Ketika usiaku menginjak 15 tahun, aku terpaksa menikah dengan seorang hantu. Namanya Ziel dan dia adalah seorang hantu berwajah setampan dewa. Rambutnya sepanjang punggung, matanya berwarna terang seperti seekor elang, dan terkadang menghitam ketika dia merasa terlalu marah.
Tubuh hantu Ziel lebih padat daripada konsistensi hantu umumnya, tangannya sedingin es, kulitnya sepucat batu pualam dan sehalus bulu, namun terlihat kuat nan kokoh. Serta, kehadirannya yang seringkali tiba-tiba, selalu membuatku merasa seperti padang gurun kering yang tersiram air hujan.
Ziel adalah hantu yang berasal dari bagian terdalam hutan liar terlarang di daerah tempat tinggalku. Aku tinggal di daerah dingin yang berbatasan langsung dengan sebuah hutan yang luas dan lebat yang tidak semua orang bisa menemukan tepinya. Hutan yang membuat siapa pun yang memasukinya akan merasakan sesak di d**a, gelisah, dan kehilangan kewarasan.
Nama hutannya adalah hutan Are. Dan Ziel adalah salah satu penghuninya.
Aku bukan bocah gila yang mau-mau saja menikahi seorang hantu. Tapi semua ini karena kesalahanku. Aku menyukai hutan Are dan segala keindahannya yang terlarang itu. Aku seringkali bermain di bagian pinggir hutan untuk menikmati keindahan pepohonan besar, rumput-rumput liar serta lelumutan.
Semua orang menghindari hutan Are, namun aku tidak, meski aku juga tidak berani memasukinya. Namun, pada saat ulang tahunku yang kelima belas, yang mana adalah umur yang dipercayai sebagai umur paling sial sepanjang hidup, aku memasuki hutan Are.
Karena aku sering berada di sekitar hutan Are, anak-anak seumuranku menganggapku aneh. Mereka juga membenciku. Merisakku, memukuliku, dan menyuruh-nyuruhku seperti pembantu.
Seperti kali ini. Sebuah bola tenis dilempar dengan keras ke kepalaku oleh anak-anak manja itu ketika aku berada di tepi hutan Are. Lemparan bola itu rasanya membuatku mual.
“Hei, Liliput, ambilkan bola itu!” seru Oli yang t***l itu. Sementara kembarannya Ori meringis di sampingnya. Mereka tengah bermain tangkap bola di lapangan terbuka. Agak jauh dari tempatku berada mengamati lelumutan yang menempel di pohon.
Jadi, aku yakin mereka sengaja melemparku dengan bola itu. Seperti biasanya.
Aku melirik ke arah bola, dan melihatnya jatuh masuk ke dalam hutan.
“Kenapa bukan kau saja yang mengambilnya sendiri?” balasku. Pandanganku masih menjadi dua karena lemparan bola si t***l dan gendut itu.
“Kalau kau tidak mau mengambilnya untuk kami, kami akan menjadikanmu sebagai bola yang akan dipukul dengan tongkat baseball,” balas Ori. Mereka si kembar sama sintingnya.
Aku melirik ke dalam hutan. Tempat bola tenis itu jatuh di antara semak-semak.
“Pergi, atau aku akan benar-benar memukulimu dan membuang semua bukumu di selokan sekolah,” sambung Oli.
Orangtuaku miskin, aku tidak punya uang saku lebih. Jadi, aku tidak mau buku sekolahku hancur gara-gara mereka.
Ada pagar kawat yang mengelilingi hutan. Pagar itu setinggi d**a orang dewasa dan sulit untuk dimasuki. Namun, selalu ada celah di bawah kawat, dan tubuhku masih cukup untuk melewatinya.
Jadi, aku masuk ke dalam celah itu dengan posisi merayap. Sepertinya memasuki pinggir hutan saja tidak apa-apa. Hanya mengambil bola lalu pergi keluar.
“Hei, dia benar-benar masuk,” seru Oli dengan terkejut.
Aku bangkit dari posisi merayap begitu sudah masuk ke dalam hutan, kemudian mulai mencari keberadaan bola tenis berwarna hijau itu di antara rumput dan lumut yang melapisi tanah hutan.
Oli dan Ori mendekat dan melihatku dari batas pagar. Ekspresi mereka semua tampak ngeri, seolah aku sedang dimakan iblis di dalam hutan.
“Ada hantu tanpa tubuh di dalam sana, Liliput, apa kau tidak takut?” seru Oli.
Aku takut. Tapi aku lebih takut kalau aku kehilangan semau buku-bukuku. Aku sudah pernah kehilangan sepatu yang dibuang oleh anak-anak nakal itu. Jadi, aku hanya mengenakan sandal ke sekolah. Anak-anak di sekolahku semakin merisakku karena hal itu.
Aku tidak memedulikannya. Aku menunduk mencari bola. Padahal aku tadi melihat di mana lokasi bola itu terjatuh, tapi aku tidak menemukannya. Bahkan ketika tanganku memilah rerumputan, tapi aku tidak menemukannya.
“Belum ketemu?” tanya Ori. “Cari yang benar dong.”
“Hei, aku melihat hantu di belakangmu, hiii,” sambung Oli menakutiku.
