Bidadari ku

1060 Words
Black card sudah di tangan, sekaligus dengan tugas dan juga peraturan yang di buat oleh Agni. Memang benar, semakin besar yang kita dapat maka akan semakin besar pula perjuangannya.   Seperti saat ini, Kirana menerima satu lembar penuh tugas untuk dirinya selaku kekasih bayaran Agni. Menemani di setiap perjamuan dan juga ke rumah Galuh Ajeng. Selain itu juga selalu ada di saat Agni membutuhkan, kapan pun itu.   Di larang menyerah sebelum Agni menemukan pendamping yang pas untuknya. Dan Kirana juga di ijinkan untuk bertemu Bima, meski waktu di batasi oleh Agni. Setiap pagi harus ada seperti biasanya, menyiapkan keperluan Agni dan sarapan untuk bosnya itu.   Dengan berat hati, Kirana pun menyetujui perjanjian sepihak itu. Karena dia tak memiliki pilihan lain selain menjalankan otoriter yang di buat oleh Agni.   Siang sudah menjemput, Kirana pamit untuk pulang dan kembali esok pagi seperti biasa. Karena sudah menandatangani perjanjian yang di buat oleh Agni, Kirana kembali lagi kerja di kantor.   Di tempat lain, Bima masih terus memikirkan Kirana yang tak jadi mengunjunginya pagi tadi. Kecewa? Itu sudah pasti, tapi Bima tak bisa berbuat apa. Hanya menunggu kabar dari sang kekasih hati.   Sore hari saat Bima sudah hendak pulang, ada rekan kerja Bima yang menghampirinya. Seorang wanita yang selalu menginginkan Bima menjadi kekasihnya. Paras yang cantik dan kulit yang bersih, yak mampu mengalihkan dunia Bima dari Kirana.   Bahkan ada seorang wanita yang sudah memiliki segalanya, tertarik pada Bima. Seperti yang lainnya, Bima mengabaikan mereka demi Kirana.   “Mau apa kamu Mel?” Tanya Bima pada rekan kerjanya.   “Pulang bareng,” jawab Melati yang sudah menggandeng lengan Bima.   “Aku gak mau,” Bima berusaha melepaskan tangan Yuli yang sudah menggelayut indah di lengannya.   “Jangan terus menolak ku Bim, kau mencari yang seperti apa?” Tanya Melati jengkel yang selalu di abaikan oleh Bima.   “mencari orang yang sudah aku jaga sedari kecil,” jawab Bima tersenyum mengingat Kirana.   “Senyum mu membuat ku meleleh, sadar kah kau hal itu?” ucap manja Melati.   “Aku tak perduli!” Bima meninggalkan Melati yang tengah jengkel dan menghentakkan kakinya.   Semakin gencar wanita itu mendekati Bima, maka semakin sakit yang ia terima. Karena Bima masih belum bisa di alihkan pandangannya dari Kirana. Karena di dalam hidup Bima hanya ada Kirana seorang.   Keputusan yang tepat saat meninggalkan Melati tadi, karena Kirana sudah menunggu Bima di depan rumah. Senyum mengembang di bibir Bima, saat melihat wanita tersayangnya itu menungguinya di depan rumah.   “Berasa di sambut bidadari, aku!” ucap Bima saat keluar dari mobil.   “Bidadari yang turun dari langit hanya untumu kak,” jawab Kirana malu-malu.   “Benar kah?” tanya Bima membuka pintu untuk Kirana.   “Masuk, anggap ini rumah ku ya,” Bima mempersilahkan Kirana masuk dalam rumahnya.   “Ya memang ini rumah mu kak,” jawab Kirana.   “Hahaha, iya. Angin apa yang membawamu kemari?” tanya Bima menyuguhkan minuman dingin di depan Kirana.   “Angin bersalah,”   “Hahaha, kalau begitu. Bisa kah kau memasak untukku? Aku sangat lapar,” ucap Bima melepas dasi yang tergantung indah di lehernya.   “Baik lah,” Kirana segera masuk ke dalam dapur Bima.   Ketika Kirana menikmati masaknya, tiba-tiba Bima memeluk Kirana dari belakang. Kaget? Itu sudah jelas, tapi Kirana tak melepas pelukan Bima. Itu karena memang Kirana menginginkan hal yang sama, sudah dari lama. Kehangatan dan perlakuan Bima memang selalu menyenangkan Kirana.   Bukan hanya saat dia sudah dewasa, tapi hal itu sudah ia dapatkan sedari kecil. Bahkan dari pertama kali mereka bertemu, Bima sudah mencurahkan kasih sayangnya.   “Biarkan aku seperti ini dulu,” bisik Bima.   “Baiklah,” Kirana membalas pelukan Bima dengan menyambut tangan lelaki itu.   