Udah jinak

1024 Words
“Mau kemana!”   Lelaki tinggi seratus delapan puluh satu, memakai celana pendek dan baju rumahan. Berdiri tepat di depan pintu rumah Kirana. Kirana yang saat itu terburu-buru pun terkejut dengan kehadiran lelaki tampan itu.   Aaaaaa   “Kenapa bapak ngagetin!” kaget Kirana.   “Harusnya aku yang bilang seperti itu, kamu mau kemana?” tanya Agni.   “Mau ke rumah bapak, bapak gak bisa di hubungi,” jawab Kirana masih mengatur nafasnya.   “Oh, ayo kalau gitu,” ajak Agni.   Kirana seperti kerbau yang di cocok hidungnya, menurut dan ikut dengan Agni pulang ke rumahnya. Rasa bersalah yang di rasakan oleh Kirana membuatnya tak bisa menolak apa yang di katakan oleh Agni.   Selama perjalanan menuju apartemen Agni, Kirana sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Bahkan saat Agni menanyainhya pun dia hanya menggeleng dan menganggukkan kepalanya saja. Sampai mereka sudah masuk ke dalam apartemen mewah milik Agni.   “Kamu kenapa?” Tanya Agni dengan nada dingin.   “Bapak yang kenapa datang ke rumahku malam-malam?” Tanya Kirana.   “Mau menunjukkan arti penjara sesungguhnya buat kamu,” Agni melontarkan tatapan tajam pada Kirana yang juga seakan melawan lelaki ini.   “Ya, saya sudah tau sekarang. Ijinkan saya pulang,” ucap Kirana beranjak dari tempat duduknya.   “Sekali kau masuk dalam penjaraku, jangan pernah berfikiran untuk keluar. Karena kunci untuk keluar dari penjara seorang Agni adalah kematian,” ancam Agni pada Kirana.   “Bapak menakutiku,” ucap Kirana yang tau jika Agni sedang tak bercanda.   “Kalau kau takut, menurutlah,” Agni mendekati Kirana yang seakan enggan untuk duduk kembali.   Agni menuntun Kirana masuk ke dalam kamar, mendudukkan di tempat tidurnya. Dan berkata “Ini penjaraku yang sebenarnya, mulai saat ini kau tinggal di sini. Bersamaku!” Agni mengunci pintu kamarnya dan merebahkan diri di samping Kirana duduk.   “Tidurlah,” Agni memaksa Kirana untuk tidur di sampinya.   Kirana tak memiliki tenaga untuk melawan Agni untuk saat inn, selain dia capek, dia juga sangat mengantuk. Kirana tidur di samping Agni yang terus memeluknya dari samping, menjadikannya pengganti guling.   Kirana tidur dalam diam, entah apa yang membuatnya tak bergerak semalaman. Kirana benar-benar tak bergerak hingga Agni menyadari hal itu, lelaki itu memeriksa wanita yang tidur di pelukannya.   Titik-titik keringat yang sebesar biji jagung pun menghiasi kening Kirana. Agni kaget melihat hal itu, pasalnya, AC yang berada di dalam kamar malam ini menyala. Agni membuka selimut yang ia sematkan pada Kirana semalam.   Pantas saja wanita berumur dua puluh lima tahun ini merasa kepanasan. Rupanya dia mengenakan jaket dan baju tebal, di tambah celana berbahan denim membalut kakinya.   “Bodoh! Kenapa aku gak menyadari hal ini!” umpat Agni yang membangunkan Kirana.   “Bapak sudah bangun?”   Agni berjalan ke arah lemari yang ada di kamar Agni. Lemari yang berisikan baju tidur dan baju santai Agni.   “Pakai ini,” Agni melempar kemeja putih miliknya yang sering ia pakai saat tidur.   Kirana berjalan ke arah kamar mandi dan segera mengganti bajunya dengan apa yang di kasi oleh Agni.   Setelah selesai mengganti bajunya, kirana segera keluar dari kamar mandi. Berjalan mengendap, Kirana segera membaringkan diri di samping Agni yang sudah tertidur pulas.   Kirana bernafas lega, karena dirinya tak perlu khawatir untuk menutupi dirinya lagi. Mengingat kemeja yang di kasih oleh Agni itu sangat transparan. Karena lelaki itu hanya memberinya kemeja, dengan terpaksa Kirana tidur menggunakan celana panjangnya.   Malam berganti pagi, karena Kirana berada di apartemen Agni. Hal itu memudahkan Kirana untuk menyiapkan keperluan Agni secepat mungkin sebelum dia pulang ke rumahnya. Tepat jam tujuh pagi, Kirana sudah menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya untuk melayani Agni.   Kirana mandi terlebih dulu sebelum membangunkan Agni untuk bersiap ke kantor. Setelah mandi, Kirana kembali memakai baju yang ia kenakan semalam.   Saat keluar kamar mandi, Kirana di kejutkan oleh Agni yang sudah menungguinya di depan pintu.   “Bapak! Hobi sekali mengagetkan ku?” tanya Kirana memegangi dadanya yang takut jika jantungnya copot.   “Menyenangkan, hiburan pagi sebelum rutinitas yang memusingkan,” Bisik Agni yang membuat Kirana merinding.   “Eh, ah. Permisi pak, saya mau menyiapkan dokumen untuk bapak bawa ke kantor,” ucap Kirana gugup, berjalan menjauhi Agni.   “Kirana!”   “Ya pak,”   “Pakai baju yang ada di atas meja,” Agni menujuk meja yang tak jauh dari tempat tidurnya.   Kirana memanfaatkan kosongnya Kamar untuk mengganti bajunya. Setelah selesai, Kirana langsung ke ruang kerja Agni untuk menyiapkan dokumen sebelum membuat kopi.   Saat semua sudah siap, Kirana berpamitan untuk pulang ke rumahnya.   “Pak, aku akan pulang terlebih dulu. Baru ke kantor, mungkin akan terlambat setengah jam,” pamit Kirana.   “Mau ngapain lagi kamu pulang?” Tanya Agni yang membuat Kirana mengerutkan dahinya.   “Bapak gak lihat saya sudah seperti mayat hidup tanpa riasan?” ucap Kirana memajukan wajahnya untuk bisa di lihat oleh Agni lebih jelas.   “Langsung ke kantor saja. Kau bawa kartuku, gunakan itu untuk membeli make up yang baru nanti setelah absen,” Agni melanjutkan memakan sarapannya.   Kirana hafal benar sifat dan karakter Agni yang tak pernah ingin di bantah. Hanya kata “Ya pak,” yang bisa keluar dari mulut Kirana.   Setelah sarapan, Kirana dan Agni pun langsung berangkat ke kantor selayaknya pasutri yang baru saja menikah.   ***   Mobil hitam berlogo tiga huruf itu pun terparkir indah tepat di depan pintu masuk kantor. Seorang wanita dengan baju terkesan santai telah keluar sebelum lelaki yang memakai baju formal keluar dari mobil.   Kasak kusuk semakin santer terdengar setelah melihat Kirana keluar dari mibil mewah bersama sang bos. Sebenarnya hal itu biasa mereka lakukan, mengingat Kirana adalah sekertaris pribadi dari Panji Agni.   Tetapi yang membuat beda adalah wajah Kirana yang terlihat pucat tanpa riasan. Di tambah dengan baju yang ia kenakan sangat jauh berbeda dari keseharian Kirana yang selalu rapi. Baju model dress dengan lengan di atas siku dan rok selutut.   Selain mengamati pakaian Kirana, karyawan lain juga menyoroti rambut Kirana yang terlihat basah. Pikiran para karyawan tertuju pada kejadian meeting kemarin.   “Pasti mereka ada apa-apa. Makanya Kirana sekarang semakin sesukanya sendiri saja,” ucap salah satu karyawan yang bergosip.   “Stt,” salah satu karyan pun memberi isayarat untuk berhenti saat Jaka masuk ke dalam kantor.   “Selamat pagi semua, apa Kirana masuk hari ini?” selalu konsisten dengan pertanyaan yang sama.   “Sudah pak, tapi pucat,” jawab salah satu resepsionis yang melihat Kirana masuk ke dalam kantor bersama ssang bos.   “Pucat? Kenapa?” pertanyaan Jaka yang tak pernah di jawab oleh resepsionis itu.   Jaka langsung masuk kedalam kantor dan segera mencari rekan kerjanya. Saat masuk ke ruangannya, Jaka masih belum menemukan wanita yang sudah bekerja sama dengan dirinya selama satu tahun terakhir.   Tak berapa lama Kirana keluar dari ruangan Agni setelah menjalankan tugas rutinnya.   “Lu gak dandan?” Tanya Jaka menggunakan bahasa yang sering ia gunakan.   “Pucet banget kan? Temenin aku ke mall bentar dong, beli make up.” ucap Kirana lesu.   “Pak bos?”   “Udah jinak,” Kirana mengedipkan sebelah matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD