MAP 7

1962 Words
Gedung Rashaad Company. Team dari JCompany tiba. 10 orang itu di pandu karyawan Rashaad Company menuju ruang rapat besar yang seperti aula di dalam gedung. Disana lah tempat briefing mereka bersama dengan team operasional dari Rashaad Company. Briefing berlangsung dengan baik. Asya, Dinar dan Tika duduk di bagian agak belakang. Saat penutupan briefing, moderator menyampaikan bahwa CEO mereka akan datang mengunjungi mereka. Tidak lama kemudian Pangeran Athar dan Sekertaris Duta di dampingi kepala kepala divisi yang lain pun memasuki aula rapat. Seketika semua orang yang berada di aula itu berdiri saat CEO Athar masuk. Asya pun mengikuti. Tapi begitu terkejutnya Asya saat melihat orang yang masuk ke ruangan itu salah satunya adalah pria jahat yang sudah merenggut kesuciannya. Asya membelalakan matanya terkejut. Dan detik itu juga jantungnya seperti berhenti berdetak. wajahnya pias pucat. Tangan dan kakinya sedikit bergetar, refleks yang muncul karena ketakutan. Asya terduduk dan meremas dadanya yang terasa sakit. Dia tidak tahu kalau pria itu adalah CEO di perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya. 'Itu artinya aku dan dia akan bertemu lagi?' batin Asya. Dinar dan Tika tidak menyadari atasan mereka terduduk lemas dan terkejut pucat. Mereka terlalu terpesona dengan Athar saat itu. Di tengah-tengah Athar yang sedang berbincang dengan anggota team yang lain. Asya kemudian mengambil tas dan berjalan keluar aula tanpa pamit pada teman-temannya dengan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh Athar. Tapi sejak awal Athar masuk, dia sudah tau Asya ada dimana dan terus memgamati Asya meskipun sedang berbincang dengan yang lain. Saat melihat Asya bergegas keluar aula, Pangeran Athar menoleh pada Sekertaris Duta memberi kode. Kemudian Sekertaris Duta juga berjalan keluar aula mengikuti Asya. ** Di sebuah lorong gedung Rashaad Company. Asya bergegas pergi dari aula itu. Dia mencoba bersembunyi di kamar mandi wanita gedung itu. Berusaha menenangkan diri dan pikirannya. Asya tidak tau harus bagaimana sekarang. Dia berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi. "Nona Asya" terdengar suara barithon pria di luar toilet wanita itu. Seketika Asya terdiam dan menutup mulutnya. menoleh kesana kemari dan baru menyadari kalau dia hanya sendiri di toilet wanita itu. "Nona Asya saya Duta sekretaris CEO di Rashaad Company. Saya ingin berbicara dengan anda. saya mohon Nona Asya segera keluar. Nona sudah setengah jam berada di dalam toilet" ucap Sekertaris Duta di depan toilet. Duta di kawal beberapa keamanan dari Rashaad sedang menunggu Asya keluar dari toilet. Keamanan di kerahkan agar tidak ada yang menggunakan toilet wanita itu dulu untuk sementara. Tidak ada jawaban sama sekali dari Asya. "Nona Asya saya tahu anda di dalam. apabila anda tetap tidak merespon saya. Maka dengan terpaksa saya akan menerobos masuk ke dalam dan menarik anda keluar" ancam Duta ketika sudah 10 menit tidak di respon apapun oleh Asya. Asya tersentak dengan ucapan terakhir Sekertaris Duta dan refleks membuka pintu toilet. "aku tahu. a-ayo antar a-aku" tanpa basa-basi Asya berkata pada Sekertaris Duta. menatap Duta seakan tidak takut pada mereka. Padahal di balik gaya sok Asya sebenarnya dia menggigil saking takutnya. "baik Nona. Mari saya antar" jawab Sekertaris Duta. Kemudian mengarahkan jalan pada Asya. ** Di lantai 20 Gedung Rashaad Company. Pintu lift terbuka. Asya, Sekertaris Duta dan 2 orang bodyguard yang berada di dalam lift itu. Sekertaris Duta melangkah keluar terlebih dulu. Kemudian berbalik menunggu Asya keluar juga dari lift. Tapi Asya belum juga mengikuti langkahnya. Asya sangat ragu dan takut, semakin dekat dengan tempat pria jahat itu (Pangeran Athar) jantungnya semakin berdetak tak karuan. Rasanya Asya ingin pingsan saja supaya tidak usah bertemu dengan pria jahat yang sudah membuatnya trauma. Ingin lari juga tidak bisa, 2 bodyguard berbadan besar sangat setia menunggui Asya di belakangnya. “ayo Nyonya Asya” perintahSekertaris Duta yang membuyarkan pikiran Asya. Reflex Asya keluar dari lift dan mengikuti langkah Sekertaris Duta dengan tetap di ikuti 2 bodyguard di belakangnya. Sesampainya di depan ruang kerja Athar. Toktoktok~ “Tuan Muda, Nona Asya sudah tiba” lapor Sekertaris Duta dari luar pintu. “biarkan masuk” jawab Athar dari dalam ruangan yang masih tertutup itu. Deg! Mendengar suara pria itu tubuh Asya mendadak kaku. Jantungnya seperti berhenti berdetak. ‘ya Tuhan tolong aku. Bantu aku untuk bisa menghadapi pria itu..’ batin Asya menggigit bibir bawahnya cemas, tak bergerak sedikitpun di depan pintu itu. “silahkan masuk Nona” Sekertaris Duta mempersilahkan Asya lagi. Ya, sejak tadi Sekertaris Duta memang sudah mempersilahkan. Tapi Asya tidak mendengarkan karena focus dengan pikirannya sendiri. “ha??” Asya terbelalak kaget menatap Sekertaris Duta. “tidak apa-apa Nona. Anda bisa masuk sekarang” ucap Sekertaris Duta lagi dengan sedikit menenangkan Asya. Dia tau wanita itu ketakutan walaupun sejak tadi berusaha bersikap kuat. “huffftt. Baiklah, aku masuk” Asya melangkah masuk di bukakan pintu oleh Sekertaris Duta. Hanya Sekertaris Duta yang mengikuti Asya masuk ke dalam ruangan Athar. Saat di dalam ruangan Pangeran Athar. Asya hanya melihat ada seseorang yang duduk di kursi kerja menghadap ke jendela membelakangi Asya. Asya masih berdiri jauh dari meja kerja Athar. Berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. Beberapa saat kemudian Pangeran Athar memutar kursinya menghadap Asya. Masih diam dan menatap Asya. Deg! Tubuh Pangeran Athar mendadak tegang saat menatap wajah Asya. Wanita yang sudah dia paksa. Wanita yang sudah dia ambil keperawanannya. Sekilas Pangeran Athar teringat kembali dengan kenangan-kenangan malam itu. Masih hening tidak ada yang bersuara meskipun sudah beberapa menit mereka bertatapan. ‘ada apa dengan Tuan Muda? Kenapa mereka berdua malah diam saja?’ batin Sekertaris Duta heran dengan situasi canggung yang aneh itu. “ada perlu apa anda mencari saya Tuan?” Asya yang merasa lama menunggu Athar berbicara akhirnya memberanikan diri bertanya lebih dulu. Asya ingin segera menyelesaikan ini dan pergi dari ruangan itu. Dia merasa sangat sesak berada satu ruangan dengan pria yang sudah berbuat jahat padanya. Tapi dia berusaha tegar dan sok kuat. Athar tersadar dari lamunannya. “ehem.. saya rasa anda pasti sudah tahu alasan kenapa saya ingin menemui anda secara pribadi” Athar mengawali pembicaraannya. “maafkan saya atas tindakan saya malam itu. Saya sedang di pengaruhi obat dan tidak bisa mengendalikan diri say-” ucap Athar. “apa permintaan maaf anda bisa mengembalikan kondisi saya?” sela Asya sebelum Pangeran Athar menyelesaikan perkataannya. Airmata Asya jatuh tanpa di minta. Dia menatap tajam pada wajah Pangeran Athar. Dia sama sekali lupa dengan statusnya dan status pria itu yang adalah seorang Pangeran dan bos dalam proyek kerjanya. Yang ada di pikiran Asya pria di hadapannya ini adalah orang jahat yang sudah menghancurkan masa depannya. Pangeran Athar tertegun dengan pertanyaan Asya. Dia bingung harus menjawab apa. “saya tahu permintaan maaf saya tidak akan bisa mengembalikan keadaan. Hal itu juga tidak pernah saya bayangkan akan terjadi. Itu murni di luar kendali saya..” jelas Pangeran Athar tulus tapi tidak meninggalkan kesan wibawa dari caranya berbicara. Pangeran Athar berjalan mendekati Asya. “anda mau apa??” reflex Asya terkejut saat Athar mendekat ke arahnya. Asya takut. “be-berhenti. Jangan mendekat!” perintah Asya pada Pangeran Athar yang sudah berada beberapa langkah di hadapannya. Athar menghentikan langkahnya. Memasukkan tangan di saku celananya. Asya mundur sedikit dengan perlahan memberi jarak lagi. Tapi tak bisa jauh karena dengan sigap Sekertaris Duta berdiri tepat di belakang Asya. Sekertaris Duta tidak ingin Asya tiba-tiba kabur. “maaf Asya.. tapi aku sudah membuat keputusan. Dan aku harap tidak ada penolakan! Ini untuk kebaikan kita di hadapan Tuhan dan kebaikan kita untuk sekitar kita. Aku ingin kita melakukan perjanjian kontrak” jelas Pangeran Athar dengan sudah menghilangkan gaya bicara formal kerja. “a-apa ma-maksud anda Tuan?” Tanya Asya bingung dengan pernyataan Athar. Pangeran Athar menatap tajam pada bola mata Asya. “Asya Putri Rania. Malam ini kita menikah!” perintah Athar. DEG! Asya sangat kaget dengan perkataan Athar yang tiba-tiba itu. Tubuhnya menegang, matanya terbelalak marah menatap pangeran Athar. Dengan kuat Asya mengepalkan tangannya menahan emosi. “APA KAU SUDAH GILA??!!” jawab Asya dengan nada emosi tertahan. Asya melupakan bahasa formal untuk Pangeran Athar. Asya terlalu marah. Athar membelalakan matanya terkejut, pertama kalinya ada orang biasa yang berani bicara kasar padanya. “AHAHAHAHAHA~ Ya. Kau memang gila. Kau sudah dengan paksa mengambil keperawananku dan sekarang dengan se enaknya ingin kita menikah?!” Asya menyeringai tidak suka pada Athar. “apa kau juga ingin mengambil paksa masa depanku?” Asya menekankan pertanyaan ini. “AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU!!” ucap Asya tegas. Athar sedikit bingung dengan wanita di hadapannya ini. Setaunya banyak wanita yang mau bahkan rela menyerahkan dirinya untuk Pangeran Athar. Beruntung dia tidak pernah tergoda dengan wanita wanita itu. Karena sejak kecil Athar di ajarkan tentang agama dan tanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Juga bertanggung jawab dengan statusnya sebagai Putra Mahkota dan calon Raja berikutnya. Sejujurnya Athar juga tidak ingin menikah dengan wanita yang bahkan tidak dia kenal. Dia menyayangi Amira, tunangannya saat ini. Putri bangsawan dari kota B di Negara Bota. Tapi saat ini dia tak punya pilihan. Dia sudah melakukan dosa besar. Dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan di hadapan Tuhannya. “maaf, tapi aku tidak meminta pendapat. Aku yang memutuskan dan kamu harus mau! Kita sudah menjadi satu, dan yang aku yakini itu memang sudah jalan dari Tuhan. Aku tidak ingin menambah dosa dengan tidak bertanggung jawab padamu” ucap tegas Athar. “NO! tidak bisa.. Maaf tapi aku tidak bisa. Aku tidak butuh tanggung jawabmu Tuan.. oh bukan bukan tapi Pangeran Atharo Rashaad. Tolong biarkan aku pergi.. Anggap tidak pernah terjadi apapun pada kita” jawab Asya dengan penekanan kemudian berbalik dan berniat segera pergi dari ruangan itu. Kepala Asya sudah sangat sakit dengan segala tekanan batin yang dia terima beberapa hari ini. Tapi dengan sigap Sekrtaris Duta menghalangi jalannya. “maaf Nona Asya, anda tidak bisa pergi dari sini” Sekertaris Duta menahan tubuh kecil Asya dengan mudah. membuat Asya meronta memukul-mukul Sekertaris Duta agar melepaskan Asya. “lepaskan aku! Jangan sentuh aku!” pinta Asya. “maaf Nona sebaiknya anda segera menyelesaikan masalah ini” jawab Sekertaris Duta santai dengan tetap menahan Asya. “apa kau juga sama bajingannya dengan Tuanmu!?” teriak Asya pada Sekertaris Duta. Kata-kata Asya mengagetkan Athar. Rahangnya mengeras dan emosinya mulai naik mendengar ucapan kasar Asya. Dia berjalan cepat menuju Asya dan menarik tubuh Asya dengan paksa. Kemudian mendekap dan mencium Asya secara spontan. Asya terbelalak kaget. Beberapa detik kemudian dia berusaha mendorong tubuh Athar dan memukul d**a pria itu. Tangan Pangeran Athar menahan leher Asya membuatnya tidak bisa menghindar dari ciuman pria itu. Sekertaris Duta yang berada di situ pun tidak kalah terkejut. Tapi dengan sigap segera mundur dan menundukkan kepalanya. Menunggu sang Tuan Muda menyelesaikan adegannya. Athar tetap melumat bibir Asya lebih dalam. Asya yang tidak merespon membuat Athar menggigit bibir Asya agar dia membuka mulutnya. Lama Athar mencium bibir Asya hingga hampir kehabisan nafasnya. Athar pun melepas pagutannya dan mereka sama sama mengambil sebanyak-banyaknya udara setelah kekurangan oksigen. Pangeran Athar masih tetap menahan leher Asya. Menatap matanya tajam. “aku bukan bajingan.. Karena itu aku akan menikahimu hari ini juga. Jadi jaga ucapanmu itu!” Athar menekankan pada Asya. Airmata Asya keluar semakin deras saking takutnya melihat Athar yang bersikap seperti saat malam itu. Kemudian Pangeran Athar menghempaskan Asya di sofa ruangannya dan berjalan kembali menuju meja kerjanya. “segera siapkan keperluannya. Bawa dia ke mansion!” perintah Athar pada Sekertaris Duta. “pernikahan akan di langsungkan di sana jadi ku serahkan semua persiapannya padamu Duta. Jangan biarkan wanita ini kabur!!” penekanan Athar tanpa menatap lawan bicaranya. “baik, akan saya laksanakan Tuan Muda. Saya permisi” jawab Sekertaris Duta menundukkan kepalanya sebentar. “mari Nona Asya ikuti saya” ajak Sekertaris Duta pada Asya yang hendak membantunya berdiri. “aku bisa sendiri!” jawab Asya kasar setelah menepis tangan Skertaris Duta. Asya berdiri. Melirik marah pada Athar kemudian berjalan keluar dari ruangan itu bersama Sekeratris Duta dan 4 bodyguard yang sudah bersiap di depan ruangan Athar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD