Sepanjang Kirana memilih-milih make up yang sesuai dengan keinginan. Jaka terus memperhatikan wanita ini. Jaka mencari apa yang menarik sehingga sahabatnya yang terkenal susah untuk di dekati oleh lawan jenis itu bisa membawa Kirana masuk ke dalam apartemen nya.
“Aku tau kalau aku cantik dan menarik, tapi memandang ku begitu lama kau harus membayar,” ucap Kirana yang tengah fokus pada bebarapa make up di depannya.
“Kau cantik dan menarik memang sudah bukan rahasia lagi, hanya satu yang gue heran,” ucap Jaka menggantung.
“Apa itu?” Tanya Kirana penasaran dan mengalihkan fokus dari memilih make up nya.
“Heran, kenapa sampai saat ini lu masih jomblo,” ledek Jaka.
“Sialan kau, aku bukan wanita yang mengidamkan lelaki yang tampan dan kaya. Tapi aku menginginkan pernikahan yang di landasi dengan rasa cinta. Selain itu aku juga harus selektif akan hal itu, cinta itu penting tapi dia juga harus bisa menafkahi aku. Gak usah muluk-muluk lah, standar aku cuma yang mampu buat nyaman dan masih semangat bekerja,” jawab Kirana panjang lebar.
“Oke, gue paham. Yang jadi pertanyaan gue sekarang cuma satu. Kenapa lu gak make up seperti biasanya dan lu pakai drees seperti ini?” tanya Jaka penasaran.
Kirana menatap rekan kerjanya sebelum menjawabnya. “Kau tau Jak? Ini semua ulah sahabatmu itu!” tatapan tajam yang di lempar oleh Kirana membuat rasa penasaran Jaka semakin menjadi.
“Lu apain dia? Sepertinya standar lu bukan dia? Tapi kenapa ini semua ada hubungannya dengan tu orang?” Tanya Jaka.
“Sahabat kau itu sakit jiwa! Dia memang bukan standar ku. Tetapi dia orang gila yang mengikat ku dengan alasan pekerjaan!” ucap Kirana sambil mengeluarkan black card untuk membayar belanjaannya.
“Maksud lu apa?” tanya Jaka.
“Dia yang meruhkan aku dan dia juga yang mengikat. Kejadiannya saat aku ke pesta yang juga di hadiri sahabatmu, dia minum dengan banyaknya dan membuat padannya panas. Semua orang tau aku itu sekertaris dia, jadi para tamu pun memberi tahu ku terutama pak Gandi pemilik acara. Beliau menyuruh ku buat memawa pulang pak Agni,” jelas Kirana.
“Masalahnya apa, sekarang?” Tanya Jaka.
“Saat itu aku menghadiri pesta bersama dengan kekasihku,” jawab Kirana.
“Hahahaha memang gila Agni.” gelak tawa pun keluar dari mulut Jaka yang memang tak bisa bertahan lama dalam mode seriusnya. “Terus, kemarin pagi kenapa lu ada di kamar Agni?”
Pertanyaan sederhana yang membuat Kirana tersedak ludahnya sendiri.
Huk
Huk
Huk
“Are you okey?” Jaka menepuk-nepuk punggu wanita yang berjalan di sampingnya meninggalkan toko make up itu.
“Yea, I am okey. Tapi tau dari mana kamu kalau aku di kamar pak Agni?” tanya Kirana membalikkan pertanyaan Jaka.
“Kemarin pagi meeting, tapi di tengah-tengah meeting pak Agni seperti tengan melakukan sesuatu dengan seseorang dan membiarkan laptopnya jatuh sehingga menampilkan gambar abstrak. Setelah itu di akhir meeting, Agni lupa mematikan camera, dia hanya menutup ikon saja. Dan lu tau apa yang terjadi?” tanya Jaka.
“Apa?”
“Kami mendengar jelas kalau Agni memanggil Kirana. Yang di maksdu itu, elu ‘kan?” jelas Jaka.
Kirana menundukkan kepalanya dan mengiyakan jika itu memang dirinya. Antara percaya dan tak percaya Jaka mendengar semua cerita yang ia dengar dari Kirana. Agni bukan type orang pecinta wanita, bahkan dirinya juga sempat meragukan kejantanan sahabatnya itu.
Tetapi apa yang di dengar dari Kirana saat ini, membuat Jaka sedikit tau. Jika Agni merupakan lelaki yang sangat posesif dan dominan.
“Jadi itu yang buat lu bisa pakek baju seperti ini ke kantor? Di tambah tak berhias dulu?” tebak Jaka.
“Huum, dan kamu tau? Aku akan sangat sulit jika akan bertemu dengan kak Bima,” adu Kirana yang menyesali takdir.
“Semua pasti ada jalannya, tenang saja Agni cukup bisa di percaya kok. Kalau dia bilang bisa ngasih waktu buat lu dengan kekasih elu yang sebenernya, pasti dia akan menepatinya,” Jaka menenangkan Kirana yang tengah di kuasai oleh emosi.
Setelah bercerita panjang lebar pada Jaka tentang masalah dirinya dengan Agni. Kini Kirana dan Jaka kembali ke kantor. Kembali melanjutkan aktifitasnya, berkutat dengan pekerjaan yang sudah tiga hari di tinggalkan oleh Kirana.
Jam makan siang di lalui oleh Kirana dan Jaka dalam ruangan. Mereka tak bisa makan di restoran atau kantin, karena pekerjaan yang begitu menumpuk. Sedangkan Agni sendiri juga sama sibuknya mempersiapkan untuk tugas keluar kotanya.
Perjalanan dinas yang belum di ketahui oleh Kirana, karena tugas itu dadakan. Sedangkan Bima sempat datang untuk membawakan makan siang seperti biasanya di saat Kirana tengah sibuk. Bertemu sebentar adalah salah satu cara mereka berdua untuk tetap saling menjaga kedekatan yang mereka bina sejak lama.
“Kirana, tolong sampaikan pada manager Hadi untuk datang ke ruangan,” ucap Agni melalui sambungat telephone paralelnya.
“Baik, pak!”
Kirana mengerjakan sesuai yang di pinta Agni. Bersama dengan team, manager Hadi datang ke ruangan Agni. Di rumahkan selama tiga hari rupanya banyak sekali yang tak di ketahui oleh Kirana.
Dalam ruangan Agni sudah ada lima orang yang bersama dengan manager Hadi. Mereka membahas projek yang ada di limpahkan pada mereka. Kirana datang membawakan berkas yang di minta oleh Agni.
“Kirana, kamu ikut dengan saya ke Bali. Nanti kamu yang presentasi,” ucap Agni mendiktatori.
“Bali? Kapan?” tanya Kirana kaget.
“Besok,” Agni menyerahkan berkas yang sudah di pelajarinya dan menyuruh wanita itu untuk meninggalkan ruangannya.
Dengan hati yang berat, Kirana menerima tugas yang di berikan pada dirinya.
“Itu muka apa cucian kotor? Lecek amat, bu?” goda Jaka yang melihat Kirana cemberut setelah keluar dari ruangan big bosnya.
“Besok itu weekand, tapi malah perjalanan dinas. Beneran bikin aku malas kerja,” Kirana mendudukkan diri di kursi kerjanya.
“Oh yang ke Bali itu? Itu proyek gede sayang, sayang kalau gak di ambil. Kalau gak salah mau bangun apartemen di Benoa, apa Tanjung Benoa gitu. Lupa gue,” jelas Jaka.
“Biar aku kerjain di sana tu orang,” Kirana mengangkat salah satu alisnya dengan menunjukkan tatapan menggodanya.
“Akulah pendukung mu,” Jaka menjawab dengan mengambil satu lirik di lagu Garuda panca sila.
Senyum Kirana mengembang mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Jaka. Teman satu divisinya ini memang lebih sering melawak dari pada serius, karena selama Kirana bekerja sama dengan lelaki ini. Hampir tak pernah melihatnya serius selain meeting.
Kirana merasa beruntung mendapatkan rekan kerja seorang laki-laki yang merupakan sahabat sang bos. Meski bersahabat, kedua orang itu tak pernah segan untuk melontarkan kata-kata yang mungkin akan di anggap menghina. Tapi satu sama lain sudah mengetahui jika semua itu hanya bercandaan semata. Karena kedua orang ini sangat-sangat serius ketika sudah berhadapan dengan yang namanya pekerjaan.