Aku terus mencari berkeliling tak memedulikan mereka, lalu mataku menemukannya. Sebuah bola tenis hijau berada di sebuah dataran berlumut. Dataran itu merendah ke arah dalam hutan, dan bola itu sedang menggelinding. Buru-buru aku berlari ke arahnya, dan mengejar bola itu.
Aku mendengar Oli dan Ori berteriak tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka teriakkan. Kukejar bola itu tanpa memedulikan suara-suara. Lalu, sebelum aku berhasil mendapatkan bola itu, mendadak kakiku menginjak tanah rapuh dan aku terperosok ke dalam sebuah lubang.
Tubuhku jatuh berdebum ke tanah padat. b****g dan punggungku nyeri, namun yang paling lebih nyeri lagi adalah tanganku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan tanganku. Kemudian aku merasakannya. Kelingkingku bengkok karena patah. Nyerinya sampai di ubun-ubun dan aku mulai menangis di dalam lubang gelap itu. Menjerit memanggil teman-temanku. Tapi tidak ada yang hadir di mulut lubang.
Setelah lelah menangis dan jejeritan, di dalam lubang sebesar sumur itu, aku melihat sebuah cahaya terang dari ujung lorong. Lubang itu ternyata sebuah gua. Aku pun berjalan ke arah cahaya itu, dengan pikiran cahaya itu adalah sebuah jalan keluar. Lama sekali aku berjalan, sampai akhirnya aku tiba di perut gua.
Ada sebuah sungai yang mengalir dari ujung-ujung kegelapan terowongan gua, air itu sejernih kristal dan bercahaya terang. Di tepi sungai itu tampak jalinan akar yang lebar dan rumit dari sebuah pohon kecil yang daun-daunnya berwarna emas. Akar itu terlihat seperti akar pohon purba yang hidup ratusan tahun. Terlihat janggal dimiliki oleh pohon yang ukurannya hanya sebesar paha lengan orang dewasa itu.
Namun, aku terlalu haus, jadi aku buru-buru meminum air sungai itu. Rasanya luar biasa segar. Mendinginkan dadaku, lalu ke seluruh tubuhku sampai ke ubun-ubunku. Tidak pernah aku merasakan air sesegar itu selama hidupku, jadi aku minum banyak. Dan banyak sampai kenyang.
Kelingkingku masih sakit, bengkok dan berdarah, jadi aku mencelupkannya di sungai itu. Dinginnya air mengurangi nyerinya.
Dari pantulan permukaan air sejernih kristal itu, mendadak muncul cahaya lain di pohon. Aku mendongak. Tampak sebutir buah tumbuh dari salah satu cabang pohon. Mulanya kecil, lalu membesar seukuran buah pir. Warnanya putih, lebih putih daripada buah pir, dan tampak begitu segar dengan titik air seperti seperti bekas air hujan di permukaan buah itu.
Mendadak aku merasa ingin sekali memetiknya dan memakannya. Jadi aku melakukannya. Menyebarangi sungai dangkal lalu menuju ke pohon yang tingginya tidak seberapa itu. Lalu aku pun memetiknya, dan memakannya dengan rakus.
Rasanya aneh. Rasanya tidak seperti buah, melainkan seperti daging. Daging yang keras tapi gurih. Aku terlalu lapar, jadi aku terus saja memakannya sampai habis.
Setelah memakan buah tanpa biji itu, aku duduk di bawah pohon karena mengantuk. Mataku memejam, dan yang terakhir kulihat sebelum aku jatuh lelap. Terlihat banyak makhluk yang mendekatiku, wajah mereka menyeramkan, dan wanita-wanita berambut panjang yang menjulurkan tangannya yang bercakar padaku.
Namun, aku tidak bisa berlari meski jantungku berdetak luar biasa keras. Kakiku mati, dan dadaku terasa sesak dan berat. Nadiku secepat derap kuda, dan aku merasa dadaku dicakar dengan perih. Kemudian aku terlelap.
“Lily! Lily!” seseorang memanggil namaku, lalu aku pun membuka mata. Kutemukan diriku terbaring di atas rerumputan, di bawah akar pohon besar yang berselimutkan lumut di dekat pagar di tepi hutan terlarang.
“Lily, oh, Nak,” seru seseorang lagi. Dan ternyata dia adalah ayahku. “Kenapa kau tertidur di tempat seperti ini? Kenapa kau masuk ke hutan terlarang? Bukannya aku sudah melarangmu?” nada Ayah terdengar marah.
Aku bangkit dari posisiku berbaring, lalu aku terjatuh lagi. Dadaku terasa berat sekali seperti ada gajah besar yang mendudukinya.
“Ayah, aku tidak bisa bangun,” kataku. “Dadaku sesak. Ayah, aku tidak bisa napas,” lanjutku sambil terengah-engah seperti habis berlari marathon. Saat itu aku merasa takut sekali. Aku merasa mau mati.
Ayah membawaku pulang dengan menggendongku keluar dari hutan terlarang. Begitu kaki Ayah melewati pagar kawat, aku mendengar suara teriakan teredam dari dalam hutan. Teriakan kemarahan, dan burung-burung hitam berkoak terbang menuju langit.
Dadaku semakin nyeri.