Athena merasa sangat nyaman sekali. Aroma ini sama seperti aroma William. Athena hafal sekali aroma William. Dalam tidurnya Athena merasa senang bisa menghirup aroma William yang sangat dia rindukan.
Sedekat ini dengan William berada dalam pelukannya, Athena merasa nyaman dan bahagia. Athena melewati malam yang indah bisa kembali tidur dalam pelukan William. Athena berharap waktu berjalan lambat agar dia bisa dengan lama dalam posisi seperti ini.
Athena masih merebahkan kepalanya di atas d**a Radit yang dia kira itu adalah William. Radit semalam tidak bisa tidur nyenyak. Berada dalam posisi intim seperti ini memang sudah terbiasa baginya. Apalagi melakukan lebih dari ini. Tetapi ada sesuatu di dalam hatinya membuat Radit tak bisa berbuat apa-apa.
Radit terus menatap Athena yang sangat terlelap tidur dengan memeluk dirinya. Tanpa sadar Radit ingin mengusap rambut Athena, tetapi niatnya dia urungkan. Berkali-kali Radit menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh seperti ini. Wanita yang dia sayangi hanya Jessy tidak ada wanita yang bisa memasuki hatinya. Bagi Radit semua wanita tidak setia seperti mendiang Ibunya.
Matahari belum menampakkan seluruh sinarnya. Athena masih ingin memejamkan matanya dan berlama-lama seperti ini. Tetapi ketika otaknya perlahan tersadar. Athena malam itu keluar bersama Kelly dan Jojo, lalu dia bertemu dan bersama Radit. Athena yang terkejut membuka matanya, tangannya yang memeluk Radit dia lepaskan. Wajahnya yang masih berada di atas d**a Radit perlahan terangkat dan menatap Radit. Athena berdoa berharap ini bukan Radit, tetapi William ayahnya.
"Nyenyak sekali tidurmu, Nona sepatu butut" ejek Radit saat mata Athena menatapnya.
Sial harapan Athena kandas saat mendengar dan melihat pria sombong ini. Dengan cepat Athena bangun dari ranjang, dia terlihat salah tingkah sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
Deg
Deg
Athena tidak tahu kenapa jantungnya bisa berdebar seperti ini saat dia mengetahui semalam dia tidur memeluk Radit. Sial kenapa aroma Radit harus sama seperti William. Athena merutuki kebodohannya kenapa mau diajak Radit. Harusnya dia berlari dan mengumpat saja saat mengetahui satpam asrama datang.
"Baiklah, sekarang aku ingin istirahat. Semalam badanku sakit tertindih oleh badan besarmu" ucap Radit ketus dan merebahkan dirinya diranjang.
Athena yang mendengarnya terlihat blushing tetapi dia tutupi dengan rasa kesalnya kepada Radit yang berkata dia berbadan besar. Athena menatap jam pada nakas. Athena menghampiri dan berdiri di samping Radit.
"Ayo, kamu bilang ingin mengantarku kembali ke asrama. Ini sudah jam lima pagi" ucap Athena kesal.
Tak ada jawaban dari Radit. Dia memutar posisinya memunggungi Athena. Kedua tangan Athena sudah terangkat dan siap memukul Radit. Tetapi dia mencoba menahan emosinya. Athena harus bersabar sedikit. Hanya Radit yang bisa mengantarnya kembali ke asrama. Athena sudah pasti tidak tahu jalan kembali.
"Hei, ayolah. Kamu bilang ingin mengantarku," ucap Athena pelan.
"Hmm."
Athena menarik nafas, dia tidak boleh kesal. Biar bagaimanapun Radit harus mengantarnya sekarang. Kalau terlambat tamatlah riwayatnya.
"Ra dit, bangun," ucap Athena lagi dengan nada ragu berkata nama 'Radit'.
"..."
Tak ada jawaban. Athena kembali menatap jam. Jarum jam terus bergerak. Dia harus mencari cara agar pria sombong bernama Radit ini bangun dan mengantarnya. Athena teringat akan sesuatu tentang Radit, tetapi dia sedikit ragu untuk melakukannya. Sudahlah daripada riwayatnya tamat karena ketahuan keluar dari asrama tanpa izin, dia terpaksa melakukan ini kepada Radit.
"Mas Radit, help please. Please take me back to the dorm" bisik Athena di telinga Radit dengan lembut.
Dia teringat akan sebutan wanita yang bersama Radit waktu itu. Pikir Athena mungkin itu nama panggilan Radit. Tanpa tahu apa arti kata 'Mas'. Berada sedekat ini, lagi-lagi aroma Radit tercium olehnya. Aroma yang sama dengan William yang membuat Athena nyaman berada di dekat Radit. Athena memejamkan matanya berdoa agar dia bisa seperti ini bersama William.
Berbeda dengan Athena. Radit yang seketika mendengar suara lembut di telinga, lagi-lagi harus merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia tidak tahu apa itu. Yang jelas matanya terbuka dan berbalik. Radit menatap Athena yang memejamkan matanya. Beberapa detik Radit terus menatap Athena. Sampai Athena terkejut saat membuka matanya.
"Mas Radit" lirih Athena.
Wajah mereka berdua sangat dekat. Athena tidak tahu panggilannya membuat Radit terdiam menatapnya. Bagi Athena dia hanya biasa saja memanggil Radit dengan 'Mas', tetapi bagi Radit panggilan itu berbeda dari biasanya.
"Jangan terlalu dekat. Aroma mulutmu bau sekali" ucap Radit ketus mendorong tubuh Athena.
Athena berdiri tak percaya. Athena membawa telapak tangan di depan mulutnya. Lalu dia menghembuskan nafas dan mencium aromanya. Seketika dia mencibir mencium aroma nafas tak sedap.
"Rasakan. Biar dia tahu rasa mencium bau tak sedap ini" batin Athena tertawa.
"Ayo cepat. Kenapa masih berdiri disana? Aku tidak akan meminjamkan kamar mandi untukmu" ucap Radit.
"Siapa yang ingin memakai kamar mandimu? Terlalu percaya diri" ucap Athena kesal.
Selama perjalan mereka berdua saling terdiam. Radit mencoba mengatur dirinya. Tidak, Radit tidak boleh terbawa suasana semenjak bertemu Athena pikirannya kacau. Padahal dia hanya ingin memberi Athena pelajaran, kenapa harus seperti ini jadinya.
Radit memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dekat pintu masuk gerbang istana. Lalu Radit keluar dan memberhentikan mobil bak yang melaju menuju asrama. Tentu saja membuat Athena menatapnya bingung. Ditambah Athena melihat Radit sedang berbicara dengan supir mobil itu.
"Turun," titah Radit kepada Athena.
Athena membuka mobil dan turun dari mobil Radit. Dia berdiri menatap sekeliling takut ada petugas asrama yang melihatnya.
"Cepat kau naik dan bersembunyi didekat tumpukkan sayur itu," ucap Radit menunjuk bagian belakang mobil yang berisi banyak sayuran.
Dengan terpaksa Athena melangkah dan menaiki bagian belakang mobil itu. Belum sampai Athena naik, Radit memanggilnya kembali.
"Ini ponselmu. Ingat kamu tidak boleh menyimpan nomor orang lain. Hanya ada nomorku saja. Dan jangan coba-coba menghubungi orang lain dengan ponsel ini," ucap Radit memberikan ponsel kepada Athena dan memberikan wejangannya yang membuat Athena bingung.
"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Athena bingung.
"Tentu saja kau harus melakukannya. Karena kamu masih banyak berhutang padaku. Apalagi aku mengembalikan ponselmu yang dicuri," jawab Radit santai.
Athena hanya mendengus kesal. Dan menaiki mobil itu. Lalu dia bersembunyi di balik tumpukan sayuran. Merasa Athena sudah tak terlihat, Radit memberitahukan kepada supir itu agar segera jalan dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih.
Athena berlari sekuat tenaganya tiga menit lagi menunjukkan pukul tujuh pagi. Gara-gara dia keasyikan melihat ponsel yang baru saja Radit berikan dia terlambat masuk ke kamar. Dan disinilah dia berlari menuju kelasnya.
Di depan pintu Athena mengatur nafasnya. Dia merapikan rambut dan seragamnya. Merasa semuanya sudah rapi dia membuka handle pintu. Athena merasa lega melihat belum ada guru di dalam kelasnya.
Hampir semua siswa menatap Athena dengan tatapan tak bisa diartikan. Terutama Jessy dan teman-temannya mereka mencibir Athena. Begitu juga dengan teman-teman Arka tersenyum sinis menatap Athena.
Athena tidak memperdulikan mereka semua. Hanya satu yang dia tuju yaitu Kelly dan Jojo. Athena tersenyum menatap dua teman barunya. Berbeda dengan Kelly dan Jojo yang semalam khawatir dengan Athena.
"Hai," sapa Athena kepada dua teman barunya.
"Kamu kemana saja? Kami khawatir melihat kamu tidak kembali," bisik Kelly.
"Sudahlah. Yang penting aku sudah kembali dengan selamat," jawab Athena tersenyum.
"Ya, tapi setelah ini masalahmu akan lebih berat. Lihat Ibu Tiri dan teman-temannya mereka sepertinya merencanakan sesuatu untukmu," bisik Jojo dengan mata melirik kepada Jessy dan teman-temannya.
"Whatever" jawab Athena tidak ambil pusing.
Obrolan mereja bertiga harus selesai karena Bu Tiara sudah datang. Athena tidak ingin memperdulikan Jessy ataupun Arka. Kalaupun dia harus menghadapi masalah dengan mereka berdua Athena akan dengan senang hati menghadapinya.
Tetapi yang membuat Athena terkejut dan takut adalah intruksi Bu Tiara yang mengatakan hari ini akan aja 'Ulangan Matematika'. Athena menelan salivanya. Tangannya panas dingin saat menerima lembar ulangan dari Bu Tiara.
Satu jam kemudian
Satu persatu siswa dan siswi melangkah keluar dan mengembalikan lembar ulangan yang sudah mereka isi ke meja Bu Tiara. Sampai kelas hampir kosong Athena masih setia dibangkunya.
Suara bel mengakhiri pelajaran Bu Tiara. Tiga orang yang belum kelar kelas terpaksa harus menyerahkan lembar ulangan yang belum mereka selesaikan kepada Bu Tiara, termasuk Athena.
Athena menyerahkan menyerahkan kertas ujiannya kepada Bu Tiara. Bu Tiara melihat kertas ujian Athena, dan Bu Tiara terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menatap punggung Athena yang sudah hilang di balik pintu. Bu Tiara pun hanya bisa menghela nafas beratnya.