Suara geraman itu terus terdengar. Makin lama makin kencang. Kakiku kaku, tanganku yang merangkul dahan untuk pegangan agar tidak jatuh dari pohon yang tingginya nyaris 25 meter, gemetar. Hawa dingin berhembus, dan bulu kudukku meremang.
Perasaan ini sama seperti perasaan saat aku kecil. Ada suara merintih di dalam toilet sekolah, saat aku melihat di salah satu bilik, aku melihat perempuan. Menempel di langit-langit toilet, dan rambutnya jatuh riap-riapan. Pertama kalinya aku melihat hantu seumur hidupku, sebelum aku bertemu Ziel yang aneh itu.
Ziel masih di bawah sana, bertempur dengan para iblis, setan dan makhluk-makhluk aneh yang menyerang rumahku. Sayapnya tampak lebar dan kelabu, dan terlihat kilatan putih saat dia terbang rendah menyambar makhluk-makhluk itu dan melemparnya jauh. Seperti burung elang besar yang sedang berburu mangsa.
Aku tidak tahu pastinya, apakah keluargaku menyadari kericuhan itu, apakah mereka merasakannya? Mengetahui sedang ada pertempuran di luar pagar, atau justru mereka sedang tertidur lelap tanpa tahu apa-apa.
Tanpa tahu bahwa anak perempuannya yang mereka perjuangkan hidup dengan sedimikian rupa, sedang berada di atas pohon setinggi 25 meter. Berpegangan pada dahan kurus, dan siap kencing di celana gara-gara suara menggeram di belakangnya.
Ada sesuatu yang bergerak di belakangku, seperti suara gesekan pelan, seperti sesuatu yang lunak menggesek dahan yang keras. Setan apa lagi yang muncul di belakangku ini?
“Jantung iblis,” mendadak terdengar suara berat yang rasanya menghentikan detak jantungku. “Kau memiliki jantung iblis.”
Keringatku menderas. Tubuhku kaku seperti papan. Aku tidak berani menoleh ke arah belakang.
“Dadamu bersinar, sinarnya seperti permata. Berikan padaku, berikan padaku,” suara itu terdengar lagi. Nadanya menggeram dan mendesis.
Aku ingin menjejakkan kakiku dan berlari secepat mungkin dari sini, tapi jika aku melakukannya itu berarti aku harus siap jatuh dari ketinggian yang tidak masuk akal ini.
Sebuah lidah, menjulur dan menjilat telingaku. Aku siap kencing di celana.
Licah itu kecil dan lancip dan rasanya bergerak terus ingin masuk ke dalam telingaku. Aku berusaha menjauhkan diri darinya. Namun, lidah-lidah lain mulai bergerak menjerat tubuhku.
Tidak, tidak. Apa yang harus kulakukan. Aku ketakutan sampai ingin menerjunkan diri saja.
Perlahan aku menggerakkan kakiku, maju ke ujung dahan. Sudahlah aku tidak peduli jatuh lagi. Aku tidak mau didekap lidah-lidah basah berbau comberan itu.
Aku melangkah, namun dengan cepat lidah itu menarikku kembali lalu memutar tubuhku. Pada saat itulah, aku melihat setan berwajah paling mengerikkan yang pernah kulihat seumur hidupku. Setan itu sepertinya wanita, rambutnya panjang, matanya keluar sebelah, penuh darah, dan wajahnya rusak.
Mulutnya miring dan hilang setengah. Sehingga mulutnya mirip seperti rongga gelap, yang meneteskan liur berwarna merah dan berbau bacin seperti rendaman kaus kaki setahun. Tangannya yang panjang-panjang seperti kaki laba-laba melilitku. Warna putih pucat dan berkeropeng. Aku tidak bisa menghitung berapa banyak tanganku itu, tapi sepertinya lebih dari empat pasang.
Mata yang hampir jatuh dari rongganya itu menatapku dengan tatapan yang membuat tubuhku merinding dan jantungku berhenti.
Aku takut. Aku takut melihat setan jelek itu. Aku takut melihat wajahnya yang buruk rupa. Ini seperti mimpi buruk yang menakutkan dan sulit untuk membuatku bangun. Sehingga aku menjerit keras.
“Ahh! Ahh!”
Namun, jeritanku barusan tidak menghasilkan perbedaan apa-apa. Malah membuat setan itu makin mengeratkan tangan-tangannya yang seperti laba-laba dan berkeropeng itu. Tubuh setan itu panjang seperti ular, dan melilit dahan pohon.
“Ziel! Ziel tolong aku,” seruku. “Dia akan memakanku!”
Dari mulut yang seperti rongga gelap itu, muncul puluhan lidah-lidah kecil menuju ke jantungku.
“Ziel!” teriakku, tapi hantu itu tidak datang.
“Baumu menyenangkan, baumu menyegarkan. Jantung iblis milikku,” setan itu makin kegirangan ketika lidahnya hendak mengebor jantungku.
Aku tidak bisa bergerak, tubuhku terjebak di antara tangan-tangan berkeropeng itu. Yang baunya membuatku mual setengah mati.
Aku putus asa, Ziel tidak datang, hantu itu menipuku. Lalu di tengah keputusasaan itu aku merasa cincin dari Ziel mengerat di jariku. Rasanya panas dan itu tidak ada hubungannya dengan setan buruk rupa di hadapanku ini.
Kemudian, aku mengingat Ziel yang mengatakan bahwa aku bisa menggunakan tanganku yang menggunakan cincin Ziel untuk meninjunya.
Aku berusaha keras untuk melapaskan tanganku dari tangan-tangan itu. Keras dan keras sebelum lidah itu mengebor terlalu jauh ke dalan jantungku.
Belum pernah aku berusaha sedemikian rupa untuk tetap hidup, lalu tanganku pun terlepas, dan aku menggunakan tangan kiriku untuk meninju wajah si setan itu.
Kekuatanku tidak besar saat meninju, tapi dari cincin itu, keluar sulur-sulur tanaman yang langsung membelit tubuh setan buruk rupa itu. Sulur tanaman itu tampak kuat, dan bergerak cepat seperti aliran air deras menyelimuti tubuh setan itu.
Jeritan melolong terdengar dari mulutnya. Geraman yang menakutkan.
Tubuhku terlepas darinya, namun ekor makhluk itu mendadak melecut ke arahku, membuatku hilang keseimbangan dan terjun bebas di antara dahan-dahan.
Aku menjerit begitu keras. Seperti ini kah rasanya mati? Tapi mati seperti ini rasanya lebih baik ketimbang mati karena membawa beban jantung iblis kemarin. Yang membuatku susah bernapas. Tapi mati tetaplah mati. Aku tidak bisa membayangkan tubuhku yang hancur saat mendarat di tanah berbatu di bawah sana.
Kupejamkan kedua mata dengan pasrah, aku tidak mungkin hidup jika jatuh dari ketinggan ini.
Lantas terdengar bunyi kelapak sayap yang besar, dan tubuhku ditangkap dan kembali diterbangkan lagi.
Aku membuka mata, melihat wajah Ziel yang setampan dewa itu menyelamatkanku. Lalu segalanya gelap dan aku pingsan.
Aku mendengar suara detak jantung ketika aku mulai sadar. Dan hangat pelukan. Kubuka mataku, dan yang pertama kali kulihat adalah mata Ziel yang terang, dan senyumnya yang hangat.
“Apa aku sudah menjadi hantu sepertimu?” tanyaku. “Karena aku merasa begitu damai sekarang.”
“Aku tidak akan membiarkanmu menjadi hantu sepertiku Lily,” balasnya dengan suara sejernih lonceng.
“Jadi aku belum mati?”
Ziel menggeleng ringan. “Kau masih hidup, dan sedang tidur di pangkuanku seperti bayi kecil yang cantik.”
Aku menegakkan diri, dan benar saja, aku sedang dipangku oleh Ziel dan tidur bergelung seperti kucing dipangkuan. Lalu aku mengamati ke sekeliling. Kami sedang berada di sebuah lapangan terbuka. Di bawah rembulan dan di bawah perlindungan batu besar.
“Ziel, bagaimana dengan keluargaku?” seruku. Mendadak mengingat serangan makhluk jahat yang ingin memasuki rumahku.
“Mereka baik-baik saja, Lily. Kau tenang saja. Mereka sedang tertidur pulas seperti si surga,” balas Ziel.
Mendengar itu membuatku merasa lega. “Syukurlah,” balasku. Lalu aku menciumi tubuhku sendiri. Bauku, yang seperti kaus kaki.
Aku mengamati tubuhku. Sisa-sisa lendir dan darah itu menempel di sekujur tubuhku. Terlihat sangat menjijikkan.
“Ziel, aku ingin mandi!” seruku sambil menggosok-gosok noda itu. Rasanya lengket sekali. Dan mulai gatal.
“Aku akan mengantarmu. Mandilah, Lily. Ludah setan terkutuk akan membuatmu gatal berhari-hari. Tapi ada kolam air hangat untukmu di tengah hutan Are. Aku akan mengantarmu ke sana untuk membasuh racun itu.”
Mendadak aku berhenti menggaruk tanganku. “Kamu membantuku membasuh tubuhku saat aku mandi?” tanyaku.
Ziel tersenyum sampai ke matanya yang indah itu. “Aku suamimu Lily, tubuhmu adalah milikku. Aku berhak melihat semuanya.”
Oh, tidak.
Ziel saat ini tampak lebih berbahaya daripada ribuan makhluk jahat sekali pun.