Rasa yang bersambut adalah hal yang paling membahagiakan. Tetapi, jika hal itu tak terucap, apa masih membahagiakan? Biarpun perlakuan sudah menunjukkan perasaan yang di harapkan.   Kirana terbuai dengan apa yang di lakukan oleh Bima padanya. Dan kenyamanan yang engan untuk di enyahkan, seperti yang seharusnya. Kirana lupa jika black card sudah menjadi penghuni baru di dompetnya.   Cinta memang tak terbatas dengan materi, tapi materi mampu mengendalikan cinta. Terutama orang yang memiliki materi sadar akan kekuatan itu. Seperti Agni yang menyadari kekuatannya untuk mengikat Kirana tetap berada di dalam lingkaran cintanya.   Cinta?   Agni?   Bukan, Agni hanya memanfaatkan Kirana untuk kepentingan dirinya semata. Bahkan Agni tak memikirkan bagaimana perasaan Kirana yang ia jerat menggunakan otoriter yang ia miliki.   “Kirana, mau menginap disini,” ucap Bima yang sudah duduk di depan televisi setelah makan malam masakan Kiran.   “Gak bisa kak, besok Kirana sudah harus menyiapkan keperluan Agni lagi,” jawab jujur Kirana.   “Baiklah kalau begitu, sabtu ini kita makan di luar ya,” ajak Bima.   “Kakak ngajak Kirana ngedate?” goda kirana yang bersandar di d**a bidang milik Bima.   “Bukan,” Bima menjeda ucapannya. “Tapi kencan,”   Kirana mengeratkan pelukannya, karena merasa senang. Hal yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Berkencan dengan cinta pertamanya adalah mimpi hampir setiap wanita yang merasakannya. Dan itu datang pada Kirana, bagaimana dia tidak senang?   ***   Malam sudah terlalu larut, Kirana berpamitan pulang. Karena membawa mobil sendiri, jadi Bima tak mengantar wanita tercintanya itu.   Selama di perjalanan, Kirana tak berhenti untuk tersenyum, bahagia itu memang sesederhana itu. Tapi hanya rasa syukur dan harapan yang kita buat sendiri lah menjadikan bahagia itu rumit.   Rasa syukur itu sangat penting, maka semakin banyak kita bersyukur, kebahagiaan itu akan kita rasakan. Namun kadang kita lupa kalau harapan juga harus mengingat sebuah kegagalan, agar tak terlalu kecewa.   Kirana masuk ke dalam rumahnya dan merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Kirana ngecek ponsel miliknya yang ia tinggal saat mengisi daya.   Kirana terkejut dengan apa yang ia lihat di layar ponselnya. Lima puluh satu panggilan dan empat puluh tujuh pesan yang dikirim dari satu orang yang sama, Agni!   “Benar-benar Psycopat!” umpat Kirana.   Agni memang sedikit keterlaluan memang, seakan tak memberikan kebebasan untuk Kirana. Baru beberapa jam saja tak memegang ponsel, Kirana mendapat puluhan misscall dan puluhan pesan pula.   “Hallo,” Kirana mengangkat ponselnya yang kembali berbunya.   “Dari mana saja kau?” ucap Agni membentak.   “Berasa di penjara aku sama kamu,” ucap kirana yang membungkam Agni.   Setelah mendengarkan kata itu, Agni memutus sambungan telfonnya. Krana merasa jika ucapannya sedikit kasar pun merasa bersalah. Kirana menghubungi kembali bosnya itu, namun nihil. Lelaki yang membayar dirinya untuk menjadi kekasih di depan orang tuannya itu tak mengangkat panggilan darinya.   Kirana merasa resah dengan apa yang sudah ia katakan sendiri. Kadang benar yang sering orang katan. Mulutmu adalah harimaumu. Kirana memukul mulutnya sendiri yang sudah berkata kasar, terutama sama bos yang seharusnya ia hormati.   Kirana kembali mencari cara untuk menghubungi Agni, namun sama saja. Tidak ada jawaban atau respon dari lelaki itu. Kirana bingung harus apa.   “Apa aku harus ke apartemennya?” ucap Kirana pada dirinya sendiri.   Pergulatan batin yang ia lakukan dengan dirinya sendiri pun akhirnya memberikan keputusan untuk ke apartemen Agni.   Setelah berganti pakaian yang layak, Kirana bersiap untuk pergi ke hunian mewah yang ada di salah satu gedung pencakar langit di kotanya.   “Mau kemana!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD