjalanan, Kirana hanya diam tak berkata. Hingga akhirnya Agni merasa bosan hanya mendengar ocehan penyiar radio. Agni mengawali pembicaraan dengan kata basa basinya.   “Apa kamu marah, aku jemput?” Tanya Agni.   “Gak,” jawab ketus Kirana.   “Seharusnya aku yang marah sama kamu, karena kamu sudah mengikat aku dengan kebiasaan bergantung padamu,” ucap Agni fokus pada jalanan.   Bukan menjawab, Kirana malah memejamkan matanya.   Berniat hanya berpura tidur, rupanya Kirana malah tenggelam dalam mimpi yang tiba-tiba mendatanginya. Terbuai dalam mimpinya, Kirana tak menyadari jika dirinya sudah tak berada di dalam mobil lagi.   Agni yang memang tak tau apa yang harus ia lakukan di pagi hari. Memilih untuk mengambil laptop dan memulai kerja dari rumahnya.   “Ya,” tanya Agni saat mengangkat ponsel yang berdering.   “Pak, hari ini ada rapat mingguan.”   “Daring saja,” jawab Agni sedikit berbisik.   Agni langsung menyalakan sambungan yang menyediakan layanan penghubung dirinya dengan karyawan. Agni memulai meeting masih menggunakan baju tidurnya, banyak karyawan yang malah salah fokus pada rambut yang ada di samping bosnya.   “Baik lah kalau begitu, kita mulai saja,” Agni memulai meeting.   Membahas pencapaian dan juga penurunan yang terjadi berapa hari belakangan, adalah agenda rutin. Tapi kali ini meeting di lakukan tanpa adanya Kirana, yang di ketahui oleh karyawan lain. Bahwa sang sekretaris pribadi itu sedang di rumah kan.   Di tengah pembahasan yang dilakukan oleh Agni, tiba-tiba Kirana terbangun.   “Hmmm, bapak,”   Agni sadar jika kini dia tengah melakukan siaran langsung bersama dengan karyawan lain pun langsung membekap Kirana. Membiarkan laptop miliknya jatuh dan menampilkan gambar hitam, Agni tak memperdulikannya lagi.   Lain halnya dengan Agni, tak sedikit karyawan yang mengenali suara itu pun menjadi kasak kusuk. Bahkan Jaka salah satu sekretarisnya pun juga menyadari jika suara tadi adalah milik rekan kerjanya.   Setelah beberapa menit layar yang hanya menampilkan kegelapan itu pun sudah kembali menampakkan sang bos. Agni rupanya tak menghiraukan lagi ocehan Kirana terdengar oleh staf yang lainnya. Yang ia perdulikan adalah dokumen yang baru saja di berikan oleh Kirana.   “Baiklah kita lanjut, maaf tadi ada gangguan sedikit,”   Rapat pun berjalan lancar hingga akhir, meski konsentrasi dan fokus Agni terus di ganggu oleh Kirana. Agni menutup layar dan langsung menghampiri Kirana yang sudah menggodanya sedari tadi. Meletakkan asal laptop di atas tempat tidurnya, Agni sudah tak perduli lagi.   “Sini kau Kiranaaaaaa!!” Agni lebih memilih mengejar Kirana dari pada memastikan laptopnya benar-benar sudah mati atau hanya meminize saja.   Sedangkan karyawan yang berada di ruang meeting mendengar teriakan Agni dan tawa milik Kirana. Memang layar monitor sudah mati, tapi suara masih sangat jelas terdengar, apa lagi saat Agni memanggil Kirana. Menyadari hal itu, Jaka langsung memutus sambungan daring bersama sahabat yang menjadi bosnya itu.   Kasak kusuk dan gosip tersebar dengan begitu cepat, yang namanya skandal pasti lebih cepat menyebar dari pada prestasi.   “Oh, jadi Kirana di rumah kan?” salah satu karyawati tengah bergosip.   “Iya, di rumahkan di rumah si bos. Pantas saja bos juga gak ngantor selama dua hari,” jawab satu temannya yang di ajak bergosip.   Bukan Indonesia memang kalau tanpa adanya gosip.   Lain dengan kegaduhan yang terjadi di kantor, Kirana dan Agni malah menikmati makanan yang dibawa wanita itu. Gak rela sih, tapi dari pada sia-sia, akhirnya Kirana menyiapkan makanan itu untuk Agni.   “Enak juga nasi goreng buatan mu, aku rasa ini di bikin bukan menggunakan minyak goreng atau mentega. Ini rasanya benar-benar kering,” komentar Agni.   “Iya pak, karena saya bikinnya di jemur dulu sebelum di makan. Makanya kering,” jawab Kitrana asal karena jengkel.   “Wah keren kamu, menciptakan menu baru dan lebih ekstrim,” ucap Agni sambil menikmati nasi goreng buatan Kirana.   “Jangan sekali-sekali bapak jemput saya tanpa memberi tahu terlebih dulu,” ucap Kirana saat mencuci piring bekas sarapan siang mereka.   “Salah sendiri kau tak mengangkat panggilanku?” kilah Agni.   “Baiklah, saya salah,” Kirana kembali ke kursi tempat tadi sarapan.   “Sekarang bapak mau saya ngapain sekarang? Gak mungkin kan, bapak menyuruh saya kerja?”   “Kenapa gak mungkin? Kamu kan sudah ada di sini,” jawab Agni memainkan ponsel miliknya.   “Karena saya di rumahkan,” Kirana menakankan kata dirumahkan.   “Hahaha, itu yang kamu pikirkan?” Agni menjeda ucapannya.   “Baiklah kalau itu mau kamu, aku juga akan bekerja di rumah selama kamu gak mau mengurusi saya lagi,” jawab Agni mendekat pada Kirana.   “Mau kamu apa?!” Kirana merasa jengkel.   “Mau kamu selamanya,”   Perkataan demi perkataan keduanya berubah menjadi perbincangan serius. Kirana merasa jika dia tak lagi bisa bebas seperti dulu. Bahkan Agni saat ini sudah menunjukkan kediktatoran terhadap dirinya.   Tak adil memang, untuk Kirana. Tapi tak munafik, jika Kirana juga membutuhkan pekerjaan ini.   “Terus bapak mau saya bagaimana?” tanya Kirana.   “Aku mau, kamu menjadi kekasihku. aku akan bayar kamu, berapa pun kamu mau asal kau bisa berpura menjadi kekasihku. Terutama di hadapan mama,” tawab Agni serius.   Kirana berpikir keras, bukan karena masalah uang yang dia pikirkan. Tapi masalah pekerjaan yang saat ini tengah ia geluti.   “Bisa kah aku menolak? Jujur, aku tak ingin uangmu itu pak. Tapi aku butuk kebebasan,” jawab Kirana.   “Aku gak butuh penolakan, tapi aku hanya butuh kau menyebutkan nominal saja,” ucap Agni yang tak mau mendengar penolakan di setiap tawarannya.   “Tapi…”   “Sebutkan saja berapa yang kamu mau,” ucap Agni tagas.   “Baiklah kalau begitu, serahkan black card bapak!” ucap asal Kirana.   Tanpa menjawab, Agni pergi meninggalkan Kirana. Merasa menang pun Kirana bersorak sendiri dan tak lupa melakukan selebrasi, selayaknya pemain sepak bola yang berhasil mencetak goel.   “Ini incaran kamu selama ini?” Agni meletakkan black card miliknya tepat di depan meja Kirana yang tengah melakukan selebrasi.   “Ha? Bapak beneran ngasi ini?” Kirana tercengang melihat aksi Agni yang menyetujui apa yang ia ucapkan.   “ya, apa masih kurang?” Tanya Agni penuh kepercayaan diri.   “Gak kurang, cuma mau tanya,”   “Silahkan,”   “Apa bapak bodoh?” tanya Kirana selidik.   “Haaa, persetan dengan kata itu. Aku tak pernah ingin di pusingkan dengan yang namanya Cinta dan juga teman-temannya. Terutama dengan yang namanya perjodohan. Menyita waktu,” jawab Agni.   “Ok, alasan bapak saya terima. Tapi yang saya gak terima itu, kenapa bapak malah memusingkan saya?” tanya Kirana.   “Gak perduli! Kamu dapat black card dan aku mendapatkan ketenangan,” jawab santai Agni.   “Egois!” Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya.   “Apanya yang egois? Kita sama-sama di untungkan,” Agni tersenyum puas.   Tak bisa menjawab, Kirana hanya mengutuki dirinya yang tak memikirkan permintaannya. Dengan menggunakan Black card yang ada pada dirinya saat ini, Agni bisa saja meminta yang lebih dari dirinya. Secara itu kartu hitam memiliki saldo yang tak main-main.   Ah, betapa bodohnya Kirana, hyang mengira jika Agni lah yang bodoh di saat seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD