Bab 3 – Kaisar yang Memperhatikan

874 Words
Aula Phoenix langsung berubah sunyi begitu para pelayan mengumumkan kedatangan Permaisuri. Semua selir berdiri rapi di tempat masing-masing. Aku ikut berdiri sambil menundukkan kepala seperti yang dilakukan yang lain. Namun pikiranku masih memikirkan satu hal. Tatapan pria tadi. Jubah naga hitam. Tatapan tajam. Tidak mungkin salah. Itu pasti Kaisar. Namun kenapa dia berada di luar aula dan mengamati para selir secara diam-diam? Belum sempat aku memikirkan jawabannya, langkah kaki pelan terdengar dari dalam aula. Permaisuri akhirnya masuk. Dia adalah wanita yang sangat elegan. Hanfu emasnya menjuntai panjang di lantai, rambutnya dihiasi mahkota phoenix yang berkilau di bawah cahaya lampu. Semua selir langsung memberi salam. "Hormat kepada Permaisuri!" Suara kami bergema pelan di ruangan luas itu. Permaisuri duduk dengan anggun di kursi utamanya lalu mengangkat tangan sedikit. "Kalian boleh duduk." Semua orang kembali duduk dengan rapi. Permaisuri memandang kami satu per satu dengan tatapan tenang, tapi aura tekanannya terasa jelas. Dia bukan wanita yang mudah ditipu. Tatapannya berhenti sebentar di arahku. Hanya sebentar. Namun cukup membuat beberapa selir di sekitarku mulai berbisik. Aku pura-pura tidak mendengarnya. Beberapa saat kemudian, Permaisuri mulai berbicara. "Akhir-akhir ini istana terlihat cukup… ramai." Nada suaranya lembut, tapi semua orang tahu maksud tersembunyi di balik kalimat itu. Istana yang ramai biasanya berarti satu hal. Banyak masalah. Permaisuri melanjutkan, "Sebagai selir Kaisar, kalian harus menjaga sikap dan tidak menimbulkan keributan yang tidak perlu." Selir Lin langsung berdiri dengan anggun. "Permaisuri benar. Kami semua akan menjaga kedamaian istana." Nada suaranya lembut dan penuh hormat. Jika aku tidak tahu bagaimana dia sebenarnya, mungkin aku juga akan tertipu. Beberapa selir lain ikut mengangguk setuju. Pertemuan itu berlangsung cukup lama, tapi sebenarnya tidak ada pembicaraan penting. Sebagian besar hanya basa-basi dan nasihat dari Permaisuri. Namun jelas sekali satu hal. Beberapa selir diam-diam terus memperhatikanku. Terutama Selir Lin. Tatapannya seperti ular yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Akhirnya pertemuan selesai. Para selir mulai keluar dari aula satu per satu. Aku berjalan keluar bersama Xiao Lan dengan langkah santai. Begitu kami sampai di koridor luar, Xiao Lan langsung berbisik. "Tuan putri… tadi anda benar-benar membuat Selir Lin marah." Aku mengangkat bahu. "Dia memang sudah marah dari awal." "Tapi… pelayan takut dia akan membalas." Aku tersenyum kecil. "Tentu saja dia akan membalas." Xiao Lan langsung terlihat makin panik. "T-tuan putri?!" Aku tertawa pelan. "Tenang saja. Justru kalau dia tidak bergerak, itu yang aneh." Kami terus berjalan melewati taman istana. Angin sore berhembus pelan, membuat bunga plum berguguran di jalan batu. Suasana terlihat damai. Namun tiba-tiba seorang kasim istana muncul dari arah depan. Dia berhenti di hadapanku lalu menunduk. "Selir Huang." Aku berhenti berjalan. "Ada apa?" Kasim itu berbicara dengan nada hormat. "Yang Mulia Kaisar ingin bertemu dengan anda." Xiao Lan hampir menjatuhkan kipasnya. "Apa?!" Aku sendiri juga cukup terkejut. Kaisar? Kenapa dia ingin bertemu denganku? Aku menatap kasim itu. "Sekarang?" "Ya." Kasim itu memberi isyarat ke arah taman belakang. "Yang Mulia sedang berjalan-jalan di Paviliun Giok." Aku menarik napas pelan. Oke. Ini tidak ada dalam ingatan Huang Yue Ning. Artinya… Situasi ini benar-benar baru. Aku menoleh pada Xiao Lan. "Tunggu di sini." "Tapi tuan putri—" "Tenang." Aku menepuk bahunya sebentar lalu mengikuti kasim itu menuju taman belakang. Paviliun Giok berada di tengah danau kecil. Tempat itu sangat tenang. Hanya suara air dan angin yang terdengar. Ketika aku sampai di sana… Aku langsung melihatnya. Seorang pria berdiri menghadap danau dengan tangan di belakang punggung. Jubah hitamnya bergerak pelan tertiup angin. Aura kekuasaannya terasa sangat kuat bahkan dari jauh. Kasim itu menunduk. "Yang Mulia, Selir Huang sudah datang." Pria itu perlahan menoleh. Tatapan matanya tajam seperti yang kulihat sebelumnya. Aku langsung memberi salam. "Hormat kepada Yang Mulia Kaisar." Beberapa detik berlalu tanpa suara. Aku masih menunduk. Lalu akhirnya Kaisar berbicara. "Angkat kepalamu." Aku menurut. Begitu aku menatapnya, aku sedikit terkejut. Wajah Kaisar jauh lebih muda dari yang kubayangkan. Tampan dengan garis wajah tegas dan mata gelap yang terlihat sangat tajam. Tatapan itu seperti bisa membaca pikiran orang. Dia memandangku beberapa detik. Lalu berkata dengan santai. "Kau berbeda dari rumor yang kudengar." Aku mengangkat alis sedikit. "Rumor apa yang Yang Mulia dengar?" Kaisar tersenyum tipis. "Bahwa Selir Huang adalah wanita yang lemah dan mudah menangis." Aku tersenyum balik. "Mungkin rumor itu sudah kadaluarsa." Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Lalu Kaisar tertawa kecil. Suara tawanya pelan tapi jelas. Menariknya… Ini pertama kalinya seseorang berani menjawabnya seperti itu. Dia melangkah mendekat sedikit. Tatapannya semakin dalam. "Katakan padaku, Selir Huang." Dia berhenti tepat di depanku. "Kenapa tiba-tiba kau berubah?" Pertanyaan itu membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Namun aku tetap tersenyum santai. "Orang bisa berubah setelah hampir mati, Yang Mulia." Kaisar menatapku lama. Seolah mencoba melihat apakah aku berbohong. Namun akhirnya dia hanya tersenyum tipis lagi. "Hmm." Dia berbalik menghadap danau. "Lihatlah istana ini dengan baik." Nada suaranya tenang, tapi terasa penuh makna. "Tempat ini tidak cocok untuk orang yang lemah." Aku menjawab tanpa ragu. "Untungnya saya bukan orang yang lemah." Kaisar kembali menoleh. Untuk beberapa detik, dia hanya menatapku. Lalu akhirnya dia berkata pelan. "Bagus." Senyumnya sedikit lebih jelas sekarang. "Karena mulai hari ini…" Tatapannya terlihat sangat tertarik. "Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa bertahan di istana ini." Aku menyadari satu hal saat itu. Tanpa sengaja… Aku sudah menarik perhatian orang paling berbahaya di seluruh istana. Kaisar sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD