Bab 3 : Malam Pertama

1034 Words
Sesampainya di rumah, aku sakit. Tubuhku menggigil dan dadaku sesak seolah ingin meledak. Aku jadi susah napas. Susah banget dengan d**a seberat gajah. Ayah tahu ada yang tidak beres denganku setelah dia memberiku obat-obatan tapi tidak menimbulkan efek apa pun. Sehingga, dia menjemput Saman Ali untuk memeriksaku. Saman Ali adalah seorang pertapa yang hidup di daerahku. Rambutnya seputih kapas, dan tubuhku sekurus ranting pohon. Umurnya sembilan puluh tahun lebih, hampir menginjak seratus tahun, dan tubuhnya yang kering itu adalah hasil dari seringnya dia bertapa. Dia selalu mengenakan kain berwarna putih yang meLilyt tubuhnya yang kurus itu. Saman Ali memeriksa keningku, kemudian menyentuh titik di tengah dadaku. Aku megap-megap, napasku memendek dan berat. Kepalaku pusing, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Ibuku menangis di pojokan seolah tahu aku akan mati. “Dia akan pergi sebentar lagi. Relakan anakmu,” kata Saman Ali sesuai dengan dugaanku. Aku akan mati. Aku benar-benar hendak mati. Jadi begini rasanya menuju ajal? “Lakukan apa saja untuk menolongnya, dia anak perempuanku satu-satunya,” ibuku memohon. Dia memegang tanganku sambil berderai air mata. “Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” tanya Ayah. “Apa karena dia memasuki hutan terlarang?” Kulit dahi Saman Ali yang berkerut, semakin mengerut. Dia kembali menekan dadaku. “Ada dua jantung di dalam dadanya,” katanya. “Sebuah jantung miliknya sendiri, dan sebuah jantung milik iblis penguasa hutan terlarang.” Ibuku semakin menangis mendengar itu, dan ayahku tampak syok. “Lalu bagaimana caranya menyelamatkannya?” tanya Ayah. Saman Ali menggeleng. “Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali kematian.” “Tidak. Dia tidak boleh mati. Dia anak perempuanku satu-satunya. Kalau bisa aku akan bertukar nyawa dengannya,” balas ibuku. “Begitu?” tanya Saman Ali. “Kalian benar-benar ini menyelamatkannya? Kalian yakin? Karena ada konsekuensi ketika dia tetap hidup. Akan hadir bencana di daerah ini, dan kalian tidak akan tahu bagaimana cara mengatasinya.” “Aku tidak peduli, yang penting selamatkan anakku,” balas ibuku. Lalu Saman Ali pun mengatakan bagaimana caranya. Yaitu, menikahkanku dengan seorang hantu. Hantu berasal dari titik terdalam hutan terlarang. Namanya Ziel, yang menjadi suamiku sekarang. Prosesi pernikahan itu hanya berupa doa-doa dari Saman Ali. Lalu dia membisikiku. “Kau sudah menikah sekarang, dan suamimu akan datang malam nanti untuk menolong dan menjagamu. Jangan takut padanya, meski dia begitu menyeramkan.” Mendengarkan hal itu membuatku ingin mati saja. Aku tidak suka hal-hal yang menyeramkan. Aku tidak suka hantu. Kenapa justru aku dinikahkan dengan hantu?” Malam pun tiba. Aku belum sembuh dari dadaku yang sesak itu. Semakin malam, semakin parah keadaanku. Aku hampir tidak bisa bernapas lagi. Napasku berbunyi, dan keringatku menderas seperti hujan. Ayah dan Ibuku serta adikku menunggu di sekitar ranjangku, kemudian menjelang tengah malam, mereka tertidur. Pada saat itulah, aku mendengar suara angin dari arah jendela. Udara mendadak terasa begitu pekar, sepekat udara di dalam hutan terlarang. Aku memejamkan mataku, aku takut setengah mati, meski aku sudah hampir mati. “Lily, jadi kau Lily? Istriku?” sebutnya dengan suara yang seolah hanya ada dalam pikiranku. “Bukalah matamu.” “Tidak. Aku tidak mau. Kau menyeramka,” balasku, namun di dalam hatiku. Karena jangankan berbicara, bernapas saja susah. Namun, Ziel mendengarnya. “Aku tidak menyeramkan. Aku janji. Jadi, bukalah matamu.” Lantas kubuka mataku, dan kulihat Ziel untuk pertama kali. Seorang hantu laki-laki, matanya seperti mata elang, berambut hitam dan panjang, kemudian wajah yang setampan dewa. Ziel mendekatiku, jubah hitamnya berkibar seolah tertiup angin. Padahal udara sedang pekat dan padat. Tangannya yang seputih batu pualam menjulur padaku, lalu menyentuh pipiku. Sentuhannya begitu halus seperti bulu, namun tangan itu sedingin es. “Anak yang malang,” katanya. Bibirnya bergerak. Bibir yang pucat, namun tidak mengurangi ketampanannya. “Kenapa kau memakan jantung raja iblis?” tanyanya. “Kau tahu, raja iblis sedang murka sekarang.” Aku hanya mengamatinya sambil megap-megap. “Kau anak yang nakal ternyata.” Ziel tersenyum dan senyumnya itu membuatnya semakin tampan. Tapi aku sudah merasa terlalu lelah dan mengantuk. Aku sudah ingin menyerah untuk bertahan hidup. “Ah, sudah saatnya, ya,” lanjutnya. “Baiklah, aku akan menyelamatkanmu. Aku Ziel, dan aku akan membantu membawa beban berat di dalam dadamu. Berat jantung raja iblis itu, aku yang akan menanggungnya mulai sekarang. Nah, Lily sekarang pejamkan matamu,” perintahnya. Aku pun memejamkan mata, tangan Ziel menyentuh dadaku dan bibir Ziel mencium bibirku dengan ringan. Rasanya seperti mencium balok es. Bersamaan dengan itu, beban dalam dadaku mendadak terangkat. Paru-paruku berangsur-angsur terisi udara dan napasku menjadi normal. Begitu aku membuka mata dari tubuhku yang terasa nyaris mati namun kini terasa begitu sehat luar biasa, aku menemukan diriku sedang berada di dalam pelukan Ziel. Pelukan dingin namun anehnya terasa begitu nyaman seperti buaian ranjang dari bulu angsa. Ziel melepaskan pelukannya begitu menyadari aku telah sadar, dan sembuh dari kesakitanku. Dia tersenyum menatapku. “Bagaimana rasanya? Ringan bukan?” tanyanya. Aku sama sekali tidak berkata apa-apa, karena terlalu syok dengan segala hal yang barusan terjadi. Aku akan mati. Ziel menciumku, dan aku mendadak sesehat bayi kuda. “Lily dengarkan aku. Jantung raja iblis tetap akan berada di dalam tubuhku. Di samping jantungmu. Hanya beratnya saja yang kupindahkan padaku. Jadi, ke mana pun kau pergi, kau harus menutupi dadamu dengan lapisan-lapisan kain. Karena jantung raja iblis menarik makhluk-mahluk jahat. Dan mereka akan membunuhmu.” “Tapi kau akan menolongku bukan?” batinku dalam hati. “Saman Ali berkata begitu. Kau akan menjagaku.” Ziel kembali tersenyum lalu mengangguk. “Tentu saja aku akan selalu menjagamu. Karena kau adalah istriku sekarang.” Ziel meraih tanganku. Dia mengenakan sebuah cincin berwarna hitam dengan motif dedaunan sulur ke jari manisku. “Aku tidak tahu dari mana asal cincin ini, tapi sejak aku membuka mata, aku sudah mengenakan cincin ini.” Mata elang itu menatapku. “Cincin ini milikmu sekarang.” Ziel menyentuh pipiku dengan lembut, kemudian dia pergi. Malam itu, adalah malam pertama aku bertemu dengan Ziel. Serta malam pertama awal dari bencana. Berat jantung raja iblis yang nyaris membunuhku memang telah diambil alih oleh Ziel, suami hantuku. Namun, beban bencana yang timbul gara-gara kehidupanku, adalah milikku. Berat di pundakku. Konsekuensi atas dasar kecerobohanku karena sudah masuk ke dalam hutan terlarang dan memakan jantung raja iblis. Serta kedua orangtuaku yang egois, yang memintaku untuk terus hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD