Bab : Malam Kedua

1218 Words
“Kenapa Anda menikahkanku dengan hantu? Seharusnya biarkan saja aku mati,” protesku pada Saman Ali. Pria bertubuh kelabu dan berambut putih itu sedang memilah rempah-rempah. Pura-pura tidak mendengarku. “Saman Ali, Anda mendengarku bukan?” desakku dengan kesal. Pria itu tidak segera menjawabku, malam menyuruhku. “Isi timba itu dengan air, lalu bawa ke dalam pondok.” Aku menekuk wajahku dengan kesal. Lalu mengambil timba dan mengisinya di sumur. Aku tidak ingin membantunya, tapi dia sudah tua. Begitu air di dalam timba penuh, aku membawanya ke dalam pondok. Meletakkannya di sebelah kompor kayu bakar. Dia atas kompor itu tampak semangkuk masakan sayur hijau. Terlihat sama sekali tidak menarik. Saman Ali tidak makan dari bahan makanan yang memiliki nyawa. Dia hanya makan dari tumbuhan. Sayuran, nasi dan buah-buahan. Setelah meletakkan timba itu aku kembali ke Saman Ali yang masih dengan tenang memilah rempah-rempah di bangku kayu di depan pondok. “Tutupi dadamu dengan kain ini. Jangan sekali-sekali kau keluar tanpa menutupi dadamu,” ujar pria itu begitu aku sampai di tempatnya. “Apa ini?” tanyaku. Aku menerima kain bertuliskan banyak huruf dan angka-angka. Kain itu tampak lusuh dan kotor. Seperti kain lap kompor. “Itu kain yang membantumu menyembunyikan kedua jantungmu, Lily. Pakai itu kalau kau tidak ingin hantu dan makhluk jahat lain menuduk dadamu,” balas Saman Ali tanpa memandangku. Aku masih kesal sekali dengan pria tua berwarna kelabut itu. “Aku bertemu dengannya. Hantu itu!” seruku dengan kesal. “Bagaimana aku bisa menikah dengan hantu?” Aku hampir ingin menangis. “Dia memberiku cincin ini, dan aku tidak bisa melepaskannya dari tanganku!” Aku menunjukkan sebuah cincin hitam yang bermotif sulur dedaunan di tangan kiriku pada Saman Ali. Pria itu melirik ringan ketika aku kembali mencoba melepasnya. Semakin aku memaksanya lepas, rasanya cincin itu semakin mengerut kecil dan meremas tanganku. “Oh, kalau begitu kau sudah melihatnya?” balas Saman Ali dengan ringan. “Kalau begitu terima saja, Lily. Dia yang menyelamatkan nyawamu.” Aku menarik napas dengan kesal. “Kenapa Anda tidak membiarkan aku mati saja dari pada aku menikahi hantu?” teriakku. Saman Ali, berhenti memilah rempah lalu menatapku. “Tanyakan pada orangtuamu. Dia menginginkan kau hidup. Jadi, aku menuruti permintaannya.” Aku semakin bertambah kesal. “Lily, kau harus lebih berhati-hati sekarang. Karena hidupmu tidak akan sama lagi mulai hari ini. Akan selalu ada bencana ke mana pun kamu pergi,” kata Saman Ali. “Jantung itu, jantung iblis yang kau telan itu mengundang makhluk jahat. Dan mereka akan menyerangmu kapan pun. Jika mereka tidak bisa menyerangmu, dia akan menyerang orang di sekitarmu,” terang Saman Ali. “Sekarang kau pulang lah. Sebentar lagi gelap turun.” Aku mengentakkan kaki lalu pergi dari pondok Saman Ali yang reyot itu dengan perasaan sangat kesal. Di rumah, ketika aku di dalam kamar sedang mengerjakan pekerjaan rumahku, mendadak kamarku berubah sangat dingin. Ketika aku menoleh, aku melihat hantu itu sedang mengamatiku. “Kau lagi!” seruku dengan kaget, bercampur takut. Siapa juga yang tidak takut dengan kehadiran mendadak hantu, meski dia begitu tampan. Aku belum biasa dengan kehadiran Ziel itu. “Apa yang sedang kau lakukan, istriku?” tanyanya dengan suara seperti lonceng angin. Ziel mendekat padaku, dan pada saat ini, kakinya menempel ke lantai seperti manusia lainnya. “Jangan panggil aku istrimu. Itu menggelikan,” protesku tidak senang. Ziel tersenyum, dan dia setampan tetesan embun pagi. “Mau apa kamu ke mari?” tanyaku lagi. “Untuk melihatmu, tentu saja. Dan melakukan beberapa hal lain tentunya.” Aku mundur selangkah. “Apa yang akan lakukan padaku? Dengar aku masih 15 belas tahun. Belum waktunya aku melakukan hal semacam itu,” teriakku. Ziel menempelkan telenjuknya ke bibirnya. “Ssstt, kau akan membangunkan banyak orang. Orang-orang yang kau kenal dan yang tidak kau harapkan.” Aku mengerutkan dahi. Apa sih dia itu? “Pokoknya kau jangan macam-macam ya? Apa pun yang terjadi, aku sebenarnya tidak mau menikah denganmu. Aku masih 15 tahun. Mengerti kau? Aku tidak bisa melakukan hal itu!” ucapku dengan kesal. “Aku tahu,” balas Ziel, tapi dia semakin maju ke arahku. Lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Hei apa yang kau lakukan?” “Aku melakukan apa yang seharunya kulakukan,” balasnya. Lalu setelah dia bicara seperti itu, timbul bunyi angin yang sangat kuat di sekitarku, lalu hentakan yang terasa di dalam perutku. Ziel, membawaku menerobos atap dan terbang bersamanya. Ziel melayang di udara, sambil mendekap erat tubuhku. Aku berteriak-teriak ketakutan sambil memeluk Ziel. Kakiku melayang, tidak menapak tanah sekitar 20 puluh meter tingginya. “Ziel, Ziel, apa yang kau lakukan?” jeritku. “Kau terbang! Aku terbang!” “Tentu saja aku terbang untuk melindungimu,” balasnya dengan tenang. “Dengar istriku, Lily, aku sudah berjanji untuk menjagamu bukan? Dan pada saat ini, itu lah yang sedang kukerjakan,” balasnya sambil menatapku. Mata Ziel seterang api, dan wajahnya seputih bulan. Kulitnya terasa dingin, namun dadanya yang menempel di tubuhku terasa hangat. Ziel tidak transparan, Ziel adalah hantu dengan sosok yang cukup utuh layaknya manusia. Senyum di bibir Ziel masih tersungging, dan senyum itu membuat terpikat selama sesaat. “Menjagaku dari apa?” seruku kemudian. Aku mengalungkan tanganku di leher Ziel dengan erat. Takut jatuh. Aku sedang setinggi pohon cemara sekarang. “Dari itu,” balas Ziel lalu dia menunduk melihat ke arah rumahku, yang sekarang tampak mengecil atapnya. Mata Ziel menyala lebih terang selama sesaat, dan wajahnya berubah serius. Dengan hati-hati, aku menatap ke bawah, mengikuti arah pandangan Ziel. Oh tidak, apa yang kulihat itu? Rumahku, dikepung dengan makhluk-makhluk yang aneh. Seperti orang-orang sawah, sesuatu yang kerdil, raksasa, makhluk buruk rupa, monster besar buruk rupa dan bertaring, dan makhlu aneh lainnya. Mereka membawa senjata. Pedang, cakar yang tajam dan tombak serta lain-lainnya. “Apa itu?” seruku dengan mata membelalak takut. “Itu? Itu adalah makhluk yang sedang mencarimu saat ini. Serangan pertama yang kau dapat kan. Mereka adalah para iblis, hantu j*****m, serta makhluk-makhluk keji yang ingin merobek dadamu demi memakan jantung iblis yang berada di dalam dirimu, Lily,” terang Ziel. Mataku melebar. Nyaris melotot melihat para makhluk yang menyeramkan itu dan membuat bulu kuduknya jadi meremang. “Mereka ingin membunuhku?” ulangku. “Lalu bagaimana denga keluargaku? Adik dan orangtuaku di dalam sana,” tanyaku ketika melihat salah satu dari iblis itu masuk ke dalam pelataran rumah. Ziel terdiam, ekspresi wajahnya masih kaku. Lalu mendadak punggungnya keluar sayap kelabu yang begitu besar, dan dia terbang makin tinggi. “Ziel, keluargaku ada di sana,” seruku mau menangis. “Aku tahu,” balas Ziel. Lalu dia terbang menuju ke sebuah pohon yang tinggi dan menurunkanku di dahan yang cukup lebar. “Lily, kau di sini saja sebentar. Kalau ada yang menyerangmu, tinju saja dia dengan tangan yang mengenakan cincin dariku. Itu akan membantumu,” balas Ziel. “Kau mau meninggalkanku sendirian di atas pohon setinggi ini? Kau gila?” balasku. Kakiku gemetaran. “Jangan takut, aku akan segera kembali,” balas Ziel. Lalu matanya kembali seterang api yang baru disulut, dan dia menjatuhkan diri dari dahan. Terjun dengan bebas lalu terbang dengan sayap kelabunya yang lebar menuju ke rumahku. Aku tahu dia akan menyelamatkan keluargaku, tapi aku di atas dahan setinggi ini sendirian. Bagaimana ini? Terdengar suara menggeram di belakangku. Oh, tidak, apa lagi ini? Aku ketakutan, kakiku gemetaran dan rasanya mau kencing saja. Seseorang tolong aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD